NovelToon NovelToon
Script Of Love: The Secret Identity

Script Of Love: The Secret Identity

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Time Travel / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:687
Nilai: 5
Nama Author: Veline ll

"Dalam permainan naskah ini, siapa yang sedang berakting dan siapa yang benar-benar jatuh cinta?"

Lin Xia hanyalah seorang penulis naskah mystery game yang hidup tenang, sampai suatu malam ia diundang dalam sebuah permainan peran (Script Killing) bertema Era Republik China yang sangat nyata. Di sana, ia bertemu dengan Gu Yan, pria misterius berdarah dingin yang berperan sebagai Kepala Militer.

Masalahnya, Gu Yan bukan sekadar pemain biasa. Ia memiliki identitas rahasia di dunia nyata. Hingga alur permainan tiba-tiba diubah oleh Penulis bayangan yang ternyata Adik Gu jingshen yaitu "Gu Yanran. Saat garis antara naskah dan realita mulai kabur, Lin Xia harus memilih: Mengikuti skenario untuk selamat, atau menulis ulang takdirnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veline ll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11: Rahasia di Balik Darah dan Naskah

[Waktu: Kamis, 23 April, Pukul 10.00 AM]

[Lokasi: Depan Gedung Gu Corp, Shenzhen]

Lin Xia berdiri di trotoar yang basah, napasnya tersengal bukan karena lelah berlari, melainkan karena amarah yang memuncak. Air matanya sudah mengering, digantikan oleh sorot mata yang tajam setelah membaca pesan misterius di ponselnya.

"Sialan kau, Gu Jingshen! Kau pikir kau bisa mengusirku begitu saja setelah semua yang kita lalui?" geramnya pelan.

Pesan dari nomor tak dikenal itu—si Penulis Bayangan—memberinya sebuah harapan sekaligus tantangan. Lin Xia segera menyetop taksi dan menuju cafe miliknya. Ia tidak bisa lagi mengandalkan Gu Jingshen yang pengecut dan tunduk pada ayahnya. Jika pria itu memilih untuk melupakan, maka Lin Xia akan bertindak sendiri.

[Waktu: Kamis, 23 April, Pukul 14.00 PM]

[Lokasi: Ruang Rapat Utama, Gedung Gu Corp, Shenzhen]

Di saat yang sama, suasana di kantor pusat Gu Corp sangat tegang. Gu Jingshen duduk di kursi utama meja rapat yang panjang, dikelilingi oleh para ahli teknologi dan dewan direksi. Agenda hari ini adalah rapat darurat mengenai kegagalan sistem Project Mnemosyne di Suzhou.

"Tuan Gu, data menunjukkan bahwa sistem tidak error secara alami. Ada penyusup yang memiliki akses level tinggi yang memanipulasi alur permainan dari dalam," lapor salah satu teknisi senior.

Gu Jingshen menatap layar besar yang menampilkan kode-kode rumit. Pikirannya terbagi. Sebagian dari dirinya masih memikirkan wajah hancur Lin Xia saat ia mengusirnya tadi pagi. Hatinya perih, namun ia harus tetap bersikap dingin di depan bawahannya.

"Cari tahu siapa pemilik akses itu. Aku ingin tahu siapa yang berani menyentuh inti serverku," perintah Gu Jingshen dingin.

[Waktu: Kamis, 23 April, Pukul 22.00 PM]

[Lokasi: Dermaga Lama Suzhou, Suzhou]

Tanpa memberi tahu siapa pun, bahkan Xiao Li, Lin Xia nekat menempuh perjalanan jauh kembali ke Suzhou. Kota ini tampak berbeda di malam hari; lebih gelap, lebih sunyi, dan penuh dengan aura misterius yang sama seperti di dalam permainan.

Sesuai instruksi dalam pesan, Lin Xia berjalan menuju sebuah gudang tua di ujung dermaga yang lampunya berkedip-kedip. Langkah kakinya bergema di atas jalanan batu yang dingin.

"Aku sudah di sini! Keluar kau!" teriak Lin Xia ke dalam kegelapan gudang.

Seorang pemuda muncul dari balik bayangan. Ia mengenakan hoodie hitam dan celana kargo. Wajahnya sangat tampan, memiliki kemiripan yang samar dengan Gu Jingshen, namun matanya memancarkan kebencian yang mendalam. Ia tampak jauh lebih muda, sekitar 25 tahun.

"Luar biasa. Penulis naskah kita ternyata lebih punya nyali daripada 'kakakku' yang hebat itu," ucap pemuda itu sambil menyeringai sinis.

Lin Xia tertegun. "Kau... Yanran? Adik laki-laki Gu Jingshen?"

"Benar. Aku Gu Yanran," jawabnya sambil melangkah mendekat. "Tapi jangan panggil pria itu kakakku. Dia bukan siapa-siapa di keluarga Gu. Dia hanyalah anak tiri yang dibawa ibunya masuk ke rumah kami saat aku masih kecil. Dia hanyalah parasit yang mencuri perhatian ayahku!"

Lin Xia menutup mulutnya dengan tangan. Jadi ini alasannya? Ini bukan sekadar permainan yang rusak, tapi sebuah rencana balas dendam dari adik yang merasa tersisih.

"Kau melakukan semua ini... merusak naskahku, menjebak Jingshen di dalam game... hanya karena kau iri?" tanya Lin Xia tak percaya.

"Iri?" Yanran tertawa meledak, suara tawanya terdengar gila di tengah kesunyian dermaga. "Ayahku selalu membanggakan Jingshen! 'Jingshen sangat jenius', 'Jingshen adalah pewaris yang sempurna'. Sementara aku? Anak kandungnya sendiri selalu dianggap sebagai sampah yang hanya bisa bermain game! Jadi, aku membuktikan padanya bahwa di dunia yang aku buat—dunia digital—aku adalah Tuhan, dan Jingshen hanyalah bidak yang bisa kuhancurkan kapan saja!"

Tiba-tiba, lampu gudang menyala terang. Beberapa pria bersetelan hitam—orang suruhan Tuan Gu—merangsek masuk dan mengepung Yanran. Tak lama kemudian, Gu Jingshen muncul dari balik pintu bersama Ah Cheng. Wajah Jingshen tampak pucat saat melihat adiknya berada di sana sebagai pelaku utama.

"Yanran... hentikan semua ini," kata Gu Jingshen dengan suara bergetar.

"Jangan berlagak seperti pahlawan, Jingshen!" teriak Yanran.

"Bawa dia!" perintah suara berat dari arah belakang. Tuan Gu masuk ke gudang dengan wajah yang dipenuhi kekecewaan yang mendalam. "Bawa dia ke kediaman utama sekarang juga!"

Para pria itu menyeret Yanran keluar. Sebelum pergi, Yanran meludahi arah kaki Gu Jingshen. Sementara itu, Gu Jingshen menghampiri Lin Xia yang masih gemetar.

"Ah Cheng, bawa Lin Xia kembali ke tempat tinggalnya di Shenzhen. Pastikan dia aman. Jangan biarkan dia terlibat lebih jauh dalam urusan keluarga ini," perintah Gu Jingshen tanpa menatap mata Lin Xia.

"Tapi Jingshen—"

"Pergilah, Lin Xia! Ini bukan lagi tentang naskahmu!" bentak Jingshen, meski matanya menunjukkan rasa takut akan keselamatan wanita itu.

[Waktu: Jumat, 24 April, Pukul 01.00 AM]

[Lokasi: Ruang Kerja Papa Gu, Kediaman Utama Keluarga Gu, Shenzhen]

Suasana di ruang kerja Tuan Gu begitu dingin hingga terasa membeku. Yanran berdiri di tengah ruangan dengan tangan melipat, sementara Tuan Gu duduk di kursi besarnya dengan wajah yang tampak menua sepuluh tahun dalam semalam. Gu Jingshen berdiri di samping pintu, menyaksikan drama keluarga ini dengan hati yang berat.

"Kenapa, Yanran? Kenapa kau melakukan hal sejahat ini pada kakakmu sendiri? Kau hampir membunuhnya di dalam sistem itu!" Tuan Gu berteriak, suaranya parau karena kecewa.

"Dia bukan kakakku! Berapa kali aku harus mengatakannya?!" Yanran membalas dengan teriakan yang sama kencangnya. "Dia hanyalah anak dari istri keduamu! Aku adalah darah dagingmu, tapi kau lebih memilih dia untuk memimpin perusahaan!"

PLAK!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Yanran. Tuan Gu gemetar karena amarah. "Aku memilih dia karena dia kompeten! Sedangkan kau? Kau hanya menggunakan bakatmu untuk menghancurkan orang lain!"

"Cukup, Pa!" Gu Jingshen tiba-tiba melangkah maju, menghalangi ayahnya yang hendak memukul Yanran lagi. Ia merentangkan tangannya, melindungi adiknya yang ia sayangi meskipun Yanran membencinya.

"Minggir, Jingshen! Dia harus diberi pelajaran!" bentak Tuan Gu.

"Pa, ini juga salah kita," ucap Gu Jingshen dengan tenang namun tegas. "Selama ini aku tahu dia merasa tersisih, tapi aku diam saja karena aku pikir aku bisa memperbaikinya dengan bekerja lebih keras. Aku yang salah karena tidak merangkulnya sebagai adik. Tolong jangan sakiti dia lagi."

Yanran menatap punggung Gu Jingshen dengan tatapan bingung. "Kenapa kau membelaku? Aku baru saja mencoba membunuhmu di Suzhou!"

Gu Jingshen menoleh sedikit, menatap Yanran dengan tatapan yang sama persis seperti Marsekal Gu Yan yang melindungi adiknya dalam naskah Lin Xia. "Karena bagiku, kau tetaplah adikku. Tidak peduli darah apa yang mengalir di tubuh kita, kau adalah keluarga yang aku miliki sejak aku masuk ke rumah ini."

Tuan Gu terduduk lemas di kursinya, menutupi wajahnya dengan tangan. Ia merasa gagal sebagai ayah bagi kedua putranya.

"Jingshen... kau benar-benar terlalu baik untuk keluarga ini," bisik Tuan Gu pelan.

Di luar ruangan, Ah Cheng baru saja selesai mengantarkan Lin Xia. Ia berdiri di depan pintu, tidak sengaja mendengar percakapan itu. Ia tahu, setelah malam ini, tidak ada yang akan sama lagi di Gu Corp.

Sedangkan di apartemennya, Lin Xia duduk di tepi tempat tidur, memegang sapu tangan putih milik Jingshen. Ia kini mengerti segalanya. Ini bukan sekadar cerita tentang cinta, tapi tentang luka seorang anak tiri yang ingin diterima dan seorang anak kandung yang merasa kehilangan tempat.

"Aku akan membantumu, Jingshen," bisik Lin Xia pada kegelapan malam. "Aku akan menulis akhir yang bahagia untuk kalian berdua, meski aku harus mempertaruhkan segalanya."

...****************...

1
Celine
Keren Author
Ika Anggriani
serem juga😭
Agry
/Hey/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!