Arga hanyalah pemuda biasa di sudut kota yang keras—hidup dari kerja kasar, dipandang rendah, dan selalu kalah oleh keadaan. Ia percaya hidupnya akan berakhir sebagai pecundang, sampai suatu malam hujan berdarah mengantarkannya pada sebuah benda terkutuk sekaligus suci: Mustika Macan Kencana.
Sejak saat itu, dunia Arga berubah.
Mustika itu bukan sekadar sumber kekuatan, tetapi suara di dalam batinnya—memberi pemahaman, strategi, dan jalan keluar dari situasi mustahil. Seolah takdir sendiri membisikkan langkah-langkah menuju kemenangan. Namun setiap kekuatan selalu menuntut harga.
Di kota yang dipenuhi kejahatan, pengkhianatan, dan rahasia gelap, Arga mulai bangkit dari nol—melawan preman, sindikat bayangan, hingga musuh yang memiliki kekuatan serupa. Di tengah pertarungan hidup dan mati, hadir cinta yang rumit: Sari yang tulus namun rapuh, dan Clarissa yang penuh misteri serta luka masa lalu.
Semakin Arga kuat, semakin besar pengorbanan yang harus ia bayar.
Rasa sakit, keh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon suandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5. Bayangan di Balik Kemewahan
Arga menatap pantulan dirinya di cermin besar setinggi plafon yang ada di ruang ganti pribadi apartemen barunya. Ia hampir tidak mengenali pria yang berdiri di sana. Setelan jas hitam custom-made dari bahan wol Italia membalut tubuhnya dengan sempurna, menyembunyikan otot-otot keras hasil kerja kasar bertahun-tahun yang kini tampak lebih proporsional dan padat. Kemeja putih bersih dengan kancing manset perak melengkapi penampilannya. Sepasang sepatu kulit mengilat menggantikan sepatu kets jebolnya yang kini entah dibuang ke mana oleh pelayan Keluarga Wijaya.
“Kau tampak seperti pemangsa yang memakai bulu domba mahal, Inang. Tapi ingat, kain setebal apa pun takkan bisa menutupi bau darah yang mulai melekat pada jiwamu,” Macan Kencana berbisik, suaranya terdengar lebih jernih sekarang, seolah-olah kemewahan ini memberinya energi tambahan untuk menghasut.
Arga tidak menjawab. Ia menyesuaikan letak alat komunikasi nirkabel yang tersembunyi di telinganya. Di pinggang belakangnya, terselip sebuah belati taktis berbahan titanium hitam—senjata yang lebih ia percayai daripada pistol Glock yang juga diberikan kepadanya.
"Sudah selesai bersoleknya?" Suara Clarissa terdengar dari balik pintu.
Arga membuka pintu dan mendapati Clarissa berdiri di sana, mengenakan gaun malam berwarna biru safir yang mempesona. Berlian di lehernya berkilau setajam matanya. "Kita akan ke The Grand Astoria. Pertemuan para pemegang saham dan beberapa 'rekan bisnis' ayahku. Tugasmu sederhana: berdiri di belakangku, tetap diam, dan pastikan tidak ada yang mendekat lebih dari satu meter kecuali aku yang mengizinkan."
"Termasuk kolega bisnismu?" tanya Arga datar.
Clarissa tersenyum tipis, senyuman yang penuh rahasia. "Terutama mereka. Di dunia ini, musuh yang paling berbahaya adalah mereka yang tersenyum sambil menyodorkan gelas sampanye padamu."
Perjalanan menuju hotel mewah itu ditempuh dengan limusin antipeluru. Sepanjang jalan, Arga hanya menatap keluar jendela, melihat jalanan Jakarta yang macet dan kumuh dari balik kaca film yang gelap. Ia memikirkan Sari. Pagi tadi, sebelum ia benar-benar "menghilang", ia sempat mengirimkan amplop cokelat tebal berisi uang tunai melalui kurir anonim ke kontrakan mereka. Di dalamnya ada catatan singkat: 'Aku bekerja di luar kota untuk waktu yang lama. Lunasi utang Bapak, dan pindahlah ke tempat yang lebih aman. Jangan cari aku.'
Hati Arga berdenyut nyeri saat memikirkan wajah Sari saat membaca surat itu. Namun, tiba-tiba denyut itu menghilang, digantikan oleh kekosongan yang dingin. Ingatan tentang bagaimana aroma rambut Sari saat mereka duduk berdua di dermaga mendadak terasa buram, seperti foto tua yang terkena air.
Mustika ini... benar-benar memakan kenanganku, batin Arga dengan ngeri.
Sesampainya di The Grand Astoria, suasana kemewahan yang memuakkan menyambut mereka. Lampu gantung kristal raksasa, denting kecapi, dan obrolan basa-basi dari orang-orang yang mengenakan jam tangan seharga rumah mewah. Arga berdiri tegak di belakang Clarissa, matanya yang berkilat keemasan samar terus memindai ruangan.
"Clarissa! Senang melihatmu di sini," seorang pria muda dengan rambut klimis dan senyum sombong mendekat. Itu adalah Rio Hardianto, putra dari saingan bisnis terbesar Keluarga Wijaya.
Rio mencoba menyentuh lengan Clarissa, namun sebelum jemarinya sampai, Arga sudah melangkah maju, memotong jarak dengan gerakan yang nyaris tak terlihat. Tangan Arga mencegat pergelangan tangan Rio dengan genggaman yang cukup kuat untuk membuat pria itu meringis.
"Nona tidak mengizinkan kontak fisik," ujar Arga dingin. Suaranya rendah namun mengandung getaran mengancam yang membuat bulu kuduk Rio meremang.
Rio menarik tangannya dengan kasar, wajahnya memerah karena malu di depan para tamu lain. "Siapa anjing penjaga baru ini, Clarissa? Kau memungutnya dari selokan mana?"
Clarissa tertawa kecil, namun matanya tetap sedingin es. "Dia bukan anjing penjaga, Rio. Dia adalah alasan kenapa pengawalmu semalam gagal menjalankan tugas mereka di parkiran The Obsidian. Kau ingin mencoba refleksnya lagi di sini?"
Wajah Rio berubah pucat. Ia menatap Arga dengan benci yang mendalam sebelum akhirnya berbalik pergi tanpa kata-kata.
"Bagus," bisik Clarissa tanpa menoleh ke arah Arga. "Tapi tetaplah waspada. Rio bukan tipe orang yang akan menyerah setelah dipermalukan."
Benar saja, hanya berselang satu jam, saat Clarissa sedang berbicara dengan seorang diplomat, Mustika Macan Kencana di dalam tubuh Arga tiba-tiba menggeram keras.
“Aroma logam... Aroma bubuk mesiu di arah jam dua!”
Arga menajamkan penglihatannya. Di lantai dua yang melingkar di atas aula, ia melihat seorang pria berpakaian pelayan yang sedang mengeluarkan sesuatu dari balik nampan peraknya. Sebuah moncong senapan laras pendek yang sudah dilengkapi peredam.
"Nona, tunduk!" teriak Arga.
Tanpa menunggu jawaban, Arga menerjang Clarissa, menjatuhkan wanita itu ke lantai tepat saat suara pfft dari peluru yang diredam terdengar. Peluru itu menghantam pilar tempat Clarissa berdiri sedetik yang lalu, menghancurkan marmer mahal menjadi serpihan.
Kekacauan pecah. Para tamu berteriak dan berlarian. Pengawal lain segera membentuk barikade di sekitar Clarissa, namun Arga tidak tinggal diam.
"Tetap di sini!" perintah Arga pada pengawal lain.
Ia melompat ke atas meja prasmanan, lalu dengan kekuatan kaki yang tidak manusiawi, ia melesat ke arah balkon lantai dua, memanjat pilar hiasan hanya dengan bantuan jemarinya yang sekuat baja.
Si pembunuh yang menyamar sebagai pelayan itu mencoba melepaskan tembakan kedua, namun Arga sudah berada di depannya. Arga menghantamkan telapak tangannya ke dada pria itu, mengirimnya terbang melewati pagar balkon dan jatuh ke lantai bawah dengan suara berdebam yang keras.
Arga mendarat di lantai dua dengan posisi berjongkok, matanya kini benar-benar berubah menjadi emas murni, pupilnya memanjang tajam. Ia merasakan sensasi luar biasa; perburuan ini memberinya gairah yang tak pernah ia rasakan sebagai manusia biasa.
Namun, di tengah adrenalin yang memuncak, ia melihat bayangan seorang wanita di kerumunan bawah. Wanita itu mengenakan daster batik yang sangat ia kenal, berdiri di tengah orang-orang kaya yang ketakutan.
"Sari?" gumam Arga.
Ia berkedip. Saat ia melihat lagi, sosok itu hilang. Hanya ada kerumunan orang asing.
Arga memegangi kepalanya yang mendadak berdenyut hebat. Rasa sakit itu seperti dipalu. Ia menyadari sesuatu yang mengerikan: Mustika Macan Kencana mulai memanipulasi penglihatannya, mencampur adukkan realita dan memorinya yang mulai membusuk.
“Jangan biarkan perasaan lemah itu menghambatmu, Inang! Fokus pada mangsamu!”
Arga bangkit berdiri, menatap ke bawah ke arah Clarissa yang sedang dilindungi. Ia telah menyelamatkan nyawa wanita itu lagi, namun ia merasa setiap kali ia melakukannya, jarak antara dirinya dan Sari—antara dirinya dan kemanusiaannya—menjadi sejauh langit dan bumi.
Malam itu, Arga menyadari bahwa di balik kemewahan Keluarga Wijaya, ada perang yang tidak akan pernah berakhir. Dan ia, adalah senjata utama yang mungkin akan hancur oleh kekuatannya sendiri sebelum perang itu selesai.