NovelToon NovelToon
Tiba-Tiba Nikahin Sahabat!

Tiba-Tiba Nikahin Sahabat!

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Cinta setelah menikah / Persahabatan / Perjodohan / Gadis nakal
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Soju Kimchizz

Siapa sangka hubungan persahabatan sejak kecil mengantarkan Viona dan Noah ke jenjang yang lebih serius?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sekotak Macaron Manis

Jalanan menuju Gyeonggi-do pagi ini cukup padat, tapi di dalam mobil Volvo hitam milik Noah, suasananya jauh lebih menyesakkan bagi Viona. Sejak matahari terbit, Noah tidak membiarkan Viona lepas dari pandangannya sedetik pun. Bahkan untuk urusan dinas ke cabang hotel sekalipun, Noah bersikeras menjadi supir pribadinya.

Viona menyandarkan kepalanya ke kaca mobil, memperhatikan gedung-gedung Seoul yang berlalu cepat. Ia melirik Noah yang tampak sangat rapi dengan kemeja abu-abu gelap, tangannya yang kokoh memegang kemudi dengan santai namun tegas.

"Noah... ini berlebihan," gerutu Viona untuk yang kesepuluh kalinya pagi ini. "Gue punya supir, gue punya asisten. Lo itu dosen, lo punya proyek di Singapura. Ngapain malah jadi supir gue ke Gyeonggi-do?"

"Mengeluh terus? Mau gue bikin beneran nggak bisa kemana-mana?" ancam Noah tanpa menoleh. Wajahnya tetap datar, fokus pada jalanan di depannya, tapi auranya tidak bisa dibantah.

Viona memutar bola matanya, merasa harga dirinya sebagai wanita karier yang mandiri sedang diinjak-injak. "Lo mau apain gue emang? Mau lo kunci di kamar? Mau lo rantai?" tanya Viona menantang, nada suaranya naik satu oktav.

Tepat saat itu, lampu lalu lintas berubah menjadi merah. Noah menginjak rem dengan halus, menghentikan mobil tepat di garis putih.

Keheningan melanda kabin mobil selama beberapa detik. Noah perlahan memutar tubuhnya, melepaskan satu tangannya dari kemudi dan menyandarkannya di belakang kursi Viona. Ia menatap Viona dengan intensitas yang membuat napas Viona tertahan. Sorot matanya tidak lagi menunjukkan kemarahan, tapi sesuatu yang jauh lebih gelap dan posesif.

"Gue hamilin, mau?" Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Noah, rendah dan sangat serius.

Viona mematung. Matanya membelalak, jantungnya mendadak berdegup kencang seperti baru saja lari maraton di sepanjang sungai Han. Ia mencari tanda-tanda bahwa Noah sedang bercanda, tapi pria di depannya ini sama sekali tidak terlihat sedang melawak.

"N-Noah... lo kalau ngomong jangan ngasal ya!" cicit Viona, wajahnya mendadak terasa terbakar hingga ke telinga.

"Gue nggak pernah ngasal kalau soal rencana jangka panjang, Vio," balas Noah. Ia memajukan wajahnya sedikit, memangkas jarak di antara mereka. "Kalau lo hamil, lo otomatis bakal berhenti ke club, lo bakal berhenti pecicilan, dan lo bakal selalu ada di jangkauan gue selama sembilan bulan. Gimana? Efektif, kan?"

Tin! Tin!

Suara klakson dari mobil di belakang menyadarkan mereka bahwa lampu sudah hijau. Noah kembali menghadap depan dan mulai menjalankan mobilnya lagi seolah-olah ia baru saja membicarakan masalah cuaca, bukan rencana membuat keturunan.

Sementara itu, Viona hanya bisa terdiam membisu, menatap lurus ke depan dengan otak yang masih memproses ancaman, atau tawaran? tergila yang pernah ia dengar dari mulut sahabat sekaligus suaminya itu.

Lobi hotel cabang Gyeonggi-do yang luas itu seketika terasa lebih hidup saat Viona melangkah masuk. Dengan balutan blazer formal namun tetap modis, ia memancarkan aura pemimpin yang kuat. Namun, fokus para staf bukan hanya tertuju pada sang atasan, melainkan pada sosok pria jangkung yang berjalan tepat satu langkah di belakangnya, Noah.

Noah tidak melepaskan tatapannya dari punggung Viona, tangannya sesekali menyentuh pinggang Viona saat mereka melewati pintu otomatis, seolah memastikan semua orang tahu siapa yang menjaga wanita itu.

"Selamat datang, Nona Skylar," sapa manajer operasional dengan bungkukan hormat. Pandangannya kemudian beralih ke arah Noah dengan rasa penasaran yang tidak bisa disembunyikan.

Viona berdehem, mencoba tetap profesional meski jantungnya masih berdebar akibat ucapan "hamilin" di mobil tadi. "Perkenalkan, ini Noah Sebastian Willey. Suami saya."

Seketika, bisikan kagum menjalar di antara barisan staf. Selama ini mereka selalu bertanya-tanya siapa pria yang berhasil menaklukkan Viona yang terkenal pemilih dan perfeksionis.

"Gila, ganteng banget. Vibes-nya kayak aktor-aktor kelas atas."

"Pantesan Nona Viona mau nikah cepet, spek suaminya kayak begini."

"Mereka bener-bener sepadan, ya? Yang satu cantik berkelas, yang satu tegas luar biasa."

Noah hanya mengangguk tipis, memberikan senyum formal yang sangat hemat. Ia tidak banyak bicara, namun kehadirannya memberikan tekanan yang mendominasi ruangan. Bagi para staf, melihat Noah yang protektif berdiri di samping Viona memberikan rasa aman sekaligus hormat yang baru.

Mereka pun berjalan menuju ruang rapat di lantai atas. Saat berada di dalam lift yang berdinding cermin, Noah berdiri di belakang Viona, menatap pantulan istrinya itu lewat kaca.

"Puas?" bisik Noah rendah, cukup untuk didengar Viona saja.

"Puas apa?" tanya Viona, pura-pura sibuk merapikan berkas di tangannya.

"Puas denger pujian staf lo soal betapa 'sepadannya' kita?" Noah maju satu langkah, membuat napasnya terasa di tengkuk Viona.

"Semua orang di hotel ini udah tahu gue suami lo. Jadi, jangan harap lo bisa melipir ke bar hotel buat minum sendirian habis rapat nanti."

Viona melirik pantulan mata Noah di cermin.

"Lo beneran nggak bakal ngelepasin gue sedetik pun ya hari ini?"

"Nggak akan," sahut Noah tepat saat pintu lift terbuka. "Sampai rencana 'jangka panjang' yang gue sebut di mobil tadi beneran terwujud."

Viona mematung di tempat, sementara Noah berjalan keluar lift lebih dulu dengan langkah santai, meninggalkan Viona yang harus mati-matian mengatur napas agar tetap terlihat profesional di depan para staf yang sudah menunggu di ruang rapat.

Rapat dimulai, dan suasana di dalam boardroom mewah itu seketika berubah serius. Viona berdiri di depan, memaparkan strategi ekspansi hotel dengan suara yang stabil dan artikulasi yang sempurna. Tidak ada lagi Viona yang merengek atau Viona yang mabuk semalam. Yang ada hanyalah Viona Skylar, sang eksekutif muda yang cerdas dan visioner.

Noah duduk di sudut ruangan, sedikit agak jauh dari meja utama. Alih-alih sibuk dengan ponselnya, ia justru menyilangkan kaki dan memperhatikan setiap gerak-gerik istrinya.

Ia tidak kaget melihat betapa telatennya Viona ketika sudah bekerja. Selama berpuluh tahun mengenal, memang mereka jarang mengakui secara lisan betapa kerennya diri mereka masing-masing. Memuji secara langsung hanya akan membuat suasana jadi canggung atau malah berakhir dengan saling ejek.

Namun, Noah punya cara sendiri untuk mengapresiasi. Setiap kali Viona berhasil menjawab pertanyaan sulit dari dewan direksi dengan telak, Noah akan memberikan anggukan kecil yang hampir tidak terlihat, atau sekadar memperbaiki posisi duduknya dengan senyum miring yang penuh kebanggaan.

Viona pun sama. Meski matanya fokus pada layar presentasi, ia sesekali melirik ke arah Noah. Ia tahu suaminya itu sangat kritis; jika Noah tidak menginterupsi atau tidak terlihat bosan, itu artinya kerja Viona sudah di atas standar.

Satu jam berlalu, rapat ditutup dengan tepuk tangan meriah. Para staf mulai berhamburan keluar, meninggalkan Viona yang sedang merapikan tabletnya.

Noah bangkit dari kursinya, berjalan mendekat hingga ia berdiri tepat di hadapan meja besar yang membatasi mereka.

"Bagus," ucap Noah singkat. "Strategi manajemen risiko lo di poin ketiga tadi... cukup berani buat ukuran hotel di pinggiran Seoul."

Viona mendongak, mencoba menahan senyum bangganya. "Cuma 'bagus'? Nilai gue di mata Pak Dosen cuma segitu?"

Noah menumpukan kedua tangannya di atas meja, mencondongkan tubuhnya ke arah Viona. "Nilai lo selalu sempurna kalau soal kerjaan, Vio. Sayangnya, nilai lo buat kepatuhan sama suami masih di bawah rata-rata."

Viona mendengus, tapi tidak bisa menutupi binar di matanya. "Egois banget ya penilaiannya."

"Itu namanya objektivitas," sahut Noah santai. Ia kemudian mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku kemejanya dan meletakkannya di atas meja. "Tadi gue mampir ke bakery di lobi pas lo lagi asik presentasi. Macaroon favorit lo, sebagai apresiasi karena lo nggak bikin malu nama Willey hari ini."

Viona tertegun melihat kotak itu. Inilah cara mereka: tidak ada kata-kata manis "Aku bangga padamu", tapi ada kotak macaroon yang masih segar dan tatapan mata yang mengatakan bahwa Noah tidak ingin berada di tempat lain selain di sini, menonton kesuksesannya.

"Makasih, Noah," bisik Viona tulus.

"Sama-sama. Sekarang habiskan, terus kita balik ke Seoul. Gue udah reservasi restoran buat makan malam dan kali ini, nggak ada penolakan," tegas Noah kembali ke mode protektifnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!