Kanaka kecewa berat mengetahuinya jika kekasih sekaligus suster pribadinya, meninggalkannya demi uang 1 milyar tawaran dari Ayahnya. Sejak dia buta karena kecelakaan 2 tahun yang lalu, Zea begitu tulus menjaganya hingga ia jatuh cinta. Namun cinta tulusnya, kalah dengan uang 1 milyar.
8 tahun berlalu, saat Naka sudah bisa melihat setelah menjalani operasi kornea mata, ia bertemu dengan seorang wanita bernama Zara. Janda dengan satu anak laki-laki itu, memiliki suara yang mirip sekali dengan Zea. Fakta akhirnya terkuak, ia tahu jika Zara ternyata adalah Zea. Kebencian pada wanita itu, membuat Naka membalas dendam dengan cara memisahkan Zea dengan putranya. Ia ingin Zea merasakan kehilangan seperti apa yang ia rasakan dulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
Pak Prapto memperhatikan wajah wanita di dalam video dengan seksama. Sambil mengusap kening, dan mengingat-ingat. Ia hanya beberapa kali saja bertemu dengan suster yang dimaksud Naka, itu pun sudah lama dulu, wajar jika ia lupa.
"Gimana, apa ini orangnya?" Naka begitu tak sabar ingin tahu jawabannya.
"Maaf Pak, saya sudah agak lupa dengan wajahnya."
"Ayolah Pak, diingat-ingat lagi," Naka kembali mengulang video Zara, berharap Pak Prapto ingat.
"Gimana ya Pak, masalahnya saya memang lupa," menatap Naka dengan rasa bersalah. "Seingat saya, dia cantik, rambutnya panjang, kulitnya bersih, tinggi kurang lebih 160 an gitu lah. Tapi kalau wajahnya seperti apa, saya sudah agak lupa. Maklum, hanya pernah beberapa kali saja bertemu."
Naka menghela nafas berat, kembali menyandarkan punggung lalu meminta Pak Prapto menjalankan mobil.
Sesampainya di rumah, Naka melihat Anam, asisten Papanya. Jika Anam ada di rumah, itu artinya, Papanya ada di rumah juga Sudah sebulan lebih Papanya berada di Hongkong, mengembangkan bisnis baru dengan menantu kesayangannya, suami dari Kakak sulungnya.
"Pak," sapa Anam yang berpapasan dengan Naka.
"Kapan pulang?"
"Baru sampai beberapa jam yang lalu."
"Papa sehat?" Naka mendapatkan kabar jika dari Hongkong, Papanya langsung ke Malaysia untuk check up. Jika kondisinya stabil, tak mungkin melakukan check up, karena yang Naka tahu, Papanya itu susah sekali di suruh ke Dokter. Beberapa tahun terakhir ini, Papanya sering bolak balik RS karena penyempitan pembuluh darah.
"Em... " ekspresi Anam berubah saat ditanya soal kesehatan.
"Ada apa?"
"Dari pemeriksaan terakhir, kondisi jantung Tuan Very makin buruk. Beliau disarankan untuk lebih sering check up."
"Jadi harus bolak-balik ke Malaysia?"
"Bisa dibilang seperti itu."
Setelah mengobrol lumayan lama dengan Anam, Naka kembali ke kamarnya. Niatan untuk menemui Papanya batal karena pria itu sedang istirahat.
Di kamar, Naka kembali memutar video Zara. Entah sudah berapa kali ia memutar video itu sejak kemarin. Sambil memijat pelipis, memutar otak memikirkan cara untuk mengetahui identitas Zara. Sampai akhirnya ia teringat sesuatu. "Jeremi," gumamnya sambil tersenyum. Ia ingat, dulu pernah datang ke acara pernikahan Jeremi. Kala itu ia bersama Zea. Mereka melakukan foto bersama diacara itu. Malam itu Zea tak ingin ikut foto, merasa tidak pantas, tapi ia memaksanya, bahkan menggandengnya meski disana banyak sekali teman-teman yang mengenalinya.
Ia langsung menelepon Jeremi, menanyakan soal foto di pernikahannya.
"Gue masih di kantor, Ka, nanti sampai rumah gue cek. Kalau ada, gue kirim ke elo fotonya," ujar Jeremi.
"Gue tunggu."
Meski belum tentu foto itu ada, tapi ia sudah senang, karena harapan rasanya makin besar. Ia heran pada dirinya sendiri, selama 8 tahun tak pernah ada niatan untuk mengetahui seperti apa wajah Zea, ia membenci wanita itu, yang ada di kepala nya, hanya bagaimana cara untuk melupakannya, namun setelah bertemu Zara, ia jadi terus kepikiran.
Malam hari, Naka dipanggil ke kamar Papanya. Tanpa basa basi, Very langsung meletakkan sebuah foto ke atas meja depan sofa, dimana Naka sedang duduk.
"Namanya Anggi," ujar Very saat Naka menatap foto wanita cantik yang baru saja ia berikan. "Lulusan S2 dari salah satu kampus terkenal di US. Usianya 28 tahun, keturunan Cina. Anaknya Pak Edi, kamu kenal beliau kan?"
Naka menganguk, ia memang kenal dengan Pak Edi, salah satu pebisnis terkenal di bidang transportasi dan masih banyak lagi bisnisnya yang lain.
"Besok luangkan waktu, Papa mengundang Pak Edi sekeluarga untuk makan malam bersama."
"Papa ingin menjodohkan aku dengan wanita ini?" Naka meletakkan kembali foto Anggi ke atas meja.
"Baguslah kalau kamu sudah tahu."
"Naka bisa cari jodoh sendiri, Pa."
Very tersenyum kecut. "Mana buktinya? Kamu sudah 35, bukan anak muda yang masih mau senang-senang nyari pasangan. Papa sudah tua Naka, kesehatan juga sudah semakin menurun. Kali ini, menurutlah pada Papa. Cobalah bertemu dia dulu, siapa tahu cocok."
"Baiklah, Papa urus saja." Naka meninggalkan kamar Very setelah itu. Setelah Zea pergi, ia beberapa kali kencan dengan wanita, tapi tak pernah bisa bertahan lama, satu atau dua bulan pasti sudah putus. Dan dua tahu terakhir ini, ia tak pernah berpacaran sama sekali.
Sesampainya di dalam kamar, Naka langsung mengecek HP. Sekarang sudah pukul 8 malam, tapi belum ada pesan masuk dari Jeremi. Jangan-jangan, dia lupa. Ia kembali mengirim pesan pada temannya itu, kembali menanyakan perihal foto.
Beberapa menit kemudian, ada kiriman foto dari Jeremi.
Telapak tangan Naka terkepal kuat, nafasnya memburu dan rahangnya mengeras. "Zea!" gumamnya dengan dada bergemuruh hebat.
o...o'o... kycduk kalian....
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
itu sih Aku ya Ze😄🤣