NovelToon NovelToon
Bayangan Di Yalimo

Bayangan Di Yalimo

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Balas Dendam / Anak Genius
Popularitas:97
Nilai: 5
Nama Author: Laila ANT

Yohan, seorang pemuda urban, mewarisi rumah bobrok di Yalimo dan bertekad menjualnya. Rencananya terhalang oleh roh ibunya, Sumiati, yang terikat pada tanah itu oleh 'Janji Darah'. Dalam upaya investigasi yang membawanya jauh ke pedalaman Papua, Yohan harus mengorbankan identitas modernnya (Pertukaran Jiwa) demi membebaskan Sumiati. Setelah berhasil, ia secara tidak sengaja melepaskan Kutukan Primordial yang lebih tua—energi jahat yang sebelumnya ditahan Sumiati—dan dipaksa menjadi 'Penjaga Pusaka' sejati. Yohan memimpin komunitas melawan serangan hukum dan militer korporat, yang berpuncak pada kemenangan spiritual atas kekayaan. Perjalanannya berakhir ketika ia menyadari bahwa pengorbanan terbesar bukanlah aset, melainkan kemampuan untuk memimpin dengan kerendahan hati dan tanpa kepastian diri, mengubahnya dari pewaris sinis menjadi pemimpin spiritual yang utuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila ANT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Simbol Kuno yang Bangkit

Yohan menyentuh Patung Pusaka Batu yang bersandar di bingkai jendela. Dingin elemental Pusaka yang tadinya menyerap kehangatannya, kini bereaksi liar. Di atasnya, pusaran kabut hitam dari Kutukan Primordial terlihat bergerak. Kabut itu seolah tahu bahwa Penyangganya hilang dan sang Jangkar berada tepat di bawahnya. Suara aneh—desisan gesekan batu besar dan suara gemuruh yang berasal dari dalam tanah—menyertai gerak kabut, membuat Yohan bergidik.

“Cepat, Yohan!” teriak Gultom, mundur ketakutan.

“Kabut itu menyelimuti perbatasan Air Murni. Beberapa keluarga sudah pindah ke pusat desa. Mereka mengira Yalimo sedang dihukum oleh Tanah sendiri!”

Yohan menarik Pusaka Batu dan menatapnya. Ia merasa Pusaka ini adalah bom yang sudah diledakkan sumbunya. "Tanah tidak menghukum, Gultom. Tanah bereaksi. Aku yang memicu reaksi ini."

“Jadi, apa langkahmu, Sang Penjaga yang baru? Katakan, kami akan mengikutimu!” tuntut Gultom, mencampurkan nada putus asa dengan penghormatan baru.

“Pusaka. Jangkar,” bisik Yohan. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, ke Pusaka Batu yang bersinar gelap.

“Patung ini mengikat energi elemental Yalimo. Patung ini yang membuat daerah kita makmur, tapi juga mengumpulkan residu kejahatan. Sumiati dulu menahannya agar residu tidak menyebar, tapi aku melepasnya dari beban itu. Sekarang, Patung ini bukan penyebab Kutukan—ia adalah sumber masalah yang dimanipulasi Ayah.”

Gultom tampak bingung.

“Patung itu jahat?”

“Tidak, Patung itu murni di inti. Ia adalah energi murni. Kutukan elemental yang menyelimuti Pusaka dan yang dirasakan Marta... itu adalah sisa dari entitas purba. Jiro, Marta, Yosef—mereka semua fokus pada uang tambang. Tapi fokus Marta sekarang berubah: dia terikat Kutukan. Dia pasti ingin Pusaka ini tidak dimurnikan.”

Tiba-tiba, teriakan kasar terdengar dari ambang pintu. Beberapa penduduk, termasuk Sesepuh Jiro dan Bude, masuk dengan wajah pucat dan marah.

“Yohan! Kau membawanya!” seru Jiro, tangannya gemetar menunjuk Pusaka Batu. Jiro tidak sekeras Marta, tetapi sama fanatiknya. Matanya merah dan ada goresan kotoran beku di lengannya.

“Di mana Marta?” Yohan bertanya, suaranya tenang. “Aku hanya ingin bertanya padanya mengapa ia melepaskanmu sebelum kita bicara soal Patung.”

“Marta tahu rahasianya!” kata Bude, mendorong maju.

“Kami dilepaskan. Bukan lagi pengkhianat. Yang penting sekarang Pusaka itu harus diletakkan di Kuil Lama! Jika Pusaka disentuh oleh orang asing seperti kamu, Yohan, Kutukan Primordial ini akan menyerang total!”

Jiro, dengan air mata ketakutan, ikut bersuara. “Patung itu adalah jantung kami! Ia harus dipertahankan! Ayahmu memberitahu kami: Pusaka tidak pernah jahat! Itu selalu menyejahterakan kami. Kegelapan ini… kegelapan ini berasal dari energimu yang tidak murni!”

Yohan mendengus. Mereka jatuh ke dalam dogma tradisional tanpa logika, mencoba mengembalikan segalanya seperti semula, padahal normal di masa lalu berarti mengorbankan Sumiati.

“Aku sudah membakar seluruh hidupku di Jakarta agar aku murni di hadapan spiritualitas! Aku menyelesaikan ‘Pertukaran Jiwa Total’,” Yohan menahan Jiro dengan matanya yang tegas, memancarkan wibawa spiritual yang jauh melebihi seorang putra pewaris.

“Bude! Aku menemukan fakta bahwa Ayahku adalah martir. Marta membunuhnya, dan kamu setuju Janji Darah keji itu dilakukan, agar Patung ini berfungsi sebagai penyangga korupsi!”

Yohan maju, Pusaka Batu ada di tangannya. Patung itu bereaksi. Jiro mundur secara fisik, tangannya menyentuh jubah yang dilapisinya seolah meminta perlindungan spiritual lama.

“Ayahmu melakukannya untuk kebaikan bersama! Aku tahu kamu ingin menyelamatkan ibumu. Kau berhasil!” teriak Jiro, histeris.

“Tetapi Patung ini butuh dipertahankan. Pusaka tidak jahat. Hanya ikatanmu yang kacau! Letakkan Pusaka kembali di altar dan biarkan ritual perlindungan purba—ritual yang disembunyikan—kembali dilakukan. Jangan dimurnikan!”

Konflik mengganas. Jiro dan Bude, mewakili tradisi kaku, menolak gagasan Yohan bahwa Pusaka telah terkontaminasi dan butuh pemurnian. Mereka bersikeras bahwa Patung harus kembali ke tempat perlindungannya—yaitu kuil tersembunyi di Gua Suci—untuk melindungi entitas gelap tersebut dengan ritual lama, mengulangi siklus yang hampir membunuh Yalimo.

“Aku punya bukti Ayahku—Yosef yang kini kubela—dibunuh karena dia menolak mengorbankan Ibumu demi Kutukan lama ini terus ditahan!” Yohan berseru lantang, kata-katanya penuh penekanan rohani.

“Ayah ingin memurnikannya. Aku melihat tulisan tangannya!”

Gultom menengahi dengan bijak.

“Yohan benar. Kita telah melihat kejahatan Janji Darah. Kita juga telah melihat Pusaka merespons Yohan di malam pembebasan. Aku percaya, Patung ini harus dihidupkan dengan kebenaran yang baru!”

Yohan merasakan bahunya menegang karena ketegangan spiritual. Pertempuran moral dengan Marta dan Jiro berakhir dengan keadilan Ayahnya. Kini, Yohan harus membuktikan bahwa dogma sesepuh salah, bukan melalui hukuman fisik, melainkan melalui wibawa dan spiritualitas yang tak tertandingi.

“Pusaka adalah Patung Batu, benda elemental. Bukan Patung emas David!” Yohan menatap ke Patung Batu yang digenggamnya.

“Jika kalian bersikeras bahwa Pusaka ini tidak boleh disentuh, maka ia tidak dapat melindungi. Ia hanya akan menjadi gudang untuk energi gelap. Kutukan yang aku lepaskan ini adalah kebocoran dari gudang tersebut, Jiro. Kita harus menemukan lokasinya sekarang. Tempat Pusaka berada. Ayahku menyembunyikannya dari semua orang, bukan?”

Warga yang berdatangan kini, di ambang pintu, mendengar perdebatan sengit ini. Kabut hitam di kejauhan mulai berdesis. Semua orang sadar bahwa ancaman elemen ini adalah urgensi paling mematikan. Kabut hitam semakin mendekat, menyelimuti pekarangan.

Jiro dan Bude mulai mundur perlahan, takut dengan aura kuat yang dipancarkan Yohan saat ia menggenggam Pusaka Batu.

“Itu diletakkan di… di Balik Air Terjun. Kuil yang dilindungi oleh Janji Lama,” kata Jiro menyerah, bibirnya gemetar.

“Kau harus menyembunyikannya kembali!”

Yohan tersenyum sinis.

“Terima kasih atas lokasi Pusaka, Jiro. Aku akan menjaganya, tetapi bukan untuk disembunyikan. Melainkan dimurnikan. Aku akan menggunakan logikaku yang paling murni dan Pusaka ini untuk menyelamatkan Yalimo.”

“Jangan Yohan!” Bude berteriak putus asa, kakinya tersandung dan terjatuh.

“Jika Pusaka digali dan Pemurnianmu gagal, Patung itu akan pecah, dan kutukan akan meledak secara langsung! Kami lebih baik berurusan dengan Marta daripada kekosongan elemental!”

“Kamu lebih memilih kematian pelan dan korupsi!” bentak Yohan.

“Sedangkan, Aku tidak.”

Yohan melompat ke jendela kamar Ayahnya lagi. Kabut hitam terlihat sangat jelas sekarang, menyelimuti puncak pohon paling tinggi. Bau belerang dingin mulai tercium di udara sekitar rumah. Kabut itu menyebarkan aura mematikan yang menyebabkan tanah bergetar perlahan di bawah kakinya.

“Gultom. Siapkan makanan ringan. Aku akan masuk ke Kuil. Aku harus menemukan petunjuk pemurnian secepatnya,” ujar Yohan, nadanya kini beralih menjadi suara komandan militer. Ia mengambil Jimat Perunggu Sumiati dari meja, yang sebelumnya ia temukan, dan mengikatnya di tangan yang lain. Ia kini memegang Pusaka Batu di satu tangan, Jimat Tulang Ina di tangan lain, dan Jimat Perunggu Ayahnya di lengan.

Aku perlu membuktikan bahwa apa yang kulepaskan harus kutangani sendiri. Ini Pertukaran Jiwa Total yang sejati: Aku menukar ketakutan lama dengan tanggung jawab abadi.

“Patung itu... adalah Pusaka Yalimo. Patung batu yang kupegang ini. Tapi jimat perunggu Ayahku adalah kunci fisik ke gua tersembunyi itu. Itu adalah navigasiku,” kata Yohan, menelungkupkan kedua Jimat ke Pusaka Batu.

Gultom menatap dengan mata berbinar ketakutan dan harapan.

“Apakah Jimat itu bicara padamu?”

“Tidak secara lisan, tapi dengan resonansi,” jawab Yohan.

“Energi murni yang diberikan Ina tidak hanya membersihkan rohku, tetapi juga menjadikan artefak lain yang disentuh rohku lebih akurat. Jimat ini akan menunjukkan Pusaka yang kusembunyikan saat aku kecil.”

Yohan melangkah keluar pintu. Dingin segera menusuknya, memadamkan rasa lelah fisik. Ia harus mencapai Gua Suci dan Pemurnian secepatnya.

Ketika Yohan melewati perkarangan, dan menyentuh gerbang dengan tangan yang memegang Pusaka Batu—Yohan tiba-tiba tersentak.

Jimat Tulang yang ditinggalkan Ina di lengan Yohan terasa terbakar. Yohan menoleh ke Jimat Perunggu yang terletak di dekat pintu masuk rumahnya. Ia hanya menunduk.

Jimat Perunggu, yang Yosef gunakan untuk menyimpan Pusaka dan mengendalikan energi lama—Jimat yang Yohan temukan bersama peta lama ke Batu Persembahan—tiba-tiba mulai berputar kencang di tempatnya. Bukan bergerak ditiup angin, tetapi seperti dinamo yang diberi tenaga listrik yang tidak terlihat, ia berputar dan kemudian, dengan hentakan mendadak, menunjuk langsung ke arah hulu—ke Air Terjun di mana Gua Suci berada. Menunjukkan target utamanya: Lokasi Pusaka.

“Telah ditentukan!” Yohan berteriak pada Jiro dan Bude yang melihat fenomena aneh itu, ketakutan.

Yohan tahu Kutukan Elemental yang dia lepaskan kini tahu Yohan membawa sang Jangkar. Mereka sedang dalam perlombaan dengan takdir.

Tanpa berbalik, Yohan melangkah menuju jalur yang ditunjuk Jimat Perunggu. Ia bergegas menuju Kuil, menuju kebenaran tentang pemurnian.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!