"Kau hanyalah pemeran pengganti dalam hidupku, Shena. Jangan bermimpi lebih!"
Shena berhenti bermimpi dan memilih pergi. Tapi justru saat itulah, Devan baru menyadari bahwa rumahnya terasa mati tanpa suara Shena. Sang CEO arogan itu kini rela membuang harga dirinya hanya untuk memohon satu kesempatan kedua.
Bagaimana jadinya jika sang pembenci justru berubah menjadi pemuja yang paling gila? Masih adakah tempat untuk Devan di hati Shena yang sudah beku di Hati nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veline ll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 Jejak yang Terhapus
Jakarta di malam hari tampak seperti hamparan berlian di atas beludru hitam, namun bagi Devan Adiguna, gemerlap kota itu terasa seperti ejekan yang dingin. Sudah empat puluh delapan jam sejak Shena meninggalkan rumah, dan selama itu pula, Devan tidak membiarkan matanya terpejam lebih dari satu jam.
Ia duduk di ruang kerjanya yang kini terasa sangat luas dan hampa. Di atas mejanya, bukan lagi dokumen kontrak bernilai miliaran rupiah yang terbentang, melainkan peta digital Jakarta dan laporan dari tim keamanan pribadinya.
"Bagaimana mungkin seseorang bisa hilang begitu saja di kota dengan jutaan CCTV?" Devan menggeram, suaranya parau karena kurang tidur dan terlalu banyak mengonsumsi kopi pahit—kopi yang rasanya tidak pernah sama dengan buatan Shena.
Rian, sekretaris setianya, berdiri dengan wajah lesu di depan meja Devan. "Maaf, Pak. Sepertinya Nyonya Shena sengaja menghindari rute-rute utama. Kami menemukan rekaman CCTV terakhir di terminal bus antarkota di Jakarta Barat. Beliau mengenakan hoodie gelap dan membawa satu koper kecil. Setelah itu, jejaknya hilang. Beliau tidak menggunakan kartu kredit, tidak menarik uang dari rekening bersama, dan ponselnya... mati total."
Devan memijat pelipisnya. Rasa takut yang belum pernah ia rasakan sebelumnya mulai merayap di dadanya. Takut bukan karena ia kehilangan aset, tapi takut karena ia menyadari betapa rentannya Shena di luar sana. Selama ini Shena hidup dalam "sangkar" paviliun ayahnya atau rumah mewahnya. Bagaimana dia bisa bertahan di terminal yang keras?
"Cek semua penginapan kelas melati, asrama wanita, hingga rumah kost di pinggiran kota," perintah Devan dengan nada yang tak terbantahkan. "Gunakan koneksi kita dengan kepolisian. Saya ingin setiap jengkal kota ini diperiksa!"
"Baik, Pak. Tapi..." Rian ragu sejenak. "Pak Bram terus menghubungi. Beliau menagih janji pelunasan hutang yang Bapak tunda."
"Katakan pada pria bajingan itu," Devan berdiri, matanya berkilat penuh amarah, "jika dia berani menanyakan tentang uang sebelum putri kandungnya ditemukan, aku akan memastikan dia menghabiskan masa tuanya di penjara karena penipuan identitas keluarga! Pergi!"
Setelah Rian keluar, Devan terhuyung ke arah jendela. Ia melihat pantulan dirinya di kaca. Pria yang biasanya tampak begitu berkuasa itu kini terlihat hancur. Ia merogoh saku jasnya dan mengeluarkan cincin pernikahan Shena yang ia temukan di kamar tamu.
"Kau ingin menjadi Shena, bukan Sarah?" bisiknya pada kegelapan. "Tapi siapa Shena yang sebenarnya? Mengapa aku baru ingin mengetahuinya sekarang saat kau sudah tidak ada?"
Sementara itu, di sebuah sudut sempit di kawasan Jakarta Utara yang padat dan pengap, seorang wanita sedang menatap keluar jendela sebuah kamar kost berukuran tiga kali tiga meter. Ruangan itu hanya berisi sebuah kasur lantai yang tipis, lemari plastik yang sudah agak reyot, dan sebuah kipas angin kecil yang berputar dengan suara berisik.
Wanita itu adalah Shena.
Ia melepaskan hoodie-nya, memperlihatkan bahunya yang tampak lebih kurus. Ia baru saja kembali dari bekerja di sebuah warung makan sederhana di dekat pasar sebagai pencuci piring. Tangannya yang biasanya halus, kini mulai terasa kasar dan memerah karena sabun deterjen murah, namun anehnya, Shena tidak merasa sedih.
Untuk pertama kalinya dalam dua puluh empat tahun hidupnya, tidak ada yang memanggilnya "Sarah". Tidak ada yang menyuruhnya duduk dengan tegak agar terlihat anggun, dan tidak ada yang memaki-makinya jika ia melakukan kesalahan kecil.
Di sini, di lingkungan yang orang-orangnya bahkan tidak tahu apa itu merek "Adiguna", dia hanyalah Shena. Seorang gadis yang bekerja keras untuk menyambung hidup.
Shena mengambil sebuah buku catatan kecil dari kopernya. Di halaman pertama, ia menuliskan satu kalimat: Hari kedua menjadi diriku sendiri.
Ia teringat ibunya, Ratna. Hatinya perih memikirkan ibunya yang masih terjepit di rumah besar itu, namun ia tahu, ia harus kuat terlebih dahulu agar bisa membawa ibunya pergi nanti. Ia juga teringat Devan.
Bayangan wajah Devan saat membentaknya, saat menghinanya di depan keluarga besar, dan saat ia mencengkeram bahunya dengan kasar, terlintas seperti film horor. Namun, ada satu memar di hatinya yang paling sulit sembuh: bayangan saat Devan memasangkan kalung safir itu dengan tatapan yang sempat melunak.
"Berhenti, Shena," bisiknya pada diri sendiri sambil menggeleng kuat. "Jangan tertipu lagi oleh belas kasihan palsunya. Dia hanya mencintai Sarah, dan dia hanya menginginkan mainan untuk disiksa."
Shena mematikan lampu kamar kost-nya. Kegelapan menyelimuti, namun ia merasa lebih aman di sini daripada di dalam kamar penthouse mewah yang dulu terasa seperti peti mati berlapis emas.
Keesokan paginya, Devan tidak pergi ke kantor. Ia justru pergi ke paviliun belakang rumah keluarga Bramantyo—tempat di mana Shena tumbuh besar sebagai anak rahasia.
Ia melangkah masuk ke ruangan kecil yang kini sudah kosong itu. Ruangan itu sangat sederhana, sangat kontras dengan kemegahan rumah utama. Di atas sebuah meja kayu tua, Devan menemukan sesuatu yang luput dari perhatian Pak Bram: sebuah sketsa yang diselipkan di bawah alas meja.
Itu adalah gambar seorang pria yang sedang tertidur di sofa. Devan tertegun. Pria dalam gambar itu adalah dirinya. Sketsa itu dibuat dengan sangat detail, menangkap gurat kelelahan dan kesedihan di wajah Devan saat pria itu sedang dalam kondisi paling rapuh. Di pojok bawah sketsa itu tertulis sebuah catatan kecil:
"Aku tahu hatimu sedang beku karena luka, tapi aku akan tetap di sini, menjaga tidurmu sampai musim semimu tiba. —S."
Devan jatuh terduduk di kursi kayu itu. Air mata yang sejak kemarin ia tahan, akhirnya pecah juga. Ia memeluk kertas itu erat-erat.
Shena tidak pernah mencoba menjilatnya. Shena benar-benar tulus mencintainya bahkan saat ia bertingkah seperti monster. Sementara ia sibuk mengejar Sarah yang telah menghianatinya, ada seorang malaikat yang dengan sabar mencoba mencairkan kebekuan hatinya tanpa pernah meminta imbalan.
"Aku akan menemukanmu, Shena," tangis Devan pecah di ruangan sepi itu. "Kali ini bukan untuk membayar hutang, bukan untuk sandiwara... tapi karena aku tidak bisa bernapas tanpamu."
Pencarian besar-besaran pun dimulai. Devan mengubah strateginya. Jika Shena ingin menjadi dirinya sendiri, maka ia tidak akan mencarinya di hotel mewah. Ia akan mencari ke tempat-tempat di mana kejujuran itu berada.
Namun, ia tidak tahu bahwa di saat yang sama, Sarah—wanita yang ia anggap masa lalunya—mulai merasa terganggu dengan posisinya yang tergeser di keluarga Adiguna. Sarah yang ambisius tidak akan membiarkan Shena mendapatkan apa yang seharusnya menjadi "haknya", meskipun ia sendiri sudah memiliki Mark.
Badai yang lebih besar sedang berkumpul. Pencarian Devan baru saja dimulai, dan Shena harus berhadapan dengan kerasnya dunia luar serta kecemburuan saudaranya yang kini mulai mengintai.
...****************...