NovelToon NovelToon
CINTA DI ATAS PENGKHIANATAN

CINTA DI ATAS PENGKHIANATAN

Status: tamat
Genre:Konflik etika / Dark Romance / Pengkhianatan / Tamat
Popularitas:124.6k
Nilai: 5
Nama Author: Jing_Jing22

Liora merasa dunianya runtuh dalam semalam. Baginya, Raka adalah pelabuhan terakhir, dan Salsa adalah rumah tempatnya bercerita. Namun kini, kenyataan pahit menghantamnya tanpa ampun; dua orang yang paling ia percayai justru menusuknya dari belakang dengan cara yang paling hina. Kepercayaan yang ia jaga setinggi langit, kini hancur berkeping-keping di bawah kaki tunangan dan sahabatnya sendiri.
Liora tidak pernah menyangka bahwa prinsip yang ia pegang teguh untuk menjaga kehormatan di depan Raka, justru menjadi celah bagi Salsa untuk masuk dan mengambil alih segalanya. Bagai sebuah ironi, Liora memberikan kasih sayang yang tulus, namun dibalas dengan perselingkuhan yang dilakukan tepat di belakang punggungnya.
Apakah Liora akan tetap diam dan pura-pura tidak tau atau ia akan membalaskan dendamnya kepada kedua manusia yang telah mengkhianatinya...
Penasaran ayok ikuti kisah selanjutnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 SESEORANG

Di tempat lain, mobil yang dikendarai Raka akhirnya berhenti di depan apartemen. Liora baru saja hendak membuka pintu, namun gerakannya terhenti saat Raka tiba-tiba menahan tangannya dengan erat.

​"Ada apa, Rak?" tanya Liora, berusaha menjaga suaranya tetap tenang.

​Tiba-tiba, tatapan Raka berubah. Ia menatap Liora lekat-lekat dengan sorot mata yang sulit diartikan, lalu perlahan mulai mencodongkan wajahnya pada gadis itu.

​Dengan refleks, Liora segera menghindar. Ia memalingkan wajah, menciptakan jarak yang cukup lebar di antara mereka.

​"Apa laki-laki ini gila? Baru saja semalam dia bersentuhan dengan wanita lain, sekarang tanpa tahu malunya ingin menyentuhku." geramnya dalam hati.

​"Raka, aku nggak mau kamu melewati batas." ucap Liora lirih dengan memasang wajah memelas, seolah ia adalah wanita rapuh yang sangat menjaga kehormatannya.

​Raka tersentak, seolah baru saja tersadar dari lamunannya. Ia menarik dirinya dengan canggung dan melepaskan tangan Liora.

​"Maaf, Li! Aku... aku tidak bermaksud seperti itu." jawab Raka dengan nada yang terdengar menyesal.

Liora memilih langsung keluar dari mobil tanpa menoleh lagi, meninggalkan laki-laki itu yang terpaku sendirian di dalam mobil. Ia melangkah dengan cepat, ingin segera menjauh dari laki-laki itu.

​Raka hanya bisa menatap punggung Liora yang perlahan menghilang di balik pintu lobi apartemen. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi mobil, mengembuskan napas kasar mengusap wajahnya dengan frustrasi.

​"Setiap kali aku menyentuh Salsa, aku selalu membayangkanmu, Liora." gumamnya pelan.

Saat tiba di dalam apartemen, Liora sudah bersiap-siap kembali mengenakan pakaian rapih, yang akan ia kenakan untuk berangkat ke kantor.

Tidak lama kemudian, Raka masuk dan langsung duduk di sofa ruang tamu, tiba-tiba Liora mendengar helaan napas berat yang keluar dari mulut laki-laki itu. Ia tampak lesu, sangat kontras dengannya yang sudah terlihat segar.

​"Kamu sudah siap berangkat ke kantor?" tanya Raka sambil menatap tunangannya itu.

​Liora mengangguk pelan sambil merapikan tasnya. "Iya, Raka. Kali ini atasanku mengadakan pertemuan penting dengan sebuah perusahaan besar." ​Ia melirik Raka sekilas melalui cermin. "Kamu sendiri, kenapa belum berangkat?"

​"Cuma mengecek laporan, aku kerjakan di apartemen saja." jawab Raka sambil mendudukkan dirinya di sofa.

​"Oh, baiklah. Kalau gitu, semoga harimu menyenangkan, Raka. Aku pergi dulu ya. Bye!" pamitnya dengan nada riang. ​Tanpa menunggu balasan lebih lanjut, ia melangkah keluar dan menutup pintu apartemen.

Begitu pintu terkunci, ekspresi wajahnya yang semula manis langsung berubah menjadi dingin. Saat tiba dilobi. Ia merogoh ponsel dalam tasnya dan langsung menekan nomor seseorang, tidak lama kemudian panggilan itu tersambung.

​"Halo. Tunggu aku di kafe tempat biasa kita ketemu. Aku nggak mau sampai ada yang tahu tentangmu." ucap Liora tanpa basa-basi.

​Terdengar helaan napas berat dari seberang telepon, seolah orang itu sudah terbiasa dengan sikap Liora yang tidak mudah ditebak.

​"Ok. Terserah kamu saja." sahut suara itu pasrah sebelum sambungan terputus.

​Liora mulai melangkah menuju mobilnya, saat sudah tiba di samping mobil tersebut tanpa ingin membuang waktu lagi ia masuk ke kursi kemudi, membelah hiruk-pikuk jalanan kota yang padat. Matanya menatap lurus ke depan, fokus menembus kemacetan menuju tempat yang sudah ia janjikan kepada seseorang tadi.

​Di dalam mobil, pikirannya jauh menerawang setiap belokan yang ia ambil seolah membawanya selangkah lebih dekat menuju akhir dari rasa sakitnya, sekaligus awal dari kehancuran bagi mereka yang telah mengkhianatinya.

Ia sengaja memilih rute yang jarang dilalui agar tidak ada mata yang mengenali mobilnya. Setelah lima belas menit menempuh perjalanan, Liora akhirnya sampai di sebuah kafe di pinggiran kota. Tempat itu tampak tenang, jauh dari hiruk-pikuk pusat kota, sangat cocok untuk pertemuan yang tidak ingin terlalu banyak orang.

Ia turun dari mobil dengan gerakan anggun, memperbaiki letak tasnya sejenak sebelum melangkah masuk. Matanya segera menyelusuri ruangan dan menemukan seseorang yang ia cari.

Sosok itu sudah menunggunya, seorang Laki-laki yang memiliki paras tampan seolah dipahat dengan sempurna namun meninggalkan kesan yang membeku. Rahangnya tegas dengan tatapan mata elang yang tajam, seakan mampu membaca setiap kebohongan hanya dalam sekali lirik. Postur tubuhnya yang gagah dan tegap mencerminkan kedisiplinan tingkat tinggi, dibalut pakaian yang selalu rapi.

Kehadirannya di ruangan mana pun selalu menciptakan aura dominan yang membuat orang lain segan untuk sekadar menyapa. Ia duduk di kursi barisan pojok, posisi paling strategis untuk mengawasi siapa saja yang masuk.

​Liora baru saja hendak menarik kursi di depannya ketika sebuah suara dingin menyambut kedatangannya. ​"Telat 1 menit 40 detik."

​Ia tidak terkejut, justru tersenyum tipis, seolah sudah sangat hafal dengan kebiasaan lawan bicaranya yang terobsesi dengan ketepatan waktu.

Ia duduk dengan tenang, meletakkan ponselnya di atas meja, dan menatap tajam pria di hadapannya itu.

​"Ternyata ketelitianmu tidak berubah sedikit pun."

​"Tentu saja. Jadi, masih membutuhkan waktu berapa lama lagi untuk mengungkapkan pengkhianatan mereka?" tanya Laki-laki itu tanpa basa-basi. Tatapannya tajam, menuntut kepastian seolah sedang membahas transaksi bisnis yang mendesak.

​Liora menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap laki-laki di hadapannya dengan senyum yang sulit diartikan.

​"Kenapa harus terburu-buru? Bukannya sangat seru saat melihat wajah mereka ketakutan." balas Liora santai, seolah pengkhianatan yang ia alami hanyalah sebuah permainan kecil yang menyenangkan.

​Laki-laki itu mendengus, sorot matanya menunjukkan ketidaksabaran.

"Membuang waktu." cibirnya. Ia melipat tangan di dada, tidak setuju dengan apa yang gadis itu katakan.

​Liora hanya terkekeh pelan menanggapi kekesalan laki-laki itu.

"Ini bukan sekadar tentang waktu, tapi tentang kehancuran yang sempurna. Aku ingin mereka kehilangan segalanya sebelum mereka menyadari siapa yang menghancurkannya."

​"Apa kamu mau sarapan?" tawar Laki-laki itu dengan nada penuh perhatian

​"Nggak usah, aku sudah sarapan."

​Laki-laki itu menatap Liora dengan tatapan menyelidik, lalu senyum miring muncul di wajahnya.

"Sarapan menggoda suami orang dengan masakanmu, maksudnya?"

​Liora tertegun sejenak sebelum membelalakkan matanya. "Hei, Tuan Perfeksionis! Kenapa mulutmu tajam sekali, sih?"

​"Aku tidak menggodanya. Hanya saja memberikan perhatian kecil yang tidak dia dapatkan dari istrinya sendiri, yang terlalu asyik dengan tunangan sahabatnya." lanjutnya dengan nada mencibir.

Ia melipat tangan di dada dengan wajah cemberut, merasa tidak terima dituduh menggoda.

Saat ​melihat ekspresi kesal di wajah Liora yang jarang terlihat, seketika laki-laki itu terkekeh. Tawa kecilnya terdengar lebih tulus dibandingkan suara dinginnya tadi.

1
Tulisan__mawar
punya calon yang menjaga Marwah malah pilih cewek jadi-jadian kayak salsa. orang lain mah Bangga punya calon yang bisa jaga diri, puji selingkuhan secara terang-terangan. kata-kata buaya. sudah tau kali, Liora nggak se goblok kamu.
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
insting seorang Bi Ratih emang tajam
james
semangat Liora membalas mereka yang mengkhianatimu
james
untung Liora gak bodoh bisa tau perselingkuhan tunangannya
Agatha soul
anjay
arsyila putri
semangat banget kamu raka
mama Al
kayaknya Liora punya strategi tersendiri 🤭
mama Al
Ini mah Pagar makan tanaman
james
baru awal udah wut wut, aish sahabat apaan tuh.
Mingyu gf😘
waosww kejutaannn
Mingyu gf😘
lio, kamu jangan menaruh simpati sama salsa
Mingyu gf😘
heleh heleh😆blm resmi loh
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
sungguh membingungkan cinta segi empat ini
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
balas jasa yang tepat sepertinya, memberikan makan pada yang baik
Agatha soul
udah maen enak aja
Tulisan__mawar
Menantang banget yah, itu sahabat kamu loh salsa. benar-benar yah.
arsyila putri
bagus !!
arsyila putri
baru baca Uda begini
Ibu Rasyidd
jangan pernah memperkenalkan pasangan kita kepada sahabat kita, pasti akan di embat🤭
M. T🌻
Salsa ma egois, mau dua"nya 😔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!