NovelToon NovelToon
Lu Daimeng: Diluar Jalan Kultivasi

Lu Daimeng: Diluar Jalan Kultivasi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Balas Dendam / Epik Petualangan
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: EGGY ARIYA WINANDA

‼️MC BERSIFAT IBLIS‼️

Langit memberinya takdir kejam, dibenci Oleh Qi, tidak memiliki dantian, bahkan tidak memiliki meridian.

Dibuang oleh ayahnya sendiri.
Sifat lembut Lu Daimeng hilang tak tersisa, digantikan oleh sifat iblis yang mengerikan.

Dia adalah anti dao, sebuah jalan yang tercipta karena perlawanan kepada langit.

Dia tidak di takdirkan untuk naik menuju puncak.
Dia di takdirkan untuk menghancurkan puncak itu sendiri.

Ini adalah kisah dari apa yang mereka sebut

ANTI DAO.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EGGY ARIYA WINANDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Alam Rahasia Lembah Gunung Jinting 8 : Akhir

Waktu di dalam Alam Rahasia yang tertutup adalah sungai yang stagnan. Tidak ada matahari terbit, tidak ada matahari terbenam. Hanya ada cahaya nebula abadi yang menyinari pembantaian.

Tiga bulan berlalu.

Bagi dunia luar, itu hanyalah kedipan mata. Bagi ekosistem alam rahasia Zona Dalam, itu adalah hidup dan mati.

Lu Daimeng berjalan melewati hutan raksasa. Langkah kakinya tidak bersuara, namun setiap kali kakinya menyentuh tanah, rumput di sekitarnya layu seketika—kehidupan mereka disedot habis oleh Dark Null yang melapisi telapak kakinya.

Di belakangnya, terbentang jalur kematian selebar sepuluh meter yang memanjang bermil-mil. Pohon-pohon kering, bangkai binatang buas yang menyusut menjadi mumi, dan tanah yang kehilangan warna.

Dia tidak berburu karena lapar lagi. Dia berburu untuk memadatkan.

Setiap Beast Core yang dia makan, setiap tanaman racun yang dia kunyah, semuanya diproses oleh empat singularitas di perutnya. Energi itu tidak disebarkan untuk memperbesar ototnya—ototnya sudah mencapai batas biologis, jika lebih besar lagi akan membuatnya kesulitan bergerak. Energi itu digunakan untuk memadatkan Aura Pembunuh (Killing Intent).

Lu Daimeng berhenti di depan seekor Harimau Sabertooth Berbaju Besi (Ranah Jiwa Tahap 5).

Harimau itu, raja wilayah selatan, seharusnya menerkam. Tapi saat melihat Lu Daimeng, harimau itu gemetar. Lututnya lemas. Ia melihat bayangan hitam raksasa berdiri di belakang manusia besar itu.

"Mati," bisik Lu Daimeng.

Dia tidak bergerak. Dia hanya melepaskan tekanan mentalnya.

BOOM.

Jantung harimau itu meledak di dalam dadanya karena teror murni. Pembuluh darah di otaknya pecah.

Raja hutan mati karena ketakutan.

Lu Daimeng berjalan melewatinya, menyentuh kepala bangkai itu, dan dalam hitungan detik, seluruh esensi harimau itu tersedot masuk ke telapak tangannya, meninggalkan tulang dan kulit kering.

"Hutan ini sudah tidak layak," simpul Lu Daimeng.

Dia telah menjadi puncak rantai makanan. Niat Membunuh + Anti-Dao + Aura Naga \= Bencana Ekologis Berjalan.

Dia membutuhkan tantangan baru. Atau jalan keluar.

Dia berjalan menuju pusat Alam Rahasia. Ke tempat di mana aliran Ley Lines (Nadi Bumi) berkumpul.

Di sana, di tengah danau yang airnya sebening cermin, berdiri sebuah pulau kecil. Dan di atas pulau itu, terdapat sebuah struktur kuno.

Sebuah Monumen Teleportasi.

Batu obelisk setinggi dua puluh meter, diukir dengan ribuan rune yang berkedip lemah. Ini adalah pintu keluar yang seharusnya terkunci selama sepuluh tahun.

Lu Daimeng terbang melompati air (menggunakan lonjakan otot kaki), mendarat di depan monumen itu.

Dia mengamati rune tersebut dengan Triple Pupil-nya.

Kultivator biasa akan melihat pola acak. Ahli formasi akan melihat kunci yang rumit.

Lu Daimeng melihat cacat.

"Struktur ini dirancang untuk siklus sepuluh tahun," analisis otak gandanya. "Tapi ada celah di sirkuit energinya. Sebuah backdoor (pintu belakang)."

Mata Tiga Pupil-nya berputar, memisahkan lapisan realitas. Di balik rune teleportasi standar, dia melihat jejak energi yang sangat tipis, hampir mikroskopis, yang mengarah ke dimensi saku di balik monumen.

"Seseorang menyembunyikan sesuatu di sini," gumamnya. "Sesuatu yang tidak ingin ditemukan oleh murid sekte biasa."

Lu Daimeng menempelkan tangannya ke monumen.

Dia mengalirkan Dark Null.

Energi hitamnya merambat masuk ke dalam ukiran batu, memakan simpul-simpul pengaman, memotong jalur logika formasi, dan memaksanya untuk membuka jalur tersembunyi itu.

KRETEK... WUUUNG!

Monumen itu bergetar hebat. Cahaya biru berubah menjadi hitam pekat.

Di udara, tepat di samping monumen, ruang terbelah. Sebuah celah vertikal muncul. Bukan portal cahaya yang indah, melainkan robekan kasar yang memancarkan aura kuno dan menyakitkan.

Pintu Tersembunyi.

Lu Daimeng tidak ragu. Dia melangkah masuk.

Dimensi Ujian - Jalan Penyesalan.

Dunia berputar. Gravitasi hilang.

Saat Lu Daimeng memijakkan kaki, dia berada di sebuah lorong panjang yang terbuat dari tulang belulang naga yang dipadatkan.

Tidak ada ujung yang terlihat.

Dan seketika, tekanan itu datang.

Bukan tekanan fisik.

Itu adalah Tekanan Memori.

Wush.

Pemandangan di sekelilingnya berubah. Lorong tulang itu lenyap, digantikan oleh halaman rumah Keluarga Lu yang bersalju.

Dia kembali menjadi anak kecil berusia tujuh tahun.

Di depannya, berdiri Kakak Sulung, Kakak Kedua, dan Kakak Ketiga. Mereka memegang cambuk rotan.

"Lari, Daimeng! Larilah seperti anjing!" teriak mereka.

CTAR!

Cambuk itu mengenai punggungnya. Sakit. Rasa sakitnya nyata. Kulitnya robek. Dinginnya salju menusuk tulang.

"Ini ilusi," pikir Lu Daimeng dewasa. Kesadarannya tahu ini palsu.

Tapi tubuhnya... tubuhnya kembali kecil. Dia merasakan ketidakberdayaan itu lagi. Rasa malu. Rasa takut.

"Menangis!" perintah suara ayahnya dari kejauhan. "Menangislah agar kami tahu kau masih hidup!"

Lu Daimeng kecil berlari. Dia jatuh. Dia dipukuli. Dia diludahi.

Di dunia nyata, tubuh fisik Lu Daimeng (yang dewasa) berdiri di lorong tulang. Dia gemetar. Keringat dingin membanjiri tubuhnya. Darah menetes dari hidungnya.

Ujian ini menyerang Trauma. Ia memaksa korban untuk menghidupkan kembali momen terlemah mereka berulang kali, memperkuat rasa sakitnya seratus kali lipat.

Jika mentalnya lemah, jiwanya akan hancur di sini, menjadi gila karena depresi abadi.

"Menangis..." bisik ilusi itu.

Lu Daimeng, di dalam ilusi, berhenti berlari.

Dia berbalik menatap kakak-kakaknya yang memegang cambuk.

Wajah anak kecil itu berubah. Matanya menjadi mata Triple Pupil yang dingin.

"Aku sudah selesai menangis," kata Lu Daimeng kecil.

Di dunia nyata, Lu Daimeng melangkah maju.

DUM.

Satu langkah.

Ilusi itu retak.

"Kalian hanyalah ketakutan masa lalu," geram Lu Daimeng. "Rasa takut ini.... tidak lagi berguna!"

Dia tidak menolak memori itu. Dia mengingatnya.

Dia membiarkan rasa sakit cambuk itu masuk, lalu membakarnya dengan amarah di dalam hatinya. Dia mengubah trauma menjadi adrenalin.

Langkah kedua. Ilusi berubah menjadi saat dia dibuang ke hutan.

Langkah ketiga. Saat dia digigit kelinci.

Setiap langkah adalah penyiksaan mental. Tapi setiap langkah juga membuatnya semakin marah. Semakin benci. Dan semakin kuat.

"AKU TIDAK AKAN TUNDUK PADA SIAPAPUN!! BAHKAN PADA LANGIT YANG MENULIS TAKDIR BURUK PADAKU!"

Lu Daimeng meraung. Singularitas Psikis di otaknya berputar maksimal, menyedot ilusi itu seperti vakum cleaner menyedot debu.

Lorong tulang itu bergetar. Ujian mental itu runtuh karena tidak mampu menahan kepadatan kebencian Lu Daimeng.

Dia sampai di ujung lorong.

Sebuah ruangan kecil, sederhana, tanpa hiasan.

Di tengah ruangan, melayang sebuah benda.

Sebuah pedang.

Tapi benda itu sulit disebut pedang. Itu lebih mirip sobekan kegelapan yang dibekukan.

Warnanya hitam absolut—lebih hitam dari Dark Null milik Lu Daimeng. Tidak ada gagang, tidak ada pelindung tangan. Hanya sebilah logam (atau energi?) sepanjang satu meter yang melayang vertikal.

Pedang Jiwa Surgawi (Heavenly Soul Sword).

Artefak Kuno yang ditinggalkan oleh entitas yang mungkin lebih tua dari naga hitam itu.

Lu Daimeng mendekat.

Insting naganya menjerit: BAHAYA. LARI.

Insting manusianya berbisik: SENJATA SEMPURNA.

"Kau..." Lu Daimeng menatap pedang itu. "Kau tidak punya bentuk yang stabil."

Pedang itu bergetar. Seolah menantang.

Lu Daimeng mengulurkan tangannya.

Saat ujung jarinya menyentuh bilah hitam itu...

ZRRRRTTTTT!

Bukan dia yang memegang pedang. Pedang itu yang memegang dia.

Pedang itu mencair.

Struktur atom pedang itu terurai menjadi partikel nano, dan partikel-partikel itu menembus pori-pori kulit tangan Lu Daimeng.

"ARGHHHHHHHHHH!!!!"

Teriakan Lu Daimeng kali ini bukan teriakan perang. Ini teriakan murni dari rasa sakit biologis yang melampaui batas kewarasan.

Rasanya seperti miliaran semut api yang terbuat dari silet masuk ke dalam aliran darahnya.

Partikel pedang itu masuk, menjalar melalui vena, menuju jantung, menuju otak, menuju tulang.

Mereka tidak mau menjadi senjata. Mereka mau menjadi tuan. Pedang itu memiliki jiwa yang dominan, mencoba mengambil alih tubuh Lu Daimeng, mengubahnya menjadi sarung pedang abadi.

Tubuh Lu Daimeng kejang. Dia jatuh ke lantai, berguling-guling.

Kulitnya retak. Cahaya hitam menyembur dari retakan itu. Ribuan meter di sekelilingnya, dinding dimensi saku itu mulai runtuh karena gelombang kejut energi yang tidak terkendali.

"KELUAR!" teriak Lu Daimeng, memukul dadanya sendiri.

Tapi pedang itu sudah menyatu dengan darahnya.

Rasa sakit transplantasi otak dan jantung naga dulu terasa seperti gelitikan dibandingkan ini. Ini adalah invasi tingkat molekuler. Pedang itu mencoba mengubah DNA-nya dari manusia menjadi artefak hidup.

"Kau mau tubuhku?!" Lu Daimeng menggertakkan giginya hingga hancur (lalu tumbuh lagi).

"TAHAN!!, JADILAH BAGIAN DARIKU!"

Lu Daimeng mengaktifkan kartu as-nya.

Empat Anti-Dao di perut + Singularitas Psikis di otak + Jantung Naga.

Dia mengerahkan seluruh kesadarannya untuk menyerang balik partikel pedang itu.

Dark Null miliknya menyerbu partikel asing itu. Bukan untuk menghancurkan, tapi untuk memperbudak.

Darah naga yang panas membakar partikel itu, melunakkannya.

Singularitas otaknya menghantam jiwa pedang itu dengan dominasi mental.

Perang besar terjadi di dalam tubuh Lu Daimeng.

Jiwanya melawan jiwa pedang.

Satu jam. Dua jam.

Lu Daimeng muntah darah hitam. Matanya berdarah hitam.

Akhirnya... getaran itu berhenti.

Pedang itu menyerah. Jiwanya dihancurkan, dan materi fisiknya dilebur paksa ke dalam struktur seluler Lu Daimeng.

DOOOOOM.

Sebuah gelombang energi hitam meledak dari tubuh Lu Daimeng, meruntuhkan ruangan itu sepenuhnya.

Lu Daimeng berdiri di tengah reruntuhan dimensi.

Dia telanjang dada. Tubuhnya berubah. Ada kilau samar di bawah kulitnya. Urat-uratnya berwarna hitam pekat.

Dia mengepalkan tangan kanannya.

"Keluar," perintahnya.

Dari pori-pori telapak tangan kanannya, asap hitam merembes keluar. Cairan itu memadat seketika, membentuk sebuah pedang hitam legam yang menyatu langsung dengan daging tangannya. Tidak ada gagang. Pedang itu tumbuh dari tulangnya.

Pedang Jiwa Surgawi.

Sekarang, pedang ini adalah bagian dari tubuhnya. Dia tidak perlu membawanya. Dia adalah pedangnya.

Lu Daimeng mengayunkan tangan kanannya ke depan. Pelan.

SLASH.

Di depannya, ruang kosong terbelah.

Sebuah garis hitam tipis—seperti rambut—muncul di udara.

Irisan dimensi.

Dia baru saja memotong ruang spasial. Sangat tipis, hanya mikroskopis, dan ruang itu segera menutup kembali dalam satu detik. Tapi itu adalah bukti.

Ketajaman pedang ini melampaui materi.

"Sempurna," desis Lu Daimeng. Dia menarik kembali pedang itu. Logam hitam itu menjadi kabut hitam, masuk kembali ke dalam pori-porinya, menghilang tanpa jejak.

Tiba-tiba, dimensi saku itu mulai runtuh total.

Langit-langit retak.

Lu Daimeng melihat ke arah portal keluar.

"Waktunya pergi."

Dia melompat keluar dari dimensi saku, kembali ke depan Monumen Teleportasi di Alam Rahasia.

Namun, monumen itu sekarang rusak parah karena Lu Daimeng memaksanya membuka pintu belakang. Rune-nya terbakar.

"Teleportasi acak," analisis Lu Daimeng. "Karena Koordinatnya rusak."

Dia tidak peduli. Selama keluar dari sini.

Dia mengalirkan Dark Null ke monumen itu lagi, memicunya secara paksa.

VWOOOM!

Cahaya putih menelannya. Tubuhnya ditarik, dipelintir, dan dilempar melintasi ruang dan waktu dengan kasar.

Hutan Kabut Kematian - Wilayah Tengah.

BRUK!

Lu Daimeng dimuntahkan dari udara, jatuh menghantam tanah berlumpur.

Dia bangkit seketika, waspada.

Hutan ini familiar. Kabut tebal. Pohon-pohon bengkok. Bau kematian.

Ini bukan Alam Rahasia. Dia telah keluar dari alam rahasia. Hutan Kabut Kematian, tempat dia dibuang dulu. Tapi dia berada jauh lebih dalam dari sebelumnya, di wilayah di mana monster Ranah Jiwa berkeliaran bebas.

Lu Daimeng menarik napas dalam-dalam. Udara dunia luar terasa "tipis" dibandingkan Alam Rahasia, tapi terasa bebas.

Dia melihat ke atas. Ke pucuk pohon yang tinggi.

"Kultivator Ranah Jiwa bisa terbang," gumamnya. "Mereka menggunakan Qi untuk memanipulasi daya apung udara."

Lu Daimeng mencoba melompat.

Dia melayang setinggi sepuluh meter, lalu gravitasi menariknya turun. Dia tidak bisa terbang. Dia tidak punya Qi.

"Aku tidak bisa terbang dengan Qi," pikirnya logis. "Dan tubuhku juga terlalu padat."

Tapi dia jenius. Dia memikirkan hukum aksi-reaksi.

Lu Daimeng memusatkan Dark Null ke telapak kakinya.

Alih-alih mengeluarkannya sebagai aura, dia memadatkannya menjadi ledakan mikro yang terus menerus.

Dia menendang udara.

BOOM!

Ledakan Dark Null di bawah kakinya menghancurkan molekul udara, menciptakan pijakan padat sesaat dan gaya dorong ke atas.

Dia menendang lagi.

BOOM!

Dia naik.

BOOM! BOOM! BOOM!

Setiap langkah adalah ledakan. Dia "berjalan" di udara dengan cara meledakkan atmosfer di bawah kakinya. Itu kasar, berisik, dan membutuhkan energi besar.

Tapi dia terbang.

Dia naik melewati tajuk pohon, menembus kabut, hingga dia melihat langit biru yang asli.

Lu Daimeng melayang di udara, berdiri di atas kolom ledakan Dark Null yang tak terlihat. Jubahnya berkibar liar. Rambut panjangnya menari.

Dia melihat ke arah utara.

Jauh di sana, di balik pegunungan, terletak Kota Jinting.

Dan di dalamnya, Keluarga Lu berada.

Lu Daimeng tersenyum.

Senyum iblis yang baru saja mendapatkan sayapnya.

"Aku pulang," bisiknya.

Dia melesat di udara, melesat dengan kecepatan tinggi menuju kota Jinting.

Bersambung...

1
M Rijal
😍💪 semangat thor
EGGY ARIYA WINANDA: Siap😁
total 1 replies
M Rijal
gw tunggu up nya thor
EGGY ARIYA WINANDA: Sipp 😂😂
total 1 replies
M Rijal
ini benar2 novel yang menarik. 👹😈
EGGY ARIYA WINANDA: Thank u😈👍
total 1 replies
EGGY ARIYA WINANDA
Ini bukan cerita tentang protagonis yang menyelamatkan dunia, ini adalah kisah villain yang berhasil melahap dunia.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!