NovelToon NovelToon
Kutukan Yang Ditulis Saat Hujan

Kutukan Yang Ditulis Saat Hujan

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Misteri / Horror Thriller-Horror
Popularitas:666
Nilai: 5
Nama Author: Mawarhirang94

Malam itu hujan turun dengan derasnya, membasahi setiap sudut desa yang sepi dan terpencil. Di tengah derasnya air yang menembus tanah, seseorang menulis nama-nama di tanah basah—tanpa sadar, setiap huruf yang terbentuk membawa kutukan yang mengerikan.

Rina, seorang wanita muda yang baru pindah ke desa itu, menemukan catatan-catatan aneh yang tertinggal di halaman rumah barunya. Setiap malam hujan, suara bisikan menakutkan mulai terdengar, bayangan misterius muncul, dan orang-orang di sekitarnya mulai mengalami kejadian-kejadian mengerikan yang seolah dipandu oleh tulisan-tulisan itu.

Ketika Rina mencoba mengungkap misteri di balik kutukan tersebut, ia sadar bahwa tulisan-tulisan itu bukan sekadar simbol, melainkan catatan dendam dari arwah yang tak pernah tenang. Semakin ia menggali, semakin kuat kutukan itu menghantuinya—hingga akhirnya, ia harus menghadapi keputusan paling mengerikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mawarhirang94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 Hujan Kembali, Arwah Baru

Keesokan paginya, desa tidak lagi terasa seperti desa yang sama.

Hujan memang sudah berhenti, tapi bau tanah basah dan anyir air sungai masih menggantung di udara. Kabut tipis menyelimuti jalanan, dan orang-orang berjalan lebih cepat dari biasanya, menunduk, seolah takut melihat sesuatu yang tidak seharusnya mereka lihat.

Rina baru saja keluar dari rumah ketika Bu Narti berlari dari arah pasar kecil, wajahnya pucat pasi.

“Rina! Rina!” teriaknya, napasnya terengah. “Kamu… kamu harus ikut aku…!”

“Ada apa, Bu?” tanya Rina, jantungnya langsung berdegup lebih cepat.

Bu Narti menggenggam lengan Rina dengan tangan gemetar. “Di sungai… ada yang melihat… anak perempuan… berdiri di atas air…”

Dada Rina terasa seperti dihantam palu. “Anak perempuan?”

“Iya… rambutnya panjang… bajunya seperti seragam sekolah lama…”

Nama itu langsung terlintas di kepala Rina.

Sari.

Mereka berlari menuju tepi sungai yang berada di ujung desa. Beberapa warga sudah berkumpul, berbisik-bisik dengan wajah tegang. Tak ada yang berani mendekat terlalu jauh.

Rina menerobos kerumunan.

Di sana, di atas permukaan air yang keruh dan masih deras sisa hujan, berdiri sosok seorang gadis. Kakinya tidak tenggelam. Air sungai tidak menyentuhnya. Ia hanya berdiri diam, menunduk, rambutnya menutupi wajah.

Beberapa orang mulai membaca doa dengan suara gemetar.

“Setan…” bisik seseorang.

“Jangan bilang begitu…” sahut yang lain, ketakutan.

Rina melangkah maju tanpa sadar. Jantungnya terasa mau meledak. “Sari…” panggilnya pelan.

Sosok itu mengangkat kepalanya perlahan.

Wajahnya pucat, matanya kosong, dan dari ujung bajunya masih meneteskan air. Tapi kali ini, ada kesedihan yang jelas di wajahnya.

“Aku… tidak ingin menakut-nakuti…” suaranya terdengar di kepala Rina, meski bibirnya hampir tak bergerak.

Air sungai tiba-tiba beriak keras. Angin dingin berembus, membuat warga mundur ketakutan.

“Aku hanya… ingin namaku diingat…”

Rina menelan ludah. Ia menoleh ke arah warga. “Siapa di antara kalian… yang kenal Sari?”

Warga saling berpandangan. Sunyi.

Lalu seorang pria tua, Pak Wiryo, melangkah maju dengan wajah pucat. “Sari… itu… anak dari desa sebelah… beberapa tahun lalu… hilang saat hujan besar…”

“Hilang?” tanya Rina tajam.

Pak Wiryo menunduk. “Orang-orang bilang dia jatuh ke sungai… tapi… tidak pernah ditemukan jasadnya…”

Sari memiringkan kepalanya pelan. Air di sekelilingnya beriak semakin kuat.

“Aku tidak jatuh…”

Suara itu membuat beberapa warga menjerit pelan.

“Aku… didorong…”

Angin berputar lebih kencang. Daun-daun beterbangan. Air sungai naik sedikit, menyentuh tepiannya.

Rina memejamkan mata sebentar. “Siapa yang mendorongmu, Sari?”

Wajah arwah itu bergetar, seperti bayangan di air. “Aku… tidak ingat wajahnya… hanya… suara… marah… dan tangan…”

Beberapa warga mulai mundur ketakutan.

“Dia… mau balas dendam…” bisik seseorang.

Sari menggeleng pelan. “Aku… hanya ingin… ditulis… dengan benar… supaya aku bisa… pergi…”

Rina menoleh ke sungai, lalu ke tanah basah di tepinya. Ia bisa merasakan getaran halus di bawah kakinya—tanah ini ingin menulis lagi.

Kalau ia menuliskan nama Sari… mungkin arwah itu akan tenang.

Tapi kalau semakin banyak arwah datang…

Berapa banyak lagi yang harus ia tulis?

Dan apa yang akan terjadi pada dunia jika simbol itu terus digunakan?

Sari menatap Rina, matanya kosong tapi penuh harap.

“Aku… capek… dingin…”

Rina mengepalkan tangannya. Pilihan itu terasa seperti pisau di tenggorokannya sendiri.

Di belakangnya, warga mulai berbisik-bisik, beberapa menangis, beberapa ketakutan.

Dan di dalam dadanya, Rina tahu satu hal yang mengerikan.

Ini baru yang pertama.

***

Malam itu, hujan turun lagi. Kali ini rintikannya tipis, tetapi udara terasa tebal, berat, seperti menekan seluruh desa.

Rina berdiri di tepi jembatan kecil, menatap sungai yang beriak pelan. Tanah basah di sekitar kaki dan papan jembatan terasa hidup berdenyut halus, seperti jantung yang menunggu detak berikutnya.

Bayangan Sari muncul lagi di ujung jembatan. Wajahnya pucat, mata kosong tapi penuh kesedihan. “Dia… akan datang,” bisiknya. “Yang mendorongku… arwahnya… tidak tenang… dan… ingin balas.”

Rina menelan ludah. “Apa maksudmu?”

Sari menunduk. “Namanya… belum ditulis. Dia… menunggu… dan dia… kuat…”

Tiba-tiba, tanah di bawah jembatan beriak lebih keras. Rina melangkah mundur. Dari genangan air dan lumpur, muncul jejak kaki besar, jauh lebih berat dari manusia biasa. Tanah basah bergelombang, dan udara terasa dingin menusuk tulang.

Rina merasakan energi itu—gelap, marah, penuh dendam. Ini bukan arwah korban. Ini arwah pelaku, yang kematiannya atau dosa-dosanya belum terikat oleh simbol.

Hujan di sekitar jembatan tiba-tiba menguat. Kilat menyambar, memperlihatkan sosok tinggi dan hitam pekat berdiri di sisi sungai. Matanya merah menyala. Wajahnya samar, tapi aura kemarahannya nyata.

Rina mundur, jantungnya berdetak kencang. “Ini… arwah pelaku…” bisiknya pada diri sendiri.

Sari melayang sedikit di atas air, menatap arwah itu. “Dia… tidak bisa pergi… tapi dia juga… ingin menuntut balas…”

Rina menatap simbol di buku catatan yang selalu dibawanya. Ia tahu: untuk menenangkan arwah ini, ia harus menulis nama pelaku dengan tepat.

Tapi siapa? Apa nama orang yang mendorong Sari puluhan tahun lalu? Tidak ada catatan resmi. Semua orang menutup mulut, membiarkan kasus itu hilang begitu saja.

Rina menelan ludah. “Kalau aku menulis nama yang salah… dia akan menjadi lebih kuat… dan mungkin… aku akan ikut terseret…”

Sari menatap Rina dengan tatapan memohon. “Kau… penulis… kau bisa menenangkan aku… tapi jangan sampai dia bebas…”

Rina menutup mata, merasakan tanah di bawah kakinya bergetar. Energi arwah pelaku terasa mengalir ke seluruh tubuhnya seperti ribuan jarum kecil menembus kulit. Ia tahu malam ini bukan hanya tentang menenangkan korban… tapi juga mengikat pelaku sebelum dia merusak lebih banyak jiwa.

Kilatan lain menyambar. Arwah pelaku melangkah maju. Setiap langkah membuat tanah basah beriak liar, genangan air di tepi jembatan melompat dan memercik ke udara.

Rina menahan napas, membuka buku catatan, dan menulis huruf pertama dari nama yang ia dengar dari bisikan Sari:

“R…”

Tiba-tiba angin kencang menerpa jembatan. Tanah di bawah kaki Rina retak, lumpur naik ke sepinggang. Arwah pelaku menjerit, suara seperti ribuan manusia sekaligus.

Sari menahan tubuhnya di atas air. “Cepat… tulis sampai selesai… sebelum dia… bebas…”

Rina menulis huruf demi huruf dengan tangan gemetar. Setiap huruf terasa panas, membakar telapak tangannya, tapi ia tidak berhenti. Energi arwah pelaku semakin kuat, menghentak jembatan, membuat kayu tua berderit dan retak.

Akhirnya, setelah menulis huruf terakhir, tanah berguncang hebat. Lumpur dan air pecah ke segala arah. Rina terlempar ke samping, napasnya terengah, tubuhnya basah kuyup.

Sosok arwah pelaku menatap simbol yang kini bersinar samar merah. Ia menjerit satu kali—keras, panjang, menggetarkan seluruh desa—lalu perlahan memudar ke dalam tanah basah.

Sari mengangguk pelan. Air sungai di bawahnya kembali tenang. “Terima kasih…” suaranya lembut. “Sekarang… aku bisa pergi…”

Rina terduduk di tepi jembatan, tubuh gemetar. Ia menatap tanah basah yang perlahan kembali datar. Ia tahu malam ini ia telah menyelamatkan desa dan Sari. Tapi satu hal jelasm

Arwah pelaku mungkin tertahan… tapi ia tidak benar-benar hilang. Dan kutukan bisa muncul kembali kapan saja…

Hujan berhenti sepenuhnya. Langit mulai terang, tapi Rina tahu malam berikutnya, atau bulan berikutnya… akan selalu ada arwah baru yang mencari namanya, dan ia… penulis simbol… harus siap.

1
anggita
woouu serem juga😯. like iklan👍☝
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!