Lima tahun pernikahan adalah pembuktian cinta bagi Haniyah Zahira dan Haris Abidzar. Tanpa tangis buah hati, mereka tetap bahagia dalam ketaatan. Namun, bagi sang ibu mertua, rahim Haniyah yang sunyi adalah sebuah kegagalan.
"Relakan Haris menikah lagi, atau biarkan dia menjadi anak durhaka karena menolak keinginan ibunya."
Ancaman itu menjadi duri yang Haniyah telan sendirian. Demi bakti sang suami pada ibunya, Haniyah mengambil keputusan nekat: Ia meminta Haris mencari wanita lain. Saat penolakan keras Haris tak kunjung luntur, Haniyah memilih cara paling menyakitkan. Ia pergi, meninggalkan surat cerai di atas bantal, dan menghilang ke pelosok desa yang jauh dari jangkauan.
Di tengah kesunyian desa dan hati yang hancur, sebuah keajaiban muncul. Di saat ia sudah melepaskan statusnya sebagai istri, Allah menitipkan detak jantung di rahimnya. Haniyah hamil. Di saat ia tak lagi memiliki sandaran, dan di saat Haris mungkin sudah menjadi milik orang lain.
Haruskah Haniyah kembali...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DINGIN YANG MULAI MENCAIR
Malam semakin larut, namun aroma bumbu kacang yang terbakar di atas arang seolah memberikan energi baru di pinggir jalan ibu kota yang masih berdenyut. Farel akhirnya menyerah pada rasa penasarannya. Ia duduk di hadapan Ratih, membiarkan harga dirinya sebagai asisten elit sedikit melonggar demi sepiring sate Madura yang mengepulkan uap gurih. Saat suapan pertama mendarat di lidahnya, Farel tertegun. Tekstur daging yang empuk berpadu dengan bumbu kacang yang kental dan kaya rempah menciptakan ledakan rasa yang tak pernah ia temukan di jamuan makan malam bisnis mana pun.
Ratih yang sejak tadi memperhatikan ekspresi Farel, tidak bisa menahan senyum kemenangannya. "Bagaimana? Enakkan? Pasti ini pertama kalinya kamu merasakan sate yang benar-benar punya jiwa. Cita rasanya sangat berbeda dengan yang ada di restoran megah yang biasanya hanya menang di dekorasi saja," ujar Ratih dengan nada bangga.
Farel hanya mengangguk pelan, seolah enggan mengakui bahwa lidahnya baru saja dimanjakan oleh makanan seharga tiga puluh ribu rupiah. Ia kembali melahap sate tersebut dengan gerakan yang lebih santai. Namun, matanya terus melirik ke arah mangkuk mie ayam milik Ratih yang terlihat sangat menggoda dengan limpahan sawi hijau dan potongan ayam kecap yang melimpah.
"Apakah itu juga enak?" tanya Farel dengan wajah yang diusahakan tetap datar, meski matanya tak bisa berbohong.
Ratih tertawa kecil. Tanpa menjawab panjang lebar, ia langsung berteriak pada sang pedagang. "Pak! Bikinkan satu porsi mie ayam lagi ya, tapi jangan terlalu pedas untuk bapak kaku ini!"
"Siap, Nona!" sahut pedagang itu dengan sigap.
Tak butuh waktu lama, semangkuk mie ayam panas tersaji di depan Farel. Ratih menyodorkan sumpitnya. "Cobalah. Jangan cuma jadi pengamat."
Farel sempat ragu sejenak. Pikirannya sempat melayang pada masalah higienis dan standar sterilisasi yang biasa ia jaga. Namun, aroma kaldu yang kuat mengalahkan keraguannya. Ia menyuapkan mie itu ke dalam mulutnya dan kembali tertegun.
"Gimana, Pak Farel yang terhormat? Apakah mie itu rasanya menjijikkan seperti yang Anda bayangkan tadi?" tanya Ratih yang ternyata menyadari keraguan Farel sebelumnya.
"Tidak. Ini juga enak," jawab Farel singkat, meski dalam hati ia mengakui ini adalah mie ayam terbaik yang pernah ia makan.
"Tentu saja enak. Ini tempat makan favoritku dan Haniyah saat masa kuliah dulu. Jajanan ini sudah melegenda, Pak. Jadi hanya orang-orang tertentu saja yang bisa menikmatinya tanpa pikiran kolot bahwa makanan pinggir jalan itu kotor. Kalau terus berpikir begitu, selamanya Anda akan jadi orang yang rugi," sindir Ratih telak.
Farel terdiam, merasa sedikit tertohok oleh perkataan wanita di depannya. "Maaf," ucapnya singkat.
Ratih tersenyum lebar, matanya menyipit cantik. "Ternyata pria es bisa juga mengucapkan kata maaf ya? Aku kira kosakatamu hanya terbatas pada 'siap', 'tidak', dan 'ya'."
Mendengar sindiran itu, Farel mendengus kesal. Ia segera bangkit dari duduknya, padahal mie ayamnya baru habis setengah. "Cepatlah. Ini sudah malam sekali," katanya dingin sambil berjalan menuju pedagang untuk membayar seluruh makanan mereka.
Ratih mendumel pelan sambil menghabiskan sisa makanannya dengan terburu-buru. "Dasar pria es! Tidak bisa melihat orang senang sedikit saja."
Mobil jip itu kembali melaju membelah jalanan kota yang mulai lengang. Di tengah perjalanan, Farel akhirnya bertanya tentang tujuan mereka selanjutnya. "Nona, saya harus mengantar Anda ke mana? Rumah atau apartemen?"
"Ke rumah sakit. Aku masih sangat khawatir pada Haniyah," jawab Ratih tegas.
Farel tidak membantah. Ia langsung mengarahkan kemudi menuju rumah sakit tempat Haniyah dirawat. Karena perjalanan yang cukup jauh dan perut yang sudah kenyang, tanpa sadar kepala Ratih mulai terkantuk-kantuk hingga akhirnya ia tertidur pulas dengan posisi menyandar pada pintu mobil.
Farel meliriknya sejenak saat lampu merah. "Dasar wanita ceroboh. Apa dia tidak punya rasa takut sedikit pun tidur di samping pria yang baru dikenalnya? Bagaimana kalau aku ini orang jahat?" gumam Farel pelan, merasa heran dengan tingkat kepercayaan diri Ratih yang luar biasa.
Satu jam kemudian, mereka sampai di parkiran rumah sakit. Farel mematikan mesin, namun ia tidak tega membangunkan Ratih yang tampak sangat kelelahan. Ia pun memutuskan keluar dari mobil dan berdiri di samping kendaraan, membiarkan Ratih beristirahat sejenak di bawah pengawasannya.
Tak lama, Ratih tersentak bangun karena suara klakson mobil lain. Ia terkejut melihat kursi pengemudi sudah kosong. Saat menoleh ke luar, ia melihat Farel sedang bersandar di badan mobil sambil menatap langit malam. Ratih segera turun dengan wajah cemberut.
"Dasar pria kaku! Kenapa tidak bangunin aku? Tega sekali membiarkanku sendirian di dalam mobil," omel Ratih sambil berjalan mendahului Farel menuju pintu masuk rumah sakit.
Farel hanya menghela napas, mengikuti langkah kaki Ratih yang tergesa-gesa tanpa berniat membela diri. Di depan ruang rawat Haniyah, Haris sedang berdiri berbincang dengan salah satu perawat. Begitu melihat Haris, Ratih langsung menghampirinya tanpa melirik Farel sedikit pun.
"Haris! Bagaimana keadaan Haniyah? Apa dia sudah sadar?" tanya Ratih cemas.
"Belum, Ratih. Dia masih istirahat karena pengaruh obat. Tapi kondisinya sudah sangat stabil menurut dokter," jawab Haris lembut.
Ratih mengintip dari jendela kaca kecil di pintu kamar. Setelah melihat sahabatnya tertidur tenang, ia merasa bebannya sedikit terangkat. "Syukurlah. Kalau begitu aku pamit pulang dulu. Besok pagi-pagi sekali aku akan kembali ke sini."
Haris menoleh pada asistennya. "Farel, antar Ratih pulang. Sudah terlalu larut untuk dia pergi sendiri."
"Tidak usah!" potong Ratih cepat dengan nada ketus. "Banyak taksi di depan. Aku tidak ingin merepotkan orang lain yang sepertinya sedang tidak ikhlas menjalankan tugasnya."
Tanpa menatap Farel atau mengucapkan terima kasih, Ratih berbalik dan berjalan cepat meninggalkan lorong rumah sakit. Haris mengerutkan kening, menatap punggung Ratih lalu beralih menatap wajah Farel yang tampak bingung.
"Ada apa sebenarnya? Kenapa sahabat istriku terlihat sangat kesal padamu?" tanya Haris penuh selidik.
"Saya juga tidak tahu, Bos. Sepertinya sikap saya tadi menyinggung perasaannya," jawab Farel dengan suara rendah yang terdengar sedikit menyesal.
Haris menepuk pundak Farel dengan keras. "Kau akan menyesal kalau tidak mendapatkan maafnya, Farel. Wanita seperti Ratih itu langka. Tapi dari gayanya tadi, sepertinya dia sudah tidak berminat lagi padamu. Selamat, kau baru saja kehilangan kesempatan emas."
Perkataan Haris seolah menjadi duri yang menusuk hati Farel. Ada perasaan aneh, semacam rasa kehilangan yang tidak bisa ia jelaskan dengan logika, saat melihat Ratih pergi begitu saja tanpa menoleh lagi. Farel terdiam di koridor yang sunyi, bertanya-tanya dalam hati, mengapa ia merasa begitu tidak nyaman dengan pengabaian wanita yang baru saja ia temui itu.
lanjut kak semangat 💪💪
🤣🤣
lanjut kak tetap semangat 💪💪