"Kenapa tidak dimakan, Sayang? Steak-nya hampir dingin," suara Arka memecah kesunyian. Nadanya lembut, namun ada tekanan yang tak kasat mata di sana.
Alya menelan ludah. Tangannya gemetar di bawah meja. "Aku... aku tidak terlalu lapar, Mas."
"Kau tahu aku tidak suka penolakan, bukan? Aku sudah menyingkirkan 'gangguan' kecil di kantormu tadi pagi agar kita bisa makan malam dengan tenang. Jangan buat pengorbananku sia-sia."
Alya membeku. Gangguan kecil? Maksudnya Pak Rendi, rekan kerjanya yang hanya menyapanya di lobi?
"Mas... apa yang kau lakukan pada Pak Rendi?" suara Alya nyaris hilang.
"Dia hanya sedang beristirahat panjang, Alya. Sekarang, makan dagingmu, atau aku harus menyuapimu dengan cara yang lebih... paksa?"
Detik itu, Alya sadar. Pria yang tidur di sampingnya setiap malam bukan sekadar suami yang protektif.
Akankah Alya bisa bertahan dengan pernikahannya??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Memasuki trimester kedua, suasana di pondok kayu Alpen berubah dari markas medis yang kaku menjadi medan petualangan yang tak terduga.
Perut Alya kini sudah terlihat membuncit dengan jelas, dan seiring dengan perkembangan janin di dalamnya, muncul satu fenomena yang membuat Rangga Dirgantara harus memutar otak lebih keras dari biasanya.
Bagi Rangga, fase mengidam Alya bukanlah sebuah beban. Sebaliknya, setiap permintaan aneh yang keluar dari mulut istrinya dianggap sebagai "Misi Suci" yang harus diselesaikan dengan kesempurnaan 100%.
Malam itu, jam dinding menunjukkan pukul dua pagi. Suhu di luar sangat ekstrem, salju turun dengan lebatnya membungkus lereng gunung. Rangga, yang kini memiliki kebiasaan tidur dengan satu telinga tetap terjaga untuk memantau napas Alya, tiba-tiba merasakan gerakan di sampingnya.
Alya terbangun, duduk bersandar di bantal dengan wajah yang tampak gelisah.
"Mas... Mas Rangga..." bisik Alya pelan.
Dalam sekejap, Rangga sudah duduk tegak, matanya waspada. "Ya, Sayang? Perutmu sakit? Kontraksi? Atau kau butuh bantal tambahan?"
Alya menggigit bibirnya, tampak ragu. "Mas, aku... aku tiba-tiba ingin makan mangga muda. Tapi yang asam sekali, yang kulitnya masih hijau tua. Dan kalau bisa, aku ingin memakannya sambil mencium aroma laut."
Rangga terdiam sejenak. Mereka berada di puncak pegunungan Swiss di tengah musim dingin. Mangga tropis adalah barang langka, apalagi mangga muda yang asam. Dan aroma laut? Mereka berjarak ratusan kilometer dari pantai terdekat.
Namun, alih-alih mengeluh atau menyuruh Alya kembali tidur, mata Rangga justru berkilat penuh semangat. Ia tersenyum tipis—senyum predator yang telah menemukan mangsa baru.
"Mangga muda asam dan aroma laut. Dimengerti," ucap Rangga tegas.
Ia segera turun dari tempat tidur, mengenakan jaket winter-nya, dan mulai menghubungi beberapa kontak logistik pribadinya di Zurich melalui telepon satelit. "Aku butuh mangga hijau tropis, jenis harumanis yang belum matang. Kirimkan dengan helikopter ke koordinatku sekarang. Dan bawakan aku alat difusi aroma yang bisa menghasilkan bau garam laut murni."
Alya terpaku. "Mas, ini jam dua pagi! Tidak perlu sampai pakai helikopter!"
Rangga mendekati Alya, mengecup keningnya dengan lembut. "Bayi kita sedang meminta, Alya. Dan tidak ada satu pun permintaan di dunia ini yang tidak bisa dikabulkan oleh seorang Dirgantara. Duduklah manis, aku akan menyiapkan 'pantainya' untukmu di ruang tengah."
Dua jam kemudian, ruang tengah pondok mereka berubah total. Rangga telah menyalakan semua pemanas ruangan hingga suhunya terasa seperti musim panas di Bali. Ia memasang alat difusi udara yang menyebarkan aroma sea salt dan driftwood ke seluruh ruangan. Bahkan, ia memutar suara ombak di speaker surround sound miliknya.
Saat helikopter logistik tiba dan menjatuhkan paket di halaman bersalju, Rangga berlari keluar, mengambil mangga tersebut, dan mencucinya dengan standar sterilitas rumah sakit. Ia mengupasnya dengan sangat rapi, memotongnya menjadi irisan tipis, dan menyajikannya di atas piring perak.
"Silakan, Ratu," ucap Rangga sambil berlutut di depan Alya yang duduk di sofa.
Alya memakan irisan mangga itu. Rasa asam yang tajam meledak di mulutnya, tepat seperti yang ia inginkan. Dipadukan dengan suara ombak dan aroma laut buatan Rangga, Alya merasa seolah ia benar-benar sedang berada di pinggir pantai.
"Enak, Mas... pas sekali," ucap Alya sambil tersenyum lebar.
Rangga memperhatikan Alya makan dengan tatapan yang sangat puas. Tidak ada rasa lelah di wajahnya meski ia belum tidur sama sekali. Baginya, melihat Alya menikmati makanannya dengan lahap adalah dopamin alami yang jauh lebih kuat dari kafein mana.
Minggu-minggu berikutnya, permintaan Alya semakin tidak masuk akal. Suatu sore, Alya tiba-tiba menangis karena ia ingin mencium aroma aspal basah setelah hujan, tapi aspal di sekitar mereka tertutup salju tebal.
Rangga tidak kehabisan akal. Ia menyuruh pengawalnya membawakan sebongkah aspal dari kota, memanaskannya sedikit di garasi, lalu menyiramnya dengan air mineral hingga uap aromanya naik. Ia membiarkan Alya berdiri di depan pintu garasi hanya untuk menghirup aroma itu selama lima menit.
Lalu ada saat di mana Alya ingin makan martabak telur spesial seperti yang pernah ia makan di pinggir jalan Jakarta bertahun-tahun lalu. Rangga, yang tidak mungkin menemukan martabak di Swiss, langsung masuk ke dapur dengan tepung dan daun bawang. Rangga bolak-balik melempar adonan kulit martabak hingga beberapa kali gagal dan menempel di langit-langit dapur. Namun, ia tidak menyerah. Ia terus mencoba sampai pada percobaan ke-15, martabak itu jadi dengan tekstur yang sempurna.
"Bagaimana?" tanya Rangga dengan wajah yang sedikit terkena noda tepung, menantikan penilaian Alya.
Alya menggigitnya dan matanya berbinar. "Ini... ini lebih enak dari yang di Jakarta, Mas!"
Rangga mendengus bangga. Ia segera mencatat resep itu di buku harian kehamilan yang ia buat. Bagi Rangga, setiap keberhasilan memenuhi keinginan mengidam Alya adalah sebuah kemenangan besar dalam hidupnya.
Keposesifan Rangga tetap tidak hilang, justru bertambah. Jika Alya mengidam ingin makan sesuatu yang ia anggap kurang sehat—seperti mi instan—Rangga akan melakukan riset selama tiga jam untuk mencari cara membuat mi instan yang sehat tanpa MSG, dengan tepung organik, dan bumbu yang ia racik sendiri dari rempah-rempah segar.
Alya terkadang merasa pusing dengan dedikasi Rangga yang terlalu "ekstrem". Pernah suatu kali Alya hanya bergumam, "Duh, tiba-tiba kangen ingin melihat bunga matahari mekar," padahal saat itu sedang badai salju.
Keesokan paginya, Alya bangun dan menemukan salah satu ruangan di pondok mereka telah disulap menjadi greenhouse dadakan dengan lampu UV berkekuatan tinggi dan puluhan bunga matahari yang sudah mekar sempurna, yang diterbangkan langsung dari perkebunan dalam ruangan di Belanda.
"Mas, kamu benar-benar gila," ucap Alya sambil tertawa geli melihat ruangan penuh bunga matahari itu.
Rangga memeluk Alya dari belakang, tangannya mengusap perut Alya yang aktif bergerak. "Aku memang gila, Alya. Kau tahu itu sejak dulu. Bedanya, dulu kegilaanku menghancurkanmu, sekarang kegilaanku adalah untuk memastikan kau dan anak kita tidak kekurangan satu kebahagiaan pun di dunia ini."
Alya menyandarkan kepalanya di bahu Rangga. Di balik semua perintah kaku, aturan makan yang ketat, dan kelakuan Rangga yang berlebihan dalam memenuhi mengidamnya, Alya merasakan kedamaian yang luar biasa. Ia menyadari bahwa Rangga tidak merasa terbebani. Rangga justru merasa "hidup" kembali melalui setiap permintaan Alya.
Bagi Rangga, melayani Alya selama kehamilan adalah cara dia membayar hutang masa lalunya. Setiap langkah yang ia ambil untuk mencari buah langka, setiap jam yang ia habiskan di dapur, dan setiap usaha gila yang ia lakukan adalah bentuk ibadahnya sebagai seorang suami yang telah bertaubat.
Di akhir trimester kedua, Alya duduk di dekat perapian bersama Rangga. Pergerakan bayi di dalam perut Alya kini semakin kuat. Rangga seringkali menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menunggu tendangan kecil itu muncul.
"Dia aktif sekali malam ini, Mas," ucap Alya.
Rangga menempelkan telinganya di perut Alya.
"Tentu saja. Dia baru saja makan martabak buatan ayahnya yang terbaik di dunia. Dia pasti sedang berterima kasih."
Alya tertawa, ia merasa sangat beruntung. Pria yang dulu ia takuti sebagai monster, kini adalah pria yang rela melakukan apa saja demi membuatnya tersenyum. Keposesifan Rangga yang dulu terasa seperti belenggu, kini terasa seperti pelukan yang paling aman di semesta.
"Terima kasih sudah tidak pernah lelah denganku, Mas," bisik Alya.
Rangga mendongak, menatap mata Alya dengan kesungguhan yang mematikan. "Jangan pernah meminta maaf untuk keinginanmu, Alya. Kau adalah ratuku, dan anak ini adalah pangeranku. Selama aku masih bernapas, tidak akan ada keinginanmu yang tidak menjadi kenyataan."
Bersambung....
- Parapgrafnya gak belibet.
Sederhana tapi mudah dimengerti alur ceritanya.
Setiap karakternya mempengaruhi emosi pembaca. /Rose/