Di kehidupan sebelumnya, Jiang Chen adalah Kaisar Alkemis terhebat di Alam Dewa, mampu menciptakan pil legendaris yang bisa menghidupkan orang mati dan memberikan keabadian. Namun, karena terlalu percaya, ia dikhianati oleh murid kesayangannya sendiri yang bersekongkol dengan istrinya. Mereka meracuninya, merebut "Kuali Primordial Semesta" miliknya—artefak ilahi tertinggi—dan membunuhnya tepat saat ia akan mencapai terobosan ke Alam Penguasa Surgawi.
Namun, Kuali Primordial Semesta yang legendaris itu memiliki kesadarannya sendiri. Alih-alih membiarkan jiwa Jiang Chen lenyap, Kuali itu membawa serpihan jiwanya melintasi ruang dan waktu, bereinkarnasi ke dalam tubuh seorang pemuda bernama sama di dunia fana rendahan, ribuan tahun kemudian.
Ironisnya, tubuh barunya ini adalah "sampah" terkenal di klannya, dengan meridian yang hancur dan bakat kultivasi nol. Kini, dengan ingatan dan pengetahuan seorang Kaisar Alkemis, Jiang Chen memulai perjalanannya kembali ke puncak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Binatang Buas Sejati dan Pertemuan Tak Terduga
Jiang Chen berjalan santai keluar dari lembah, kantongnya terasa jauh lebih berat. Jika dihitung, nilai inti monster yang baru saja ia "panen" dari keluarga Zhang sudah lebih dari cukup untuk menempatkannya di sepuluh besar. Secara teori, ia bisa saja mencari tempat aman, bersembunyi selama dua hari ke depan, dan dengan mudah lolos ke babak berikutnya.
Tapi itu bukan gaya Jiang Chen.
"Latihan baru saja dimulai," gumamnya.
Ia tidak mengambil jalan kembali ke pinggiran hutan. Sebaliknya, ia berjalan lebih dalam lagi, menuju jantung Hutan Binatang Kabut. Di sanalah monster-monster yang lebih kuat berada, monster yang bisa memberinya sedikit tantangan dan inti monster yang lebih berharga.
Suasana di sekelilingnya berubah drastis. Pohon-pohon kuno menjulang begitu tinggi hingga hampir tidak ada cahaya matahari yang bisa menembus. Kabut menjadi lebih tebal, membawa aroma tanah basah dan pembusukan. Keheningan di sini lebih menakutkan, karena itu berarti setiap suara sekecil apa pun bisa menjadi tanda bahaya mematikan.
Tiba-tiba, Jiang Chen berhenti. Semua suara alam di sekitarnya—kicauan serangga, gemerisik daun—telah lenyap. Keheningan total yang tidak wajar. Ini adalah tanda pasti bahwa seorang predator puncak sedang berada di dekatnya.
Matanya menyipit, menembus kabut tebal. Intuisi bahaya yang telah diasah selama ribuan tahun di kehidupan sebelumnya berteriak di benaknya.
Swoosh!
Sebuah bayangan abu-abu melesat dari kabut dengan kecepatan luar biasa, tanpa suara sedikit pun. Sebuah cakar tajam, lebih besar dari kepala manusia, menebas ke arah leher Jiang Chen.
Jiang Chen tidak panik. Tubuhnya sedikit miring ke belakang dengan sudut yang aneh, menghindari serangan itu hanya dengan selisih satu inci. Udara dingin dari cakar itu membuat rambut di lehernya berdiri.
Bayangan itu mendarat dengan ringan beberapa meter darinya. Kini Jiang Chen bisa melihatnya dengan jelas. Itu adalah seekor kera raksasa setinggi tiga meter. Bulunya berwarna abu-abu, memungkinkannya menyatu dengan kabut. Matanya merah darah, dipenuhi dengan kecerdasan dan kebrutalan.
"Kera Kabut Ilusi," desis Jiang Chen. Monster tingkat lima.
Monster ini jauh berbeda dari monster tingkat rendah lainnya. Kera Kabut Ilusi tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga cerdas. Mereka adalah pemburu penyergap yang menggunakan kabut sebagai senjata mereka, bergerak tanpa suara dan menyerang dari titik buta. Kekuatannya setara dengan seorang kultivator manusia di puncak tingkat tujuh atau bahkan delapan Alam Pengumpul Qi.
Ini akhirnya sebuah tantangan.
Kera itu meraung marah karena serangan pertamanya gagal. Ia memukul dadanya dengan keras, menciptakan suara genderang perang yang menggema.
Tiba-tiba, dari arah lain di dalam kabut, terdengar suara pedang beradu dan teriakan tertahan.
"Ada orang lain di sini?" Jiang Chen sedikit terkejut.
Kera Kabut Ilusi itu tampaknya juga terganggu. Ia melirik ke arah sumber suara, lalu kembali ke Jiang Chen, seolah memutuskan mangsa mana yang lebih mudah. Dengan geraman, ia berbalik dan melesat ke arah suara pertempuran itu.
Penasaran, Jiang Chen mengikuti dari jarak yang aman.
Di sebuah area terbuka yang sedikit lebih kecil, ia melihat pemandangan yang familier. Hong Mengyao, dengan gaun putihnya yang kini ternoda oleh lumpur dan darah, sedang berhadapan dengan seekor kera yang lebih kecil—kemungkinan pasangan atau anak dari kera raksasa tadi, seekor monster tingkat empat.
Pedang Hong Mengyao bergerak cepat, tetapi lawannya jauh lebih lincah. Kera itu dengan mudah menghindari serangannya sambil sesekali melancarkan cakaran balasan yang berbahaya. Hong Mengyao jelas berada di pihak yang kalah.
Tiba-tiba, kera raksasa yang dihadapi Jiang Chen tadi tiba di lokasi. Ia melihat rekannya sedang bertarung dan mengeluarkan raungan yang memekakkan telinga.
Melihat kedatangan kera raksasa tingkat lima, wajah Hong Mengyao langsung pucat pasi. Satu kera tingkat empat saja sudah merepotkannya; dua, dengan salah satunya adalah monster tingkat lima yang legendaris, adalah hukuman mati yang tak terhindarkan.
Kera raksasa itu tidak membuang waktu. Ia melesat maju, mengabaikan Hong Mengyao dan langsung menyerang kera yang lebih kecil dengan cakarnya.
CRAK!
Dalam sebuah tindakan kebrutalan yang mengejutkan, kera raksasa itu membunuh rekannya sendiri.
Jiang Chen, yang menonton dari kejauhan, langsung mengerti. "Tentu saja. Kera Kabut Ilusi adalah binatang teritorial yang sangat soliter. Mereka bahkan akan membunuh jenis mereka sendiri yang memasuki wilayah mereka. Mereka hanya berkumpul saat musim kawin."
Kera raksasa itu kemudian mengeluarkan inti monster tingkat empat dari kepala rekannya dan menelannya bulat-bulat. Auranya tampak sedikit menguat.
Mata merah darahnya kini tertuju sepenuhnya pada Hong Mengyao, satu-satunya penyusup yang tersisa di wilayahnya.
Hong Mengyao gemetar. Rasa putus asa menyelimutinya. Ia tahu ia tidak akan bisa lari. Kecepatan kera itu jauh di atasnya.
Kera raksasa itu melesat maju, cakarnya yang mematikan siap merobek Hong Mengyao menjadi dua. Hong Mengyao menutup matanya, pasrah pada nasibnya.
Clang!
Sebuah suara benturan logam terdengar.
Hong Mengyao membuka matanya. Ia tidak mati. Di hadapannya, Jiang Chen berdiri dengan tenang, telah menangkis cakar raksasa itu dengan bagian datar dari belati kecil yang ia gunakan untuk mengambil inti monster.
"Kau..." Hong Mengyao tidak bisa berkata-kata.
"Minggir," kata Jiang Chen tanpa menoleh. "Kau menghalangi jalanku."
Cakar kera itu telah ditangkis, tetapi kekuatan benturannya luar biasa. Lengan Jiang Chen terasa sedikit kebas, tetapi kakinya tidak bergeser satu inci pun. Kekuatan fisik yang telah ditempa oleh Pil Tempaan Giok menunjukkan nilainya.
Kera raksasa itu meraung marah, terkejut bahwa mangsa kecil ini bisa menahan kekuatannya.
"Kau benar-benar merepotkan," kata Jiang Chen kepada Hong Mengyao yang masih membeku. "Pergi sana. Jangan ikut campur dalam perburuanku."
Perburuan? Dia menyebut pertarungan melawan monster tingkat lima ini sebagai 'perburuan'?
Sebelum Hong Mengyao bisa menjawab, Jiang Chen mendorongnya ke samping dan melesat maju, mengambil inisiatif untuk menyerang Kera Kabut Ilusi.
"Monster tingkat lima... Intinya seharusnya cukup berharga," gumam Jiang Chen. Pukulannya, yang kini diselimuti oleh lapisan tipis Qi, melesat lurus ke arah dada sang kera.