NovelToon NovelToon
Cinta Yang Terbuang

Cinta Yang Terbuang

Status: tamat
Genre:Percintaan Konglomerat / Cintapertama / Berbaikan / Tamat
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"Kau pikir kau mencuri masa depanku malam itu, Nick? Tidak. Kau hanya memberi saya alasan untuk menikmati Rasa sakit di masa depan." — Nedine.

Di balik gemerlap statusnya sebagai putri dari seorang ibu tunggal yang sukses, Nadine Saville menyimpan rahasia yang menghancurkan dirinya secara perlahan. Sejak bangku SMA hingga memasuki dunia kampus yang liar di Amerika, ia terikat dalam hubungan gelap dengan Nickholes Teldford.
Bagi dunia, mereka adalah orang asing. Namun di balik pintu tertutup, Nadine adalah pelampiasan nafsu Nickholes yang tak pernah puas. Terjebak dalam kenaifan dan cinta yang buta, Nadine rela dijadikan alat pemuas demi mempertahankan pria yang ia cintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Malam di Manhattan biasanya dipenuhi suara klakson dan hiruk-pikuk kehidupan kota, namun bagi Daven Teldford, dunia seolah menyempit hanya pada satu titik, sebuah gedung apartemen berdesain minimalis di kawasan Greenwich Village. Berkat posisi ayahnya sebagai donatur utama di universitas dan sedikit keriwehan Daven menekan staf administrasi kampus, alamat itu kini ada di genggamannya.

Daven berdiri di depan pintu nomor 402. Dari dalam, ia tidak mendengar alunan musik klasik atau keheningan seorang "Dewi Marmer". Sebaliknya, ia mendengar suara gedebuk, bunyi barang pecah belah, dan gerutuan yang sangat ia kenal.

Daven mengetuk pintu itu dengan tegas.

"Pergi! Siapa pun itu, aku sedang sibuk! Jangan ganggu aku!" teriak suara dari dalam, melengking dan penuh emosi.

Daven tidak menyerah. Ia mengetuk lagi, lebih keras. "Buka pintunya, Bakpao. Atau aku akan memanggil pemadam kebakaran dan bilang ada singa yang mengamuk di dalam sini."

Suasana di dalam mendadak hening. Detik berikutnya, pintu terbuka dengan sentakan kasar. Cheryl berdiri di sana dengan penampilan yang jauh dari kata anggun. Rambutnya yang tadi rapi kini berantakan seperti sarang burung, kemeja hitamnya keluar sebagian, dan ada noda debu di pipinya. Ia tampak benar-benar sedang dalam mode singa yang kehilangan mangsanya.

"Kau?! Bagaimana bisa kau tahu alamatku?! Pergi, Daven! Aku sedang tidak ingin berakting!" Cheryl mencoba menutup pintu, namun kaki atletis Daven sudah lebih dulu mengganjalnya.

Daven mendorong pintu itu perlahan dan masuk tanpa izin. Matanya menyapu seisi apartemen. Tempat itu berantakan luar biasa. Bantal sofa berserakan di lantai, laci-laci ditarik keluar, dan di tengah ruangan, ada sebuah kotak kayu kecil yang terbuka namun terlihat dipaksa.

"Kau mencari ini?" Daven mengangkat tangan kanannya, memamerkan kunci dengan gantungan kelinci patah yang berkilau di bawah lampu ruangan.

Mata Cheryl membelalak. Ia menerjang maju, mencoba merebut kunci itu, namun Daven mengangkat tangannya tinggi-tinggi, memanfaatkan perbedaan tinggi badan mereka yang cukup jauh.

"Kembalikan! Daven Teldford, demi apa pun, kembalikan kunci itu sekarang!" teriak Cheryl, wajahnya memerah padam karena amarah dan malu.

"Tidak sampai kau berhenti berpura-pura," balas Daven dengan suara rendah namun menuntut. Ia menatap kotak kayu di lantai, lalu kembali menatap Cheryl. "Aku tahu apa isi kotak itu, Cheryl. Aku tahu kau menyimpan foto-foto kita. Aku tahu kau membawa kenangan itu dari Brooklyn meskipun orang tuamu melarangnya."

Cheryl berhenti meronta. Bahunya bergetar. Rahasia yang ia jaga rapat-rapat, rencana pelariannya dari kontrol orang tuanya, dan perasaannya yang ia simpan di balik topeng es, semuanya runtuh di depan pria yang paling ingin ia hindari sekaligus paling ia rindukan.

"Kau tidak tahu apa-apa, Daven..." bisik Cheryl parau. Air mata mulai menggenang di matanya. "Kau tidak tahu betapa sulitnya berpura-pura tidak mengenalmu. Kau tidak tahu betapa takutnya aku jika mereka menemukanku di sini."

Melihat Cheryl yang rapuh, sifat Daven yang dingin seketika mencair menjadi kelembutan yang sangat dalam. Ia menurunkan tangannya, lalu melangkah mendekat hingga jarak mereka menghilang.

"Aku tahu satu hal, Cheryl," ucap Daven sambil meletakkan kunci itu di atas meja terdekat, lalu meraih kedua tangan Cheryl yang gemetar. "Aku tahu kau pindah tanpa pamit bukan karena kau ingin melupakanku. Dan aku tahu kau berakting sedingin es di kampus tadi hanya karena kau tidak ingin aku terseret dalam masalahmu."

Cheryl mendongak, air matanya jatuh membasahi pipinya yang kini terlihat sedikit lebih penuh karena ia sedang menangis, mengembalikan bayangan pipi bakpao yang selama ini Daven cari.

"Daven, pergilah. Hidupku rumit sekarang. Ayahku... dia akan menghancurkan segalanya jika dia tahu aku bersamamu lagi," isak Cheryl.

Daven menggeleng tegas. Ia menangkup wajah Cheryl dengan kedua tangannya, menghapus air mata di pipi gadis itu dengan ibu jarinya.

"Dengar baik-baik, Cheryl Alton. Selama tiga tahun, aku hidup dalam kehampaan. Aku menjadi pria yang paling membosankan di New York karena tidak ada kau yang bisa ku jahili. Aku tidak peduli dengan Oxford, aku tidak peduli dengan kemarahan ayahmu, dan aku tidak peduli dengan topeng dewi marmer yang kau pakai."

Daven menarik napas panjang. Kalimat yang selama ini tertahan di tenggorokannya, kalimat yang bahkan tidak berani ia ucapkan pada dirinya sendiri, akhirnya keluar begitu saja.

"Selama ini aku menyebutnya pertemanan. Aku menyebut keriwehan ku sebagai rasa tanggung jawab. Tapi malam ini, saat aku memegang kunci ini dan melihatmu hancur seperti ini, aku sadar satu hal..."

Daven menatap dalam ke mata Cheryl, mengunci seluruh perhatian gadis itu.

"Aku mencintaimu, Cheryl. Bukan sebagai teman masa kecil, tapi sebagai pria yang ingin menjagamu selamanya. Aku mencintai gadis pelupa yang menjatuhkan kuncinya di kantin. Aku mencintai gadis pemarah yang mengamuk di apartemennya. Dan aku tidak akan membiarkanmu menghadapi dunia sendirian lagi."

Cheryl terpaku. Kata cinta yang keluar dari mulut Daven terasa lebih kuat dari ribuan larangan ayahnya. Segala pertahanannya hancur total. Ia langsung menenggelamkan wajahnya di dada bidang Daven, menangis sesenggukan, melepaskan seluruh beban yang ia pikul sendirian selama tiga tahun terakhir.

Daven memeluknya erat, sangat erat, seolah-olah jika ia melonggarkannya sedikit saja, Cheryl akan terbang ditiup angin. Ia mencium puncak kepala Cheryl berkali-kali.

"Jangan takut," bisik Daven di telinganya.

"Ayahku sudah tahu kau kembali. Ibuku sudah tahu. Dan kau tahu kan betapa riweh nya keluarga Teldford kalau sudah menyangkut orang yang kami sayangi? Ayahmu tidak akan bisa menyentuhmu selama aku masih bernapas."

Cheryl melepaskan pelukannya sedikit, menatap Daven dengan mata sembab namun kini bercahaya. "Kau benar-benar sangat percaya diri dan menyebalkan, ya?"

Daven terkekeh, lalu dengan gemas, ia mencubit pipi Cheryl yang masih basah karena air mata. Cubit.

"Nah, ini dia. Pipi ini akhirnya kembali," ucap Daven riang. "Selamat datang kembali, Bakpao. Bersiaplah, karena mulai besok, aku akan menjadi pengawal pribadimu yang paling riweh di seluruh universitas. Tidak ada lagi akting, tidak ada lagi rahasia."

Cheryl tersenyum, senyum tulus yang paling cantik yang pernah Daven lihat. Ia meraih kerah jaket Daven dan menariknya mendekat.

"Kau benar-benar pria yang riweh, Daven Teldford. Tapi aku rasa... aku memang butuh pria sepertimu untuk mengingat di mana aku menaruh hatiku."

Di apartemen kecil itu, di tengah kekacauan barang-barang yang berserakan, sebuah kotak rahasia akhirnya terbuka. Bukan hanya kunci kayu itu yang kembali ke tempatnya, tapi dua hati yang sempat terpisah jarak dan dinding es kini telah menyatu kembali, berjanji untuk tidak pernah lagi saling melupakan.

🌷🌷🌷🌷

Happy Reading Dear 🥰

1
Endang Sulistia
bagus...ceritanya ringan
Lutfiah Tunnissa
semangat kkk
Lutfiah Tunnissa
hadir kk ceritanya bagus up terus yaa💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!