Tittle : EXPIREDENS
Author : Karamellatee Clandestories
VOL. 1 : Keturunan tanah darah Kutukan
Cerita tentang bagaimana para mahasiswa yang membangun akar dari masalah menghubungkan timbal balik antara masa lalu dan masa depan, terciptanya gelombang tanpa ampunan bagi mereka sang pendosa harus diselesaikan oleh kelima mahasiswa ini. Terjebak antar ruang dan waktu merajalela nyawa satu per satu, nyawa adalah taruhan dan mereka adalah detak jantung dari setiap tragedi yang akan memutarbalikkan fakta.
Pada kenyataannya mereka adalah manusia biasa yang menjadi tokoh utama dari setiap kelam nya masa lalu?
Menyusun harmoni yang ada dalam monarki, disaat semua orang memiliki pemahaman komunisme, fanatisme, dan liberalisme. Sungguh, tekad yang membawa mereka dalam angan-angan kematian. Diiringi kisah pilu, dalam nestapa berdiam diri, goyah oleh setiap godaan ingatan terukir, takkan pernah terkikis oleh waktu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#Bab 08: Pengembara yang menjadi Raja [2]
Berabad-abad setelah kutukan itu diucapkan, di sebuah dimensi yang waktu dan ruangnya saling berpilin, Zack melangkah tertatih dengan sisa tenaga yang ia miliki. Ia tidak tahu lagi di mana ia berada. Baginya, asrama, kawan-kawannya, dan pintu misterius itu sudah terasa seperti mimpi yang sangat jauh. Ia hanya merasa hancur, kehilangan arah, dan tidak lagi memiliki tujuan selain menyeret kakinya di atas tanah yang terasa akrab sekaligus asing.
Zack mendongak. Di depannya berdiri sebuah bukit yang aneh. Di langit, matahari bersinar dengan gagah, memancarkan cahaya yang membakar dan menyilaukan mata. Namun, saat Zack melihat ke arah genangan mata air yang ada di puncak bukit itu, pantulannya tidak menunjukkan matahari. Di dalam air itu, yang tampak adalah bulan purnama yang sangat cantik, tenang, dan bersinar pucat keperakan.
Di tepi mata air itu, berdiri seorang pria.
Pria itu mengenakan jubah yang sudah usang namun tetap terlihat agung. Postur tubuhnya tegak, namun ada beban berat yang seolah-olah menekan pundaknya. Ia tidak bergerak, hanya menatap pantulan bulan di air seolah sedang membaca sebuah pesan yang tak terlihat. Ia adalah Zachary Demar, sang pengembara pertama, raja dari tanah kosong yang kini berdiri di hadapan keturunannya yang paling jauh.
Zack berhenti beberapa langkah di belakangnya. Ia tidak tahu siapa pria ini, tapi jantungnya berdegup kencang—denyut yang sama dengan irama "Tanah Darah" yang pernah ia dengar, namun kali ini terasa lebih murni, seperti gema yang memanggil pulang.
Zachary tidak menoleh, namun suaranya berat dan menggetarkan udara, seperti suara tanah yang bergeser.
"Kau membawa aroma keberanian dan darah yang sama dengan milikku," ucap Zachary tanpa mengalihkan pandangan dari pantulan bulan. "Dan kau membawa kehampaan di matamu, seolah dunia baru saja merenggut semua alasanmu untuk bernapas."
Zack mengerutkan kening, tangannya yang gemetar mengepal secara refleks. "Gua ngga tau lo itu siapa, dan gua juga ngga tau ini di mana, gua cuman mau keluar dari sini dan nyelametin temen-temen gua."
Zachary perlahan membalikkan tubuhnya. Wajahnya adalah cermin dari masa depan atau masa lalu Zack sendiri. Garis rahang yang keras, mata yang tajam namun menyimpan kesedihan yang tak berdasar. Zachary menatap Zack dengan dalam, seolah sedang melihat menembus lapisan waktu untuk menemukan kutukan yang bersembunyi di dalam darah pemuda di depannya.
"Kau tidak bisa keluar dari tempat yang belum kau mengerti, anak muda," ujar Zachary. Matanya kini tertuju pada tangan Zack yang biasa memegang beban berat di asrama. "Di tempat ini, matahari adalah egomu, dan bulan di dalam air adalah sukmamu yang sebenarnya. Kau datang ke sini bukan karena tersesat, tapi karena garis darahmu sedang menuntut bayaran."
Zack mundur selangkah, rasa dingin yang tiba-tiba menjalar di tulang punggungnya. "Garis darah apaansi? Lagian bunda sana ayah gua cuman sarjana biasa."
Zachary tersenyum pahit, sebuah senyuman yang penuh dengan penderitaan ratusan tahun.
"Setiap keturunan Demar pasti akan ada satu atau dua anak yang tiada. "
Mendengar itu Zack terkejut. Dulu, sebelum ia lahir Zack memiliki seorang kakak kembar perempuan disaat itu Zack lahir dan tumbuh bersama mereka sampai menginjak usia remaja, ketika Zack sedang sakit ia tidak bisa berangkat bersama kedua kakak kembar nya.
"Minum obat nya lohh adekk! Nanti Kak Lila marah!"
"Ayo cepat sembuh nanti kak Lula dan kak Lila belikan buku kedokteran yang kamu mau di toko buku!!"
Kedua perempuan kembar itu berlagak seperti bunda nya, tapi disaat terakhir itu ketika sepulang dari toko buku keduanya melakukan kerja kelompok, tapi ada kecelakaan beruntun yang menewaskan Lula dan Lila serta tiga temannya yang lain.
Barang terakhir yang ditinggalkan kedua kakaknya, adalah buku kedokteran yang masih disimpan Zack sampai sekarang di rak buku utama.
"Itulah bagian dari kutukannya. Membuatmu merasa sendirian agar kau lebih mudah dihancurkan." ucap Zachary.
Zachary kemudian mengangkat tangannya, dan tiba-tiba air di mata air itu bergejolak, memancarkan cahaya merah silet yang sama dengan cahaya yang menghisap Zack di asrama tadi.
"Katakan padaku, pengembara tanpa arah," tantang Zachary, "Apakah kau siap melihat apa yang sebenarnya kau bawa di dalam nadi mu, atau kau akan mati di sini sebagai pion dari sebuah kutukan yang bahkan tidak kau kenali namanya?"
Zack menatap mata Zachary, dan untuk pertama kalinya, ia merasakan amarah yang bukan miliknya mulai mendidih di dalam dadanya.
Zack melangkah maju dengan dagu terangkat, menantang tatapan tajam pria di hadapannya. Tidak ada sedikit pun keraguan di matanya. Meski ia terlempar ke dunia yang gila, identitasnya sebagai Zack sang pelindung dan calon dokter tetap teguh.
"Lo bicara soal darah kayak itu adalah satu-satunya takdir yang gua punya," suara Zack terdengar dingin dan stabil. "Mungkin di zaman lo sekarang, kekuatan diukur dari seberapa banyak nyawa yang lo cabut dengan pedang itu. Tapi di zaman gua nih ya, gua belajar cara menyambung nyawa, bukan memutusnya. Gua itu bakalan jadi dokter hebat. Tugas gua adalah melawan kematian, bukan menjadi budaknya."
Zachary hanya diam, matanya sedikit menyipit melihat keberanian pemuda di depannya yang berani menguliahi seorang raja pembantai.
"Lo bunuh kakak lo sendiri, sedangkan kakak gua meninggal karena kecelakaan itu udah takdir Tuhan," lanjut Zack, langkahnya semakin mendekat hingga ia hanya berjarak satu lengan dari Zachary. "Lo mungkin merasa kuat karena bisa menghabisi ribuan orang, tapi bagi gua, lo itu cuman orang lemah yang kalah oleh emosinya sendiri. Jangan samain gua dah. Gua ngga takut pada kutukan yang lo maksud itu, karena gua udah terbiasa melihat darah setiap hari di meja operasi, dan gua ngga pernah membiarkan malaikat maut yang menang."
Mendengar itu, Zachary tertawa singkat—suara tawa yang kering dan hampa. "Dokter? Menyelamatkan nyawa?" Zachary meraih hulu pedangnya, membuat suasana di atas bukit itu semakin mencekam. "Kau pikir ilmu pengobatan mu bisa menyembuhkan luka yang dibuat oleh sihir hitam dan dendam berabad-abad? Kau sombong, anak muda. Kau merasa bersih karena tanganmu memegang pisau bedah, bukan pedang. Tapi darah keturunan tetaplah darah."
Zachary tiba-tiba menghentakkan kakinya ke tanah, dan seketika bayangan ribuan prajurit yang tewas di tangan Zachary bangkit dari kabut di sekitar mereka, merintih dan merangkak ke arah Zack.
"Lihat mereka!" teriak Zachary. "Bisakah kau 'sembuhkan' mereka dengan ilmu medismu? Bisakah kau operasi kutukan yang sudah mendarah daging di sukmamu?"
Zack tidak mundur. Ia justru berdiri tegak di tengah kepungan bayangan itu. "Gua mungkin ngga bisa menyembuhkan mereka yang udah mati, tapi gua bisa menghentikan kegilaan ini dari. Gua itu sosok pemimpin di Asrama yang isinya orang gila semua, karena gua peduli sama mereka, bukan karena aku ditakuti. Kalaupun gua harus tunduk pada garis darah pembunuh ini, lo cuman harus bunuh gua sekarang, karena gua ngga akan pernah jadi kayak lo!"
Matahari di atas mereka tiba-tiba meredup, sementara pantulan bulan di mata air memancarkan cahaya perak yang luar biasa terang, menyinari wajah Zack yang penuh tekad. Zachary tertegun melihat cahaya itu; ia tidak melihat kegelapan Kartaswiraga di mata Zack, melainkan sebuah cahaya baru yang belum pernah ia lihat selama ratusan tahun.
"Kau menantang masa lalu mu sendiri," bisik Zachary, suaranya kini melunak namun penuh ancaman. "Jika kau memang dokter yang hebat, buktikan. Sembuhkan kutukan ini tanpa harus menumpahkan darah lagi, atau kau akan menyaksikan kawan-kawanmu di asrama membusuk karena kesalahan yang kau buat di sini."
Zack meludah ke samping, menatap Zachary dengan pandangan remeh seolah pria legendaris di depannya itu cuma preman pasar yang salah alamat. Ia melipat tangan di dada, berdiri dengan tumpuan satu kaki yang santai tapi tetap waspada. Lagaknya persis kayak anak tongkrongan yang lagi ditantang berantem sama bapak-bapak kolot.
"Gila ya, udah ratusan tahun jadi hantu tapi omongan lo masih aja tinggi," cetus Zack dengan nada songong. "Dokter? Emang. Tapi bukan berarti gue bakal pakai jas putih terus dengerin keluhan lo soal asam lambung. Gue dokter yang tau persis mana bagian tubuh yang kalau gue pukul bakal bikin lo lumpuh dalam sedetik."
Zack maju satu langkah lagi, mukanya cuma berjarak beberapa senti dari muka Zachary. Bau darah dan tanah dari Zachary nggak bikin dia gentar, malah bikin dia makin emosi.
"Lo bangga banget sama rekor pembunuhan lo itu? Di mata gua, lo cuma pecundang yang ngga punya jalan keluar selain pakai senjata. Rakes sama Kale emang lebih absurd kelakuannya dari gua, tapi seenggaknya mereka ngga pernah kabur dari masalah terus bikin kutukan buat anak cucu. Itu mah pengecut namanya," Zack menyeringai, memperlihatkan aura petantang-petenteng nya yang khas.
Zachary yang tadinya berdiri tegak penuh wibawa, kini terlihat sedikit goyah. Ia belum pernah bertemu keturunannya yang selancang ini, yang berani mengatai raja pembantai sebagai pengecut tepat di depan mukanya.
"Darah gua emang sama kayak darah lo," lanjut Zack sambil menunjuk dada Zachary dengan jempolnya. "Tapi bedanya, gua yang megang kendali atas tubuh gua. Kalau lo pikir gua bakal sujud dan nangis-nangis minta ampun soal kutukan ini, mending lo balik lagi deh ke liang lahat. Gua punya cara gue sendiri buat beresin kekacauan lo. Tanpa perlu jadi algojo kayak lo."
Zachary menatap Zack dengan tatapan yang sulit diartikan. Antara ingin menebas kepala anak ini atau merasa bangga karena akhirnya ada darah Demar yang punya nyali sebesar itu.
"Jadi, sekarang mending lo minggir atau kasih tau gue jalan pintas buat nemuin yang lain," tantang Zack lagi, tangannya kini sudah bersiap di pinggang. "Gue ngga punya waktu buat dengerin dongeng masa lalu lo yang suram itu."
Mendengar itu, Zachary malah tertawa terbahak-bahak hingga suaranya mengguncang bukit tersebut. "Kurang ajar juga kau, anak muda. Baiklah, kalau kau merasa begitu hebat, jangan gunakan tanganmu untuk menyembuhkan. Gunakan kepalan tanganmu itu untuk menghantam apa yang ada di bawah mata air ini."
Zachary menunjuk ke arah pantulan bulan yang cantik itu. "Di balik kecantikan bulan itu, ada jantung dari kutukan ini. Jika kau memang pemimpin yang tak kenal takut, terjunlah ke sana. Tapi ingat, di dalam sana, kau bukan lagi dokter. Kau hanya mangsa."
Zack nengok ke arah mata air itu, lalu balik natap Zachary sambil naikin satu alisnya. "Mangsa? Lucu lo. Gue ini predator kalau udah urusan bertahan hidup."
Tanpa babibu, Zack langsung loncat ke arah mata air itu. Tapi, sebelum tubuhnya menyentuh air, sebuah tangan menarik kerah bajunya.
"Satu hal lagi," bisik Zachary. "Jika kau bertemu dengan Saning Ayu di sana, jangan coba-coba bersikap kurang ajar padanya kalau kau masih sayang nyawa."
Zack cuma muter bola matanya, menyentak tangan Zachary, dan terjun bebas ke dalam pantulan bulan tersebut.
Begitu tubuh Zack menembus permukaan mata air yang dingin, sensasi basah itu mendadak hilang, berganti dengan perasaan seperti ditarik paksa ke dalam sebuah lubang hitam. Pandangannya kabur, matahari dan bulan di atas bukit tadi melebur jadi satu, sampai akhirnya ia mendarat di atas ubin marmer yang dingin.
Zack bangkit, mengibaskan debu imajiner dari jaketnya. "Tempat apaan lagi nih?" gerutunya.
Ia menyadari dirinya kini berwujud bayangan transparan seperti hantu yang terjebak di sela-sela waktu. Di depannya, terbentang halaman istana Kartaswiraga yang sangat megah, jauh sebelum tempat itu menjadi puing. Di sana, seorang remaja laki-laki sedang berdiri sendirian di bawah pohon beringin besar. Wajahnya sangat mirip dengan Zack, tapi versi yang lebih polos dan penuh beban.
Itu adalah Zachary kecil.
Di tangan Zachary remaja, terdapat sebuah lencana emas murni bergambar lambang kerajaan Kartaswiraga. Ia menatap benda itu dengan tatapan benci yang amat dalam. Dari kejauhan, terdengar suara teriakan prajurit yang sedang berlatih dan tawa congkak saudaranya yang sedang berpesta di dalam istana.
"Gua tau perasaan itu," bisik Zack sambil mendekat. Meskipun ia hanya bayangan, ia bisa merasakan amarah yang bergetar dari tubuh kecil Zachary.
Tanpa ragu, Zachary kecil melemparkan lencana emas itu ke dalam sumur tua di dekatnya. Ia lalu mencabut sebuah belati kecil dan menggoreskan luka di telapak tangannya. Darah menetes ke tanah, dan dengan suara gemetar namun mantap, bocah itu bersumpah.
"Mulai detik ini, aku bukan lagi bagian dari darah Kartaswiraga yang haus kekuasaan ini. Aku bukan lagi pangeran kalian di kerajaan Kartaswiraga. Namaku adalah Zachary Demar... dan aku akan mencari tanah di mana namaku tidak perlu diikuti oleh gelar yang memuakkan itu."
Zack berdiri tepat di samping Zachary kecil, melihat anak itu menghapus air matanya dengan kasar. Zack baru sadar, inilah titik awal segalanya. Keputusan Zachary untuk membuang nama Kartaswiraga dan "Melarikan diri" justru menjadi benih yang menumbuhkan kutukan itu, karena ia mencoba memutus takdir tanpa membereskannya lebih dulu.
"Ternyata lo dari kecil udah keras kepala ya," gumam Zack, tangannya mencoba menyentuh pundak Zachary kecil, tapi tangannya tembus begitu saja.
Tiba-tiba, pemandangan di sekitar Zack mulai retak seperti kaca yang pecah. Suara tawa saudaranya yang mati di masa depan mulai bergema di telinga Zack, bercampur dengan suara tangisan Saning Ayu.
Zack melihat Zachary kecil berlari meninggalkan gerbang istana tanpa menoleh ke belakang, membawa pedang yang nantinya akan mandi darah. Zack menyadari sesuatu: ia tidak dikirim ke sini cuma buat nonton film jadul. Ia di sini karena ia harus melihat bahwa kepergian Zachary bukanlah pemberani, melainkan hutang yang ditinggalkan untuk Zack bayar di masa depan.
"Gila... jadi semua kekacauan gara-gara lo ngga mau beresin urusan keluarga lo sendiri?" Zack berteriak pada bayangan Zachary kecil yang kian menjauh.
Tiba-tiba, sebuah suara perempuan yang lembut namun dingin berbisik tepat di belakang telinga Zack yang masih berwujud bayangan.
"Kau melihatnya, kan? Luka yang tidak diobati hanya akan membusuk seiring berjalannya waktu, Dokter."
Zack berbalik cepat. Di sana berdiri seorang wanita dengan kerudung putih yang melayang tertiup angin dimensi.
Saning Ayu Kartaswiraga.
...⪻ ⋅•⋅⊰∙∘☽༓☾∘∙⊱⋅•⋅ ⪼...