Lastri menjadi janda paling dibicarakan di desa setelah membongkar aib suaminya, seorang Kepala Desa ke internet.
Kejujurannya membuatnya diceraikan dan dikucilkan, namun ia memilih tetap tinggal, mengolah ladang milik orang tuanya dengan kepala tegak.
Kehadiran Malvin, pria pendiam yang sering datang ke desa perlahan mengubah hidup Lastri. Tak banyak yang tahu, Malvin adalah seorang Presiden Direktur perusahaan besar yang sedang menyamar untuk proyek desa.
Di antara hamparan sawah, dan gosip warga, tumbuh perasaan yang pelan tapi dalam. Tentang perempuan yang dilukai, dan pria yang jatuh cinta pada ketegaran sang janda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter¹⁵ — Perempuan Itu Membawa Sial.
Semua berhenti.
Lastri menoleh, namun wajahnya tenang. “Ada apa, Pak Kades?”
“Aku sudah bilang, kegiatan ini belum ada izin dariku!” Kata Surya tajam.
Lastri melirik warga, lalu kembali menatap Surya. “Bukankah Pak Denis, perwakilan dari Pak Malvin sudah mendatangi kantor desa sebagai perwakilan resmi proyek. Ia membawa surat regulasi yang menyebutkan bahwa kegiatan berbasis swadaya tidak memerlukan izin kepala desa selama tidak menggunakan dana desa.”
“Jangan berdebat soal istilah dengan saya!” bentak Surya. “Saya bisa hentikan ini!”
Lastri tersenyum dingin. “Silakan hentikan kalau memang bisa. Tapi jelaskan dulu pada kami semua… pasal apa yang kami langgar?”
Surya tidak menjawab. Ia tahu, apa pun yang ia katakan sekarang akan mudah dipatahkan oleh Lastri. Karena tak punya lagi bahan untuk berdebat, ia akhirnya berbalik pergi—di bawah tatapan puluhan pasang mata yang kini tak lagi takut padanya.
Setelah kejadian itu, Ibu Surya pun tidak tinggal diam. Siang itu, ia mendatangi warung di dekat balai desa. Duduk di tengah ibu-ibu, suaranya lantang.
“Perempuan itu membawa sial! Desa jadi kacau, dia berani melawan anak saya sebagai kepala desa!”
Beberapa ibu-ibu saling pandang, tidak semua setuju. Tapi meski begitu, mereka tidak berani menentang dan hanya diam.
“Kalian harus hati-hati, kalau sampai desa ini kena masalah hukum... jangan salahkan anak saya.” Lanjutnya.
Namun kata-kata itu tidak lagi bekerja seperti dulu.
Salah satu ibu akhirnya menjawab dengan suara pelan, “Tapi sawah kami sekarang tidak kekeringan air dan sangat subur, Bu.”
Ibu Surya terdiam sejenak, lalu berdiri dengan wajah merah. “Kalian semua sudah dibutakan wanita pembangkang itu!”
Ia pergi dengan langkah cepat, meninggalkan warung dalam keheningan canggung.
Kekacauan mulai terasa nyata ketika aparat kecamatan datang, untuk mengecek laporan yang saling bertentangan. Surya menyambut mereka dengan wajah resmi, map disusun rapi. Namun warga juga hadir, membawa catatan sendiri.
Denis datang sore itu, dengan tepat waktu. Ia berbicara pada pihak kecamatan dengan bahasa hukum yang tenang, menunjukkan bahwa tidak ada dana desa yang digunakan, tidak ada pungutan ilegal, dan tidak ada pelanggaran berat yang warga lakukan.
Aparat mencatat, dan mengangguk.
Rahang Surya mengeras. Ia menyadari, bahkan pihak kecamatan pun tampaknya mulai berpihak pada Lastri.
Setelah mereka pergi, Surya memanggil sekretarisnya. “Siapa yang memanggil pihak dari kecamatan?”
“Bukan kami, Pak. Tapi para warga.”
Surya menutup mata sejenak, desa ini tidak lagi bisa ia kendalikan hanya dengan jabatan.
Di rumah ibunya, Surya duduk sendirian. Lampu ruang tamu redup, ibunya mondar-mandir.
“Kamu biarkan dia mempermalukan kita!”
“Cukup!” bentak Surya tiba-tiba.
Ibunya terkejut.
Surya mengusap wajahnya kasar. “Semua orang berubah, mereka tidak takut lagi padaku!”
Ibunya menatapnya dengan marah dan cemas bercampur. “Lalu kamu mau apa?”
Surya terdiam, karena kini ia sadar jika dirinya bukan lagi pusat kendali.
Sore itu halaman rumah Lastri penuh kembali, tikar digelar seadanya. Beberapa orang duduk di kursi plastik, sisanya berdiri di bawah pohon mangga. Wajah-wajah yang datang bukan hanya petani—ada pedagang kecil, ibu-ibu, bahkan pemuda desa yang biasanya tak pernah ikut urusan apa pun.
Lastri duduk di antara mereka.
Obrolan awal berputar-putar, tentang surat dari desa. Tentang ibu Surya yang kembali mengompori, tentang kekhawatiran lama yang muncul lagi.
“Apa kita salah, Las?”
“Kalau nanti sawah disegel, gimana?”
“Kalau desa kena masalah hukum?”
Pertanyaan-pertanyaan itu seperti gelombang kecil yang terus menghantam, menunggu pecah. Lastri mendengarkan, tapi tidak memotong. Tidak juga menenangkan mereka dengan janji-janji kosong.
Hingga akhirnya, Pak Wiryo menoleh padanya. “Las… kamu mau bicara?”
Lastri menghela napas pelan, ia pun berdiri. Lalu menatap orang-orang yang selama ini berdiri di sekeliling hidupnya—kadang sebagai penonton, kadang sebagai hakim.
“Saya tidak pandai bicara. Tapi hari ini, saya rasa saya perlu bicara. Bukan sebagai pendamping proyek, dan bukan pula sebagai mantan istri kepala desa yang berhasil lepas dari pernikahan buruk.“ Ia berhenti sejenak. “Tapi saya bicara, sebagai warga yang dilahirkan dan hidup di desa ini.”
Suasana menjadi lebih sunyi.
Lastri melanjutkan, “Saya tahu banyak dari Bapak Ibu masih takut. Takut salah, dan juga takut dianggap melawan. Saya juga pernah merasa takut, saya pernah hidup dalam pernikahan yang setiap harinya membuat saya merasa kecil. Saya pernah memilih diam agar tidak memperkeruh keadaan. Saya pernah berpikir, mengalah itu cara paling aman.”
Ia menatap tanah sejenak, lalu mengangkat wajahnya kembali. “Tapi ternyata... saya salah.”
Beberapa orang menarik napas pelan.
“Mengalah terus tidak membuat kita aman,” lanjutnya. “Itu hanya membuat kita terbiasa direndahkan dan tidak dihargai. Awalnya, saya tidak pernah berniat melawan kepala desa. Tapi saya juga tidak bisa membiarkan hidup kita berhenti hanya karena takut pada kekuasaan semena-mena yang sudah lama dibiarkan.”
Ia menoleh ke arah sawah di kejauhan. “Parit itu digali bukan untuk menantang siapa pun, tapi karena sawah kita butuh air.”
Ia menatap para ibu. “Koperasi itu berjalan bukan untuk mencari untung besar, tapi supaya harga bibit tidak mencekik kita sendiri. Kalau itu dianggap salah… maka mungkin yang perlu dipertanyakan bukan kerja kita, tapi sistem aparat desa yang tidak pernah mau mendengar kebutuhan kita.”
Beberapa warga saling pandang.
Seorang pemuda berdiri. “Tapi Las, kalau nanti Pak Kades makin keras dalam bertindak?”
Lastri menoleh padanya. “Itu mungkin saja. Tapi saya ingin tanya, selama ini... memangnya hidup kita lebih baik karena terus diam pada kekuasaan yang dzalim?”
Tidak ada jawaban, karena jawabannya terlalu jelas untuk diucapkan. Mereka tetap hidup dalam taraf kemiskinan, dan desa itu tak pernah benar-benar maju.
Lastri menarik nafas. “Saya tidak meminta kalian berdiri bersama saya, tapi saya hanya meminta satu hal... berdirilah untuk diri kalian sendiri.”
Ia menatap mereka satu persatu. “Kalau kalian memilih mundur, saya hormati. Kalau kalian memilih lanjut, saya akan tetap melakukan proyek ini apapun risikonya. Karena saya sudah terlalu lama hidup menunduk, dan saya... tidak mau kembali direndahkan.”
Hening itu pecah oleh suara seseorang bertepuk tangan pelan.
Satu.
Lalu dua orang.
Lalu lebih banyak lagi yang bertepuk tangan.
Itu sebuah pengakuan untuk Lastri.
Di kantor desa, Surya menerima laporan itu dengan wajah gelap.
“Apa saja yang perempuan sialan itu katakan?” tanyanya tajam.
“Tidak ada hasutan langsung, Pak,” jawab stafnya ragu. “Namun sekarang, warga menatapnya dengan yakin... dan sangat percaya padanya.
Surya mengepalkan tangan. “Dia pintar memilih kata-kata.”
Ia tahu, semakin ia menyerang secara formal, semakin ia terlihat memaksakan kekuasaan. Dan itu, bukan citra yang aman.
Malam itu, Lastri duduk di tepi ranjang dengan tubuh lelah. Ia melepas kerudungnya dengan tangan yang sedikit gemetar, karena sisa ketegangan yang akhirnya dilepas.
Ponselnya bergetar.
Pesan dari Malvin.
Malvin: [Aku dengar kamu bicara di forum warga, kamu baik-baik saja?]
Lastri tersenyum kecil sebelum membalas.
[Saya baik-baik saja, Pak.]
Balasan datang cepat.
Malvin: [Aku bangga padamu.]
Lastri menatap layar itu lama, karena ia tahu... itu bukan pujian kosong.
Beberapa hari setelah forum pertemuan para warga itu, sesuatu berubah. Warga tidak lagi datang ke Lastri dengan wajah takut, mereka datang dengan ide-ide. Desa mulai bergerak dengan kesadaran warga sendiri, bukan dorongan dari siapapun lagi.
Dan itu membuat Surya semakin terpojok, ia memang masih kepala desa di atas kertas. Tapi di lapangan, suara para warga sudah berpindah.
Sore itu, Surya berdiri di teras rumah ibunya. Dari kejauhan, ia melihat sawah yang kini hijau merata.
Ibunya keluar, berdiri di sampingnya. “Perempuan itu… membuatmu kehilangan wibawa.”
Surya tidak menjawab, ia tahu satu hal pahit yang selama ini ia hindari. Sebenarnya Lastri tidak sedang merebut kekuasaannya, wanita itu hanya mengembalikan suara kepada orang-orang yang selama ini ia bungkam.
mereka emang pantes di bui