Kematian Tragis Aning membuat desa Kalung Ganu di teror. satu persatu pemuda di temukan mati mengenaskan. ketakutan mulai menyelubungi penduduk desa..
Namun, yang menjadi anda tanya besar siapa pemerkosa dan pembunuh Aning?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sesuatu yang tersembunyi
"Bagaimana kalau kita ketahuan?!" Daud terlihat frustasi. Kematian Seno dan penampakan hantu yang mirip dengan Aning di rumah pak Sugeng membuat dia beberapa hari ini menjadi sangat resah.
"Kita tidak akan ketahuan kalau kau bersikap biasa saja Dud!" Ujar salah satu pria yang sedang bersama Daud.
"Kalau kau di posisiku, kau juga pasti akan resah. Aku melihat hantu Aning!" Kata Daud dengan nada suara yang meninggi.
"Alahh... Itu paling cuma halusinasi mu saja. Tidak mungkin orang yang sudah mati bisa bangkit lagi lalu menjadi hantu." Ujar pria itu lagi tak percaya dengan apa yang di lihat Daud di rumah Pak Sugeng itu.
"Aku melihatnya sendiri, bahkan Jaka, Udin dan lainnya juga melihat hantu itu. Bagaimana kalau ternyata yang membunuh Sapri, Herman dan Seno adalah Aning?" Daud semakin liar dengan pikirannya. Daud terlihat begitu frustasi.
Tangannya mencengkeram rambutnya sendiri, napasnya memburu. Wajahnya pucat, matanya gelisah menatap ke segala arah seolah-olah bayangan Aning bisa muncul kapan saja.
"Kalau… kalau semua ini benar." suaranya bergetar.
Pria di hadapannya langsung menghela napas kasar.
"Sudah, Dud! Jangan ngaco! Kamu ini kebanyakan mikir. Itu cuma ketakutanmu sendiri!" Katanya sedikit kesal.
Daud menggeleng keras.
"Bukan." Bentaknya pelan.
Ia mendekat, suaranya diturunkan, penuh tekanan.
"Kamu tahu apa yang kita lakukan malam itu." Bisiknya.
Pria itu langsung terdiam. Wajahnya menegang.
Untuk sesaat, tidak ada suara.
"Kalau sampai ada yang tahu…" lanjut Daud.
"…habis kita."
"Tidak akan ada yang tahu." Katanya lebih pelan sekarang.
"Kita sudah pastikan itu. Tidak ada saksi." Katanya lagi.
"Bagiamana jika yang ku katakan benar? Arwa Aning menuntut balas." Daud tertawa pelan, seakan menertawakan ketakutan pikirannya sendiri.
"Berarti kita juga akan mati!" Ucapnya lagi.
"Cukup!" Bentakan itu memotong ucapannya.
Suasana langsung membeku.
Pria di hadapannya menatap tajam, rahangnya mengeras.
"Jangan bicara sembarangan." Katanya dengan nada rendah, tapi penuh tekanan.
"Aning sudah mati. Dia tidak mungkin hidup lagi."
Daud terdiam.
"Dan kamu, Daud." Lanjut pria itu, matanya menyipit.
"…sebaiknya tutup mulutmu."
"Ta… tapi, Mas....." Daud ingin membalas. Namun, kalimatnya terhenti.
Tatapan pria itu berubah, lebih tajam. Seolah memberi peringatan tanpa kata.
Daud langsung menelan sisa ucapannya. Ia menunduk sedikit. Tak lagi berani melanjutkan ucapannya.
"Dengarkan aku baik-baik." Daud menelan ludah.
"Mulai sekarang, jangan ada lagi yang membahas tentang itu." Katanya pelan namun tajam.
"Tidak ada lagi cerita soal Aning, soal malam itu, atau apapun yang berhubungan dengan kejadian itu." Daud menatapnya ragu.
"Tapi kalau memang...."
"Tidak ada, kalau!" Bentaknya lagi.
Suasana langsung mencekam.
Pria itu menarik napas, mencoba meredam emosinya.
Lalu kembali bicara dengan suara lebih pelan.
"Kita harus bersikap biasa."
"Seolah tidak pernah terjadi apa-apa."
Ia menatap mata Daud dalam-dalam.
"Dan kamu…" Daud langsung menegang.
"…jangan pernah mengucapkan apapun yang bisa membuat warga curiga."
Daud terdiam. Jantungnya berdegup kencang.
Ia tahu, pria itu benar.
Sedikit saja mereka salah bicara. semuanya bisa terbongkar.
Namun bayangan itu, tidak mau hilang dari kepalanya.
"Aku…" Suara Daud pelan.
"Aku takut, Mas."
Pria itu tidak langsung menjawab.
Ia hanya menepuk bahu Daud pelan.
"Takut itu wajar. Tapi kalau kamu tidak bisa mengendalikan diri." Dia berhenti sejenak. Tatapannya berubah dingin.
"…justru kamu yang akan membuat kita semua celaka."
Daud langsung terdiam.
Mungkin apa yang di katakan pria itu benar. Sebaiknya dia diam saja. Mungkin apa yang dia lihat di rumah pak Sugeng itu hanya berdasarkan rasa takut karena kematian Seno.
Daud langsung terdiam.
Mungkin apa yang dikatakan pria itu benar.
Sebaiknya dia diam saja.
Ia mengusap wajahnya pelan, mencoba menenangkan diri. Napasnya ditarik dalam-dalam.
"Mungkin, cuma perasaan," gumamnya
Pagi itu beberapa tetangga duduk di bangku kayu saat Pak Marsuki dari rumahnya mulai bercerita yang membuat para tetangga penasaran.
"Benar." Katanya sambil menepuk dadanya.
"Semalam aku melihat hantu!"
Beberapa orang langsung saling pandang.
"Serius, Ki?" Tanya salah satu tetangga.
Pak Marsuki mengangguk mantap.
"Jelas! Di dekat semak-semak waktu ronda itu." Dia mulai bersemangat.
Tangannya bergerak ke sana kemari, memperagakan ceritanya.
"Wajahnya pucat, rambutnya panjang." katanya.
Beberapa ibu-ibu yang lewat langsung merinding.
"Terus, Pak?" tanya yang lain penasaran.
Pak Marsuki tersenyum lebar. Senyum yang penuh percaya diri.
"Ya aku hadapi saja!"
Pak Yuda yang kebetulan lewat hanya melirik sekilas sambil geleng-geleng kepala, tapi tidak ikut menyela.
"Aku bilang sama dia." Lanjut Pak Marsuki, nadanya dibuat berat.
"Pergi kamu! Jangan ganggu saya!"
Beberapa orang langsung terdiam.
Ada yang kagum. Ada juga yang ragu dengan cerita Pak Marsuki, bukan apa, siapa yang tidak tahu Pak Marsuki itu orangnya besar bicaranya.
"Berani juga ya, Pak Marsuki." Bisik seseorang.
Pak Marsuki mengangguk bangga.
"Lah, masa aku takut?" katanya.
"Cuma hantu begitu saja." Dia tertawa kecil.
"Terus hantunya bagaimana?" tanya tetangga lain.
Pak Marsuki terdiam sejenak.
"Ya… langsung hilang." Jawabnya cepat.
Padahal, itu tidak sepenuhnya benar. Dia ingat jelas bagaimana ia lari terbirit-birit semalam.
Namun ia tidak mungkin mengakuinya. Harga dirinya dipertaruhkan.
"Wah, kalau begitu Pak Marsuki cocok jadi ketua ronda." Beberapa tetangga mulai berkomentar.
"Iya, biar hantunya pada takut." Mereka tertawa kecil.
Pak Marsuki ikut tertawa.
Kali ini, tawanya dibuat lebih keras. Seolah-olah ingin menegaskan pada semua orang, bahwa dia memang tidak takut.
"Lah jelas!" katanya sambil menepuk paha.
"Kalau ada apa-apa, biar saya saja yang maju duluan." Beberapa tetangga langsung bersorak kecil.
"Wah, berani sekali, Pak Marsuki ini!"
"Iya, nanti kalau ronda, Pak Marsuki di depan saja."
Pak Marsuki makin besar kepala.
Dia duduk lebih tegap, dadanya dibusungkan.
"Kalau kemarin bukan karena saya." katanya sambil mengangkat jari telunjuk, dramatis.
Beberapa tetangga langsung diam, mendengarkan.
"Pak Yuda sama Tono itu sudah kejang-kejang dikejar hantu!" Lanjutnya dengan nada meyakinkan.
"Tono sampai gemetar, Pak Yuda juga sudah tidak bisa ngomong."
Padahal, kenyataannya justru sebaliknya.
Dia sendiri yang lari dan bersembunyi di belakang pak Yuda.
"Tapi saya." lanjutnya, menepuk dadanya lagi.
"Saya hadapi!"
Beberapa orang langsung ternganga.
"Saya berdiri di depan mereka," katanya.
"Saya bilang, Kamu jangan macam-macam di sini!"
Dia memperagakan dengan tangan, seolah benar-benar berhadapan dengan makhluk itu.
"Terus hantunya mundur." Pak Marsuki tersenyum penuh kemenangan.
"Pak Marsuki memang pemberani." Ujar tetangganya.
"Tentu saja. Nanti kapan-kapan akan aku ajari cara agar tidak gentar saat berhadapan dengan hantu." Katanya.
"Benar Pak Marsuki mau mengajari kami?" Tanya ibu-ibu tetangganya.
"Iya, tapi nanti kalau ada waktu luang. Aku ini orang sibuk jadi waktuku tidak pasti kapan ada." Ujarnya menyombongkan diri.