NovelToon NovelToon
Asisten Kesayangan Pak Manager

Asisten Kesayangan Pak Manager

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Kantor / Cinta pada Pandangan Pertama / Office Romance
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Seribu Bulan

Felicia datang ke kantor itu hanya untuk bekerja.
Bukan untuk jatuh cinta pada manajer yang usianya lima belas tahun lebih tua—dan seharusnya terlalu jauh untuk didekati.
James Han tahu batas. Jabatan, usia, etika—semuanya berdiri di antara mereka.
Tapi semakin ia menjaga jarak, semakin ia menyadari satu hal: ada perasaan yang tumbuh justru karena tidak pernah disentuh.
Ketika sistem memisahkan mereka, dan Felicia hampir memilih hidup yang lain, James Han memilih menunggu—tanpa janji, tanpa paksaan.
Karena ada cinta yang tidak datang untuk dimiliki, melainkan untuk dipilih di waktu yang benar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seribu Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian Enam Belas

Siang itu, Pak Han kembali meminta Felicia untuk menemaninya makan siang. Padahal, menurut Felicia makanan ketering di kantor itu jauh lebih enak, sehat dan gratis.

Tapi memang dasarnya Pak Han hanya ingin modus, pria itu malah mengajak Felicia untuk makan di sebuah restoran sushi yang berjarak satu jam dari kantornya.

"Pak, ini gapapa kalau kita telat balik ke kantor?" tanya Felicia sambil memerhatikan jam tangannya dengan resah.

"Pekerjaan saya udah selesai semua. Kalau sekarang saya mau pulang juga rasanya gak akan ada masalah." Pak Han mengangkat bahunya tak peduli.

Felicia mendecak pelan, "iya pekerjaan bapak udah selesai. Tapi kerjaan saya masih banyak, Pak."

"Kamu ini, protes melulu. Menemani bos makan siang juga termasuk salah satu job desk kamu." Ucap Pak Han membuat Felicia langsung terdiam.

Pak Han menoleh ke arah Felicia sekilas, "lagian kamu aneh. Asisten teman saya yang lain, justru sering maksa-maksa pengen ikut dinas luar bareng bosnya. Ini kamu saya ajak dengan sukarela malah protes."

"Iya, maaf Pak." gumam Felicia pelan.

Sampai di restoran, Pak Han langsung memesan banyak makanan. Dia juga memberitahu menu-menu favoritnya kepada Felicia, agar nanti ketika ia ingin makan sushi, asistennya itu sudah tahu menu apa yang harus dipesan.

Felicia mencatat semua penjelasan Pak Han di ponselnya. Berjaga-jaga bila suatu saat ia akan lupa dengan menu sushi favorit bosnya tersebut.

Tak menunggu lama, berbagai hidangan khas Jepang memenuhi meja mereka. Felicia sampai terbengong melihat sebegitu banyaknya makanan yang tersaji disana.

"Pak, ini gak kebanyakan?" tanya Felicia.

"Makan saya banyak. Kamu juga, makan yang banyak. Ayo, kapan lagi makan sushi gratis." Pak Han meraih satu piring kecil berisi gulungan nasi yang dibalut dengan salmon panggang.

"Felicia, makan. Gak usah malu-malu." Pak Han menyodorkan piring lain saat Felica hanya diam saja.

Mereka menikmati hidangan dalam diam. Pak Han sudah menghabiskan hampir sepuluh jenis sushi sementara Felicia masih berjuang menghabiskan piring ketiganya.

"Fel, kamu tahu nggak kenapa saya di panggil ke Semarang minggu lalu?" tanya Pak Han memecah keheningan.

Felicia mendongak, "urusan PO musim panas itu kan Pak? Yang modelnya nggak bisa di produksi masal karena desainnya yang rumit?"

"Itu salah satunya. Ada masalah lain juga disana,"

Felicia menghentikan tangannya yang hendak menyumpit makanan, "boleh saya tahu soal apa?"

Pak Han mengangguk, "posisi Direktur operasional di Semarang lagi kosong."

Felicia benar-benar menaruh sumpitnya diatas piring. Nafsu makannya benar-benar hilang. Baru saja dia naik jabatan, masa sekarang harus turun lagi karena Pak Han akan pindah ke Semarang?

Kemarin Pak Lee yang diambil, sekarang Pak Han?

"Maksudnya, bapak mau pindah kesana dan saya harus balik ke ruang sampel lagi ya Pak?" tanya Felicia ragu-ragu.

"Belum tentu saya akan kesana, Fel. Para Direksi memang minta saya untuk maju sebagai salah satu kandidat, tapi syaratnya terlalu berat." Ucap Pak Han sambil menarik piring sushi lain.

"Tapi Pak, menurut saya Bapak cocok banget untuk jadi Direktur Operasional. Leadership Bapak bagus, pengalaman ada, terus syarat yang gak bisa bapak penuhi apa?"

Pak Han berdeham pelan, ia meminum segelas ocha sebelum menatap Felicia serius. "Dewan komisaris mau pemimpin yang lengkap. Mereka bilang saya tidak akan bisa memimpin ribuan orang kalau membangun satu rumah tangga saja saya belum bisa."

"Maksudnya, mereka mau bapak... Menikah?"

Pak Han mengangguk pasti, "pintar. Mereka ngasih saya waktu tiga bulan, untuk mencari calon istri dan menikah sebelum pemilihan Direktur itu resmi dimulai."

"Terus gimana Pak? Bapak mau menikah, atau mundur?" tanya Felicia polos.

"Saya mau naik ke posisi itu, Fel. Jadi Direktur Operasional meski di perusahaan cabang, akan membuat portofolio saya semakin bagus. Tapi saya bingung, mau menikah dengan siapa dalam waktu tiga bulan? Memangnya cari calon istri sama kaya cari vendor kancing apa?!" omel Pak Han sambil menyandarkan punggungnya ke kepala sofa.

"Lagian, usia bapak juga memang udah pas kok buat menikah. Kelebihan malah," ucap Felicia membuat Pak Han melotot seketika.

"Hei, di Korea, usia seperti saya ini ideal. Banyak pria berusia lima puluh tahun yang belum menikah, bahkan tidak punya pacar!" Pak Han berusaha membela diri.

"Tapi bapak kan kerja di Indonesia. Di sini, pria seusia bapak biasanya sudah punya anak tiga." Felicia menurunkan nada bicaranya.

Pak Han semakin terkejut, "memangnya menikah muda, sesuatu yang legal disini?"

"Menikah muda? Ya enggaklah, Pak. Syarat menikah disini sama aja kayak di negara lain, salah satunya ya harus cukup umur." jelas Felicia.

"Memangnya, berapa usia minimal perempuan Indonesia bisa menikah?" tanya Pak Han penasaran.

"Sembilan belas tahun, Pak."

Mata Pak Han hampir saja keluar dari kelopaknya, "Apa? Sembilan belas tahun? Itu kalian masih, astaga. Itu usia anak anak, Felicia."

"Nah, itu karena bapak sudah kelewat dewasa. Bagi saya, perempuan sembilan belas tahun itu sudah lumayan dewasa, kok."

Pak Han menatap Felicia sinis, "memangnya usia kamu berapa? Kamu juga kelihatan kayak anak kecil."

"Enak aja. Umur saya itu dua puluh lima pak. Bulan April nanti, jadi dua enam." Felicia berkata bangga.

"Berarti, kamu sudah legal untuk menikah dong?"

Kali ini giliran Felicia yang melotot, pertanyaan itu terdengar seperti backsound film horor yang tiba-tiba berputar dikepalanya.

Felicia tahu kemana arah pembicaraan Pak Han. Tidak, dia belum siap menikah. Apalagi jika harus menikah hanya untuk membantu bosnya naik jabatan.

"Kamu mau nggak, menikah sama saya?"

1
Seribu Bulan 🌙
siap kak makasih yaa😍
Andina Jahanara
lanjut sampe tamat kak 💪
Faidah Tondongseke
Ceritanya seru,Cinta bersemi di kantor,Asiik deh pokoknya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!