Kalau kamu pikir pertemanan itu selalu hangat, penuh tawa, dan saling ngerti, kamu salah. Kadang, yang paling dekat sama kita justru bikin capek. Kadang, kita tersenyum di tengah keramaian tapi tetap merasa sendiri.
Aku—Naya—sering berada di posisi itu. Selalu ada, selalu bergerak, tapi jarang disebut. Aku bantu semua orang, tapi yang diingat cuma orang lain. Aku ketawa supaya terlihat aman, padahal di dalam, capeknya nggak ketulungan.
Novel ini bukan tentang keajaiban atau penyelesaian dramatis. Ini cerita tentang hari-hari yang panjang, keputusan kecil yang bikin greget, dan hubungan yang tetap ada tapi nggak lagi sama. Tentang bagaimana rasanya ikut bergerak di tengah orang-orang yang nggak selalu peduli, dan belajar bertahan sambil menahan rasa bingung dan lelah.
Kalau kamu pernah merasa tersisih meski berada di tengah keramaian, atau tersenyum padahal capek banget, cerita ini mungkin bakal terasa familiar.
Selamat membaca. Jangan kaget kalau....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon frj_nyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23 Pulang Terakhir
Aku baru sadar betapa capeknya badanku waktu semua orang mulai bubar. Jam udah lewat sepuluh malam. Udara dingin, tapi nggak bikin seger. Lengket. Bau asap rokok masih nyangkut di jaket pramuka. Dari tadi aku berdiri di pinggir lapangan, nunggu ada yang manggil atau nyuruh.
Nggak ada. “Udah ya, gue ke kamar duluan,” kata salah satu anak cowok sambil nguap. Dia langsung pergi, nyelip di antara tenda-tenda. Yang lain nyusul. Satu-satu. Tanpa nengok. Aku masih berdiri. Tangan pegang clipboard. Isinya daftar barang yang belum balik. Tali pramuka, senter, dua galon kosong, sama sapu.
Aku ngelirik ke arah lingkar api unggun yang udah padam. Abu berserakan. Plastik bekas snack masih ada. Kaleng minuman juga.
Harusnya beres sekarang. Kalau nggak, besok ribet. “Na, lu belum tidur?” suara Tara dari belakang bikin aku nengok. Dia berdiri sambil ngucek mata. Rambutnya udah diikat asal. “Belum. Ini belum beres,” jawabku. Tara lihat sekeliling. “Yang lain?”
“Udah pada balik.”
“Oh.” Dia diem sebentar. “Gue bantu.” Aku pengen bilang nggak usah. Tapi capek bikin mulutku males protes. Kami mulai beresin tanpa banyak ngomong. Tara ngumpulin plastik. Aku sapu abu. Senter satu doang, cahayanya kecil. Setiap aku nyapu, debu naik, bikin tenggorokan gatel.
“Harusnya ada jadwal piket,” kata Tara pelan. “Harusnya,” jawabku singkat. Aku nggak lagi pengen debat. Kata “harusnya” malah bikin kesel. Kenyataannya, ya begini. Lima belas menit lewat. Plastik udah masuk karung. Abu udah diseret ke pinggir. Galon kosong aku angkat satu-satu. Berat. Tanganku pegel. Tara duduk sebentar di bangku kayu. “Gue capek.”
“Istirahat aja,” kataku. Dia ngangguk, tapi matanya lihat aku terus. Aku pura-pura nggak sadar. Lebih gampang fokus ke kerjaan. Dari kejauhan, aku lihat Rara jalan ke arah kamar.
Dia sama dua orang. Ketawa kecil. Nggak nengok ke lapangan. Padahal tadi sore dia yang bilang, “Nanti malam kita rapihin bareng.” Aku berhenti nyapu sebentar. Napas aku agak berat. Bukan karena capek doang. Aku ngerasa kayak orang bodoh yang masih nurutin janji orang lain.
“Na,” Tara manggil.
“Hm?”
“Lu nggak apa-apa?” Aku pengen jawab jujur. Tapi yang keluar,
“Nggak apa.” Kata-kata itu rasanya hambar banget. Kami lanjut lagi. Jam hampir sebelas. Dinginnya makin kerasa. Aku mulai mikir, kenapa aku selalu yang terakhir. Bukan cuma malam ini. Setelah semuanya keliatan beres, aku cek daftar. Masih kurang satu sapu. Aku muter, nyari ke sekitar tenda.
“Gue cari sapu dulu,” kataku ke Tara.
“Oke. Jangan lama.”
Aku jalan ke belakang aula. Lampunya redup. Aku nemu sapu disandarin di tembok, deket kamar mandi. Ada bekas tanah di ujungnya. Aku ambil, terus berdiri sebentar. Capekku numpuk di situ.
Aku duduk di anak tangga. Sapu aku taruh di samping. Aku ngelihat ke depan, ke lapangan yang sekarang kosong. Rasanya aneh. Siang rame, malam sepi. Kayak pertemanan juga.
Tara nyusul. “Ketemu?”
“Iya.” Dia duduk di sampingku. Kami sama-sama diem.
“Na,” katanya pelan, “lu marah?”
Aku mikir sebentar. “Nggak marah.”
“Kesel?”
“Iya.”
Tara ngangguk. “Wajar.” Aku ketawa dikit. Pendek. Nggak lucu.
“Tapi capek, Ra.” Dia nggak jawab.
Cuma nepat pundaknya ke aku sebentar. Nggak lama, tapi cukup bikin dada aku agak lega. Kami berdiri lagi. Balikin sapu ke gudang kecil. Pintu gudang agak macet. Aku dorong pakai bahu. Setelah itu, nggak ada lagi yang harus diberesin.
“Lu mau balik sekarang?” tanya Tara.
“Iya.”
“Kamar lu lewat mana?”
“Lewat aula.”
“Oke. Bareng.” Kami jalan pelan. Langkah kami bunyi di lantai semen. Lampu aula nyala setengah. Bayangan kami kepanjang. Di depan pintu aula, ada beberapa anak lagi duduk sambil main HP.
Mereka ketawa kecil. Salah satu nengok ke aku, terus balik lagi ke layar. Nggak ada yang bilang terima kasih. Atau nanya, “Udah beres?” Aku masuk aula. Tara berhenti di pintu.
“Na,” katanya, “kalau besok lu butuh apa-apa, bilang gue.”
Aku ngangguk. “Makasih.” Dia senyum, terus balik ke kamarnya. Aku sendirian lagi. Di kamar, lampu udah mati. Anak-anak lain udah tidur. Aku masuk pelan, ganti baju, cuci muka seadanya. Wajahku keliatan capek di kaca. Mata agak merah. Rambut berantakan. Aku duduk di kasur. Punggung aku pegel. Kaki kayak habis dipukul.
Aku buka HP. Nggak ada pesan. Grup pramuka rame sore tadi, sekarang sepi. Pesan terakhir dari Rara: “Oke, sip.” Aku taruh HP. Rebahan. Tapi mata nggak mau merem. Pikiranku muter ke kejadian-kejadian kecil. Janji yang nggak ditepati.
Kerja yang nggak kelihatan. Capek yang dianggap biasa. Aku nggak pengen jadi pahlawan. Aku cuma pengen dianggap ada. Besok masih panjang. Tapi malam ini, aku pulang terakhir. Dan rasanya, itu bukan pertama kali. Aku tarik selimut sampai dagu.
Dingin masih kerasa. Di luar, angin lewat, bikin suara plastik berisik. Aku pejamkan mata, sambil mikir satu hal: kalau aku berhenti besok, ada yang nyariin nggak? Jawabannya nggak langsung datang. Dan itu bikin dada aku makin sesak. Aku akhirnya tidur, bukan karena tenang, tapi karena capek duluan.
hanya anggota biasa..
🙂🙂🙂
semoga authornya sehat selalu dan tetap semangat, ya..
semangat trs utk berkarya, yah..
🤭🤭🤭