Senja selalu identik dengan keindahan, tetapi bagi mereka yang pernah kehilangan, senja justru menjadi pengingat akan luka yang belum sembuh.
Seorang lelaki yang tumbuh tanpa orang tua dan seorang perempuan yang patah oleh cinta, dipertemukan di kota kecil yang sepi, tepat di bawah langit jingga yang sama. Keduanya sama-sama membawa masa lalu yang belum selesai, trauma yang tidak pernah benar-benar hilang.
Dalam pertemuan yang sederhana, tumbuh perasaan yang pelan—bukan untuk saling menyelamatkan, melainkan untuk saling menemani di tengah rasa hampa.
Sisi Tergelap Senja adalah kisah tentang cinta yang lahir dari luka, tentang kehilangan yang tidak selalu bisa disembuhkan, dan tentang dua manusia yang belajar menerima bahwa tidak semua yang indah berarti bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sifatori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Orang Asing Yang Tidak Lagi Asing
Hujan kembali jatuh pada sore itu, bukan sebagai badai yang gaduh, melainkan sebagai rintik tipis yang menggantung di udara, menciptakan dingin yang tidak menggigit, tetapi cukup untuk membuat tubuh mengingat bahwa hari sedang bergerak perlahan menuju senja. Langit tampak kelabu, seolah menahan warna biru agar tidak terlalu cepat hilang, sementara cahaya matahari terakhir menyelinap samar di sela awan.
Aku berteduh di sebuah kafe kecil di ujung jalan—tempat yang tidak memiliki keistimewaan apa pun selain aroma kopi yang terus mengendap di udara, cahaya lampu kekuningan yang lembut, dan keheningan yang terasa lebih jujur daripada percakapan basa-basi manusia. Di balik kaca jendela, kota bergerak seperti biasa: kendaraan melaju tanpa arah yang jelas, orang-orang berjalan cepat dengan payung, dan suara klakson terdengar seperti irama yang tidak pernah benar-benar selaras.
Aku membuka buku catatan yang selalu kubawa, berharap bisa menuliskan sesuatu, tetapi halaman itu tetap kosong. Bukan karena aku tidak memiliki pikiran, melainkan karena pikiranku terlalu penuh untuk dirangkum dalam kalimat, namun terlalu tenang untuk disebut kacau. Ada perasaan asing yang mengendap di dadaku—perasaan seolah aku sedang berdiri di persimpangan, tidak lagi ingin kembali, tapi juga belum sepenuhnya tahu ke mana harus melangkah.
Lalu, di antara pantulan cahaya lampu dan bayangan hujan yang memburam di kaca, aku melihat sebuah siluet yang membuat jantungku berhenti sejenak.
Seorang perempuan berdiri di luar, memegang payung hitam yang sedikit miring. Rambutnya basah di ujung, pakaiannya sederhana, dan wajahnya tampak samar oleh bias air serta kaca. Namun aku mengenalnya. Bukan dari bentuk, bukan dari detail, melainkan dari getaran halus di dadaku yang muncul tanpa peringatan, seperti ingatan yang tiba-tiba menemukan jalannya sendiri.
Perempuan di halte itu.
Ia melangkah masuk, menutup payungnya perlahan, menggoyangkan rambutnya sejenak agar air tidak menetes ke lantai, lalu matanya berkeliling menyapu ruangan sebelum akhirnya berhenti tepat ke arahku. Waktu terasa menyempit menjadi satu titik sunyi di antara kami, seolah kafe itu tiba-tiba kehilangan suara dan hanya menyisakan detak jantung yang samar.
“Halte,” ucapnya lirih, seakan sedang menguji apakah ingatan ini nyata atau hanya kebetulan yang dipaksakan oleh pikirannya sendiri.
Aku mengangguk, nyaris tersenyum. “Dan hujan. Lagi.”
Ia terkekeh pelan, duduk di kursi seberangku tanpa benar-benar meminta izin. “Sepertinya kita selalu bertemu di cuaca yang sama.”
Aku menjawab tanpa berpikir panjang, “Atau mungkin semesta hanya suka mempertemukan dua orang yang sama-sama belum selesai dengan dirinya.”
Ia terdiam sejenak, menatap cangkir kopi yang baru saja diletakkan barista di hadapannya. “Kalimat itu terdengar terlalu jujur untuk diucapkan ke orang asing.”
“Untungnya,” kataku, “kita bukan sepenuhnya orang asing lagi.”
Ia tersenyum kecil, bukan senyum lebar, melainkan senyum yang tipis dan tenang. “Kamu terlihat berbeda dari terakhir kali aku melihatmu.”
“Berbeda bagaimana?”
“Lebih… hadir,” jawabnya setelah berpikir. “Dulu kamu seperti seseorang yang sedang menunggu sesuatu, tapi tidak tahu apa yang sebenarnya ditunggu.”
Aku menunduk, membiarkan kata-katanya meresap. “Mungkin karena aku sudah berhenti menunggu.”
Ia mengangguk pelan. “Aku juga sedang belajar itu. Berhenti berharap orang lain datang untuk menyelamatkan.”
Kami terdiam lagi. Namun keheningan kali ini tidak terasa canggung. Ia terasa seperti ruang aman, tempat dua orang bisa berhenti sejenak dari kebiasaan berpura-pura baik-baik saja.
Kami berbicara tentang hal-hal sederhana—tentang hujan yang selalu datang tanpa permisi, tentang kopi yang rasanya terlalu pahit atau terlalu manis tergantung suasana hati, tentang buku yang sering dibeli tapi jarang selesai dibaca. Percakapan itu ringan, hampir tidak bermakna, tetapi justru di sanalah letak kejujurannya.
Di sela obrolan itu, aku menyadari sesuatu yang tidak pernah kusadari sebelumnya.
Aku tidak sedang berusaha membuatnya tertarik padaku.
Aku tidak sedang mencari celah untuk menceritakan lukaku.
Aku hanya sedang menjadi diriku sendiri, tanpa topeng, tanpa niat untuk mengesankan.
Dan itu terasa… cukup.
Ia bukan hadir untuk mengisi kekosongan.
Ia hanya duduk di ruang yang kebetulan masih kosong, tanpa berusaha menambalnya.
Orang asing itu tidak lagi terasa asing.
Bukan karena aku mulai mengenalnya lebih dalam,
melainkan karena aku tidak lagi merasa perlu menyembunyikan diriku sendiri di hadapan siapa pun.
Dan mungkin, di sanalah awal yang sebenarnya.
Bukan pada pertemuan kami yang kebetulan,
tetapi pada pertemuanku dengan diriku yang kini tidak lagi takut untuk hadir sepenuhnya dalam hidupnya sendiri.