"Di balik presisi pisau bedah, ada rahasia yang tidak boleh terucap."
Sheril tidak pernah menyangka bahwa kariernya sebagai ahli forensik akan membawanya ke dalam lingkaran berbahaya antara cinta dan kebenaran. ia mempercayai sekaligus mencurigai kekasihnya Jungkook.
Beberapa rahasia memang lebih baik tetap membisu. Tapi, apakah detak jantung bisa berbohong di bawah tajamnya skalpel?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: Presisi Pisau Bedah
Bau deterjen lavender di kemeja Jungkook adalah hal terakhir yang Sheril ingat sebelum ia terbangun karena dering ponsel yang menyakitkan telinga. Pukul 03.15 pagi. Suara bising di luar apartemen menunjukkan bahwa kota Seoul tidak pernah benar-benar tidur, namun di dalam kamar ini, keheningan terasa menenangkan.
"Sheril, maaf membangunkanmu. Tapi kamu harus ke laboratorium sekarang," suara V terdengar rendah dan serak di seberang telepon.
Ada nada penuh kepanikan yang tidak biasa, sebuah getaran yang jarang Sheril dengar dari rekannya yang biasanya dingin itu. "RM Hyung menemukan sesuatu yang... tidak masuk akal."
Sheril melirik ke sampingnya. Tempat tidur itu kosong, hanya menyisakan kerutan pada sprei satin abu-abu. Jungkook biasanya memang sudah bangun sepagi ini untuk pergi ke pasar ikan guna mencari bahan baku terbaik untuk restorannya. Namun, ada rasa dingin yang tertinggal di bantal itu, seolah pria itu sudah pergi jauh sebelum ia ikut terbangun karena dering ponselnya.
Lampu neon yang berkedip di lorong ruang forensik membuat suasana semakin suram, memantul di atas lantai marmer yang terlalu bersih. V berdiri di sana, mengenakan jubah operasi hijau lengkap dengan masker yang menutupi separuh wajahnya. Ia menatap sebuah mayat yang baru saja tiba, terbaring kaku di atas meja stainless steel.
"Lihat ini," kata V tanpa basa-basi saat Sheril baru saja mengikat rambutnya dan mengenakan jubah hijau yang sama.
V menunjuk ke arah leher korban—seorang wanita muda. Sebuah sayatan melintang, sangat bersih, tanpa ada jaringan yang koyak secara kasar. Sheril mendekat, jemarinya yang terbungkus sarung tangan lateks menyentuh pinggiran luka dengan hati-hati.
"Sayatan ini dilakukan dengan satu gerakan pasti," gumam Sheril. Ia mengambil kaca pembesar, meneliti setiap milimeter luka tersebut.
"Tekanan yang diberikan sangat konstan dari awal hingga akhir. Pelakunya bukan amatir yang panik. Dia sangat paham anatomi tubuh... atau sangat terbiasa menggunakan pisau yang sangat tajam setiap hari."
"Tapi Bukan itu yang membuat RM Hyung memanggil kita secepat ini," potong V.
Ia menggunakan pinset untuk membuka rongga mulut korban yang sudah membiru. "Lihat di bawah lidahnya. Ini yang membuatku muak."
Sheril menahan napas. Di sana, terselip sebuah hiasan kecil dari daun peterseli yang segar dan setetes saus merah pekat yang sudah mengental. Penempatannya sangat presisi, ditata begitu cantik seolah mulut mayat itu adalah piring hidangan penutup di sebuah restoran bintang lima.
"Ini bukan sekadar pembunuhan, Sheril," bisik V, matanya menatap tajam ke arah Sheril.
"Ini adalah penyajian. Pelakunya ingin kita melihat ini sebagai karya seni."
Di tempat lain, di markas pusat kepolisian yang remang, Suga tidak tidur. Matanya yang memerah menatap layar monitor yang menampilkan ribuan baris data transaksi keuangan dan log aktivitas internet. RM berdiri di belakangnya, menyilangkan lengan di dada dengan raut wajah frustrasi yang tak bisa disembunyikan.
"Suga, kau menemukan sesuatu dari rekaman CCTV di sekitar restoran tempat korban terakhir terlihat?" tanya RM, suaranya berat karena kelelahan.
Suga terdiam sejenak. Jemarinya berhenti menari di atas keyboard. Di salah satu sudut layarnya yang tersembunyi, ia melihat sebuah rekaman buram. Sosok pria berhoodie hitam keluar dari pintu belakang sebuah restoran yang sangat ia kenal—restoran milik Jungkook. Pria itu membawa sebuah kantong plastik besar yang tampak berat pada jam dua pagi.
Suga tahu jam operasional restoran itu. Jam dua pagi adalah waktu di mana Jungkook biasanya masih berada di rumah bersama Sheril.
"Servernya sedang down di area itu, Hyung. Aku sedang mencoba memulihkannya lewat backdoor," bohong Suga dengan nada datar yang sempurna. Suaranya tidak bergetar sedikit pun, meski jantungnya berdegup kencang.
RM menghela napas berat, menepuk bahu Suga.
"Cepatlah. Jin sudah sangat emosional. Korban kali ini adalah anak dari teman baiknya. Jika kita tidak menemukan titik terang dalam 24 jam, dia bisa saja menghancurkan siapa pun yang dicurigainya."
Setelah RM keluar, Suga mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih.
Ia membuka sebuah folder terenkripsi di komputernya yang berisi foto-foto Sheril. Ia melakukan ini bukan hanya karena tugas, tapi karena ia tahu dunia Sheril sedang berada di ujung tanduk.
"Kenapa kau melakukan ini, Kook? Kau akan menghancurkannya," gumam Suga lirih pada layar monitor yang dingin.
Di sebuah bar tersembunyi yang hanya diterangi lampu kemerahan, Jimin menyesap anggur merahnya dengan gerakan anggun. Di sampingnya, J-Hope sedang asyik memainkan pisau lipat, memutar-mutarnya di antara jari-jari yang sangat lincah, menciptakan kilatan cahaya yang mengancam.
"Kau melihat ekspresi koki kesayangan kita tadi saat kita menitipkan 'paket' itu di dapur belakangnya?" Jimin terkekeh. Suaranya lembut, namun menyimpan kegilaan yang murni.
J-Hope tertawa lepas, sebuah tawa yang terdengar ceria namun sama sekali tidak mencapai matanya yang dingin.
"Dia terlalu mencintai dokternya itu, Jimin-ah. Dia pikir dengan mengikuti instruksi kita dan membersihkan 'sampah' yang kita tinggalkan, dia bisa menjauhkan Sheril dari bahaya."
J-Hope menusukkan pisaunya ke atas meja kayu dengan dentuman keras.
"Dia bodoh. Semakin dia mencoba membersihkan jejak kita, semakin banyak bau darah yang tertinggal di tangannya sendiri. Dia sudah menjadi bagian dari kita, suka atau tidak."
Jimin tersenyum, mengeluarkan ponselnya dan menatap foto Sheril yang sedang tertawa di depan restoran Jungkook. "Aku tidak sabar melihat wajahnya saat dia menyadari bahwa daging yang dia autopsi di laboratorium... mungkin saja pernah mampir di dapur kekasihnya."
...****************...