NovelToon NovelToon
KULTIVATOR 5 ELEMEN

KULTIVATOR 5 ELEMEN

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Spiritual / Action
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: roni alex saputra

Arkan, seorang pemuda yang dianggap sampah kultivasi, ternyata menyimpan kekuatan terlarang di telapak tangannya. Saat 5 elemen bersatu dengan kehampaan Void, satu galaksi pun harus tunduk. Saksikan perjalanan Arkan

Body Tempering

Qi Gathering

Qi Foundation

Core Formation

Soul Realm 2 pengikut nya

Earth Realm

Sky Realm cici

Nirvana Realm arkan

Dao Initiate

Dao Master Dao arkan& cici

Sovereign

Divine

Universal (Kaisar Drak)

Eternal Ruin (Puncak Arkan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon roni alex saputra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Karang Penghalang — Keangkuhan Cahaya dan Lautan Darah Sekte

[Bagian 1: Barikade di Ambang Cahaya]

Kabar tentang jatuhnya markas utama Sekte Sayap Perak dan tewasnya Senopati 7, Swaratama, telah mengguncang fondasi kekuasaan Kaisar Drak di wilayah pinggiran. Namun, kesombongan para kultivator di Gerbang ke-6 tidak mengenal batas. Di sebuah lembah raksasa yang dikenal sebagai Lembah Penjaga Suci, sebuah koalisi besar telah terbentuk.

Tiga sekte satelit yang setia kepada Senopati 6, Lux-Aeterna, telah berkumpul. Mereka adalah Sekte Pedang Mentari yang ahli dalam api cahaya, Sekte Awan Putih yang menguasai teknik ilusi langit, dan Sekte Perisai Suci yang memiliki pertahanan fisik terkuat di wilayah tersebut. Lebih dari lima belas ribu murid bersenjata lengkap berbaris rapi. Di barisan depan, tiga Tetua Agung dengan jubah emas berkilauan berdiri dengan angkuh. Mereka semua berada di Nirvana Realm Awal, sebuah tingkatan yang seharusnya cukup untuk menghancurkan satu kerajaan kecil dalam semalam.

"Bocah Arkan itu pasti menggunakan trik kotor untuk mengalahkan Swaratama," geram Tetua Agni-Kala, pemimpin Sekte Pedang Mentari. Pedangnya yang setinggi manusia membara dengan api kuning yang menyilaukan. "Dia pasti terluka parah. Kita akan membantainya di sini dan membagi hartanya!"

Di sampingnya, Tetua Awan Putih mengangguk setuju. "Cahaya suci dari Senopati 6 telah memberkati lembah ini. Kegelapan apa pun yang masuk akan langsung terbakar menjadi abu."

Namun, ucapan mereka terputus oleh sebuah getaran hebat. Langit yang tadinya cerah mendadak bergejolak. Awan-awan putih yang mereka banggakan mulai tersedot ke satu titik hitam di angkasa. Sebuah lubang hitam kecil terbuka di atas lembah, dan dari sana, tiga sosok meluncur turun seperti meteor yang terbakar api ungu.

Bagian 2: Tiga Malaikat Maut Arkan]

BOOOOOM!

Tiga hantaman simultan mengguncang lembah. Ledakan energi tanah, api, dan petir menciptakan kawah raksasa yang langsung menelan ratusan murid barisan depan. Saat debu mulai menipis, tiga sosok berdiri dengan tenang di tengah kepungan belasan ribu musuh.

Srikandi-Tan berdiri di tengah, tubuhnya memancarkan uap panas karena kepadatan Star-Density yang bereaksi dengan atmosfer. Cici melayang satu meter di atas tanah, sayap api ungunya membentang lebar, memercikkan bunga api yang tidak padam meski menyentuh air. Di sisi lain, Liem-Banyu berdiri tegak, matanya yang memiliki tiga pupil biru-emas berputar cepat, mengunci ribuan target sekaligus.

"Tuan memerintahkan kami untuk membersihkan sampah," ucap Cici dengan nada dingin yang menyayat. "Jadi, siapa yang ingin mati pertama?"

"Lancang! Berani-beraninya tiga bocah Earth Realm bicara seperti itu di depan kami!" Tetua Perisai Suci maju ke depan, menghentakkan perisai raksasanya ke tanah hingga menciptakan dinding pertahanan cahaya. "Murid-murid, bunuh mereka!"

[Bagian 3: Pembantaian Tanpa Ampun]

Ribuan murid dari Sekte Perisai Suci merangsek maju dengan formasi kura-kura yang terkenal tak tertembus. Namun, mereka belum pernah bertemu dengan kekuatan Penguasa Kosmik.

Srikandi-Tan mendengus. Ia melangkah maju, tangannya terkepal. "Kalian menyebut ini perisai?"

Ia memukul udara di depannya. Elemen Tanah: Tekanan Inti Bintang!

Ruang di depan tinju Srikandi mendadak melengkung. Gravitasi di area formasi perisai itu meningkat sepuluh ribu kali lipat secara instan. KRAAAK! Perisai-perisai baja tingkat tinggi itu remuk menjadi lempengan tipis, menjepit tubuh para murid di dalamnya hingga menjadi gumpalan daging. Srikandi melesat masuk ke tengah kekacauan, setiap hantaman tangannya meledakkan raga musuh. Ia bukan lagi manusia; ia adalah mesin penghancur yang terbuat dari materi bintang.

Di sisi lain, Liem-Banyu bergerak dalam sunyi yang mematikan. Para murid Sekte Awan Putih mencoba merapalkan ilusi kabut untuk membutakannya. Liem hanya tersenyum tipis. Dengan Frequency Shift, ia tidak lagi melihat dengan mata, tapi dengan getaran sukma.

"Terlalu lambat," bisik Liem.

Dalam satu detik, ia berpindah di antara bayangan lima puluh murid.

SLASH!

Ketika ia menyarungkan kembali pedangnya, lima puluh kepala jatuh serempak ke tanah. Darah menyembur seperti air mancur, membasahi bumi yang mulai menghitam.

Cici adalah yang paling brutal. Ia terbang tinggi, membentangkan tangannya ke arah Sekte Pedang Mentari. "Kalian suka api? Biarkan aku menunjukkan api yang bisa membakar rasa takut kalian."

Dao Initiate: Teratai Void Neraka!

Ratusan teratai api ungu mekar di udara dan jatuh perlahan ke arah musuh. Murid-murid itu mencoba menangkis dengan api kuning mereka, namun saat kedua api itu bersentuhan, api kuning mereka justru "dimakan" dan berubah menjadi ungu. Ini adalah sifat Void Flame—menyerap energi lawan untuk memperkuat diri.

Jeritan ngeri menggema saat ribuan murid terbakar hidup-hidup oleh api yang tidak bisa dipadamkan, bahkan oleh mantra air tingkat tinggi sekalipun.

[Bagian 4: Keputusasaan Para Tetua]

Melihat murid-murid mereka dibantai seperti ternak, ketiga Tetua Agung Nirvana Realm itu mulai panik. Mereka menyadari bahwa ketiga anak muda ini bukan lagi Earth Realm biasa; pondasi mereka telah ditempa oleh energi kosmik murni.

"Gunakan Teknik Gabungan!" teriak Tetua Agni-Kala.

Ketiganya melompat ke udara, membentuk formasi segitiga suci.

"PENGHUKUMAN DEWA CAHAYA: PEDANG KEADILAN!"

Energi dari tiga Nirvana Realm menyatu, menciptakan pedang cahaya raksasa sepanjang dua ratus meter yang turun dari langit, membawa otoritas suci Kaisar Drak. Tanah di bawahnya hancur hanya karena tekanan auranya.

"Mundur, biar aku yang menanganinya!" seru Cici pada dua rekannya.

Cici menarik seluruh energi Void Flame-nya ke dalam telapak tangannya, membentuk sebuah bola api hitam-ungu yang sangat padat. "Jika ini adalah keadilan cahayamu, maka kegelapanku akan menelannya!"

Cici menembakkan bola api itu. Saat bersentuhan dengan pedang cahaya raksasa, ledakan dahsyat terjadi. Namun, tidak ada ledakan cahaya yang menyilaukan. Sebaliknya, bola api Cici mulai "mengunyah" pedang cahaya itu, menyerap esensinya hingga pedang raksasa itu retak dan hancur berkeping-keping.

[Bagian 5: Munculnya Sang Penguasa]

Di tengah kehancuran pedang cahaya tersebut, sebuah sosok melayang turun dengan perlahan dari lubang hitam di langit. Arkan.

Ia berdiri di udara, jubah hitamnya berkibar dengan megah. Kehadirannya seketika memadamkan semua suara di lembah itu. Tekanan aura Arkan yang berada di ambang Eternal Ruin membuat udara menjadi sangat berat hingga para murid yang masih hidup langsung jatuh berlutut, memuntahkan darah karena organ dalam mereka hancur hanya karena tekanan mental.

Arkan menatap tiga Tetua yang kini gemetar di udara. "Sekte Sayap Perak... Sekte Pedang Mentari... Kalian semua bicara tentang cahaya, tapi kalian hanyalah debu di bawah kakiku."

Arkan menatap tiga Tetua yang kini gemetar di udara. "Sekte Sayap Perak... Sekte Pedang Mentari... Kalian semua bicara tentang cahaya, tapi kalian hanyalah debu di bawah kakiku."

Arkan mengangkat satu jarinya. "Pemusnahan Materi: Hujan Kehampaan."

Seketika, sisa-sisa energi di lembah itu memadat menjadi jarum-jarum hitam yang tak terhitung jumlahnya. Dalam satu kedipan mata, jarum-jarum itu melesat, menembus setiap jantung murid dan Tetua yang masih tersisa. Tidak ada perlawanan. Tidak ada teriakan terakhir. Hanya ada keheningan yang mematikan.

[Bagian 6: Menghadapi Sang Dewa Palsu]

Lembah itu kini menjadi tanah mati. Lima belas ribu nyawa telah lenyap dalam hitungan menit. Arkan mengarahkan pandangannya ke Gerbang ke-6

.

Cahaya emas yang sangat murni mulai turun dari langit, diiringi suara harpa yang surgawi. Seorang pria dengan baju zirah emas murni dan sayap cahaya putih yang megah muncul dari balik gerbang. Matanya bersinar dengan otoritas ilahi. Inilah Senopati 6: Lux-Aeterna.

"Kekacauan yang kau bawa harus diakhiri, Arkan," ucap Lux-Aeterna, suaranya bergema seperti guntur yang tenang. "Aku adalah Sovereign Realm, wakil dari cahaya sejati. Kau hanyalah noda yang akan dihapuskan."

Arkan tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh dengan penghinaan murni. "Sovereign Realm? Bagus. Aku sedang lapar, dan jiwamu terlihat cukup lezat untuk menjadi bahan bakar langkahku menuju Eternal Ruin."

Arkan mengeluarkan pedang hitam legamnya yang seolah-olah menghisap cahaya di sekitarnya. "Cici, Liem, Srikandi... bersihkan sisanya. Mahluk bersayap ini... adalah milikku."

1
RYUU
keren
«☆ ⃟⃟Ms•° Achaa♡
etdah nama guru gurunyaa
RYUU: kalau aku gass dan trobos aja nanti rame sendiri orang bisa masa iya kita ngak 🤣
total 22 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!