Satu malam di bawah langit Jakarta yang kelam, Alisha hanya ingin melupakan pengkhianatan yang menghancurkan hatinya. Di sebuah lounge mewah, ia bertemu dengan pria asing yang memiliki tatapan sedalam samudra. Damian Sagara. Tanpa nama, tanpa janji, hanya sebuah pelarian sesaat yang mereka kira akan berakhir saat fajar menyingsing. Namun, fajar itu membawa pergi Alisha bersama rahasia yang mulai tumbuh di rahimnya.
Lima tahun Alisha bersembunyi di kota kecil, membangun tembok tinggi demi melindungi Arka, putra kecilnya yang memiliki kecerdasan tajam dan garis wajah yang terlalu identik dengan sang konglomerat Sagara.
“Seorang Sagara tidak pernah meninggalkan darah dagingnya, Alisha. Dan kau... kau tidak akan pernah bisa lari dariku untuk kedua kalinya.”
Saat masa lalu menuntut pengakuan, apakah Alisha akan menjadi bagian dari keluarga Sagara, atau hanya sekedar ibu dari pewaris yang ingin Damian ambil alih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erma _roviko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
“Halo, Little Sagara, apakah kau masih suka bersembunyi di balik bayangan ayahmu seperti saat kau berumur tujuh tahun?”
Perkataan itu keluar dari pengeras suara kecil pada alat penyadap yang tergeletak di atas meja granit. Suaranya serak, berat, dan bergetar karena distorsi digital yang kasar.
Damian membeku di tengah ruangan. Langkah kakinya terhenti seolah-olah lantai semen apartemen itu baru saja berubah menjadi es. Wajahnya yang tegap mendadak pucat di bawah temaram lampu kota yang menyelinap masuk dari jendela besar.
“Siapa kau?” tanya Damian dengan suara yang tertahan di tenggorokan.
“Panggilan itu... hanya Ayah yang tahu panggilan itu,” gumam Damian pelan.
Alisha menatap Damian dengan dahi berkerut tajam. Ia merasakan ketegangan yang berbeda menjalar di ruangan itu. Udara terasa lebih berat daripada saat ledakan di gerbang tadi terjadi. Arka berdiri diam di samping meja, tangannya masih memegang alat pelepas kartu memori kecil yang baru saja ia keluarkan dari perangkat tersebut.
“Kau tidak perlu tahu siapa aku, Damian,” suara dari alat itu kembali terdengar.
“Aku bicara pada wanita di sampingmu. Alisha, kau bisa mendengarku?”
Alisha melangkah maju, mendekati meja granit yang dingin. Ia bisa melihat lampu indikator kecil pada alat penyadap itu berkedip merah dengan ritme yang cepat. Ia teringat pada sosok pria bertudung hitam yang pernah ia temui di museum beberapa waktu lalu. Aroma dingin dan aura mengancam yang sama kini terpancar melalui frekuensi radio ini.
“Aku mendengarmu,” sahut Alisha dengan nada yang stabil meskipun jantungnya berdegup kencang.
“Apa yang kau inginkan dariku?”
“Penawaran yang tidak akan kau dapatkan dari calon suamimu yang penuh rahasia itu.”
“Katakan saja, jangan berbelit-belit,” tuntut Alisha dingin.
Pria di seberang sana tertawa rendah, suara yang terdengar seperti gesekan amplas pada kayu lama.
“Tinggalkan Damian sekarang juga. Tinggalkan Sagara Group dan semua drama sampah mereka.”
“Dan kenapa aku harus melakukan itu atas perintah orang asing seperti kau?”
“Karena aku punya bukti yang bisa memenjarakan nyonya Raina Sagara seumur hidupnya.”
Damian tersentak dan mencoba meraih alat penyadap itu, namun Alisha menepis tangannya dengan kasar.
“Biarkan dia bicara, Damian!”
“Bukti tentang apa?” tanya Alisha kembali pada alat penyadap.
“Tentang kasus manipulasi saham besar-besaran enam tahun lalu. Kasus yang menghancurkan usahamu di pesisir.”
“Ibu tidak pernah melakukan itu!” teriak Damian dengan amarah yang meledak.
“Benarkah, Little Sagara? Kau pikir kenapa caklon istrimu jatuh miskin tepat setelah kau menidurinya malam itu?”
Alisha merasa kepalanya berdenyut hebat. Informasi ini seperti hantaman palu yang menghancurkan sisa-sisa kepercayaannya pada dunia. Ia menatap Damian yang kini tampak kalut, matanya bergerak liar mencari alasan yang bisa ia ucapkan.
“Pikirkan penawaranku, Alisha,” suara pria itu kembali melunak namun tetap tajam.
“Aliansi denganku, dan kau akan mendapatkan keadilan yang selama ini dicuri oleh keluarga Sagara.”
Tiba-tiba, Damian tidak bisa lagi menahan emosinya. Ia merebut alat penyadap itu dari meja dengan gerakan yang sangat cepat. Sebelum Alisha bisa mencegahnya, Damian menghantamkan perangkat kecil itu ke tepi meja granit berkali-kali. Benda logam itu hancur menjadi serpihan kecil yang berhamburan di lantai.
“Kenapa kau menghancurkannya!” teriak Alisha sambil mendorong bahu Damian.
“Dia berbohong! Dia hanya ingin memecah belah kita!” sahut Damian dengan napas memburu.
“Atau kau takut aku benar-benar mendapatkan bukti itu? Kau melindungi ibumu bukan karena cinta, kan?”
“Apa maksudmu, Alisha?”
“Kau melindunginya karena kau terlibat di dalamnya! Kau takut skandal perusahaan ini akan menghancurkan posisimu!”
Alisha menatap Damian dengan kebencian yang kini mencapai puncaknya. Ia melihat seorang pria yang ketakutan akan kehilangan tahta, bukan seorang calon suami yang peduli pada istrinya. Damian berdiri di tengah ruangan yang gelap, tampak seperti raksasa yang terluka namun tetap berbahaya.
“Aku tidak pernah terlibat dalam manipulasi saham apapun,” ujar Damian dengan nada rendah yang bergetar.
“Lalu kenapa kau begitu panik saat dia menyebut nama kecilmu?”
“Itu pribadi, Alisha. Tidak ada hubungannya dengan bisnis atau ibuku.”
“Segala sesuatu di keluarga ini selalu berhubungan dengan bisnis dan ibumu!”
Alisha berbalik arah, berjalan menuju sudut ruangan tempat Arka berdiri. Ia merasa muak dengan setiap kata yang keluar dari mulut Damian. Setiap penjelasan kini terdengar seperti lapisan kebohongan baru yang sengaja dibuat untuk menutupinya.
Damian hanya bisa terdiam di tengah ruangan yang kini hanya diterangi oleh lampu jalanan dari luar. Ia menatap telapak tangannya yang sedikit terluka akibat menghancurkan alat tadi. Kesunyian di apartemen itu terasa lebih menyiksa daripada suara pria misterius tadi.
“Arka, kita pergi dari sini,” ujar Alisha sambil meraih tangan putranya.
“Ibu, tunggu sebentar,” bisik Arka sangat lirih.
Arka tidak bergerak. Ia justru menatap ayahnya yang masih terpaku di tengah ruangan. Damian tampak tidak menyadari apa yang sedang terjadi di antara istri dan anaknya. Pikirannya seolah tersesat di masa lalu yang baru saja dibangkitkan oleh suara pria misterius itu.
“Damian, jika kau tidak ingin aku pergi, katakan yang sebenarnya sekarang,” tantang Alisha sekali lagi.
“Aku sudah mengatakannya. Aku tidak tahu apa-apa tentang manipulasi saham itu.”
“Berarti kau memang buta, atau kau memang pandai berakting.”
Alisha menarik tangan Arka dan berjalan menuju pintu servis apartemen. Ia tidak ingin lagi berada di ruangan yang sama dengan Damian. Baginya, Damian adalah bagian dari mesin besar bernama Sagara yang telah menggiling hidupnya tanpa ampun.
Namun, saat mereka melangkah di lorong yang gelap menuju pintu keluar, Arka menarik ujung gaun Alisha. Bocah itu membuka telapak tangan kecilnya yang tadinya tertutup rapat. Di sana, terletak sebuah kartu memori berukuran mikro yang berkilau terkena sedikit cahaya
lampu darurat koridor.
“Ibu, ambillah ini,” bisik Arka dengan suara yang sangat halus.
Alisha menatap benda itu dengan mata yang membelalak. “Kau berhasil mengeluarkannya sebelum Ayah menghancurkan alat itu?”
Arka mengangguk kecil. “Aku tahu Ayah akan marah. Jadi aku mengambilnya lebih dulu saat kalian sedang berdebat.”
Alisha mengambil kartu memori itu dengan jari yang gemetar. Ia segera menyembunyikannya di dalam lipatan sarung tangan renda hitamnya yang sobek. Ia merasakan benda kecil itu seperti sebuah kunci menuju pintu kebenaran yang selama ini tertutup rapat.
“Jangan beritahu Ayah,” pesan Arka.
“Ibu janji, Sayang. Ibu janji.”
Alisha memeluk Arka sejenak di lorong yang sunyi itu. Ia merasa memiliki sekutu yang lebih hebat daripada siapa pun di dunia ini. Putranya bukan lagi sekadar anak kecil yang perlu dilindungi, melainkan rekan seperjuangan yang baru saja memberinya senjata paling berharga.
Mereka melanjutkan langkah menuju pintu servis yang mengarah ke tangga darurat. Alisha tidak menoleh lagi ke belakang. Ia tahu Damian mungkin masih berdiri di sana, meratapi rahasia masa lalunya yang mulai terkelupas.
Di dalam saku gaunnya, kartu memori itu terasa seperti bara api yang siap membakar seluruh kerajaan Sagara. Alisha menyadari bahwa ia tidak lagi membutuhkan bantuan pria misterius itu jika ia bisa membuka isi kartu ini sendiri.
Saat mereka sampai di anak tangga pertama, ponsel Alisha bergetar pelan. Sebuah pesan teks masuk dari nomor yang tidak dikenal.
“Simpan kartu itu baik-baik, Alisha. Di dalamnya ada suara mendiang ayah Damian yang akan mengubah segalanya.”