Di mata keluarga besar Severe, Jay Ares hanyalah seorang menantu benalu. Tanpa harta, tanpa jabatan, dan hanya bekerja sebagai sopir taksi online. Ia kenyang menelan hinaan mertua dan cemoohan kakak ipar, bertahan hanya demi cintanya pada sang istri, Angeline.
Namun, tak ada yang tahu rahasia mengerikan di balik sikap tenangnya.
Jay Ares adalah "Panglima Zero" legenda hidup militer Negara Arvanta, satu-satunya manusia yang pernah mendapat gelar Dewa Perang sebelum memutuskan pensiun dan menghilang.
Ketika organisasi bayangan Black Sun mulai mengusik ketenangan kota dan nyawa Angeline terancam oleh konspirasi tingkat tinggi, "Sang Naga Tidur" terpaksa membuka matanya. Jay harus kembali terjun ke dunia yang ia tinggalkan: dunia darah, peluru, dan intrik kekuasaan.
Saat identitas aslinya terbongkar, seluruh Negara Arvanta akan guncang. Mereka yang pernah menghinanya akan berlutut, dan mereka yang mengusik keluarganya... akan rata dengan tanah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: Jantung Kegelapan
Vila Bukit (Safe House). Pukul 06:00 Pagi. Hari ke-3 Isolasi.
Kabut tebal menyelimuti pegunungan, menyamarkan batas antara langit abu-abu dan hutan yang gelap. Udara terasa dingin dan lembap, sisa dari hujan badai semalam.
Di teras vila, Jay sedang mengikat tali sepatu bot taktisnya. Ia mengenakan jaket parka tebal berwarna hijau zaitun yang sudah pudar, celana kargo kusam, dan sebuah ransel kanvas. Penampilan yang dirancang sempurna untuk terlihat seperti warga sipil yang putus asa mencari logistik, bukan mantan agen pasukan khusus.
Pintu kaca bergeser. Angeline keluar sambil memeluk tubuhnya sendiri karena dingin. Wajahnya pucat, lingkaran hitam terlihat jelas di bawah matanya.
"Kau benar-benar akan pergi?" tanya Angeline, suaranya terdengar rapuh.
Jay berdiri, menghampiri istrinya. "Aku harus, Angel. Persediaan bahan bakar generator menipis. Dan kita butuh informasi. Radio frekuensi pendek Vanko mengatakan ada pergerakan besar di pusat kota. Aku perlu tahu apakah itu ancaman langsung bagi kita."
"Bagaimana jika kau tertangkap?" Angeline mencengkeram lengan jaket Jay. "Bagaimana jika mereka menyadari kau bukan... hanya seorang sopir?"
Jay menangkup wajah Angeline dengan kedua tangannya yang hangat.
"Dengar. Di luar sana, aku hanyalah hantu. Tidak ada yang akan melihatku. Aku akan menghindari jalan utama, bergerak lewat jalur pipa air lama, dan kembali sebelum matahari terbenam."
Jay mengecup kening Angeline lama sekali, menyalurkan ketenangan.
"Jaga tempat ini bersama Leon. Jangan buka pintu untuk siapa pun, kecuali aku memberikan sandi ketukan."
"Hati-hati, Jay," bisik Angeline.
Jay mengangguk, lalu berjalan menuju motor trail-nya yang disembunyikan di balik semak. Ia menyalakan mesin, suara knalpotnya diredam, lalu melesat menghilang ke dalam kabut pagi.
Sektor 4: Pinggiran Kota. Pukul 08:00.
Pemandangan kota berubah drastis.
Apa yang dulunya merupakan jalanan metropolitan yang sibuk, kini menyerupai adegan pasca-apokaliptik. Mobil-mobil mewah ditinggalkan begitu saja di tengah jalan dengan pintu terbuka. Kaca-kaca etalase toko pecah berantakan, isinya dijarah habis. Sampah kertas dan plastik beterbangan ditiup angin.
Jay menyembunyikan motornya di sebuah gedung parkir terbengkalai, lalu melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Ia bergerak dari satu bayangan gedung ke bayangan lainnya, menghindari patroli militer yang melintas dengan kendaraan lapis baja Humvee.
Ini bukan tentara reguler Arvanta. Jay mengenali pola kamuflase seragam mereka. Pola digital abu-abu dengan aksen merah.
Red Wolves. Pasukan khusus Vostok.
Mereka tidak lagi bersembunyi. Mereka berpatroli secara terbuka, memegang senapan serbu standar Vostok, memeriksa identitas setiap warga sipil yang berani keluar rumah.
Jay melihat seorang pria tua dipukuli dengan popor senapan hanya karena berjalan terlalu lambat saat diperintah berhenti.
Rahang Jay mengeras. Darahnya mendidih, tapi ia menahan diri. Menyelamatkan satu orang sekarang akan membahayakan misi utamanya. Ia mencatat posisi pos penjagaan itu dalam memori fotografisnya. Nanti, janjinya dalam hati. Nanti aku akan kembali untuk kalian.
Central Plaza (Alun-Alun Kota). Pukul 09:30.
Jay merayap naik ke atap sebuah gedung perkantoran sepuluh lantai yang menghadap langsung ke Central Plaza. Dari posisi ketinggian (vantage point) ini, ia mengeluarkan teropong monokular kompaknya.
Apa yang ia lihat membuatnya menahan napas.
Central Plaza, taman kota yang indah dengan air mancur bersejarah itu, telah diubah menjadi Kamp Konsentrasi Militer.
Tenda-tenda komando didirikan di atas rumput yang kini berlumpur jejak tank. Pagar kawat berduri setinggi tiga meter mengelilingi area itu.
Namun, yang paling mengerikan adalah apa yang berdiri di tengah alun-alun, tepat di depan patung Liberty kota.
Sebuah panggung eksekusi.
Bukan tiang gantung kuno, melainkan tiang besi modern dengan layar digital besar di atasnya. Di layar itu, terpampang foto-foto wajah "Musuh Negara".
Jay memutar fokus teropongnya. Wajah pertama adalah Senator Arkady. Wajah kedua adalah Kepala Polisi.
Dan wajah ketiga... adalah Angeline Severe.
Di bawah foto Angeline, tertulis status: [BURONAN PRIORITAS - HADIAH 50 JUTA USD].
"Sial," desis Jay. "Mereka menaikkan harga kepalamu, Sayang."
Tiba-tiba, gerbang kamp terbuka. Sebuah limosin hitam lapis baja masuk, dikawal oleh dua tank tempur utama.
Seorang pria berseragam Jenderal turun dari mobil itu. Ia berjalan pincang, wajahnya separuh hancur bekas luka bakar.
Victor Han.
Di sampingnya, berjalan seorang pria lain yang lebih muda, berambut pirang cepak, dengan aura yang jauh lebih berbahaya. Ia mengenakan mantel militer panjang khas Vostok.
Ivan Dragos.
Jay memperbesar zoom teropongnya. Ia bisa membaca gerak bibir mereka dari jarak 500 meter.
Ivan sedang menunjuk ke arah layar digital, lalu menunjuk ke arah bukit tempat perumahan elit berada.
"Dia ada di sana, Victor," gerak bibir Ivan terbaca jelas oleh Jay. "Unit pelacak termal satelitku mendeteksi tanda panas di sektor bukit. Kita akan menyisir area itu malam ini."
"Bagus," jawab Victor. "Bawa dia hidup-hidup. Aku ingin dia melihat kerajaannya runtuh sebelum aku mengakhiri hidupnya."
Jay menurunkan teropongnya. Jantungnya berdetak stabil, tapi otaknya berpacu.
Satelit termal. Teknologi itu bisa melihat panas tubuh manusia dari luar angkasa. Tembok vila setebal apa pun tidak bisa menyembunyikan mereka jika satelit itu fokus ke satu titik.
Mereka tidak punya waktu. Malam ini, vila itu akan diserang.
Jay harus segera kembali. Mereka harus pergi. Sekarang.
Penthouse Akbar Ares. Pukul 10:00.
Di menara gading yang jauh dari debu jalanan, Mia berdiri di depan teleskop astronomi mahal milik Akbar. Ia tidak melihat bintang, ia melihat asap hitam yang membumbung dari pusat kota.
"Ada kebakaran di mana-mana," gumam Mia, matanya berkaca-kaca. "Gedung kantorku... aku bisa melihat asap dari sana."
Akbar duduk di sofa, mengetik cepat di laptopnya yang terhubung dengan jaringan satelit mandiri.
"Itu bukan kebakaran biasa, Mia. Itu pembakaran arsip," jelas Akbar tanpa emosi, meski wajahnya terlihat tegang. "Mereka menghancurkan catatan sipil, sertifikat tanah, data perbankan lokal. Mereka sedang melakukan reset total terhadap sistem kepemilikan kota ini."
Mia berbalik, menatap Akbar dengan tatapan tidak percaya. "Bagaimana kau bisa tetap tenang? Mereka menghancurkan sejarah kota ini!"
"Panik tidak akan menyelamatkan sejarah," jawab Akbar dingin. "Aku sedang mencoba memindahkan aset digital Severe Group dan Orion Group ke server di Swiss sebelum mereka menghapusnya. Setidaknya, jika perang ini selesai, kakakmu dan kau tidak akan jatuh miskin."
Mia terdiam. Ia lupa bahwa di balik sikap dingin Akbar, pria itu sedang berjuang dengan caranya sendiri. Berjuang menyelamatkan masa depan mereka.
"Maaf," kata Mia pelan. Ia berjalan mendekat, duduk di samping Akbar. "Ada yang bisa kubantu?"
Akbar menoleh, sedikit terkejut dengan tawaran itu.
"Bisa kau buatkan kopi?" tanya Akbar. "Kopi saja. Aku mulai menyukai rasanya yang... jujur."
Mia tersenyum tipis. "Satu kopi jujur, segera datang."
Saat Mia pergi ke dapur, Akbar menatap layar laptopnya. Sebuah notifikasi merah muncul dari sistem pengawasan satelit Ares.
[ALERT: Konvoi Militer Vostok terdeteksi bergerak menuju Sektor Bukit Utara. Estimasi waktu tiba: 6 Jam.]
Wajah Akbar pucat.
"Jay..." bisik Akbar. "Mereka datang menjemput istrimu."
Akbar segera mengambil ponsel satelitnya, mencoba menghubungi Jay. Tapi sambungan terputus. Jamming sinyal di area bukit terlalu kuat.
"Sial," umpat Akbar, memukul meja marmer dengan kepalan tangannya.
Vila Bukit. Pukul 12:00.
Jay memacu motornya menembus hutan, mengabaikan ranting-ranting pohon yang menggores wajahnya. Ia tidak lagi peduli pada mode senyap (stealth). Kecepatan adalah segalanya sekarang.
Ia tiba di halaman belakang vila, melompat turun dari motor bahkan sebelum mesinnya mati.
"Leon!" teriak Jay.
Leon muncul dari pintu dapur dengan senjata siaga. "Tuan Jay? Ada apa?"
"Evakuasi. Sekarang," perintah Jay, napasnya memburu. "Mereka punya pelacak termal. Mereka tahu kita di sini. Kita punya waktu kurang dari satu jam sebelum unit udara mereka tiba."
Angeline berlari keluar, wajahnya panik. "Jay? Kita mau ke mana? Jalanan diblokir!"
Jay menatap istrinya tajam. Tidak ada lagi waktu untuk sandiwara sopir taksi yang lugu.
"Kita tidak lewat jalan, Angel. Kita lewat bawah tanah."
Jay berjalan menuju garasi, menggeser sebuah lemari besi berat dengan kekuatan yang tidak manusiawi, memperlihatkan sebuah pintu palka besi di lantai beton yang tertutup debu.
"Bawah tanah?" Angeline bingung. "Sejak kapan ada..."
"Bunker era Perang Dingin," potong Jay. "Kakekmu membangunnya, tapi tidak pernah memberitahu siapa pun. Kecuali aku."
Jay memutar roda kunci palka itu. Besi berkarat berdecit keras. Pintu terbuka, memperlihatkan tangga gelap menuju perut bumi.
"Leon, bawa semua hard drive dan senjata. Tinggalkan sisanya," perintah Jay dengan nada komando mutlak. "Angel, masuk. Sekarang."
Angeline menatap Jay. Untuk sesaat, ia melihat sosok asing. Bukan suaminya yang lembut, tapi seorang prajurit yang memberikan perintah tempur.
Namun, ia tidak membantah. Ia melihat keseriusan di mata itu.
Mereka turun ke dalam kegelapan tepat saat suara baling-baling helikopter terdengar menderu di kejauhan.