NovelToon NovelToon
Penjelajah Rimba Tak Berhingga

Penjelajah Rimba Tak Berhingga

Status: sedang berlangsung
Genre:Kelahiran kembali menjadi kuat / Action / Reinkarnasi / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:559
Nilai: 5
Nama Author: Guraaa~

Di puncak kesendirian yang tak tertandingi, Kaelen, sang Monarch Primordial, telah menguasai semua hukum alam di alam semestanya. Namun, kemenangan terasa hampa. Justru pada detik ia menyentuh puncak, sebuah segel kuno terpecah dalam jiwanya, mengungkap ingatan yang terpendam: ia bukanlah manusia biasa, melainkan "Fragmen Jiwa Primordial" yang tercecer dari sebuah ledakan kosmik yang mengawali segala penciptaan.

Dicetak ulang melalui ribuan reinkarnasi di dunia yang tak terhitung jumlahnya, setiap kehidupan adalah sebuah ujian, sebuah pelajaran. Tujuannya bukan lagi sekadar menjadi yang terkuat di satu dunia, tetapi untuk menyatukan semua fragmen jiwanya yang tersebar di seantero Rimba Tak Berhingga — sebuah multiverse yang terdiri dari lapisan-lapisan realitas, mulai dari dunia rendah beraura tipis, dunia immortal yang megah, hingga dimensi ilahi yang penuh dengan hukum alam purba.

Namun, Kaelen bukan satu-satunya yang mencari. Para Pemburu Fragmen, entitas dari zaman sebelum waktu,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Guraaa~, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Kebangkitan di Reruntuhan

Kabut pagi yang dingin dan lembap menyelimuti rimba kuno di perbatasan timur wilayah Marga Surya. Udara berbau campuran tanah basah, lumut, dan sesuatu yang tajam—bau bahaya. Di antara semak belukar yang lebat dan akar-akar pohon raksasa yang menjalar seperti ular batu, terbaring seorang pemuda.

Kaelen—atau setidaknya, itulah nama yang diberikan tubuh ini—merasakan setiap hela nafasnya seperti pisau yang menggerus paru-parunya. Rasa sakit berdenyut-denyut dari luka di kepalanya, dari tulang rusuknya yang kemungkinan retak, dan dari luka lecet di sekujur kulitnya. Pakaiannya yang sederhana dari kain kasar sudah compang-camping, basah oleh embun dan bercak-bercak darah yang sudah menghitam. Matanya terbuka, menatap kanopi hutan di atasnya yang hanya menyisakan celah-celah kecil cahaya keemasan fajar. Ia tidak perlu mengingat bagaimana bisa berada di sini; ingatan itu segar, menusuk, dan penuh pengkhianatan.

“Kau terlalu lemah untuk menjadi beban marga, Kaelen. Lebih baik kau memberikan sisa-sisa nyawamu yang tak berguna ini untuk melindungi kampung.” Kata-kata sepupunya, Arlan, berdentang di kepalanya. Senyuman dingin itu, tatapan yang penuh dengan kepuasan karena akhirnya bisa menyingkirkan “aib” keluarga—sepupu yang bakat kultivasinya nyaris tidak ada, anak dari garis keturunan yang sudah terdegradasi. Mereka telah membawanya jauh ke dalam hutan, menyeretnya seperti bangkai, sebelum melemparkannya di dekat sarang seekor Sabertooth Nightcrawler—binatang buas berbulu hitam legam dengan taring sepanjang pedang belati yang dikenal sebagai pemangsa bagi kultivator lapis pertama sekalipun.

Dulu, dalam kehidupan sebelumnya yang tak terhitung jumlahnya, penghinaan seperti ini akan dijawab dengan pemusnahan sebuah bintang. Tapi sekarang… sekarang ia bahkan kesulitan menggerakkan jari kelingkingnya. Tubuh ini sangat lemah, teracuni oleh sisa-sisa obat yang mereka berikan untuk melumpuhkan saluran energinya. Ia adalah seekor tikus yang menunggu disembelih.

Namun, sesuatu yang aneh terjadi. Di tengah gelombang keputusasaan yang seharusnya melanda, justru ada keheningan. Sebuah kehampaan yang lebih dalam dari ruang antarbintang. Matanya yang tadinya memantulkan ketakutan dan kepahitan, perlahan menjadi datar, lalu… jernih. Sangat jernih. Seperti danau kuno yang tak lagi terdorong oleh angin.

Lalu, datanglah suara itu. Bukan suara dari luar, melainkan dari dalam dirinya sendiri, dari tempat yang begitu dalam sehingga seolah berasal dari zaman sebelum dirinya lahir. Sebuah retak yang samar, seperti kristal terbaik yang pecah di bawah tekanan kosmik.

KRRRAAAAK—

Seketika, dunia berubah.

Cahaya fajar yang menembus daun bukan lagi sekadar cahaya. Ia melihat partikel-partikel energi fotonik menari, berinteraksi dengan molekul udara, diserap oleh klorofil pada daun. Desiran angin bukan lagi sekadar desiran. Ia “mendengar” aliran tekanan udara, hukum Bernoulli dalam skala mikro, gesekan yang menghasilkan suara. Kehidupan hutan—dari bakteri di tanah hingga jantung berdebar-debar seekor kelinci yang bersembunyi tiga ratus langkah darinya—semuanya memancarkan sebuah simfoni energi yang rumit dan indah. Dan tubuhnya sendiri… ia bisa melihat setiap meridian yang rusak, setiap titik akupuntur yang tersumbat oleh racun berwarna kehijauan, setiap sel yang merintih kekurangan nutrisi dan Qi.

Ini bukan persepsi seorang kultivator. Ini adalah penglihatan dari sesuatu yang… lebih tua.

Kilasan-kilasan imaji membanjiri pikirannya, seperti pecahan kaca yang mencoba menyatu kembali.

Sebuah cahaya putih yang tak terbatas, meledak dalam keheningan yang mutlak.

Ribuan, jutaan, milyaran percikan api kesadaran yang beterbangan, tersebar ke dalam kegelapan yang tak berujung.

Sebuah perasaan… kerinduan yang mendalam, mendesak, untuk menjadi utuh kembali.

Dan satu kata, bergema dari pusat keberadaannya: Fragmen.

Kaelen—atau entitas apa yang sekarang menempati tubuh Kaelen—menghela nafas. Nafas yang pertama yang benar-benar ia rasakan dalam kehidupan ini. Udara masuk, memenuhi paru-paru, dan untuk pertama kalinya, ia tidak merasakan sakit. Ia merasakan… potensi.

“Jadi begitulah,” bisiknya, suaranya serak tapi penuh dengan makna baru. “Ini bukan akhir. Ini hanyalah… satu titik dalam perjalanan yang panjang.”

Pengetahuan yang tak terukur mengalir dari celah retakan segel dalam jiwanya. Ia bukan Kaelen si anak marga yang lemah. Ia adalah sesuatu yang jauh lebih kuno, sebuah pecahan dari Jiwa Primordial yang telah menjelajahi Rimba Tak Berhingga, mengalami hidup dan mati di dunia yang tak terhitung. Setiap kehidupan adalah sebuah pelajaran, sebuah lapisan pengalaman. Dan kehidupan ini, di dunia Xuan Liang yang keras ini, adalah panggung berikutnya. Tujuannya jelas sekarang: untuk menjadi utuh. Untuk menemukan semua bagian dirinya yang hilang.

Tapi pertama-tama, ia harus bertahan.

Sebuah auman rendah mengguncang udara, mengirimkan gelombang ketakutan primordia ke seluruh penghuni hutan. Kaelen menoleh, tanpa panik. Dari balik pepohonan, sepasang mata berwarna kuning belerang menyala seperti lentera neraka. Sabertooth Nightcrawler. Panjangnya sekitar dua meter, otot-ototnya berbulu hitam bergerak bagai aliran minyak di bawah kulitnya. Air liur menetes dari taringnya yang melengkung, menetes ke tanah dan mendesis kecil.

Binatang itu mencium darah. Mencium kelemahan.

Biasanya, Kaelen—yang lama—akan membeku ketakutan, menangis, atau berusaha lari dengan sia-sia. Kaelen yang baru hanya mengamati. Ia menganalisis. Kecepatan: 50 langkah dalam tiga detik. Kekuatan gigitan: cukup untuk meremukkan tulang baja. Kelemahan: titik lemah di persendian kaki depan, sensitivitas auditori yang ekstrem.

Nightcrawler itu mendekat, langkahnya penuh keyakinan. Ia melihat mangsa yang tak berdaya.

Kaelen menggerakkan tangannya. Gerakan yang lambat, tampak berat. Ia menekan telapak tangannya ke tanah yang dingin. Bukan untuk mendorong dirinya berdiri, tetapi untuk merasakan. Ia merasakan getaran bumi, aliran energi geologis yang dangkal di bawah permukaan. Energi dunia ini—mereka menyebutnya “aura langit bumi”—terasa kasar dan encer baginya, seperti udara tipis di puncak gunung. Tapi ia tidak berniat menyerapnya seperti kultivator lain.

“Semua energi,” gumamnya, matanya tak lepas dari binatang buas yang kini bersiap untuk menerkam, “pada dasarnya adalah getaran. Getaran yang mematuhi Hukum.”

Ia ingat, di sebuah dunia yang telah lama hilang, ia pernah mempelajari hukum dasar resonansi. Ia memfokuskan sisa kekuatan, sisa kesadarannya yang baru bangkit, ke ujung jarinya. Bukan untuk menarik aura, tetapi untuk memberi perintah kecil pada getaran molekul udara di depan telinga Nightcrawler.

“Beresonansilah.”

Hampir tidak ada yang terlihat. Hanya gelombang udara kecil yang tak kasat mata. Tapi efeknya instan.

Nightcrawler yang sedang bersiap menerkam tiba-tiba mengeluarkan jeritan kesakitan yang melengking, berbeda dari auman galaknya sebelumnya. Ia menggelengkan kepalanya dengan liar, kedua cakar depannya mencakar telinganya sendiri. Getaran resonansi yang diciptakan Kaelen—meski dengan energi yang sangat minim—telah menciptakan suara frekuensi tinggi yang tak terdengar oleh manusia, tetapi seperti palu godam di dalam telinga sensitif predator itu. Keseimbangannya hilang.

Ini adalah kesempatannya. Kaelen bergerak. Gerakannya tidak elegan atau cepat, tetapi efisien. Dengan tenaga dari otot-otot yang nyaris tak berguna, ia menggulingkan tubuhnya ke samping, menghindari cakar liar Nightcrawler. Tangannya meraih sebuah batu runcing yang tergeletak di dekatnya. Batu itu biasa saja, bukan senjata.

Tapi di tangan Kaelen, dengan pemahaman intuitif tentang titik tekanan, sudut, dan hukum momentum yang ia miliki dari ingatan yang tak terhitung, batu itu menjadi senjata mematikan.

Saat Nightcrawler, masih bingung dan kesakitan, membuka rahangnya untuk menggigit, Kaelen—dengan ketepatan yang luar biasa—menyodokkan batu runcing itu bukan ke matanya, bukan ke hidungnya, tetapi tepat ke sudut rahang bawah, di persimpangan otot dan tulang. Titik yang, jika mendapat tekanan tepat, akan memicu kejang otot dan melumpuhkan rahang untuk sesaat.

Krak! Suara tulang yang bergeser.

Nightcrawler menjerit lagi, kini dengan nada frustrasi dan kebingungan. Rahangnya terkunci separuh. Kaelen tidak berhenti. Ia menggunakan seluruh berat tubuhnya yang ringan untuk mendorong, memanfaatkan momentum binatang yang terhuyung-huyung. Nightcrawler tersandung, dan dengan dorongan terakhir, Kaelen berhasil membuatnya jatuh tersungkur.

Binatang buas itu tidak mati. Ia bahkan masih sangat berbahaya. Tapi pertempuran sudah berubah. Rasa takut primordia kini berganti di mata kuning itu. Binatang ini, meski tak berakal budi tinggi, memiliki naluri yang tajam. Nalurinya memberitahunya bahwa makhluk di depannya ini bukanlah mangsa yang lemah. Ada sesuatu yang salah. Ada sesuatu yang… kuno dan mengancam, memancar dari sosok manusia yang compang-camping itu.

Dengan rahang yang sakit dan keseimbangan yang terganggu, Nightcrawler itu menggeram rendah, lalu mundur. Ia membalikkan badan, dan dengan kelincahan yang tersisa, melesat masuk kembali ke kedalaman hutan yang gelap.

Kaelen terduduk, bersandar pada sebuah akar pohon. Keringat dingin membasahi tubuhnya. Tindakan kecil tadi telah menghabiskan hampir semua tenaga tubuh ini. Tapi di dalam dadanya, ada api baru yang menyala. Api penegasan.

Ia memandang tangannya yang kotor dan berdarah. Bukan tangan seorang dewa atau raja, tetapi tangan seorang yang baru memulai. Tapi di dalamnya mengalir pemahaman tentang realitas yang tak terbayangkan oleh kultivator terhebat di dunia Xuan Liang sekalipun.

“Dunia ini hanyalah satu dari banyak,” katanya pada dirinya sendiri, suaranya semakin kuat. “Tubuh ini hanyalah wahana. Tujuanku jelas. Aku harus kuat. Aku harus naik dari dunia rendah ini, menjelajahi lapisan-lapisan realitas, dan menemukan semua bagian diriku.”

Dengan tekad baru yang membara, ia berdiri, bergantung pada akar pohon. Langkah pertama adalah kembali ke Marga Surya. Bukan sebagai korban yang memohon belas kasihan, tetapi sebagai seorang pengamat, seorang penjelajah yang menyamar. Ia perlu sumber daya, informasi, dan tempat untuk memulai kultivasi ulang dengan cara yang benar—cara yang tidak hanya menyerap aura, tetapi memahami dan memanipulasi hukum di balik aura itu sendiri. Cara yang akan membawanya melampaui batas-batas dunia ini.

Dia menatap arah kampung marga, matanya yang dulu redup sekarang bagai dua sumur dalam yang menyimpan galaksi. Senyum tipis mengambar di bibirnya yang pecah-pecah.

“Baiklah, Arlan. Sepupu-sepupu yang terhormat. Aku akan pulang. Mari kita lihat… apa yang bisa kupelajari dari ‘beban’ marga yang sepertinya ini.”

Dengan langkah tertatih-tatih namun penuh keyakinan, Kaelen—sang Fragmen, sang Penjelajah yang bangkit—mulai berjalan menyusuri jalan setapak keluar dari rimba, meninggalkan sarang Nightcrawler dan kehidupan lamanya di belakang, melangkah menuju permulaan sebuah legenda yang akan membentang melintasi Rimba Tak Berhingga.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!