NovelToon NovelToon
DIJODOHKAN SAAT SMA!!!

DIJODOHKAN SAAT SMA!!!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Tama Dias

Novel ini lahir dari rasa ingin mengeksplorasi kisah cinta remaja yang unik, tentang dua orang yang dijodohkan sejak SMA dan bagaimana mereka belajar mengenal satu sama lain. Penulis ingin menampilkan bahwa cinta sejati tidak selalu hadir dengan cara yang mudah atau instan, melainkan tumbuh melalui proses memahami, menerima, dan memilih satu sama lain setiap hari.
Melalui cerita ini, penulis ingin menggambarkan perjalanan emosi remaja yang realistis, mulai dari kebingungan, rasa penasaran, hingga perasaan hangat yang perlahan tumbuh menjadi cinta yang dewasa. Kisah ini juga menekankan bahwa di balik setiap tawa dan momen manis, ada nilai penting tentang keluarga, persahabatan, tanggung jawab, dan kesabaran yang membentuk karakter seseorang.
Cerita ini diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi remaja untuk menyadari bahwa hubungan yang baik tidak hanya tentang perasaan, tetapi juga tentang saling menghargai, membangun kepercayaan, dan berani membuat pilihan yang tepat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tama Dias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10~Pertemuan yang lama dinanti

Jakarta pagi itu terasa berbeda.

Langitnya cerah, tapi hatiku yang paling terang.

Sudah hampir setahun aku tidak benar-benar bertemu Raka — bukan lewat layar, bukan lewat pesan, tapi langsung, tatap mata ke mata.

Dan hari ini, dia kembali.

Dia bilang akan magang di proyek taman kota yang letaknya tidak jauh dari kampusku.

Aku sudah mencoba bersikap santai sejak pagi, tapi setiap kali menatap jam, jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya.

Lina, yang sekarang jadi teman satu kos sekaligus penyemangat hidup, cuma bisa geleng-geleng kepala melihat aku mondar-mandir di depan kaca.

“Ly, dari tadi kamu udah ganti baju tiga kali,” katanya sambil menahan tawa.

“Ini bukan sekadar ketemu teman lama, Lin,” jawabku cepat sambil merapikan rambut. “Ini… kayak ketemu bagian hidup yang sempat pergi.”

Lina tersenyum lembut. “Duh, puitis banget. Udah sana, nanti kamu telat.”

Aku tiba di taman kota sekitar pukul sepuluh.

Udara pagi masih sejuk, pepohonan rindang, dan suara burung bercampur dengan tawa anak-anak yang bermain.

Aku berdiri di dekat danau kecil, menatap air yang tenang sambil memegang gelang hijau yang sejak dulu tidak pernah kulepas.

“Masih suka datang terlalu awal, ya?”

Suara itu — suara yang sudah berbulan-bulan cuma kudengar lewat telepon — membuatku berbalik spontan.

Dan di sana dia.

Raka berdiri beberapa meter dariku, dengan kemeja putih lengan panjang dan celana kerja abu-abu. Di tangannya ada map proyek, dan di wajahnya ada senyum yang sama seperti dulu… tapi kini lebih dewasa.

Aku terpaku sesaat sebelum akhirnya tersenyum. “Dan kamu masih suka datang pas waktu yang tepat.”

Dia berjalan mendekat.

Untuk beberapa detik, kami hanya saling menatap — diam tapi penuh kata yang tidak perlu diucapkan.

“Jadi ini kamu sekarang,” katanya pelan. “Alya versi mahasiswa. Nggak kalah cantik dari dulu.”

Aku mendengus kecil. “Kamu juga. Raka versi arsitek kayaknya keren banget.”

Dia tertawa pelan. “Nggak usah gombal, itu tugasku.”

Kami berdua tertawa.

Semua canggung, tapi nyaman. Seperti dua melodi lama yang akhirnya diputar lagi setelah lama diam.

Kami berjalan di sekitar taman sambil berbincang.

Raka menunjuk beberapa spot yang sedang direnovasi. “Di sini nanti mau dibikin area edukasi tanaman. Aku kebagian bantu desain tata letaknya.”

Aku menatapnya kagum. “Keren banget. Jadi kamu bakal bantu bikin taman yang bisa ngajarin anak-anak tentang lingkungan?”

Dia mengangguk. “Iya. Kayak taman hidroponik kecil dulu, tapi versi besar.”

Aku tersenyum. “Kayaknya Tuhan suka bercanda. Dulu kita cuma main air dan tanam sayur, sekarang kamu beneran jadi arsitek taman.”

Dia menatapku lembut. “Dan kamu masih orang yang pertama aku pikirin setiap kali liat tanaman tumbuh.”

Aku menunduk, berusaha menutupi wajah yang mulai memanas. “Kamu nggak pernah berubah ya, masih suka bikin deg-degan.”

Raka tersenyum kecil. “Aku berubah, kok. Sekarang aku lebih tahu kenapa aku ngomong kayak gitu.”

Aku menatapnya heran. “Maksudnya?”

Dia berhenti berjalan, lalu menatapku serius. “Dulu aku suka kamu karena kita sering bareng. Tapi sekarang aku sadar, aku jatuh cinta karena kamu selalu jadi rumah — bahkan dari jauh.”

Kata-katanya membuat dunia di sekitarku seperti berhenti sejenak.

Angin yang berembus, suara anak-anak, semuanya terasa menghilang.

Aku tersenyum pelan. “Aku juga gitu. Dulu aku pikir aku cuma nyaman karena terbiasa. Tapi ternyata, aku nyaman karena kamu tempat aku bisa jadi diri sendiri.”

Dia menatapku, matanya lembut tapi dalam. “Kayaknya jarak kemarin bukan buat memisahkan kita, tapi buat bikin kita ngerti seberapa penting satu sama lain.”

Aku mengangguk pelan. “Mungkin iya. Kadang kita harus sedikit jauh biar tahu seberapa kuat rasa itu.”

Kami duduk di bangku dekat danau, sama seperti dulu waktu di taman sekolah.

Raka membuka bekal kecil dari tasnya. “Aku bawain brownies kayak waktu pertama kita ketemu di taman.”

Aku tertawa. “Serius masih inget?”

“Of course,” katanya sambil membuka kotaknya. “Aku nggak gampang lupa hal penting.”

Aku mengambil satu potong, menggigitnya pelan. Rasanya manis, sedikit lembut, dan… penuh kenangan.

“Aku suka,” kataku jujur.

Raka tersenyum lebar. “Aku tahu. Aku bikin sendiri.”

Aku menatapnya kaget. “Kamu bisa masak sekarang?”

Dia nyengir. “Belajar, karena katanya cowok yang serius harus bisa ngelakuin hal baru buat orang yang dia sayang.”

Aku hampir tertawa tapi mataku tiba-tiba hangat. “Kamu serius banget ngomongnya.”

“Selalu,” jawabnya singkat.

Kami ngobrol lama. Tentang kuliah, kehidupan baru, bahkan hal-hal konyol seperti kebiasaan dosen yang suka ngasih tugas dadakan.

Semuanya terasa seperti puzzle yang akhirnya lengkap lagi setelah sekian lama.

Sampai akhirnya, Raka menatap jam tangannya. “Aku harus balik ke lokasi proyek sebentar lagi. Tapi… sebelum pergi, aku mau kasih sesuatu.”

Dia mengeluarkan sebuah kotak kecil dari tasnya. Di dalamnya ada gantungan kunci berbentuk daun, berwarna hijau muda.

“Ini,” katanya, “dibuat dari bahan daur ulang taman proyek. Aku mau kamu simpan, biar setiap kali kamu lihat, kamu inget — cinta yang baik itu kayak daun: mungkin berubah warna, tapi tetap tumbuh di batang yang sama.”

Aku menatap gantungan itu lama. “Kamu tuh, selalu punya cara unik buat ngomong romantis.”

Dia tersenyum lembut. “Aku cuma pengen kamu tahu, Ly. Aku masih di sini, di perasaan yang sama, cuma sekarang lebih yakin.”

Aku memegang gantungan itu erat. “Dan aku masih di sini, di hati yang sama, cuma sekarang lebih siap.”

Kami saling tersenyum. Tak ada kata “selamanya”, tak ada janji besar — hanya dua hati yang akhirnya menemukan tempatnya kembali.

Saat dia berpamitan, aku menatapnya berjalan menjauh dengan langkah pasti.

Di tanganku, gantungan daun itu terasa hangat, seolah membawa sebagian dari dirinya bersamaku.

Dan saat angin berembus lembut, aku berbisik pelan,

“Selamat datang kembali, Raka. Tapi kali ini… jangan pergi terlalu lama, ya.”

Dari kejauhan, dia menoleh sebentar, tersenyum, dan melambaikan tangan.

Dan entah kenapa, aku tahu — meskipun hidup kami terus berubah, rasa ini akan selalu menemukan jalan untuk bertumbuh.

Seperti daun yang selalu kembali tumbuh setiap musim.

Bersambung ke Bab 11

1
dias lobers
baguss
dias lobers
gimana
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!