Kanaka kecewa berat mengetahuinya jika kekasih sekaligus suster pribadinya, meninggalkannya demi uang 1 milyar tawaran dari Ayahnya. Sejak dia buta karena kecelakaan 2 tahun yang lalu, Zea begitu tulus menjaganya hingga ia jatuh cinta. Namun cinta tulusnya, kalah dengan uang 1 milyar.
8 tahun berlalu, saat Naka sudah bisa melihat setelah menjalani operasi kornea mata, ia bertemu dengan seorang wanita bernama Zara. Janda dengan satu anak laki-laki itu, memiliki suara yang mirip sekali dengan Zea. Fakta akhirnya terkuak, ia tahu jika Zara ternyata adalah Zea. Kebencian pada wanita itu, membuat Naka membalas dendam dengan cara memisahkan Zea dengan putranya. Ia ingin Zea merasakan kehilangan seperti apa yang ia rasakan dulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
Zea memalingkan wajah melihat Naka yang hanya tinggal memakai celana da lam. Menepis tangan laki-laki itu saat hendak menyentuh bahunya.
"Gak usah sok jual mahal," Naka tersenyum simpul. "Nanti kau akan malu sendiri saat sudah mulai menikmatinya. Kau ingin bisa bertemu anakmu kan?" menarik dagu Zea, memaksa agar menghadapnya.
"Caramu ini sungguh murahan, Naka!" maki Zea, menatap tajam, kedua tangannya mencengkeram erat sprei.
"Menggunakan cara murahan untuk wanita murahan, bukankah itu sepadan?" ejek Naka.
"Ayo sayang, kita nikmati malam ini. Aku merindukanmu," bisik Naka di telinga Zea. Mendorong tubuh Zea hingga telentang, menahan kedua kaki wanita itu menggunakan pahanya agar tak bisa banyak bergerak.
Zea berusaha mendorong kepala Naka yang berada di lehernya, memberikan kecupan-kecupan basah, menciptakan tanda merah disana. "Naka hentikan!" tubuhnya ditindih Naka, pergerakannya sangat terbatas sehingga sulit untuk melepaskan diri.
Zea terus berontak saat Naka berusaha melepas pakaiannya. Tubuhnya sudah lelah setelah menempuh perjalanan panjang dari Jombang ke Jakarta, tapi bukan berarti, dia akan menyerah begitu saja. Sudah banyak sekali dosa yang ia buat dimasa lalu, sudah ada Arka yang secara tidak langsung menjadi korban, anak itu tumbuh tanpa sosok ayah. Ia tak mau mengulang kesalahan lagi.
"Naka hentikan!" Zea menggunakan tenaga terakhirnya untuk berteriak. Ia tak bisa banyak bergerak di bawah tubuh Naka. Sakit sekali rasanya diperlakukan seperti ini oleh orang yang ia cintai. "Kamu jahat, Naka!" air matanya mulai mengalir.
"Kamu yang membuat aku jadi seperti ini, Ze. Kalau kau masih ingin bertemu anakmu, lebih baik diam dan bekerja samalah."
Zea menggeleng, tak akan pernah lagi ia bekerja sama melakukan zina. Sudah cukup dosa-dosanya dulu, ia tak mau kembali mengulang kesalahan yang sama.
Tahu tidak mungkin bisa melawan Naka, Zea akhirnya pasrah. Ia menangis saat satu persatu pakaiannya dilucuti secara paksa. Menutup mulut rapat-rapat saat Naka hendak menciumnya, namun ternyata laki-laki itu tidak kehilangan akal. Ia terpaksa membuka mulut saat hidungnya dipencet. Naka juga menggigit bibirnya hingga berdarah saat ia tak mau bekerjasama.
"Hentikan Naka, aku mohon," Zea mengiba di bawah kungkungan tubuh Naka. "Tolong jangan lakukan ini."
Naka memalingkan wajah, tak mau menatap Zea. Jujur saja, ia mulai kasihan, mulai lemah, tak tega melihat Zea memohon dengan berderai air mata seperti ini. Takut goyah, ia mulai mengalihkan fokus pada dada.
Zea makin terisak, tubuhnya sudah tak ada tenaga lagi untuk melawan. "Cukup Naka, tolong hentikan," ucapnya terbata saat bagian tubuhnya di dinikmati secara paksa. "Aku tidak mau sampai ada Arka kedua."
Deg
Naka terkejut mendengar ucapan Zea.
"Jangan ada lagi anak yang menjadi korban karena kesalahan kita. Cukup Arka saja yang menjadi korban, jangan ada lagi." Zea mengaku di tengah-tengah keputus asaan. Mengiba, menatap kedua mata Naka.
"Apa maksud kamu?" Naka menatap wajah Zea yang basah dengan air mata. "Apa maksud dari ucapanmu barusan?"
Zea yang bimbang, terus saja terisak.
"Jelaskan Ze, apa maksud dari ucapanmu barusan?" teriak Naka. Ia teringat ucapan Rizal kala itu, yang mengatakan jika wajahnya dan Arka sangat mirip. Bahkan saking yakinnya, Rizal sampai menunjukkan bukti foto kemiripan mereka. Tapi... ia tiba-tiba teringat ucapan Papanya.
Mau percaya atau tidak, Papa pernah beberapa kali tidur dengan Zea.
Ghairah yang ada di ubun-ubun, mendadak lenyap, berganti dengan kegelisahan dan rasa penasaran. Mungkin Arka memang mirip dengannya, tapi bagaimana jika Arka ternyata adalah adiknya, anak dari Papanya. Dan masih ada kemungkinan lain lagi, Zea menikah, bisa jadi itu anak suaminya. Naka bangkit, mengambil selimut, melemparkan ke atas tubuh polos Zea.
"Katakan yang sesungguhnya, siapa ayah biologis Arka?" menatap Zea tajam.
Dering telepon mengalihkan perhatian Naka sekaligus Zea.
"Jangan pernah membohongiku, Ze, atau kamu akan menyesal seumur hidup."
Dering ponsel yang tak kunjung berhenti, membuat Naka mengumpat. Berjalan menuju sofa, mengambil ponsel yang tadi ia lempar kesana.
"Ada apa, Zal?" tanyanya dengan nada kesal.
"..... "
"Arka dibawa ke rumah sakit?" ulang Naka.
Zea syok mendengar ucapan Naka. "Ada apa dengan Arka, ada apa dengan anakku?" tanyanya cemas sembari bangun, memegangi selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Baiklah, aku kesana," Naka memutus sambungan setelah itu.
"Arka, Arka kenapa?"
"Cepat pakai pakaianmu, kita susul Arka ke rumah sakit. Arka demam tinggi, sampai kejang."
o...o'o... kycduk kalian....
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
itu sih Aku ya Ze😄🤣