NovelToon NovelToon
WANITA PANGGILAN CEO DINGIN

WANITA PANGGILAN CEO DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Noona Rara

Namaku Aluna Putri Sagara, panggil saja Aluna. Aku memiliki keluarga yang sangat bahagia. Ayahku seorang PNS dan ibuku memiliki usaha jahit yang cukup terkenal di Semarang. Aku sendiri adalah seorang honorer di sekolah dasar. Aku mempunyai kakak laki-laki bernama Sultan, dia bekerja sebagai PNS seperti ayah di instansi yang sama. Aku juga memiliki Adik perempuan yang bernama Alika yang saat ini masih sekolah. Namun, hidupku berubah drastis ketika ayah meninggal dunia.Langit seolah runtuh dan kebahagiaan yang kami dapat selama ini ikut hilang bersama dengan Ayah. Ibu sakit-sakitan, Kak Sultan dan istrinya Mbak Nisa mulai berubah dan menjauh, Alika yang butuh biaya untuk kuliah nanti.
Begitu banyak beban yang aku tanggung setelah Ayah tiada. Awalnya aku kerja sebagai guru honorer kini banting setir menjadi Wanita Panggilan seorang CEO pemilik klub tempatku bekerja.Marko Bumi Ferdinand. Nama itu adalah pemilik diriku sekarang. Dia butuh anak untuk mewarisi perusahaannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bertemu Mertua

Walk-in closet di sebelah kamar seperti dunia lain. Terang, luas, dipenuhi deretan pakaian elegan dengan warna lembut dan potongan mahal. Rak-rak sepatu tersusun rapi, tiap pasang terlihat lebih mewah dari yang sebelumnya. Tas, parfum, perhiasan bahkan jam tangan dari merek yang hanya ia lihat di iklan.

Aluna memandang semuanya dengan tatapan kosong.

“Semua ini… untuk membuatku terlihat pantas berdiri di sampingnya…” gumamnya.

Ada rasa sesak yang tidak bisa ia jelaskan.

Dari sekian banyak pilihan, ia memilih dress berwarna soft cream, anggun, sederhana namun elegan. Ia menata rambutnya dengan pelan, membiarkannya jatuh natural. Make up ia poles tipis hanya untuk menghapus jejak bengkak di bawah matanya.

Saat pandangannya jatuh pada jilbab yang ia letakkan semalam di meja, hatinya mencelos.

Ia menyentuhnya sebentar.

Lalu menyingkirkannya perlahan.

“Aku… belum pantas…” bisiknya lirih, nyaris tak terdengar. “Bahkan hidupku sendiri saja tidak bisa kuatur.”

Ketika ia melihat pantulannya di cermin. Cantik, rapi, tenang yang ia rasakan justru sebaliknya.

**

Di ruang tamu, Marko sudah menunggu sambil memeriksa jam tangan. Ketika Aluna melangkah keluar dari lorong kamar, waktu seolah berhenti sesaat. Marko memandangnya dari ujung kepala hingga kaki bukan karena kagum… atau mungkin justru karena kagum, tapi dia menepis perasaan itu begitu cepat.

“Cepat.” tegurnya tajam. “Saya paling tidak suka orang lelet.”

Aluna menelan ludah. “Iya pak….”

Langkah Marko berhenti. Ia menoleh perlahan, tatapannya menusuk.

“Jangan panggil saya pak.”

Aluna terperanjat. “Iya… Tuan?”

Marko mendecak keras. “Mana ada istri memanggil suaminya tuan?”

Aluna menunduk, bingung dan takut. “Lalu… apa yang harus saya pang….”

“Panggil saya sayang.”

Jantung Aluna hampir berhenti.

“A-apa?”

“Apa susahnya? Papa saya tidak boleh curiga tentang hubungan kita.”

“Tapi… saya tidak nyaman…” suaranya goyah.

Marko mendekat. Wajahnya dingin, nadanya datar, tapi ancamannya terasa jelas.

“Saya  tidak peduli kau nyaman atau tidak. Lakukan.”

Ia menundukkan sedikit wajahnya. “Katakan.”

Aluna meremas jemarinya sendiri sampai memutih.

“I.. iya… sa… sayang…”

Marko mengerutkan alis. “Yang benar, Aluna.”

Ia menegakkan punggung dengan sisa keberanian yang ia miliki.

“Iya, sayang.”

Marko akhirnya berbalik, mengambil jas lalu melangkah menuju lift pribadi.

“Begitu lebih baik.”

**

Aluna menyusul di belakangnya, langkahnya pelan tapi pasti. Saat pintu lift mulai menutup, aroma parfum Marko memenuhi ruang sempit itu dingin, maskulin, mengintimidasi. Marko menatap lurus ke depan, seolah Aluna hanyalah tambahan kecil dalam hidupnya.

Namun sebelum lift benar-benar tertutup, ia menoleh sedikit.

Tatapannya menusuk.

“Ingat, Aluna… jangan buat aku malu hari ini.”

Pintu lift menutup sepenuhnya.

Dan dada Aluna terasa semakin kosong.

**

Pagi itu udara masih basah oleh sisa embun ketika mobil hitam panjang yang Marko kemudikan memasuki area mansion keluarga besar Rivelio. Gerbang besi setinggi hampir tiga meter membuka perlahan, dijaga dua satpam berseragam lengkap yang langsung memberi hormat begitu mobil melewati sensor keamanan. Aluna menatap pemandangan di balik kaca jendela dengan mata membesar, rumput taman yang luas dan terawat menghampar seperti karpet hijau, dihiasi patung-patung marmer yang tampak mahal hanya dari sekali lihat. Jalan setapak menuju mansion dibingkai pohon-pohon besar, rapi seakan dilukis.

Di sampingnya, Marko duduk tegap, tatapannya lurus ke depan. Sesekali matanya melirik ke arah Aluna, memperhatikan bagaimana tangan perempuan itu gemetar kecil di pangkuan. Namun Marko tidak berkata apa pun. Ia hanya menegakkan tubuh, menciptakan aura dingin yang membuat udara di dalam mobil terasa semakin menekan.

Mobil berhenti tepat di depan pintu utama mansion, sebuah bangunan tiga lantai dengan arsitektur kolonial modern, pilar-pilar tinggi menjulang dan jendela-jendela besar berbingkai emas keemasan. Lima pelayan sudah berbaris rapi menunggu, masing-masing menunduk dalam kepada Marko sebagai pewaris.

Aluna turun perlahan, sepatu haknya menyentuh batu marmer halaman. Rasanya seperti memasuki dunia yang bukan miliknya, lalu Marko menggenggam pergelangan tangannya sekilas, dingin namun tegas.

“Jangan terlihat takut.” gumamnya datar tanpa menatapnya.

Langkah mereka masuk ke foyer yang terang oleh cahaya lampu kristal raksasa. Lantai marmer putih memantulkan wajah Aluna yang masih tampak pucat. Sentuhan kemewahan mansion ini seperti menamparnya, mengingatkannya bahwa sekali ia melangkah ke sini, ia berada di tempat yang tak mengenal kata pulang dalam pengertian yang sama seperti dulu.

Belum sempat Aluna menarik napas panjang, suara berat menggema dari arah tangga.

“Marko?”

Amar, ayah Marko berdiri dengan alis terangkat, wajahnya tampak campuran antara terkejut dan bingung. Sesaat kemudian, Renata menyusul dari belakang, tubuhnya ramping dalam gaun satin biru tua, rambut tertata rapi dan tatapannya langsung menilai dari ujung rambut sampai ujung kaki Aluna.

Marko tidak kehilangan waktu. Ia menarik Aluna sedikit ke depan.

“Papa… ini istri Marko. Aluna.”

Keheningan menurun begitu pekat sampai suara jarum pun pasti terdengar jika jatuh. Amar menatap putranya seolah mendengar hal yang mustahil. Renata memejamkan mata sekilas, seakan menahan kemarahan yang bergejolak.

Pelayan saling melirik cemas, menahan napas.

Akhirnya Amar bergerak, langkahnya cepat menghampiri Marko.

“Kamu… menikah? Tanpa beri tahu Papa? Tanpa satu pun keluarga hadir? Apa kamu sedang bercanda? ” suaranya tegang, hampir tak percaya.

Marko hanya tersenyum tipis, santai.

“Papa selalu menuntutku untuk menikah cepat. Hari ini Marko membawa istriku. Apa masalahnya?”

Nada cueknya jelas membuat Amar semakin jengkel. Lelaki paruh baya itu menghela napas panjang, seakan memikul beban dunia.

Marko tetap tenang, sedingin udara pagi.

Renata maju, sikapnya seperti singa betina yang siap menyerang. Tatapannya menusuk Aluna tanpa malu.

“Dari keluarga mana perempuan ini? Apa pekerjaannya? Bagaimana kita bisa percaya kalau dia tidak punya maksud tertentu mendekati kamu? Menikah itu bukan untuk main-main Marko. Kamu harus tau bibit, bebet dan bobotnya. Bagaimana kualitas pendamping dari seorang pewaris tunggal keluarga Ferdinand.”

Aluna menunduk dalam, rasa malu, takut dan asing bercampur jadi satu. Jantungnya berdetak terlalu cepat.

Marko menoleh pada Renata, sudut bibirnya terangkat sinis.

“Tidak usah mempertanyakan kualitas orang kalau kamu sendiri tidak punya.” katanya dingin, mantap.

Renata memucat seketika, benar-benar tak menyangka putra tirinya berani mengarahkannya begitu. Amar mendelik marah.

“Marko! Jaga bicaramu. Itu mamamu.”

Marko menatap ayahnya lurus, tak berkedip.

“Dia bukan mamaku. ” jawabnya datar. “Dia pelakor yang merebut posisi Mama. Bagiku dia hanya orang asing yang tinggal di sini.”

Suasana langsung membeku. Aluna menahan napas, merasakan tekanan emosional yang begitu kuat di ruangan itu. Ingin rasanya ia mundur, lari, menghindar tapi tangan Marko tiba-tiba menggenggam tangannya.

“Sudah, ayo sayang. Kita sarapan dulu.”

Tanpa menunggu respon siapa pun, ia menarik Aluna pergi menuju ruang makan, meninggalkan Amar dan Renata dengan emosi yang hampir meledak.

Ketika langkah mereka sudah cukup jauh, Renata memukul lengan Amar dengan jengkel.

“Mas. Lihat kelakuan anak kamu. Dia sama sekali tidak menghargai aku. Dan perempuan itu, aku tidak suka. Kelihatannya dia bukan perempuan baik-baik.”

Amar menahan napas. Suaranya berat dan lelah.

“Sudahlah, Renata… kita susul Marko dulu. Papa akan selidiki semuanya nanti.”

**

Ruang makan keluarga besar Ferdinand tampak seperti restoran hotel berbintang enam, meja panjang dari kayu ebony, kursi berlapis beludru dan hidangan sarapan yang tertata sempurna. Marko dan Aluna sudah duduk di ujung meja, makan dengan tenang tanpa menunggu tuan rumah datang.

Renata masuk lebih dulu dan ekspresi kesalnya semakin menjadi ketika melihat Aluna duduk di kursi yang seharusnya hanya diperuntukkan anggota keluarga inti.

Aluna buru-buru tersenyum kikuk, mencoba memberi salam kecil. Tapi tatapan Renata begitu tajam seperti pisau yang menggores perlahan.

Ia duduk tepat di hadapan Aluna, masih mempertahankan senyum palsu. Kemudian ia mulai berbicara. Suaranya lembut tapi setiap kata ditikamkan seperti racun.

“Jadi, Aluna… apa pekerjaanmu sekarang?”

“Saya punya toko kue kecil-kecilan di pusat kota, Bu.” jawab Aluna sopan, suaranya stabil meski jantungnya berdebar.

“Hmm… toko kue, ck ternyata hanya pedagang. ” Renata mengulang sambil tersenyum miring. “Keluargamu tinggal di mana?”

Aluna menjawab sesuai skenario yang dipersiapkan Marko semalam. Namun ketika pertanyaan menyentuh keluarganya, ia memang berkata jujur.

“Ayah saya sudah meninggal. Ibu saya saat ini sakit keras… saya punya dua saudara.”

Renata langsung geleng-geleng dengan tawa kecil sinis yang tak berusaha ditutupi.

“Begitu ya….”

Marko menatap Renata tajam.

“Sudah interogasinya.” katanya dingin. “Saya dan istri saya mau sarapan dengan tenang.”

Renata hendak membalas, namun Amar muncul dan menahan tangan istrinya di bawah meja.

“Kita sarapan dulu.” katanya tegas. “Tidak baik banyak bicara di depan makanan.”

Renata membuang muka dan mengambil garpu tapi ekspresi sinisnya tetap tak hilang.

Aluna merasakan seluruh suasana meja seperti ladang ranjau. Ia mengunyah tanpa rasa, sekadar agar tidak tampak mencurigakan. Di bawah meja, Marko menggenggam tangannya erat, hangat namun penuh aturan tak terlihat.

Entah itu bentuk perlindungan…

…atau peringatan bahwa mulai dari detik ini, tidak ada jalan keluar yang benar-benar bebas.

Aluna menelan ludah, menyadari bab baru hidupnya benar-benar dimulai.

Dan di rumah megah yang sedingin ini, ia sama sekali tidak tahu apakah ia akan bertahan…

atau hancur perlahan, tanpa seorang pun peduli.

1
Ariany Sudjana
Aluna itu adik kamu sultan, dan Aluna itu keluarga inti, yang bukan keluarga itu si pelacur murahan Anisa, kamu bodoh percaya semua omongan si pelacur murahan itu
Ariany Sudjana
sabar yah Aluna, sultan ini bodoh,punya istri tapi pelacur murahan, dan masih percaya dengan semua omongan pelacur murahan itu
Boa
nama karakternya kok beda ya sama yg di sinopsis, apa aku yg salah baca? 🙏
Boa: semangat Thor, mana udah 14 episode 💪
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!