Gerard adalah seorang pria yang hidupnya jatuh hingga ke titik terendah. Saat ia nyaris mati kelaparan dan menjadi korban serangan tak dikenal, sebuah Sistem misterius tiba-tiba muncul, menyelamatkan nyawanya dan memulihkan tubuhnya sepenuhnya.
Dibawa ke dalam hutan yang asing, Gerard kini diberi tantangan oleh Sistem: bertahan hidup semalam untuk mendapatkan hadiah luar biasa—uang seratus juta dan sebuah rumah. Namun, di balik janji masa depan cerah itu, ancaman dari masa lalu dan identitas penyerangnya yang gelap masih mengintai, membuat setiap detik menjadi pertaruhan nyata.
Siapakah itu? Dan seberapa rumit masa lalunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Loorney, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 - Harapan Terakhir
Untuk pembaca yang sempat membaca bab sebelumnya saat baru saja di-update, harap untuk baca ulang, ya!
Karena ada adegan tambahan, supaya nggak bingung aja, sih. Hehe~
...*•*•*...
Dulu, Gerard sempat mengalami goncangan terkuat dalam hidupnya. Ia terombang-ambing antara melanjutkan hidup atau tenggelam bersama ibunya yang sudah jatuh ke jurang paling dalam.
Mira—ibunya—mulai sering menderita. Penyakitnya kambuh berkali-kali, diperparah depresi yang membuatnya lebih banyak diam, melamun kosong, dan tiba-tiba jatuh pingsan saat Gerard sekali saja memalingkan wajah. Rumah yang dulu hangat berubah menjadi ruang tunggu yang mencekam—setiap tarikan napas Mira terasa seperti hitungan mundur.
Itu adalah kehidupan yang berat.
Suatu sore, Gerard pulang setelah membeli beberapa keperluan di warung dekat rumah. Ia membuka pintu, meletakkan belanjaan di meja, lalu mencari ibunya. Mira tidak di kursi roda—tidak di kamar. Gerard menemukannya di lantai kamar mandi, tubuhnya kaku dengan kepala bersandar di dinding, tak sadarkan diri.
Jantung Gerard langsung berhenti berdetak sejenak.
Ia berlari, mengangkat tubuh ibunya yang ringkih, membawanya ke mobil yang ia pinjam dari tetangganya. Sepanjang perjalanan ke rumah sakit, giginya gemeretak menahan cemas. Di lampu merah, ia menepuk setir, berteriak dalam hati. Jangan. Jangan sekarang. Belum sekarang.
Di IGD, tim medis menyambut dengan sigap. Gerard menunggu di kursi panjang dengan tangan mencengkeram ujung kemeja. Dua jam kemudian, seorang dokter keluar dengan wajah serius.
Nyawa Mira selamat. Tapi hanya sementara.
Dokter menjelaskan panjang lebar tentang kanker yang sudah menggerogoti ibunya—tentang operasi yang bisa memperpanjang hidup, dan tentang angka yang disebutkannya sebagai biaya. Jumlah itu begitu besar, terasa seperti tembok yang tak mungkin dipanjat.
Gerard pulang malam itu dengan kepala kosong. Ia duduk di kamar ibunya yang kosong, menatap kursi roda yang tak lagi terisi, dan menangis dalam diam.
Tapi esoknya, ia bangun. Mengusap mata, dan mulai menjual apa pun yang bisa dijual. Motor kesayangan. Jam tangan satu-satunya. Bahkan kulkas dan perabotan yang masih layak. Setelah semuanya habis, ia masih kekurangan. Maka ia pergi ke bank, meminjam dengan jaminan apa pun yang tersisa—termasuk rumah sederhana milik keluarganya.
Semua demi Mira.
Karena Mira adalah satu-satunya alasan ia masih bertahan. Karena Mira pula ia bisa terus memiliki motivasi, tersenyum, dan merasakan kasih terdalam yang pernah ada. Sosok yang sangat berarti dalam hidupnya—lebih dari apa pun.
Namun naas, semua usahanya berakhir menjadi kabar buruk.
Mira hanya bertahan beberapa hari setelah operasi. Tubuhnya yang ringkih tak mampu lagi melawan. Di ruangan ICU yang dingin, dengan suara mesin yang terus berdengung, Gerard menyaksikan perlahan-lahan garis di layar monitor berubah datar.
Sebuah pukulan sangat kuat, menghantam dari ubun-ubun dan menggetarkan seluruh jiwanya.
Terutama saat melihat bagaimana tubuh pucat ibunya mulai ditutupi kain putih. Wajah Mira terlihat tenang—lepas dari segala rasa sakit yang selama ini menggerogotinya. Tapi ketenangan itu meninggalkan luka terdalam di hati Gerard. Luka yang tak akan pernah benar-benar sembuh.
Di sela-sela keheningan, suara ibunya tiba-tiba terngiang di benaknya. Kata-kata yang diucapkan Mira beberapa jam sebelum akhirnya benar-benar pergi.
"Maafkan Mamah, maaf sekali. Tapi Mamah mohon, sudahi sampai di sini, ya? Ini sangat menyakitkan, apalagi melihatmu terus-terusan berjuang. Mamah nggak tega. Mamah sayang kamu, tapi Mamah juga udah nggak kuat."
Suara lemah itu—hampir seperti bisikan—terus berputar di kepala Gerard. Tak ada yang bisa ia lakukan selain menangis. Air mata keluar begitu saja, mewakili semua penderitaan yang bertahun-tahun menumpuk di dalam.
Di tangannya, ia menggenggam selembar kertas. Sudah basah oleh air mata yang tak henti jatuh.
Surat itu pendek. Tulisannya kurang jelas—tangan Mira sudah terlalu lemah saat menulisnya. Tapi dari setiap goresan yang tak rapi itu, Gerard bisa merasakan ketulusan yang begitu dalam. Seolah kata-kata itu ditulis bukan dengan tinta, tapi dengan hati.
...~*•*•*~...
Untuk anakku tercinta,
Gerard.
Surat ini Mamah tulis untukmu, supaya kamu bisa merelakan kepergian Mamah. Kepergian kami. Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri. Kami nggak mau melihat kamu menderita.
Tetaplah kuat—demi kami, demi dirimu juga.
Dari ibumu,
Mira
...~*•*•*~...
Gerard membaca surat itu berkali-kali, meski air mata terus mengaburkan pandangannya. Di luar, hujan mulai turun, seolah alam juga ikut berduka. Tapi di dalam ruangan yang sunyi itu, hanya ada ia dan kenangan tentang sosok yang paling ia cintai—yang kini telah pergi untuk selamanya.
Ketika malam seharusnya berlalu tenang, Gerard justru kehilangan satu-satunya cahaya yang jauh lebih menenangkan dari rembulan.
Malam-malam setelah kepergian Mira adalah masa paling gelap dalam hidupnya. Rumah yang dulu hangat terasa seperti kubangan sunyi. Tak ada lagi suara Mira memanggil namanya, tak ada lagi tawa meski tertahan sakit, tak ada lagi kehangatan yang membuatnya bertahan. Hanya keheningan yang merayap di setiap sudut ruangan, mengingatkannya pada apa yang telah hilang.
Di titik terendah itu, Gerard pernah berpikir untuk melakukan sesuatu yang buruk.
Saking tak mampu menahan semua beban yang menumpuk, ia duduk di kamar Mira, menatap langit-langit kosong, dan membiarkan pikirannya melayang ke tempat gelap. Rasanya begitu melegakan—membayangkan semua ini berakhir. Tapi saat tangannya meraih sesuatu, jemarinya menyentuh selembar kertas di saku.
Surat itu. Lusuh, basah oleh air mata yang tak terhitung jumlahnya, tapi masih utuh.
"Tetaplah kuat—demi kami, demi dirimu juga."
Gerard terisak. Lagi. Dan lagi. Tapi kali ini, tangisnya berbeda. Ia membaca surat itu berulang kali, membiarkan kata-kata ibunya menembus kegelapan yang mencoba merenggutnya.
Ini belum waktunya, pikirnya akhirnya. Belum.
Maka ia bangkit. Kembali berjuang, melakukan apa pun yang bisa dilakukan—meski sering kali hasilnya nihil.
Tapi dunia sepertinya belum puas mengujinya.
Kesialan datang bertubi-tubi seperti badai yang tak kunjung reda. Gerard kehilangan pekerjaan. Tabungan habis. Tagihan rumah sakit menggunung. Utang di bank terus membayangi. Dan ketika ia sudah tak mampu membayar cicilan—ketika ia sudah tak punya apa-apa lagi untuk dijual—bank datang mengambil rumah itu.
Satu-satunya kenangan yang tersisa tentang Mira, tentang keluarganya, tentang masa kecil yang hangat—kini harus ia relakan.
Untuk pertama kali dalam hidupnya, Gerard benar-benar merasa sendiri.
Tak ada lagi pintu yang bisa ia buka dengan kunci yang sama. Tak ada lagi kamar yang menunggu kepulangannya. Tak ada lagi "rumah" dalam arti sebenarnya. Hanya jalanan panjang yang terbentang tanpa tujuan, tanpa arah, tanpa tempat untuk pulang.
Semua itu terjadi dalam waktu singkat. Bertubi-tubi. Menusuknya tanpa ampun, seolah takdir belum cukup menghajarnya.
Tapi yang paling menyakitkan: tak ada tangisan tersisa.
Air matanya sudah habis. Kering. Yang tersisa hanyalah seorang pemuda yang duduk sendirian di pinggir jalan, di malam yang dingin, dengan tatapan kosong yang perlahan kehilangan cahaya.