Liora merasa dunianya runtuh dalam semalam. Baginya, Raka adalah pelabuhan terakhir, dan Salsa adalah rumah tempatnya bercerita. Namun kini, kenyataan pahit menghantamnya tanpa ampun; dua orang yang paling ia percayai justru menusuknya dari belakang dengan cara yang paling hina. Kepercayaan yang ia jaga setinggi langit, kini hancur berkeping-keping di bawah kaki tunangan dan sahabatnya sendiri.
Liora tidak pernah menyangka bahwa prinsip yang ia pegang teguh untuk menjaga kehormatan di depan Raka, justru menjadi celah bagi Salsa untuk masuk dan mengambil alih segalanya. Bagai sebuah ironi, Liora memberikan kasih sayang yang tulus, namun dibalas dengan perselingkuhan yang dilakukan tepat di belakang punggungnya.
Apakah Liora akan tetap diam dan pura-pura tidak tau atau ia akan membalaskan dendamnya kepada kedua manusia yang telah mengkhianatinya...
Penasaran ayok ikuti kisah selanjutnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 Laki-laki misterius
Di tempat lain, mobil yang dikendarai Raka akhirnya berhenti di depan apartemen. Liora baru saja hendak membuka pintu dan turun, namun gerakannya terhenti saat Raka tiba-tiba menahan tangannya dengan erat.
"Ada apa, Rak?" tanya Liora, berusaha menjaga suaranya tetap tenang.
Tiba-tiba, tatapan Raka berubah. Ia menatap Liora lekat-lekat dengan sorot mata yang sulit diartikan, lalu perlahan mulai mendekatkan wajahnya pada Liora.
Dengan refleks, Liora segera menghindar. Ia memalingkan wajah, menciptakan jarak yang cukup lebar di antara mereka.
"Apa laki-laki ini gila? Baru saja semalam dia bersentuhan dengan wanita lain, sekarang tanpa tahu malunya ingin menyentuhku." geram Liora dalam hati. Rasa jijik merayap di benaknya, namun ia tetap mempertahankan topeng aktingnya.
"Rak, aku tidak ingin kamu melewati batas." ucap Liora lirih dengan memasang wajah memelas, seolah ia adalah wanita rapuh yang sangat menjaga kehormatannya.
Raka tersentak, seolah baru saja tersadar dari lamunannya. Ia menarik diri dengan canggung dan melepaskan tangan Liora.
"Maaf, Li! Aku... aku tidak bermaksud begitu." jawab Raka dengan nada yang terdengar menyesal.
Setelah itu, Liora langsung keluar dari mobil tanpa menoleh lagi, meninggalkan Raka yang terpaku sendirian di balik kemudi. Ia melangkah dengan cepat, ingin segera menjauh dari kehadiran pria yang menurutnya sangat munafik itu.
Raka hanya bisa menatap punggung Liora yang perlahan menghilang di balik pintu lobi apartemen. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi mobil, mengembuskan napas berat yang sarat akan frustrasi.
"Setiap kali aku menyentuh Salsa, aku selalu membayangkanmu, Li." gumam Raka pelan.
Suaranya terdengar hampa di dalam kabin mobil yang sunyi.
Saat ini Liora tengah bersiap-siap untuk berangkat ke kantor. Di ruang tengah, Raka yang baru saja menyusul masuk ke apartemen terdengar mengembuskan helaan napas berat. Ia tampak lesu, kontras dengan Liora yang terlihat segar dan bersemangat.
"Apakah kamu sudah siap untuk berangkat ke kantor?" tanya Raka sambil menatap tunangannya itu.
Liora mengangguk pelan sambil merapikan tasnya. "Iya, Rak. Kali ini atasanku mengadakan pertemuan penting dengan sebuah perusahaan besar."
Liora melirik Raka sekilas melalui cermin. "Kamu sendiri, apakah tidak pergi bekerja?"
"Hari ini aku akan jaga malam, menggantikan temanku. Mungkin siang ini aku akan berada di apartemen saja." jawab Raka sambil mendudukkan dirinya di sofa dengan sisa-sisa rasa lelah.
Liora yang sudah rapi dengan pakaian kantornya hanya memberikan senyum tipis—senyum yang penuh dengan arti tersembunyi.
"Oh, baiklah. Kalau begitu, semoga harimu menyenangkan, Rak. Aku pergi dulu ya. Bye, Raka!" ucap Liora riang.
Tanpa menunggu balasan lebih lanjut, Liora melangkah keluar dan menutup pintu apartemen. Begitu pintu terkunci, ekspresi wajahnya yang semula manis langsung berubah menjadi dingin dan penuh ambisi. Ia segera merogoh tasnya, memastikan kartu nama yang diberikan Kevandra tadi pagi masih ada di sana.
"Nikmati waktu istirahatmu, Raka. Karena setelah ini, tidak akan ada hari yang menyenangkan untukmu maupun Salsa." gumam Liora pelan sambil berjalan menuju lift.
Setelah keluar dari apartemen, Liora segera mengambil ponselnya. Ia mencari sebuah nomor yang tidak tersimpan dengan nama asli, lalu segera menghubungi orang di seberang sana. Begitu panggilan tersambung, nada bicara Liora berubah menjadi sangat serius.
"Halo. Tunggu aku di kafe tempat biasa kita bertemu. Aku tidak ingin siapa pun tahu tentangmu." ucap Liora tanpa basa-basi.
Terdengar helaan napas berat dari seberang telepon, seolah orang itu sudah terbiasa dengan sikap Liora yang penuh rahasia.
"Huuufffftt... Baiklah. Terserah kamu saja." sahut suara itu pasrah sebelum sambungan terputus.
Liora memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas dengan gerakan mantap. Matanya menatap lurus ke depan dengan penuh keyakinan.
Liora kini berada di balik kemudi mobilnya, membelah hiruk-pikuk jalanan kota yang padat. Matanya menatap lurus ke depan, fokus menembus kemacetan menuju tempat yang sudah ia janjikan kepada sosok misterius tadi.
Di dalam mobil yang sejuk itu, pikiran Liora jauh lebih ramai daripada jalanan di luar. Setiap belokan yang ia ambil seolah membawanya selangkah lebih dekat menuju akhir dari penderitaannya, sekaligus awal dari kehancuran bagi mereka yang telah mengkhianatinya. Ia sengaja memilih rute yang jarang dilalui agar tidak ada mata yang mengenali mobilnya.
Jantungnya berdegup tenang, sebuah ketenangan yang mematikan. Ia tahu, setelah pertemuan di kafe ini, semua bidak catur yang ia susun akan mulai bergerak secara otomatis.
Setelah lima belas menit menempuh perjalanan, Liora akhirnya sampai di sebuah kafe di pinggiran kota. Tempat itu tampak tenang, jauh dari hiruk-pikuk pusat kota, sangat cocok untuk pertemuan yang tidak ingin terendus oleh siapa pun.
Liora turun dari mobil dengan gerakan anggun, memperbaiki letak tasnya sejenak sebelum melangkah masuk. Matanya segera menyisir ruangan dan menemukan sosok yang ia cari. Sosok itu sudah menunggunya.
Seorang Laki-laki yang memiliki paras tampan seolah dipahat dengan sempurna namun meninggalkan kesan yang membekukan. Rahangnya tegas dengan tatapan mata elang yang tajam, seakan mampu membaca setiap kebohongan hanya dalam sekali lirik. Postur tubuhnya yang gagah dan tegap mencerminkan kedisiplinan tingkat tinggi, dibalut pakaian yang selalu rapi tanpa cela. Kehadirannya di ruangan mana pun selalu menciptakan aura dominan yang membuat orang lain segan untuk sekadar menyapa.
Ia sedang duduk di kursi barisan pojokan, posisi paling strategis untuk mengawasi siapa saja yang masuk.
Liora baru saja hendak menarik kursi di depannya ketika sebuah suara dingin menyambut kedatangannya.
"Lebih 1 menit 40 detik."
Liora tidak terkejut. Ia justru tersenyum tipis, seolah sudah sangat hafal dengan kebiasaan lawan bicaranya yang terobsesi dengan ketepatan waktu. Ia duduk dengan tenang, meletakkan ponselnya di atas meja, dan menatap tajam pria di hadapannya itu.
"Ternyata ketelitianmu tidak berubah sedikit pun." sahut Liora tenang.
"Tentu saja. Jadi, masih membutuhkan waktu berapa lama lagi untuk mengungkapkan pengkhianatan mereka?" tanya Laki-laki itu tanpa basa-basi. Tatapannya tajam, menuntut kepastian seolah sedang membahas transaksi bisnis yang mendesak.
Liora menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap pria di hadapannya dengan senyum yang sulit diartikan.
"Kenapa terburu-buru sekali? Bukankah akan jauh lebih seru saat kita melihat wajah lawan ketakutan setiap harinya?" balas Liora santai, seolah pengkhianatan yang ia alami hanyalah sebuah permainan kecil yang menyenangkan.
Pria itu mendengus, sorot matanya menunjukkan ketidaksabaran. "Membuang waktu." cibirnya. Ia melipat tangan di dada, tidak setuju dengan metode Liora yang dianggapnya terlalu bertele-tele.
Liora terkekeh pelan. "Ini bukan sekadar tentang waktu, tapi tentang kehancuran yang sempurna. Aku ingin mereka kehilangan segalanya sebelum mereka menyadari siapa yang menghancurkannya."
"Apakah kamu mau sarapan?" tawar Laki-laki itu, mencoba mencairkan suasana yang tadi sempat kaku.
"Tidak, aku sudah sarapan." jawab Liora singkat.
Laki-laki itu menatap Liora dengan tatapan menyelidik, lalu senyum miring muncul di wajahnya. "Sarapan menggoda suami orang dengan masakanmu, maksudnya?"
Liora tertegun sejenak sebelum membelalakkan matanya. "Hei, Tuan Perfeksionis! Kenapa mulutmu tajam sekali, sih?"
"Aku tidak menggodanya. Aku hanya memberikan perhatian yang tidak dia dapatkan dari istrinya sendiri—yang kebetulan terlalu asyik dengan tunangan sahabatnya." lanjut Liora dengan nada sarkastis. Ia melipat tangan di dada dengan wajah cemberut, merasa tidak terima dituduh menggoda.
Melihat ekspresi kesal Liora yang jarang terlihat, seketika laki-laki itu terkekeh. Tawa kecilnya terdengar lebih tulus dibandingkan suara dinginnya tadi.
kentang banget ini 😭
cepet banget dia bersimpati dan ada tanda peduli lebih
kalau posisinya dibalik dia pun berpotensi selingkuh juga kaya Raka hadehhh...
ku tak jadi kibarkan bendera hijau
padahal sempet simpati sama dia ni 😏
bahaya ga jadi green flag