Nirmala Dizan tak pernah menyangka bahwa ia akan mendapatkan ujian yang begitu besar dan tak terduga. Ia harus menghadapi kenyataan bahwa kedua orang tuanya meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan dan kemudian ia harus menghadapi kekejaman dunia bisnis yang penuh intrik sendirian. Di saat dirinya putus asa terbitlah sebuah asa, pertemuan dengan Aleandra Nurdin seorang mahasiswa yang mampu mengubah hidup Nirmala yang kelam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan Di Tepi Jurang
Nirmala mendengar setiap kata itu. Suara bibinya yang melengking seolah menyayat telinganya. Ia menoleh perlahan, menatap dua kerabatnya yang selama ini selalu bersikap manis di depan ayahnya, namun kini berubah menjadi monster pemburu harta sebelum nisan ayahnya sempat mengering.
"Bibi..." suara Nirmala keluar, serak dan gemetar.
Rini menoleh, tidak ada rasa bersalah di wajahnya. Ia justru melangkah mendekati Nirmala, menggenggam tangan keponakannya itu dengan paksa. Dingin. Tangan Rini terasa sedingin es.
"Nirmala sayang," ucap Rini dengan nada yang dipaksakan lembut namun matanya tetap tajam. "Kau sedang berduka, Nak. Jangan pikirkan masalah kantor. Biarkan Paman Elias dan Bibi yang mengurus semuanya. Kau fokus saja pada pernikahanmu dengan Januar. Kau butuh perlindungan seorang pria sekarang, bukan beban perusahaan yang berat."
Nirmala menarik tangannya perlahan. Ia menatap Januar, berharap tunangannya itu akan membelanya. Namun, Januar hanya diam, matanya menatap Elias dengan tatapan yang penuh kalkulasi. Nirmala menyadari sesuatu yang mengerikan: di tempat ini, di hari ia kehilangan segalanya, ia dikelilingi oleh orang-orang yang hanya melihatnya sebagai jalan menuju takhta Dizan Holding.
"Ayahku belum bahkan tertutup tanah seluruhnya," kata Nirmala, suaranya menguat karena kemarahan yang mulai membakar kesedihannya. "Dan Bibi sudah bicara soal saham?"
"Kami bicara soal kelangsungan hidup keluargamu, Nirmala!" Rini menyambar dengan cepat. "Jangan egois. Jika perusahaan bangkrut, kau tidak akan punya apa-apa lagi untuk dibanggakan di depan keluarga Suteja!"
Nirmala menatap gundukan tanah di depannya. Ia merasa seperti berdiri di tepi jurang yang sangat dalam. Di satu sisi ada kematian orang tuanya, di sisi lain ada pengkhianatan keluarganya, dan di belakangnya ada Januar, pria yang ia tunangi tanpa cinta.
"Paman Handoko," Nirmala memanggil sang pengacara tanpa melepaskan pandangannya dari nisan ayahnya. "Simpan semua dokumen itu. Jangan berikan pada siapa pun tanpa persetujuan tertulis dariku."
Elias dan Rini terperanjat. Mereka tidak menyangka Nirmala yang biasanya penurut akan berani bicara demikian.
"Nirmala, kau jangan lancang!" gertak Elias.
Namun, sebelum perdebatan berlanjut, Januar melangkah maju, menghalangi posisi Elias. "Cukup. Ini hari pemakaman. Jika ada yang ingin meributkan soal harta, silakan hadapi pengacara saya juga."
Meskipun Januar membelanya, Nirmala tidak merasa lega. Ia justru merasa ketakutan yang baru. Januar membantunya bukan karena cinta, tapi karena ia juga punya kepentingan atas harta yang kini jatuh ke tangan Nirmala.
Nirmala berlutut di tanah yang masih basah. Ia menyentuh nisan bertuliskan nama ayahnya. Air matanya jatuh, membasahi tanah merah itu.
"Aku sendirian, Ayah..." isaknya dalam hati. "Aku benar-benar sendirian."
Di bawah langit San Diego Hills yang kian menggelap, Nirmala Dizan menyadari bahwa perang yang sesungguhnya baru saja dimulai. Ia bukan lagi sekadar putri konglomerat yang manja; ia adalah mangsa yang harus belajar menjadi pemburu jika ingin selamat.
****
Malam itu, kediaman Dizan yang biasanya megah terasa seperti makam raksasa. Nirmala duduk bersimpuh di lantai ruang kerja ayahnya yang gelap. Ruangan itu masih menyisakan aroma cerutu dan parfum maskulin milik Marwan Dizan, sebuah sisa kehadiran yang menyayat hati. Dengan jemari yang masih gemetar karena trauma, Nirmala membuka laci rahasia di balik meja jati besar itu—sebuah tempat yang ayahnya pernah katakan hanya boleh dibuka jika terjadi "sesuatu yang buruk".
Di dalamnya, ia menemukan sebuah tablet kecil dan map dokumen berwarna cokelat. Tangannya menyentuh layar tablet, dan sebuah video pendek terputar. Rekaman CCTV dari hanggar pribadi sesaat sebelum pesawat lepas landas. Di sana, terekam bayangan seseorang mengenakan seragam teknisi yang melakukan sesuatu pada sistem navigasi ekor pesawat. Bukan pemeriksaan rutin, melainkan sebuah gerakan cepat yang mencurigakan.
Ponsel Nirmala bergetar. Sebuah pesan singkat masuk dari Paman Hadi. “Nona, jangan percaya pada siapa pun di rumah itu. Saya punya log komunikasi asli dari menara pengawas. Ada sabotase. Kita bertemu di gudang tua belakang butik sekarang.”
Jantung Nirmala berpacu. Sabotase. Kata itu menghantamnya lebih keras dari berita kematian itu sendiri. Orang tuanya tidak meninggal karena takdir alam, melainkan dibunuh.
****
Nirmala memacu mobilnya menembus hujan deras menuju lokasi yang dijanjikan. Namun, saat ia sampai di gudang tua yang remang-remang itu, pemandangan yang menyambutnya adalah mimpi buruk yang lebih mengerikan.
Paman Hadi tergeletak di lantai semen yang dingin. Darah segar mengalir dari luka di kepalanya, bercampur dengan air hujan yang merembes dari atap yang bocor.
"Paman!" Nirmala menjerit, menjatuhkan dirinya di samping pria tua itu.
Hadi terbatuk, darah merembes dari sudut bibirnya. Matanya yang meredup menatap Nirmala dengan sisa-sisa kekuatan terakhir. Ia meraih tangan Nirmala, menggenggamnya dengan lemah. "Log... log itu... ada di... saku... dalam..."
"Jangan bicara, Paman. Aku akan panggil ambulans!" tangis Nirmala pecah.
"Lari, Nona... lari..." bisik Hadi. "Januar... dia... tidak seperti yang... kau..."
Kalimat itu terputus. Genggaman tangan Hadi melonggar. Kepalanya terkulai ke samping. Pria yang sudah dianggapnya sebagai ayah kedua itu kini pergi, menyusul orang tuanya ke alam baka.
Nirmala terpaku. Dunia di sekelilingnya seolah berputar. Kematian orang tuanya, pengkhianatan paman dan bibinya, dan kini nama Januar disebut di ambang maut Paman Hadi. Ia merasa terjebak dalam jaring laba-laba raksasa yang siap menghisap hidupnya sampai kering.
****
Rasa takut berganti menjadi keputusasaan yang absolut. Nirmala berlari kembali ke mobilnya, mengemudi tanpa arah di bawah guyuran hujan yang membutakan pandangan. Ia merasa tidak ada lagi tempat yang aman di dunia ini. Rumahnya adalah sarang ular, tunangannya mungkin seorang pembunuh, dan ia hanyalah seorang wanita lemah yang tidak punya siapa-siapa.
Ia menghentikan mobilnya di tengah jembatan layang yang tinggi. Di bawahnya, aliran sungai yang meluap karena badai menderu dengan ganas, menabrak pilar-pilar beton dengan suara yang mengerikan.
Nirmala keluar dari mobil. Angin kencang menerpa tubuhnya yang ringkih, membuat gaun hitamnya berkibar liar. Ia melangkah menuju pembatas jembatan. Pikirannya kosong, hanya ada keinginan untuk mengakhiri rasa sakit yang menghimpit dadanya.
"Ayah... Ibu... Paman Hadi... tunggu aku," bisiknya lirih.
Ia menaiki pagar pembatas. Air matanya menyatu dengan air hujan yang membasahi pipinya. Dingin logam di telapak kakinya tidak terasa lagi. Ia menatap kegelapan di bawah sana, siap untuk menjatuhkan diri ke dalam pelukan maut yang menjanjikan ketenangan.
Satu detik sebelum ia melepaskan pegangannya, sebuah teriakan parau memecah suara badai.
"Woy! Jangan gila!"
Nirmala tersentak, namun keseimbangannya goyah. Tubuhnya condong ke depan, siap terjun bebas. Namun, secara tiba-tiba, sebuah tangan yang kuat dan besar mencengkeram pinggangnya dengan tenaga yang luar biasa, menariknya kembali ke belakang dengan sentakan kasar hingga mereka berdua jatuh terguling ke aspal jalanan yang basah.
Nirmala terengah-engah, dadanya naik turun dengan cepat. Di atasnya, seorang pemuda dengan jaket hoodie universitas yang basah kuyup menatapnya dengan mata tajam namun penuh kekhawatiran.
"Lo apa-apaan sih?!" bentak pemuda itu. Napasnya memburu, seolah ia baru saja berlari maraton. "Masalah lo seberat apa sampe mau mati konyol begini?"