Eva sangat membenci ibunya yang terus-menerus membuat masalah, sementara ia harus bekerja keras seorang diri demi bertahan hidup.
Untuk meredakan stres, Eva gemar menari. Ia bekerja sebagai cleaning-service di sebuah perusahaan balet dan kerap mencuri waktu untuk menari sendirian saat gedung sudah kosong.
Hingga suatu malam, pemilik gedung yang tampan itu memergokinya, mengira Eva adalah penari balet sungguhan, dan Eva memilih tidak meluruskan kesalahpahaman itu. Pekerjaan ini terlalu penting untuk dipertaruhkan.
Farris Delaney.
Hampir semua perempuan di perusahaan itu tergila-gila padanya. Banyak yang berharap bisa menjadi kekasihnya. Eva berbeda. Ia hanya ingin rahasianya aman dan sebisa mungkin menjauh darinya.
Masalahnya, dosa-dosa ibunya kembali menyeretnya ke masalah yang lebih dalam. Dan perlahan Eva menyadari, Farris memiliki kuasa untuk mengubah hidupnya, bahkan menyelamatkannya dari kematian. Tetapi ia tidak tahu harus berbuat apa.
୨ৎ MARUNDA SEASON IV ୨ৎ
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sepertinya, Kita Harus Akhiri
"Maaf, Nona Rosamund. Aku enggak tahu soal hubungan Anda dengan Tuan Delaney."
"Nona?" ceplosku sambil tertawa, enggak percaya.
"Aku enggak bermaksud nampar kamu," kata Beatrice.
Aku angkat dagu dan bertanya, "Aku boleh pergi, Nyonya Hadibroto?"
"Tentu. Bilang kalau kamu butuh apa pun," katanya, dengan nada yang jauh berbeda dari biasanya ke aku.
Aku berbalik dan keluar dari kantor. Balik ke troli aku dan, dengan tekad untuk terus bekerja, setidaknya sampai Farris pecat aku.
"Kita perlu ngomong!" kata Farris dari belakangku.
"Aku lagi kerja!" gumamku.
"Eva!"
Aku berbalik. "Aku mau bilang besok."
"Kalau kamu itu tukang bersih-bersihku?" tanyanya.
"Iya."
"Kenapa kamu enggak bilang dari awal?"
Aku menatapnya enggak percaya. "Emang kamu masih bakal mewe sama aku kalau kamu tahu aku kerja buat kamu?"
Pelan-pelan dia meleng. "Jangan kecilkan hubungan kita jadi cuma soal mewe."
Aku tarik napas dalam-dalam, berusaha mengendalikan emosiku yang berantakan.
Farris pegang tanganku dan tarik aku ke studio terdekat. Dia tutup pintu dan menghadap ke aku.
Aku angkat mata ke wajahnya, dan tiba-tiba makin susah buat menahan tangis.
Aku lakukan satu-satunya hal yang bisa aku lakukan dan bilang, "Maaf aku enggak bilang dari awal. Aku enggak mau kamu tahu kalau aku cuma tukang bersih-bersih. Aku mau kamu kenal aku sebagai diri aku, bukan dari kerjaan aku, dan … dan ...." Aku menelan benjolan di tenggorokan. "Aku takut kamu bakal mecat aku begitu kamu tahu."
"Aku enggak bakal mecat kamu," gumamnya pelan.
"Sekarang aku tahu. Makanya aku mau bilang besok."
Aku copot topi bodoh itu dan mengusap rambutku dengan telapak tangan.
Merasa diriku kecil banget, aku menunduk dan menatap bekas goresan di sepatuku.
"Ini enggak adiln" bisikku.
"Yang mana?"
"Mereka nganggep aku kayak sampah sampai tahu soal hubungan kita. Nyonya Hadibroto enggak pernah sebaik ini ke aku."
Aku menggeleng, amarahku naik lagi. Tawa sinis lolos dari bibirku saat aku angkat kepala dan ketemu tatapan Farris.
"Di mata mereka, aku itu bukan siapa-siapa. Terus kamu datang, dan cuma dengan satu kalimat, sikap mereka ke aku langsung berubah."
"Maaf, Sayang. Aku bakal ngurusin mereka."
Apa yang akan dipikirkan semua orang soal Farris?
Mereka akan menertawakan dia di belakang. Cowok kaya raya dan tukang bersih-bersih.
Hati aku sakit membayangkan reputasi Farris rusak gara-gara aku.
"Enggak peduli apa pun yang kamu bilang ke mereka atau apa yang kamu lakuin. Kita datang dari dunia yang berbeda, Farris. Dan semua orang bisa lihat itu. Kamu tinggal di istana dan aku susah banget buat bayar sewa. Kamu makan di restoran mewah, dan aku ...." Aku tersedak dan harus tarik napas buat menenangkan emosi kacau ini sebelum lanjut, ”Ini enggak bakal berhasil buat kita.”
"Bisa dan bakal berhasil!" bantah Farris.
Dia mendekat, taruh telapak tangannya di pipiku yang ditampar Beatrice, lalu menunduk dan mengecup bibirku.
Aku memejam dan tarik napas dalam-dalam, menghisap aroma dia.
Semoga dia menemukan perempuan yang pantas berdiri di sampingnya dan bikin dia lebih bahagia daripada aku.
Saat dia mengangkat kepalanya, aku tetap memejam, sementara kata-kata keluar dari mulutku, "Ini terlalu berat. Aku enggak bisa, Farris."
Aku harus menghentikan semuanya sekarang, sebelum salah satu dari kita terluka.
"Omong kosong apa yang kamu—" Dia menggeram.
Aku buka mata dan menatapnya lurus ke matanya. Butuh kekuatan lebih buat aku bertanya, "Kamu enggak mecat aku, kan?"
Alisnya berkerut dan dia kelihatan kesal banget. "Aku enggak mecat kamu."
"Makasih."
Aku jalan ke pintu dan membukanya.
Nadanya berat waktu dia menjawab, "Aku enggak bakal biarin kamu ngakhirin hubungan kita!"
Begitu aku masuk ke koridor, aku dengar dia mengejar dari belakang. Sesaat kemudian, jari-jarinya melingkar di lengan aku dan aku berbalik menghadap dia.
"Ngaku. Kamu juga punya perasaan yang sama kan kayak aku? Enggak peduli kita dari mana atau siapa kita."
Aku menggeleng dan bohong, "Enggak. Yang aku mau cuma semuanya kembali seperti sebelum kita saling kenal."
Aku bisa lihat kata-kataku menyakiti Farris, dan itu bikin aku enggak bisa menahan air mata.
Sembari air mata jatuh di pipiku, aku berbisik, "Kamu cowok yang luar biasa, Farris. Aku bakal selalu menghargai waktu kita bersama."
"Berhenti!" Dia menggeram, lalu tarik aku ke dadanya.
Sebelum aku sempat menjauh, lengannya sudah melingkar, menahanku dalam pelukannya.
Warna matanya menggelap dan ekspresinya jdi berbahaya saat dia bilang, "Kamu milik aku. Aku enggak bakal pernah lepasin kamu!"
Aku coba dorong dadanya, tapi itu malah bikin dia peluk aku lebih erat. Saat mulai sakit, aku berbisik, "Kamu nyakitin aku."
Seketika Farris melepasku. Ada kekhawatiran bercampur marah di wajahnya. Aku bilang, "Aku enggak apa-apa. Kamu cuma meluk aku terlalu keras."
Dia mengusap rambutnya. "Maaf, Sayang."
Aku menatap dia, memohon. "Aku harus balik kerja."
Dia mengangguk dan bilang, "Habis latihan, aku bakal nyari kamu biar kita bisa ngobrol."
Aku mengangguk, balik ke arah troliku, mengambil pel, dan berjuang keras buat enggak menengok ke belakang.
Satu-satunya hal yang aku ingin lakukan sekarang adalah menari ke pelukan Farris, tapi malah bukan itu yang aku lakukan.
Aku malah fokus bersihkan lantai.
JD penasaran Endingnya