Sinopsis
Aruna Rembulan Maharani
Gadis dengan kata-kata yang membelenggu.
Ia adalah editor handal yang hidup di balik tirai kata-kata puitis namun kosong. Di permukaan, Aruna terlihat tenang dan terkendali, seorang gadis yang pandai memoles keburukan dunia menjadi narasi yang indah.
Biru Laksmana Langit
Laki-laki dengan lensa yang memburu kebenaran.
Lahir di tengah gelimang harta keluarga Laksmana, Biru justru memilih menjadi anomali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketika senja menelan fajar
Dua minggu berlalu dengan ketegangan yang tertahan. Aku mencoba menenggelamkan diri dalam tumpukan naskah, menghindari setiap getaran ponsel, dan bersikap seprofesional mungkin di depan Biru. Namun, Biru Laksmana Langit bukan orang yang mudah dikelabui. Dia tetap di sana, mengawasiku dengan ketenangan yang mengusik, seolah dia sedang menunggu bendungan di mataku pecah.
Sore itu, Biru mengajakku ke sebuah pameran galeri seni di pusat kota untuk riset proyek kami. "Hanya sebentar, Aruna. Ada satu instalasi foto yang harus kamu lihat untuk referensi tulisanmu," bujuknya.
Aku setuju, tanpa tahu bahwa takdir sedang menyiapkan sebuah jebakan.
Galeri itu sunyi dan elegan, penuh dengan bayang-bayang artistik. Kami sedang berdiri di depan sebuah potret bertema 'Kehilangan', ketika langkah kaki di belakang kami mendadak berhenti.
"Aruna?"
Suara itu. Berat, familiar, dan membawa gema rasa sakit yang langsung menusuk sumsum tulangku. Aku membeku. Benar-benar membeku. Rasanya seperti seluruh sendiku disemen oleh es yang kaku.
Aku berbalik perlahan. Di sana, hanya berjarak tiga meter, berdiri Abhinara Bagas Semesta. Dia tampak lebih matang, mengenakan kemeja rapi yang pas di tubuhnya. Dan di sampingnya, seorang wanita cantik dengan aura lembut menggandeng lengannya. Maira Senja Aurora.
Maira tampak berbeda. Ada keanggunan yang menyakitkan di wajahnya, dan perutnya—yang mulai membuncit di balik gaun rajutnya—menjelaskan segalanya. Mereka adalah potret keluarga kecil yang sempurna.
"Lama tidak bertemu, Na," ucap Abhinara. Matanya menatapku dengan campuran rasa bersalah dan kerinduan yang membuatku mual.
"Sepertinya kamu salah orang," suaraku keluar dengan datar, nyaris seperti robot. Aku meremas tali tasku hingga telapak tanganku perih.
"Aruna, tolong jangan begini," Maira melangkah maju, melepaskan pegangannya dari lengan suaminya. "Abhi bilang dia mengirim pesan padamu. Aku... aku hanya ingin minta maaf secara langsung. Aku tahu caraku dan Abhi memulai ini salah, tapi sekarang ada nyawa yang sedang kami jaga..."
"Maaf?" aku memotong kalimatnya dengan tawa sinis yang terasa asing di telingaku sendiri. "Kamu menghancurkan seluruh musim panasku, Maira. Kamu mencuri matahari dari hidupku dan meninggalkanku di tengah badai salju. Dan sekarang kamu datang membawa maaf hanya karena kamu merasa bersalah demi anakmu?"
Suasana galeri yang tenang mendadak terasa mencekam. Abhinara mencoba mendekat, "Na, Maira sedang sensitif. Kami hanya ingin berdamai dengan masa lalu."
"Masa lalu bagimu adalah sampah, Bagas. Tapi bagiku, itu adalah luka yang belum kering!" teriakku, tidak peduli lagi pada tatapan orang-orang di galeri.
Tiba-tiba, sebuah tangan hangat dan kokoh melingkar di bahuku. Biru. Dia maju selangkah, memosisikan dirinya di depanku, menciptakan barikade antara aku dan sepasang suami istri itu.
"Sepertinya percakapan ini sudah selesai," suara Biru terdengar rendah, namun penuh otoritas. Matanya yang biasanya tenang kini menatap Abhinara dengan dingin yang melebihi dinginku.
"Siapa kamu?" tanya Abhinara, alisnya bertaut.
"Aku Biru. Dan aku adalah orang yang tidak akan membiarkanmu mengusik ketenangannya lagi," jawab Biru tegas. Ia menoleh padaku, tatapannya melembut sesaat. "Ayo, Aruna. Udara di sini terlalu menyesakkan untukmu."
Biru menuntunku pergi, tangannya tidak sekalipun lepas dari bahuku. Aku berjalan seperti orang linglung, melewati Abhinara dan Maira seolah-olah mereka adalah patung pajangan yang tak berharga.
Saat kami sampai di parkiran, udara dingin malam langsung menyambar wajahku. Aku baru menyadari bahwa tubuhku gemetar hebat. Pertahananku runtuh. Es yang kubangun selama tiga tahun retak total dalam hitungan detik.
"Aruna, napas..." bisik Biru. Dia membalikkan tubuhku agar menghadapnya. "Lihat aku. Tarik napas."
Aku mencoba, tapi yang keluar hanyalah isakan kecil yang tertahan. Aku menutup wajahku dengan kedua tangan, menangis sejadi-jadinya di bawah lampu jalan yang temaram.
"Dia jahat, Biru... mereka jahat..." raungku pelan.
Biru tidak banyak bicara. Dia hanya menarikku ke dalam pelukannya, membiarkan air mataku membasahi kemejanya. Untuk pertama kalinya, aku tidak menolak. Aku membiarkan samudra Biru menampung badai Aruna. Di tengah tangisku, aku menyadari satu hal: meskipun aku adalah rembulan yang kesepian, malam ini langit tidak membiarkanku meredup sendirian.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...