NovelToon NovelToon
My Girl

My Girl

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:801
Nilai: 5
Nama Author: Helena Fox

Anindira Cewek yang dikenal “bar-bar”. Ceplas-ceplos, berani ribut kalau diremehin, dan gak pernah mau kalah. Di balik kerasnya, Dira cuma capek terus disalahpahami. Ia takut jadi lemah—padahal yang ia butuhin cuma dimengerti. Meskipun bar-bar dia juga memiliki sisi rasa penakut , terlebih pada hal - hal yang berbau horor

Elvan Bagaskara

CEO muda yang dingin di cap ceo dingin , rapi, dan perfeksionis. Hidupnya dikontrol logika. Emosi dianggap gangguan. Terlihat kuat, padahal ia memikul tanggung jawab terlalu berat di usia muda.

Albian Bagaskara
Adik Elvan Satu sekolah dengan Dira . Pendiam dingin, dan tertutup. Tidak suka konflik, tapi selalu ada di saat orang lain diserang. Cara pedulinya sunyi, itu yang membuat tidak terlihat .

Bagaimana jadinya .Dira cewek bar -bar bertemu Ceo dingin dan terjebak dalam kisah yang rumit antara Elvan dan Albian .

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Helena Fox, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 21

Hari Minggu pagi terasa jauh lebih santai dari hari-hari biasanya. Dira merasa baru saja terbebas dari sangkar.

Tidak ada sekolah.

Tidak ada tugas.

Dan yang paling penting… tidak ada Elvan.

Itulah yang dipikirkan Dira saat ia duduk di teras rumah sambil memainkan ponselnya.

Beberapa hari terakhir hidupnya terasa terlalu ramai dari sebelumnya.

Dan yang paling membuatnya kesal—

Rencana Elvan yang ingin menikahinya.

“Nyebelin banget sih itu om,” gumam Dira sambil menggigit biskuit." Masa iya pakai nikah segala "

Tiba-tiba ponselnya berbunyi.Albian menelepon.

Dira langsung mengangkatnya.

“Halo?”

Suara ceria Albian terdengar dari seberang.

“Dira! Kamu lagi apa?”

“Lagi hidup dengan damai.”

Albian tertawa. “Bagus. Berarti kamu lagi nggak sama si kakak ku dingin itu.”

Dira langsung mendengus. “Jangan sebut dia.”

“Lah marah? Kenapa?”

"Malas bahas om el!”

Albian tertawa lagi. “Kalau begitu keluar yuk.”

Dira mengangkat alis. Walaupun albian tidak bisa melihat . “Keluar kemana?”

“Jalan.”

“Tujuannya?”

“Rahasia.”

Dira langsung menyipitkan mata. “Kalau kamu bawa aku ke tempat yang aneh-aneh—”

“Tenang saja!”

Albian memotong cepat.

“Sepuluh menit lagi aku jemput. Ya”

Sebelum Dira sempat protes— Telepon langsung ditutup.

“Eh?!”

Dira menatap ponselnya kesal. “Orang satu ini juga suka maksa.”

Namun sepuluh menit kemudian…

Sebuah motor berhenti di depan rumahnya.

Albian melambaikan tangan dengan senyum lebar.

“DIRA!”

Dira keluar rumah sambil membawa tas kecil.

“Kamu kalau jemput selalu teriak ya?”

Albian mengangkat bahu. “Supaya dramatis.”

Dira memutar mata. “Dasar aneh.”

Albian memberikan helm padanya. “Naik.”

Dira memakai helm lalu duduk di belakang.

Motor pun melaju menyusuri jalan kota yang tidak terlalu ramai di hari Minggu.

Beberapa menit kemudian mereka sampai di sebuah taman kota yang cukup besar.

Banyak orang berjalan santai. Ada anak-anak bermain, ada juga orang yang sedang olahraga.

Dira langsung tersenyum.

“Wah enak juga ya di sini.”

Albian menunjuk sebuah gerobak. “Mau Es krim dulu?”

Dira langsung mengangguk cepat. Seketika matanya berbinar mendengar nama es krim

“MAU!”

Beberapa menit kemudian mereka duduk di bangku taman sambil makan es krim. Dira makan dengan sangat cepat.

Albian memperhatikannya sambil tertawa.

“Kamu kalau makan lucu banget ya .”

Dira langsung menatapnya. “Lah? Lucu kenapa?”

“Kamu kayak orang yang takut es krimnya kabur.”

Dira menunjuknya dengan sendok.

“Jangan ganggu proses makan orang. Nanti bisa kamu curi es krim aku ”

Albian tertawa keras.

Beberapa saat mereka hanya duduk santai.Angin taman terasa sejuk. Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari penuh masalah…

Dira merasa tenang.

Albian menatapnya sebentar.

“Dira.”

“Hmm?”

“Kamu kelihatan lebih santai hari ini.”

Dira mengangguk. “Soalnya aku lagi menghindari seseorang.”

“Elvan?”

Dira langsung mendengus. “Iya.”

“Kenapa?”

Dira memandang langit. “Dia bikin hidup aku ribet.”

Albian tersenyum kecil.

“Tapi dia melindungi kamu.”

Dira memutar mata.

“Melindungi tapi sambil maksa nikah.”

DEG

Jantung albian seperti ada yang menghantam .Mendengar kata menikah ,Tapi sebisa mungkin ia mengatur ekspresi nya takut jika dira menyadarinya

Albian tertawa pelan. “Kalau aku sih…”

Ia berhenti sebentar.

Dira menoleh.

“Kalau kamu apa?”

Albian menggaruk tengkuknya.

“Kalau aku… aku pengen kamu pilih aku.”

Dira langsung diam.

Angin taman berhembus pelan di antara mereka.

Namun sebelum Dira sempat menjawab—

Ia meliha seseorang berdiri tidak jauh dari sana.

Pria itu memakai kemeja hitam dengan wajah dingin yang sangat familiar.

Elvan.

Ia berdiri sambil menatap mereka berdua.

Dan entah sejak kapan… Ia sudah melihat semuanya.

***

Dira masih duduk di bangku taman sambil memegang es krimnya.

Angin Minggu siang terasa sejuk. Orang-orang di taman terlihat santai untuk berjalan-jalan.

Namun suasana di antara Dira dan Albian tiba-tiba berubah. Albian yang sedang melihat ke arah depan tiba-tiba berhenti bicara.

Ekspresinya berubah aneh. Dira mengerutkan kening.

“Kenapa?”

Albian tidak menjawab.

Ia hanya mengangguk kecil ke arah belakang Dira.

Dira langsung menoleh.

Dan—

Hampir saja es krimnya jatuh.

Beberapa meter dari mereka berdiri seseorang dengan wajah sangat familiar.

Elvan.

Pria itu berdiri dengan tangan di saku celana, mengenakan kemeja hitam sederhana. Tatapannya lurus ke arah mereka.

Dira langsung berdiri.

“Om?!”

Albian juga ikut berdiri, tapi ekspresinya jauh lebih tenang.

Elvan berjalan mendekat perlahan.

Setiap langkahnya membuat Dira semakin merasa bersalah… walaupun ia tidak tahu kenapa harus merasa begitu.

“Kamu di sini,” kata Elvan datar.

Dira langsung menjawab cepat. “Iya! Kenapa om ?”

Elvan melirik sekilas ke arah Albian.

“Kamu tidak menjawab pesan dariku.”

Dira melipat tangan. “Karena aku lagi libur.”

“Libur dari apa?”

“Dari om lah ”

Albian yang mendengar itu hampir tertawa.

Namun Elvan tetap tenang. Ia kembali menatap Dira.

“Kenzo mencarimu.”

Dira mengangkat alis. “Kenapa?”

“Dia tidak tahu kamu keluar.”

Dira mengangkat bahu. “Aku bukan anak kecil om.”

Elvan menatapnya beberapa detik.

Kemudian berkata pelan.

“Kamu hampir diculik dua hari lalu.”

Kalimat itu membuat Dira langsung diam. Albian ikut menatap Elvan.

Suasana tiba-tiba terasa sedikit tegang.

Namun Dira tetap keras kepala.

“Aku cuma jalan sebentar aja om ”

Elvan menatap Albian sekarang. “Kamu yang mengajaknya?”

Albian tidak mundur. “Iya.”

Elvan tidak terlihat marah, tapi aura dinginnya terasa jelas.

“Kalau terjadi sesuatu padanya gimana?”

Albian menjawab tenang. “Aku ada di sini.”

Tatapan mereka bertabrakan.

Dira langsung berdiri di tengah.

“WOI!”

Keduanya menoleh.

Dira menunjuk mereka bergantian. “Kalian ini pada kenapa sih?!”

Ia menghela napas kesal.

“Aku cuma mau makan es krim dengan damai!”

Albian akhirnya tertawa kecil. Sedangkan Elvan hanya menghela napas pendek.

Dira kembali duduk di bangku.

“Kalau kalian mau berantem, sana jauh-jauh. Jangan disini .”

Beberapa detik kemudian—

Hal yang tidak diduga terjadi.

Elvan duduk di bangku yang sama.

Di sebelah Dira.

Dira langsung menatapnya.

“Eh! Om ngapain?”

Elvan menjawab santai. “Menjagamu.”

Dira menunjuk Albian.“Dia sudah bisa jaga!”

Elvan menatap Albian sebentar.

Lalu kembali ke depan. “Dua orang lebih aman.”

Dira memegang kepalanya.

“Ya ampun… hidup aku sekarang dijaga dua bodyguard.”

Albian tertawa.

Untuk beberapa saat mereka bertiga hanya duduk di taman.Namun jauh di seberang jalan…

Seseorang sedang memperhatikan mereka dari dalam mobil hitam.

Bara.

Ia menatap Dira dengan senyum tipis.

“Menarik sekali.”

Matanya lalu berpindah ke Elvan.

“Keponakanku… kamu benar-benar melindunginya.”

Bara bersandar di kursinya.

“Tapi sampai kapan?”

Bersambung.........

1
Teh Sopiah
Lumayan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!