Penjaga Hati di Wisma Lavender mengisahkan perjalanan Arka,mahasiswa tingkat akhir Teknik Informatika yang terhimpit masalah finansial setelah kontrakan lamanya digusur. Di tengah keputusasaan, ia menemukan iklan kos misterius dengan harga sangat murah dan fasilitas mewah, termasuk internet super cepat.
Namun, Arka terjebak dalam situasi yang tidak terduga setelah menandatangani kontrak dengan Oma Rosa, sang pemilik wisma yang eksentrik dan gemar bermain TikTok. Ternyata, Wisma Lavender adalah sebuah kos-kosan putri. Arka terpaksa menjadi satu-satunya laki-laki di sana dan harus mematuhi aturan ketat serta tugas tambahan yang diberikan oleh para penghuni wanita yang beragam karakternya, terutama Sari, sang ketua kos yang disiplin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid Salman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 Si Kembar dan Jebakan Batman
Di Wisma Lavender, jika Sari adalah manifestasi hukum yang kaku dan Dira adalah personifikasi sterilitas yang dingin, maka si kembar Nia dan Nio adalah anarki yang terbungkus rapi dalam wajah malaikat. Mereka adalah dua sisi dari keping koin yang sama; Nia, mahasiswi seni yang memiliki imajinasi liar untuk menciptakan skenario, dan Nio, mahasiswi komunikasi yang mampu memutarbalikkan fakta secepat kilat dengan intonasi yang begitu meyakinkan. Bagian paling berbahaya dari mereka bukanlah teriakan atau kemarahan, melainkan bisikan lembut yang terdengar sangat tulus dan penuh empati, namun sebenarnya adalah umpan menuju jurang kesialan.
Malam itu, perut Arka bergejolak hebat, mengeluarkan suara keroncongan yang merusak keheningan koridor. Skripsinya baru saja menelan seluruh energi, logika, dan sisa-sisa semangatnya, menyisakan ruang hampa di lambung yang memohon untuk diisi dengan apa pun yang bisa dikunyah. Saat ia melangkah gontai menuju dapur dengan harapan menemukan sisa-saia kehangatan makan malam atau mungkin sepotong ayam goreng yang terlupakan, ia berpapasan dengan Nia dan Nio di koridor yang remang.
"Eh, Kak Arka! Baru mau makan ya? Wajahnya lesu banget, pasti habis dihajar revisi ya?" tanya Nia dengan senyum yang tampak sangat tulus, matanya berbinar penuh perhatian. Di sampingnya, Nio mengangguk-angguk penuh simpati, menciptakan aura persaudaraan yang palsu.
"Iya, tadi telat turun. Gue nggak sadar udah jam delapan lewat. Masih ada sisa nasi nggak di rice cooker?" tanya Arka, mencoba menghirup udara, mencari jejak aroma makanan yang mungkin masih tersisa.
Nio melangkah mendekat, suaranya merendah hingga hampir berbisik, seolah sedang membocorkan rahasia negara yang sangat rahasia. "Aduh, Kak. Sayang banget, tadi anak-anak lagi pada rakus banget habis rapat kos. Tapi tenang, tadi Kak Sari bilang khusus buat Kak Arka, jatah makan malamnya sudah dipisahkan ke wadah merah di rak paling atas kulkas. Katanya sih sebagai bonus karena Kak Arka sudah jadi pahlawan hening pas Ziva presentasi kemarin."
Arka mengerutkan dahi, logikanya yang tumpul mencoba memproses informasi tersebut. "Sari? Ngasih bonus makanan? Tumben banget dia peduli sama perut gue."
"Yah, mungkin hati esnya lagi sedikit mencair karena kasihan lihat Kak Arka kurusan," celetuk Nia sambil terkekeh kecil, sebuah tawa yang seharusnya menjadi sinyal bahaya bagi Arka. "Buruan gih ambil, sebelum keduluan kucing liar yang suka masuk lewat jendela atau malah dicomot Manda yang hobi ngemil tengah malam sambil ngigo."
Arka, yang pertahanan mentalnya sudah hancur oleh rasa lapar, menelan umpan itu bulat-bulat. Tanpa kecurigaan sedikit pun, ia melangkah cepat menuju dapur yang sepi. Di dalam kulkas yang terang benderang, ia menemukan wadah plastik berwarna merah menyala itu di rak paling atas, tersembunyi dengan rapi di balik barisan botol jus jeruk milik Dira. Saat diangkat, wadahnya terasa sangat ringan, namun dalam delusi laparnya, Arka berpikir mungkin itu adalah porsi nasi goreng spesial yang dipadatkan atau mungkin sushi gulung premium.
Nia dan Nio mengamati dari balik pilar ruang makan, saling menyikut dan menahan tawa yang hampir meledak, menonton sang kurban yang berjalan menuju "meja eksekusinya".
Arka membuka tutup wadah itu di bawah lampu dapur yang remang-remang. Di dalamnya, tidak ada nasi goreng, tidak ada rendang, bahkan tidak ada sepotong tempe goreng pun yang bisa menyelamatkan lambungnya. Yang ada hanyalah sebuah plastik kecil transparan yang sudah robek ujungnya, dan di dasarnya berserakan serbuk merah menyala dengan aroma tajam yang sangat familiar di hidung masyarakat Indonesia.
Bon Cabe. Level tiga puluh. Varian yang sanggup membuat naga pun tersedak.
Dan tepat di samping plastik itu, ada secarik kertas kecil yang dilipat rapi dengan tulisan tangan yang sangat indah, khas mahasiswi seni: "Makan malam adalah hak bagi mereka yang tidak pernah terlambat. Untuk yang tertinggal, cukup api di lidah agar semangat skripsinya tetap membara hingga pagi. Selamat menikmati hidangan membara ini. - Dari Kami yang Selalu Peduli."
Arka menatap wadah merah itu dengan pandangan kosong. Rasa lapar yang tadinya meronta-ronta kini berganti dengan rasa lemas yang luar biasa, sebuah kekecewaan yang menusuk hingga ke tulang. Ia perlahan menoleh ke arah koridor dan melihat dua pasang mata yang mengintip dari balik kegelapan dengan suara tawa yang akhirnya pecah seketika, menggema ke seluruh penjuru rumah.
"Kena deh! Jebakan Batman berhasil seratus persen!" seru Nia sambil berlari menjauh menuju lantai atas, diikuti Nio yang tertawa terpingkal-pingkal sampai memegangi perutnya.
"Nia! Nio! Ini bener-bener jahat! Gue laper beneran, woi!" teriak Arka, namun suaranya hanya memantul di dinding dapur yang dingin.
Arka terduduk lesu di kursi makan yang keras. Ia menatap serbuk merah itu dengan perasaan benci tapi rindu. Dalam keputusasaannya yang paling dalam, dan karena perutnya sudah benar-benar tidak bisa diajak berkompromi lagi, ia meraih toples di meja makan. Di dalamnya hanya tersisa beberapa keping kerupuk putih yang sudah agak melempem. Dengan tangan gemetar, ia menaburkan serbuk merah level tiga puluh itu di atas kerupuk tersebut.
Gigitan pertama terasa biasa saja, hanya asin dan renyah yang layu. Gigitan kedua mulai mengirimkan sinyal hangat ke otak. Namun, tepat pada gigitan ketiga, Arka merasa seolah-olah seluruh kebakaran hutan di dunia pindah ke dalam rongga mulutnya secara serentak. Matanya mulai berair hebat, telinganya berdenging seolah ada pesawat jet yang lepas landas di sampingnya, dan peluh sebesar biji jagung mulai bermunculan di dahi dan lehernya.
"Sial... ini beneran... level tiga puluh..." gumamnya sambil terengah-engah, lidahnya terasa seperti ditusuk-tusuk ribuan jarum panas. Ia segera membuka kulkas, mencari air, namun hanya menemukan air jeruk nipis asam tanpa gula milik Dira yang justru membuat luka di lidahnya semakin perih.
Di Wisma Lavender, Arka belajar satu pelajaran berharga yang akan ia ingat selamanya: jangan pernah memercayai informasi, senyuman, atau bisikan yang datang dari dua orang yang memiliki wajah yang sama. Karena di rumah ini, kecantikan dan kelembutan sering kali hanyalah kemasan estetik bagi kejahilan yang tak bertepi dan tak punya nurani. Sastra malamnya kali ini tidak ditulis dengan tinta emas, melainkan dengan air mata yang menetes karena pedasnya pengkhianatan si kembar, ditemani sunyi dapur yang seolah-olah ikut menertawakan nasib malangnya.
Ia akhirnya kembali ke kamar dengan perut yang terasa panas dan mulas, memeluk botol air mineral kosong sebagai penghibur lara, dan menyadari sepenuhnya bahwa di balik keanggunan eksterior Wisma Lavender, selalu ada "Jebakan Batman" yang siap menerkam siapa pun yang lengah, terutama mereka yang sedang dikuasai oleh rasa lapar yang tak tertahankan.