NovelToon NovelToon
Pewaris Yang Tertukar

Pewaris Yang Tertukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Identitas Tersembunyi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: zanita nuraini

Di balik kemewahan keluarga Mahendra, tersembunyi sebuah rahasia kelam. Bertahun-tahun lalu, Alisha Pratiwi diculik dan dipisahkan dari orang tua kandungnya, Ragendra dan Helena Mahendra. Sementara itu, kebohongan besar ditanam rapi oleh dalang licik bernama Bram Santoso.

Tanpa menyadari takdir yang terhubung, Alvaro tumbuh sebagai pewaris keluarga Mahendra, sedangkan Alisha hidup dalam kesederhanaan dengan identitas yang bukan miliknya. Ketika kebenaran perlahan terkuak, cinta, pengkhianatan, dan perebutan hak waris tak lagi bisa dihindari.

Siapakah pewaris yang sesungguhnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8 Saksi yang Hampir Mati

BAB 8 Saksi yang Hampir Mati

Pukul delapan malam, ponsel Detektif Damar berbunyi.

Pesan masuk dari nomor tidak dikenal.

Kalau mau tahu soal bayi yang ditukar, datang ke kontrakan Blok C No.12. Sendirian.

Damar membaca dua kali. Nomor itu tidak bisa dilacak cepat. Ia tidak langsung bergerak. Ia duduk beberapa detik, mempertimbangkan.

Bisa jebakan.

Bisa juga saksi yang ketakutan.

Ia mengambil jaket dan kunci mobil.

“Kalau ini soal ambulans malam itu, berarti ada yang mulai panik,” gumamnya.

Kontrakan Blok C berada di kawasan lama yang sudah sepi setelah jam kerja. Lampu jalan tidak semuanya menyala. Beberapa rumah gelap.

Nomor 12 berada di ujung deretan.

Pintunya tertutup, lampu teras menyala redup.

Damar mengetuk.

“Pak? Saya Damar.”

Tidak ada jawaban.

Ia mencoba gagang pintu. Tidak terkunci.

Begitu pintu terbuka, bau darah langsung tercium.

Damar masuk cepat.

Seorang pria paruh baya tergeletak di lantai ruang tamu. Kepalanya berdarah. Kursi plastik terbalik. Meja kecil pecah.

Damar berlutut dan memeriksa nadi.

Masih ada.

“Pak, dengar saya. Siapa yang melakukan ini?”

Pria itu membuka mata pelan. Napasnya berat.

“Mereka… datang duluan…”

“Siapa?”

“Orang… Bram…”

Nama itu keluar pelan tapi jelas.

Damar mendekatkan telinga.

“Bapak siapa?”

“Saya… sopir ambulans… lima belas tahun lalu…”

Damar menahan napas. Ini yang ia cari.

“Malam kelahiran dua bayi?”

Pria itu mengangguk tipis.

“Kami disuruh… tukar tujuan… satu bayi ke keluarga kaya… satu ke keluarga miskin…”

“Siapa yang perintah?”

“Bram Santoso… dia bayar…”

Kalimatnya terputus karena batuk darah.

“Bayi perempuan keluarga kaya sekarang di mana?”

Pria itu berusaha bicara.

“Di keluarga miskin… namanya… Alisha…”

Tangan pria itu merosot. Matanya terbuka setengah, tidak bergerak lagi.

Damar memeriksa ulang. Tidak ada respons.

Ia langsung menghubungi ambulans dan polisi setempat.

Kali ini ia tidak terlambat mendapatkan pengakuan. Meski saksi meninggal, namanya sudah jelas.

Bram Santoso.

Di gedung kantor pusat kota, Bram Santoso berdiri di ruang kerjanya.

Anak buahnya melapor dengan suara pelan.

“Orang itu sempat bicara sebelum kami sampai.”

Bram tidak terlihat panik.

“Detektifnya?”

“Datang setelahnya.”

“Berarti sudah tahu nama saya.”

Anak buah itu menunggu perintah.

“Pantau pergerakannya. Jangan sentuh dulu,” kata Bram.

“Gadis itu?”

“Awasi juga. Saya mau tahu siapa saja yang mendekat.”

Bram duduk dan membuka berkas lama di laci.

Lima belas tahun lalu ia membuat keputusan yang menurutnya tepat. Ia tidak merasa bersalah.

Baginya itu transaksi. Ada yang ingin anak perempuan dari keluarga tertentu. Ia menyediakan jalan.

Masalah muncul karena ada yang mulai membongkar.

Di rumah Mahendra, Alvaro duduk di kamar dengan laptop terbuka.

Sejak melihat hasil tes darah, ia tidak bisa berhenti berpikir.

Ia mencari berita lama tentang rumah sakit tempat ia dan Alisha lahir.

Satu artikel menarik perhatiannya.

Kebakaran kecil di gudang arsip rumah sakit, beberapa bulan setelah tanggal kelahiran mereka.

“Arsip rusak sebagian,” tulis berita itu.

Alvaro membaca lebih detail.

Tidak ada korban. Penyebab disebut korsleting.

Ia bersandar.

“Terlalu banyak kebetulan.”

Ia mencari lagi. Nama sopir ambulans yang diberhentikan di tahun yang sama muncul di berita kecil.

Alasan resmi: pelanggaran disiplin.

Alvaro menatap layar cukup lama.

“Kalau memang ada yang ditutup-tutupi, berarti bukan cuma soal darah.”

Ia menutup laptop saat mendengar langkah kaki di depan pintu.

Helena masuk tanpa mengetuk.

“Kamu belum tidur?”

“Belum.”

Helena melihat wajah anaknya yang serius.

“Kamu kenapa akhir-akhir ini banyak diam?”

Alvaro ragu sejenak, lalu bertanya pelan, “Ma, waktu aku lahir… ada masalah di rumah sakit?”

Helena membeku beberapa detik.

“Kenapa tanya begitu?”

“Aku cuma penasaran.”

Helena memaksakan senyum. “Tidak ada apa-apa. Kamu lahir sehat.”

Jawaban itu terlalu cepat.

Alvaro mengangguk saja. Ia tahu kalau dipaksa sekarang, ibunya tidak akan bicara.

Di rumah kontrakan kecil, Alisha Pratiwi sedang belajar ketika suara motor berhenti di luar pagar.

Ia mengintip lewat tirai.

Dua pria berdiri tidak jauh dari rumah. Salah satunya melihat ke arah jendela.

Alisha langsung mundur.

“Bu,” panggilnya pelan.

Ibunya datang.

“Ada apa?”

“Ada orang di luar. Dari tadi belum pergi.”

Ibunya mencoba melihat dari celah pintu.

Wajahnya berubah tegang.

“Kita masuk kamar saja.”

“Mereka siapa?”

“Ibu tidak tahu.”

Lampu ruang tamu dimatikan. Hanya lampu kamar yang menyala kecil.

Ayahnya yang baru pulang ikut melihat situasi.

“Kita lapor RT?” tanya Alisha.

“Belum tentu mereka buat masalah,” jawab ayahnya, meski suaranya tidak yakin.

Beberapa menit terasa lama. Suara motor akhirnya menjauh.

Alisha duduk di kasur.

“Bu, kenapa rasanya orang-orang memperhatikan kita?”

Ibunya duduk di sampingnya.

“Kita cuma keluarga biasa.”

“Kalau biasa, kenapa ada yang kasih uang supaya kita pindah?”

Pertanyaan itu membuat ruangan hening.

Ibunya tidak punya jawaban yang masuk akal.

Damar kembali ke kantor dengan wajah keras.

Ia menuliskan kronologi baru.

Sopir ambulans mengaku.

Perintah dari Bram Santoso.

Bayi perempuan keluarga kaya dikirim ke keluarga miskin.

Nama Alisha Pratiwi sekarang bukan sekadar dugaan.

Ia menghubungi rekannya.

“Kita butuh pengawasan untuk satu keluarga. Jangan sampai mereka kenapa-kena.”

“Ancaman langsung?”

“Sudah ada dua orang kirim pesan jelas.”

Ia menutup telepon dan melihat foto Alisha dari data sekolah.

Gadis itu terlihat biasa. Tidak ada yang istimewa secara kasat mata.

Masalahnya, identitasnya bisa mengubah banyak hal.

Jika ia memang anak kandung Ragendra Mahendra, maka hak waris dan posisi bisnis keluarga akan terguncang.

Alasan cukup besar untuk membungkam siapa pun yang tahu.

Malam itu makan malam di rumah Mahendra terasa kaku.

Alisha Mahendra sibuk dengan ponselnya.

“Aku mau ikut program sekolah ke Singapura bulan depan,” katanya tanpa melihat orang tua.

Ragendra mengangguk singkat.

Helena hanya memperhatikan.

Alvaro menatap adiknya cukup lama.

“Kamu nggak pernah penasaran soal masa kecil kita?” tanya Alvaro tiba-tiba.

Alisha mengangkat kepala.

“Maksudnya?”

“Foto waktu bayi, misalnya. Aku jarang lihat.”

“Kamu aneh banget. Itu kan biasa saja.”

Ragendra meletakkan sendok.

“Sudah. Jangan bahas hal yang tidak perlu.”

Nada suaranya tegas.

Alvaro diam, tapi pikirannya makin penuh.

Di tempat lain, Bram menerima laporan terbaru.

“Detektif sudah bicara dengan polisi soal kematian sopir ambulans.”

“Dia tidak akan berhenti,” kata anak buahnya.

Bram berdiri dan menatap layar ponsel yang menampilkan foto Alisha Pratiwi dari jarak jauh.

“Kalau dia menyentuh keluarga itu, masalah jadi besar.”

“Perintahnya?”

Bram berpikir sebentar.

“Pantau saja dulu. Jangan gegabah. Kita lihat siapa yang bergerak lebih dulu.”

Anak buah itu mengangguk.

Permainan belum selesai. Semua pihak mulai menyadari ada sesuatu yang salah.

Di satu sisi, detektif sudah memegang nama dalang.

Di sisi lain, keluarga Mahendra mulai dipenuhi kecurigaan.

Sementara itu, Alisha Pratiwi tidak tahu bahwa beberapa orang sedang memperdebatkan hidupnya.

Ponsel Damar kembali bergetar saat ia hendak pulang.

Nomor tak dikenal lagi.

Ia membuka pesan itu.

Isinya singkat.

Kamu terlambat lima belas tahun. Jangan ulangi kesalahan yang sama.

Damar menatap layar tanpa ekspresi.

Ia tidak membalas.

Ia hanya menyimpan nomor itu dan mengambil napas panjang.

Besok pagi ia akan menemui keluarga Alisha secara langsung.

#Bersambung 😊

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!