NovelToon NovelToon
Obsesi Gala Pada Gadis Misterius

Obsesi Gala Pada Gadis Misterius

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Enemy to Lovers / Idola sekolah
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: kikyoooo

Di sekolah, Kella hanyalah gadis yatim piatu yang miskin, pendiam, dan jadi sasaran bullying, Gala si mirid baru yang angkuh juga ikut membulinya. Kella tidak pernah melawan, meski Gala menghinanya setiap hari.

Namun, dunia Gala berputar balik saat ia tak sengaja datang ke sebuah Maid Cafe. Di sana, tidak ada Kella yang suram. Yang ada hanyalah seorang pelayan cantik dengan kostum seksi yang menggoda iman.

Kella melakukan ini demi bertahan hidup. Kini, rahasia besarnya ada ditangan Gala, cowo yang wajahnya sangat mirip dengan mendiang kekasihnya.

Akankah Gala menghancurkan reputasi Kella, atau justru terjebak obsesi untuk memilikinya sendirian?

#areakhususdewasa ⚠️



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 (Part 1) Fragmen yang Tersisa dalam Debu

Keheningan yang mengikuti ucapan berani Kella di kelas terasa seperti karet yang ditarik maksimal—siap putus kapan saja. Sarah melotot, wajahnya memerah karena terhina oleh "si kuman" yang biasanya hanya menunduk diam. Namun, sebelum Sarah sempat membalas, bel masuk berbunyi dengan nyaring, memaksa semua orang kembali ke tempat duduk masing-masing.

Gala tetap pada posisinya. Punggungnya yang tegap menjadi pembatas visual antara Kella dan dunia luar yang memusuhinya. Kella menatap punggung itu, menyadari bahwa mulai sekarang, setiap interaksi mereka adalah sandiwara yang dirancang dengan sangat hati-hati.

Selama pelajaran Sejarah berlangsung, pikiran Kella tidak ada pada penjelasan guru di depan. Jemarinya meraba kunci kecil yang diberikan Gala semalam di dalam saku roknya. Logam dingin itu seolah membakar kulitnya, memintanya untuk segera menyelesaikan apa yang telah dimulai.

Pukul 10.15 WIB – Jam Istirahat Pertama

Kantin sekolah biasanya menjadi tempat paling berisik, namun bagi Kella, itu adalah tempat paling berbahaya. Ia memutuskan untuk tidak pergi ke kantin. Saat kelas mulai kosong, ia melihat Gala berdiri, meregangkan tubuhnya, lalu melirik ke arah pintu belakang kelas—tempat deretan locker tua berada.

Gala tidak bicara. Ia hanya berjalan melewati meja Kella dan menjatuhkan sebuah penghapus tepat di kaki Kella.

"Ambil," perintah Gala dengan nada dingin yang dibuat-buat agar terdengar oleh beberapa siswa yang masih tertinggal di kelas.

Kella membungkuk, mengambil penghapus itu, dan saat itulah Gala membisikkan sesuatu yang sangat cepat, hampir seperti hembusan angin. "Sekarang. Gue jagain di depan pintu."

Gala kemudian berjalan keluar kelas dengan gaya angkuhnya, berdiri di depan pintu sambil berpura-pura bermain ponsel, namun posisinya menghalangi siapapun yang ingin masuk kembali ke kelas dengan cepat.

Kella segera bergerak menuju bagian ruang belakang kelas. Debu beterbangan saat ia mendekati locker nomor 07. Ia memasukkan kunci kecil itu. Klik. Pintu besi yang berkarat itu terbuka dengan bunyi derit yang membuat jantung Kella berdegup kencang.

Di dalamnya, bau apek dan kertas lama menyeruak. Berbeda dengan saat Gala membukanya kemarin, kini Kella punya waktu untuk memperhatikan isinya secara mendetail.

Barang pertama yang ia lihat adalah sebuah jaket seragam sekolah yang sudah sangat lusuh, namun di saku dadanya masih tersemat emblem nama: Gabriel A. Nama belakangnya sengaja disamarkan, kemungkinan besar Gabriel sendiri yang merobek bagian "Alangkara" untuk menutupi identitasnya.

Di bawah jaket itu, terdapat sebuah kotak sepatu tua. Kella membukanya dengan tangan bergetar. Isinya bukan sepatu, melainkan tumpukan selebaran lowongan kerja paruh waktu yang sudah menguning, beberapa tiket bus kota, dan yang paling mengejutkan: sebuah kamera analog tua yang lensanya sudah retak.

Kella mengambil kamera itu. Di bagian bawahnya, ada stiker kecil bertuliskan: "Milik Gala - Jangan Disentuh!"

Air mata Kella hampir jatuh. Kamera ini pasti milik Gala yang dipinjam atau diambil oleh Gabriel sebagai kenang-kenangan saat ia melarikan diri. Di dalam dunia yang kejam ini, mereka berdua sebenarnya saling merindukan melalui benda-benda bisu.

Namun, di sudut paling gelap locker itu, Kella menemukan sesuatu yang dibungkus plastik hitam rapat-rapat. Saat ia membukanya, ia menemukan sebuah amplop cokelat tebal yang disegel dengan lak merah. Di atasnya tertulis: "Untuk Gala, jika suatu saat kamu menemukan ini."

"Kella, cepat!" suara Gala terdengar dari pintu, sedikit lebih keras dari sebelumnya. Itu adalah kode. Seseorang sedang menuju kelas.

Kella dengan sigap memasukkan amplop dan kamera itu ke dalam tas ranselnya, lalu menutup locker dan menguncinya kembali dan segera keluar dari situ. tepat saat Reno masuk ke kelas sambil membawa dua botol minuman soda.

"Loh, masih di sini lo, Kel? Kirain udah mati kelaparan," ejek Reno sambil mendekati mejanya. Ia melihat Gala yang masih berdiri di pintu. "Gal, kenapa lo di sini terus? Ayo ke kantin, anak-anak nungguin."

Gala memutar bola matanya malas. "Gue cuma lagi mastiin asisten gue nggak kabur. Dia harus nyelesein tugas Fisika gue."

Gala berjalan mendekati Kella, lalu dengan kasar menyambar buku tulis Kella yang ada di atas meja. "Kerjain bab empat sampai enam. Kalau ada yang salah satu pun, lo pulang jalan kaki hari ini."

Reno tertawa. "Sadis lo, Gal. Tapi gue suka gaya lo."

Gala merangkul Reno dan membawanya keluar kelas, namun sebelum menghilang di balik pintu, mata Gala sempat bertemu dengan mata Kella selama satu detik. Tatapan itu bertanya: Dapat?

Kella memberikan anggukan kecil yang hampir tak kentara.

Pukul 14.00 WIB – Perpustakaan Tua

Sepulang sekolah, Gala mengirimkan pesan singkat ke ponsel Kella: "Perpustakaan tua, rak paling belakang. Jangan telat."

Perpustakaan tua SMA Wijaya Kusuma terletak di sayap kiri gedung yang jarang dikunjungi karena koleksinya sudah usang dan AC-nya sering mati. Kella sampai di sana lima menit lebih awal. Bau buku tua dan kayu lembap menyambutnya.

Tak lama kemudian, Gala muncul. Ia tidak lagi memakai jaket kulitnya, hanya kemeja seragam yang lengannya digulung hingga siku. Wajahnya terlihat sangat lelah, lingkaran hitam di bawah matanya menunjukkan bahwa ia tidak tidur semalaman.

"Mana?" tanya Gala tanpa basa-basi.

Kella mengeluarkan amplop cokelat besar dan kamera analog dari tasnya. Saat melihat kamera itu, napas Gala tertahan.

"Ini... kamera gue yang hilang tiga tahun lalu," bisik Gala. Ia mengelus lensa yang retak itu dengan ibu jarinya. "Gue pikir gue menghilangkannya di taman, ternyata dia membawanya."

"Mungkin itu satu-satunya cara dia untuk terus melihat dunia lewat mata kamu, Gala," ujar Kella lembut.

Gala terdiam lama, lalu ia beralih ke amplop cokelat dengan lak merah itu. Dengan tangan gemetar, ia merobek segelnya. Di dalamnya terdapat tumpukan dokumen legal dan beberapa lembar foto yang diambil secara sembunyi-sembunyi.

Gala membaca lembar pertama dan wajahnya mendadak pucat pasi.

"Ini bukan cuma soal Gabriel," ucap Gala dengan suara yang nyaris tidak terdengar. "Ini soal perusahaan ayah gue... Alangkara Group."

Kella mendekat, mencoba ikut membaca. Dokumen itu berisi tentang proyek pembangunan perumahan mewah di atas tanah yang seharusnya menjadi milik panti asuhan tempat Gabriel tinggal. Gabriel bukan hanya melarikan diri karena masalah keluarga; ia ternyata sedang mengumpulkan bukti bahwa ayahnya melakukan penipuan sertifikat tanah secara ilegal.

"Gabriel tahu kalau panti asuhannya akan digusur,"

Kella menyimpulkan dengan ngeri. "Itulah sebabnya dia bekerja sangat keras. Dia bukan cuma mencari uang untuk hidup, dia mencoba mengumpulkan uang untuk menyewa pengacara guna melawan ayahmu sendiri."

Gala tertawa getir, sebuah suara yang terdengar lebih seperti rintihan. "Dia sendirian... Dia anak SMA, yatim piatu di mata hukum, mencoba melawan raksasa properti seperti Alangkara. Dia gila."

"Dia bukan gila, Gala. Dia kakak yang luar biasa," sahut Kella.

Di dalam amplop itu juga terdapat sebuah kartu memori kecil yang tertempel di selembar kertas dengan selotip. Di kertas itu tertulis: "Data digital ada di sini. Simpan baik-baik, Gala. Ini adalah nyawa panti asuhan kita."

Gala menggenggam kartu memori itu seolah itu adalah benda paling berharga di dunia. "Jadi, ayah gue menghancurkan Gabriel bukan cuma karena dia dianggap aib keluarga, tapi juga karena dia adalah ancaman bagi bisnisnya."

Ketegangan di antara mereka meningkat. Kini masalahnya bukan lagi sekadar rahasia keluarga, melainkan kasus kriminal besar. Kella menyadari bahwa ia kini terlibat dalam sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar perundungan di sekolah.

"Gala, apa yang akan kamu lakukan?"

Gala menatap Kella dengan tatapan yang sangat dalam. Untuk pertama kalinya, Kella melihat sosok pria dewasa di dalam diri remaja nakal itu.

"Gue bakal selesein apa yang dimulai kakak gue. Tapi gue nggak bisa pakai nama Alangkara untuk ini. Gue harus tetap jadi 'Gala yang berengsek' di depan ayah gue. Dan lo..." Gala menjeda kalimatnya. "Lo masih harus tetap jadi sasaran perundungan gue."

"Aku tahu," jawab Kella mantap. "Aku tidak keberatan, selama kita bisa memberikan keadilan untuk Gabriel."

Gala berdiri, memasukkan kembali dokumen-dokumen itu ke dalam amplop. "Gue butuh waktu buat akses data di kartu memori ini. Ayah gue punya sistem keylogger di semua komputer rumah. Gue harus cari tempat yang aman."

"Kamu bisa pakai komputer di kafe," tawar Kella.

"Pemilik kafe, Pak Heru, sangat baik. Dia sangat menyayangi Gabriel dulu. Kalau aku bilang ini soal Gabriel, dia pasti akan mengizinkan kita memakai ruangannya di lantai dua."

Gala mengangguk setuju. "Oke. Malam ini, jam sembilan. Gue bakal ke kafe lo lagi."

....

1
𝐈𝐬𝐭𝐲
menarik...
𝐈𝐬𝐭𝐲
hadir thor semoga ceritanya gak putus di tengah jalan...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!