Bukan keinginannya masuk dalam pernikahan ini. Dia tahu jika suaminya tidak akan pernah menganggapnya sebagai istri, Marvin hanya akan memandangnya sebagai penyebab kematian dari calon istrinya yang sebenarnya.
Kecelakaan yang menimpa Kakak beradik ini, membuat dunia seorang Raina hancur. Kakaknya yang sebentar lagi akan menikah dengan kekasih hatinya, harus pergi meninggalkan dunia untuk selamanya. Raina yang sebagai orang yang selamat, pasti akan disalahkan di pojokkan. Meski dia juga tidak pernah mau hal ini terjadi.
Dalam keluarganya, hanya Amira yang peduli padanya dan menganggapnya keluarga. Tapi sosok seperti malaikat tak bersayap itu, malah harus pergi untuk selamanya. Meninggalkan Raina seorang diri untuk menghadapi kejamnya hidup.
Entah sampai kapan pernikahan ini akan bertahan, apa Raina akan sanggup terus bertahan disamping suaminya, atau pergi untuk selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 ~ Tidur Satu Kamar
Raina berdiri bersandar di balik pintu kamar mandi, memegang jantungnya yang berdebar kencang. Apa yang terjadi barusan adalah sebuah hal yang mengejutkan hatinya. Setelah cukup merasa tenang, Raina baru kembali lagi ke kamar, Menatap Marvin yang sedang mengotak-ngatik ipad di tangannya. Entah siapa yang membawanya kesini, mungkin pelayan.
"Em, Kak Marvin mau makan dulu? Mau makan apa? Biar aku buatkan"
Marvin melirik sekilas pada Raina, lalu kembali terfokus pada layar ipad di tangannya. "Aku sudah minta pelayan membawa makanan kesini. Kau tidak perlu repot"
Raina hanya mengangguk pelan, Marvin masih menjaga sikapnya, menjadi suami yang tidak peduli akan kehadiran Raina. Tapi menurutnya ini lebih baik daripada menyiksa Raina seperti yang pernah dia lakukan. Raina ingin naik ke tempat tidur, tapi dia ragu. Bagaimana jika Marvin malah akan marah padanya. Tapi jika tidak di tempat tidur, dia akan tidur dimana? Sementara tidak ada sofa disini.
Saat kebingungan masih melanda, suara ketukan pintu membuat Raina menoleh. Dia berjalan ke arah pintu kamar dan membukanya. Seorang pelayan yang membawa nampan berisi makanan untuk suaminya.
"Biar saya saja, Mbak. Terima kasih ya"
"Iya Nona"
Raina membawa nampan masuk ke dalam kamar, menyimpan di atas naka. Lalu dia duduk di pinggir tempat tidur. "Kak makan dulu, terus minum obatnya. Tadi Kak Bayu memberikan obat ini, katanya ini dari Dokternya"
Marvin mematikan ipad dan menyimpan disampingnya. Menoleh dan menatap Raina yang sedang meniup pelan bubur panas yang dibuatkan oleh pelayan.
"Ini Kak, hati-hati masih agak panas"
Marvin sedikit tertegun karena perlakuan Raina saat ini. Dia begitu perhatian padanya di saat dirinya sedang dalam keadaan seperti ini. Tapi kenapa juga Marvin harus memikirkan itu? Wajar saja dia merawatnya karena sekarang Raina adalah istrinya. Raina terus menyuapi Marvin sampai makanan hampir habis. Membantunya meminum obat juga.
"Kak Marvin mau ke kamar mandi dulu sebelum tidur?" tanya Raina.
Marvin terdiam, sepertinya beberapa hari ini akan cukup menyusahkan baginya. Karena sebelah kakinya yang terpasang gifs dan akan membuat geraknya terbatas.
"Berikan saja tongkatnya, aku bisa sendiri"
Sebenarnya Raina ingin membantu, tapi melihat Marvin yang jelas melakukan penolakan padanya, tentu dia juga tidak akan memaksa.
"Baiklah" Raina memberikan tongkat pada Marvin, membantunya untuk turun dari tempat tidur, meski suaminya itu terlihat enggan saat Raina membantu. "Kalau ada apa-apa, Kak Marvin bisa memanggilku"
Marvin tidak menjawab, tapi dia menggunakan tongkat dan pergi menuju ruang ganti. Sebelah kakinya tidak terluka, jadi masih bisa sedikit terpincang dengan bantuan tongkat untuknya berjalan. Raina hanya menatap punggung Marvin yang akhirnya menghilang di balik pintu ruang ganti. Hembusan napas panjang menunjukan rasa lelah dan berat yang sedang dia alami saat ini.
Raina membawa nampan bekas makan suaminya ke dapur. Dia juga mengisi air putih pada gelas jika nanti Marvin ingin minum tengah malam. Seorang pelayan tadi datang menghampirinya.
"Nona, apa tidak mau menyewa perawat saja untuk membantu Tuan Muda selama masa sakit ini?"
Raina menatapnya dengan kening berkerut bingung. "Kenapa harus menyewa perawat, Mbak? Aku 'kan istrinya, memang seharusnya merawat dia saat sakit seperti ini 'kan?"
"Tapi, Tuan Muda bahkan selalu menyakiti Nona. Kenapa harus mau repot merawatnya saat sedang seperti ini? Kenapa tidak Nona biarkan saja Tuan Muda seperti itu?"
Mungkin semua orang akan bertanya-tanya hal yang sama. Sudah banyak luka batin dan fisik yang diterima Raina sejak menikah dengan Marvin. Tapi, melihatnya yang seperti ini, tidak mungkin juga Raina akan membiarkannya.
"Mbak, mungkin aku tidak akan berada dalam posisi ini, jika saja Kakakku tidak meninggal dalam kecelakaan. Aku hanya sebatas pengganti, dan mungkin aku juga harus menggantikan peran Kak Amira, karena itu yang Kak Amira inginkan sebelum dia meninggal. Tidak papa, aku bisa melewatinya kok"
"Baiklah Nona, semoga selalu kuat menghadapinya"
Dan ya, Raina menjadi pengganti termasuk untuk menggantikan Amira dalam hal seperti ini. "Aku pergi dulu ya Mbak, takutnya Kak Marvin butuh bantuanku"
"Baik Nona"
Pelayan itu menatap punggung Raina yang menjauh dengan rasa iba. "Gadis sebaik dan tulus seperti itu, harus terjebak dengan pernikahan menyakitkan seperti ini"
Ketika Raina masuk kembali ke dalam kamar, dia melihat Marvin yang sedang kesusahan untuk menaikan kakinya ke atas tempat tidur. Raina segera menyimpan gelas di atas nakas, dan membantunya. Menaikan kaki Marvin yang terpasang gifs dengan perlahan.
"Kalau ada apa-apa minta bantuan aku saja, Kak. Aku siap membantu kok"
Marvin menatap Raina yang sedang membenarkan posisinya untuk tidur. Raina juga menyelimuti tubuh Marvin dengan lembut. Entah kenapa dalam pandangan Marvin, itu adalah Amira. Melihat sosok Raina yang dimatanya adalah Amira.
"Amira"
Tanpa sadar bibirnya berucap pelan, membuat Raina yang sedang menyelimutinya langsung terhenti sejenak. Raina menghela napas pelan, dia tahu jika Marvin mungkin menganggap dirinya adalah Amira.
"Aku Raina, Kak"
Seketika Marvin mengerjap kaget, dia memalingkan pandangannya ke arah lain. Tidak ingin melihat Raina yang memang dalam pandangannya selalu saja Amira. Entah karena hati yang belum bisa melepaskan kekasih hatinya itu.
Raina tersenyum pedih, bahkan Marvin sangat tidak mau menatapnya lagi ketika sadar jika yang berada di depannya ini adalah Raina, bukan Amira. Membuat Raina sadar jika cinta Marvin pada Amira memang sebesar itu, hingga hampir berpikir jika Raina sudah tidak ada celah untuk berharap apapun lagi pada pria yang menjadi suaminya sekarang.
"Maaf" lirih Raina.
Ketika mengingat tentang Amira, tentang orang-orang yang kehilangan Amira, selalu membuat Raina merasa sangat bersalah. Meski nyatanya tidak ada yang bisa merubah takdir, meski Raina terus menyalahkan dirinya sendiri.
Marvin tidak menjawab, bukan karena dia tidak mendengar. Tapi dia memilih abai akan ucapan Raina barusan. Menutup matanya dan berpura-pura sudah tidur untuk menghindari percakapan selanjutnya dengan Raina. Ketika merasakan tempat kosong di sebelahnya bergerak, Marvin tahu jika Raina sudah naik ke atas tempat tidur.
Raina tidur menghadap pada Marvin. Melihat wajah dinginnya yang lebih terlihat tenang saat dia tidur seperti ini. Raina menikmati pemandangan di depannya ini, karena dia pikir tidak akan banyak kesempatan untuk dirinya bisa melihat Marvin dari jarak dekat seperti ini. Bahkan mereka berada di atas ranjang yang sama.
"Dulu, Kak Amira selalu menceritakan kamu dengan segala keindahan dan pujian. Tentang wajahmu yang tampan, hidung mancung, alis tebal, dan sikap lembut padanya. Sekarang aku tahu kenapa Kak Amira begitu suka memujimu, karena memang kamu memiliki itu semua. Maafkan aku karena sudah merenggut semua kebahagiaan kalian dan rencana yang sudah kalian atur selama ini. Maaf.."
Raina mengusap sudut matanya yang berair dan mengenai bantal. Bahkan tidak bisa menahannya lagi ketika mengingat semua bayangan bersama Kak Amira.
"Bukan hanya kamu yang kehilangan, aku juga"
Bersambung
Si Marvin udah berhenti nyiksa fisik, tapi nyiksa batin anjir.. Emang sialan.
👍
pergi dari rumah Marvin,,