NovelToon NovelToon
Exclusive My Executor

Exclusive My Executor

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Mengubah Takdir
Popularitas:95
Nilai: 5
Nama Author: Karamellatee

​Di dunia bawah yang kelam, nama Reggiano Herbert adalah eksekutor paling mematikan yang dikenal karena ketenangannya. Seorang pria yang akan memperbaiki kerah bajunya dan tidak mungkin menutup mata sebentar sebelum mengakhiri nyawa targetnya.

Baginya, hidup hanyalah rangkaian tugas yang dingin, hingga ia menemukan "Flower's Patiserie".

​Toko itu sangat berwarna-warni di tengah kota yang keras, tempat di mana aroma Strawberry Tart yang manis berpadu dengan keharuman mawar segar. Sang pemilik, Seraphine Florence, adalah wanita dengan senyum sehangat musim semi yang tidak mengetahui bahwa pelanggan setianya yang selalu berpakaian rapi dan bertutur kata manis itu baru saja mencuci noda darah dari jas abu-abunya sebelum mampir.

Tetapi, apakah itu benar-benar sebuah toko biasa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#Bab 02: Merpati mawar

Pagi itu, langit kota masih berwarna abu-abu pucat, sisa dari hujan semalam yang meninggalkan aroma aspal basah. Reggiano tidak bisa memejamkan mata barang sedetik pun. Di saku jasnya, ia membawa bunga mawar misterius yang muncul semalam, bunga yang tetap segar meski tanpa air, seolah-olah waktu berhenti berputar bagi kelopaknya.

​Ia melajukan mobilnya perlahan, melewati rute yang sama. Dari kejauhan, etalase Flower’s Patisserie sudah terlihat. Namun, pemandangan di trotoar depan toko itu membuat Reggiano menginjak rem lebih awal.

​Di sana, Seraphine berdiri mengenakan gaun katun berwarna gading yang sederhana. Di sekelilingnya, ratusan burung merpati putih berkumpul.

​Pemandangan itu seharusnya terlihat cantik bagi orang biasa, namun bagi mata seorang pembunuh seperti Reggiano, ada sesuatu yang "salah".

Burung-burung itu tidak berebut makanan.

Mereka tidak ribut atau terbang menjauh saat ada pejalan kaki lewat. Ratusan merpati itu berdiri mematung dalam barisan yang teratur, menundukkan kepala mereka dalam-dalam ke arah Seraphine.

​Seraphine mengulurkan tangannya, dan seekor merpati hinggap di jemarinya. Ia membisikkan sesuatu ke telinga burung itu, lalu mengelus sayapnya dengan gerakan yang hampir menyerupai pemberkatan.

​Deg

​Reggiano teringat bayangan wanita menari di vas bunga semalam. Ia memarkirkan mobilnya dan berjalan mendekat, langkah sepatunya membentur trotoar dengan bunyi klik yang tegas.

​Mendengar langkah itu, Seraphine menoleh.

Merpati di tangannya terbang rendah, diikuti oleh ratusan merpati lainnya. Mereka tidak terbang jauh, melainkan membentuk barisan di atas atap toko, seolah-olah menjadi prajurit yang sedang berjaga.

Reggiano segera menyimpan kembali bunga mawar itu ke dalam sakunya. Ia mengatur napasnya, menelan kembali semua kecurigaan yang hampir meledak tadi.

Di sini, di trotoar yang mulai ramai, ia tidak boleh terlihat seperti seorang pembunuh yang sedang menginterogasi mangsanya, karena di hadapannya adalah Nona muda pemilik toko bunga indah beserta kue manis yang lezat.

​"Selamat pagi, Tuan Herbert," sapa Seraphine.

​"Selamat pagi, Nona Florence. Burung-burung itu... mereka sepertinya sangat menyukai anda, Nona muda," ucap Reggiano, suaranya kembali ke nada hangat yang sopan, meski matanya tetap tajam mengawasi barisan merpati yang masih mematung.

​Seraphine tertawa kecil, suara yang selalu berhasil memecah ketegangan di udara. Ia melepaskan sisa remah roti dari telapak tangannya.

​"Mereka hanya tahu siapa yang memegang makanan, Tuan Herbert. Sama seperti manusia, bukan? Kita semua cenderung mengikuti siapa pun yang bisa memberi kita apa yang kita butuhkan."

​Reggiano sedikit menyipit. "Penyampaian yang menarik untuk seorang pemilik toko kue."

​"Oh, keseharian membuat kue juga tentang kebutuhan, Tuan. Kebutuhan akan sesuatu yang manis di tengah hidup yang pahit," sahut Seraphine santai. Ia melangkah mendekat, memperhatikan jas Reggiano yang sedikit lembap karena kabut.

"Anda terlihat lelah... Apkaha biskuit jahenya tidak cukup untuk membuat anda bersemangat pagi ini?"

​Reggiano berdehem, mencoba mengalihkan perhatian dari fakta bahwa ia terjaga sepanjang malam memikirkan "keajaiban" di kamar adiknya.

"Biskuitnya luar biasa. Hanya saja... ada banyak pekerjaan yang menumpuk di kantor. Akhir tahun selalu merepotkan."

​Seraphine mengangguk-angguk paham, meski sorot matanya seolah tahu bahwa "kantor" yang dimaksud Reggiano bukanlah ruangan penuh komputer dan dokumen.

​"Kalau begitu, anda butuh sesuatu yang lebih kuat daripada biskuit," ucap Seraphine sambil memberikan isyarat ke arah pintu tokonya yang menandakan bahwa toko telah buka.

"Saya baru saja menyeduh teh Earl Grey dengan campuran lavender. Sangat bagus untuk saraf yang tegang... atau untuk orang yang merasa sedang diikuti."

​Reggiano tersentak kecil mendengar kata terakhir itu. "Diikuti?"

​Seraphine hanya tersenyum lebar, menunjukkan deretan giginya yang rapi.

"Maksud saya, diikuti oleh rasa kantuk! Anda hampir menabrak tempat sampah saat memarkir mobil tadi, Tuan Herbert. Fokus anda sepertinya sedang terbang ke mana-mana."

​Reggiano melepaskan tawa hambar, mencoba menutupi kegugupannya. "Anda sangat jeli, Nona Florence."

​"Itu karena saya peduli pada pelanggan tetap saya," balasnya ringan.

"Mari masuk sebentar. Saya juga punya titipan untuk Elena. Bunga mawar yang saya janjikan semalam... ah, atau saya sudah memberikannya ya? Saya agak pelupa belakangan ini."

​Reggiano meraba mawar di sakunya. Janjikan semalam? Ia tidak ingat Seraphine mengatakan akan memberikan mawar. Semalam ia hanya membeli mawar putih. Tapi wanita ini bicara seolah-olah mereka sudah berbincang lama setelah ia meninggalkan toko.

​Saat mereka melangkah masuk, lonceng pintu berdenting.

​Aroma kayu manis dan mentega hangat menyambut mereka, seolah-olah dunia luar yang dingin dan penuh darah tidak pernah ada. Namun, saat Reggiano melirik ke jendela toko, ia melihat pantulan di kaca ketika merpati-merpati di luar tadi kini terbang serentak, mengepung sebuah mobil sedan hitam yang baru saja berhenti di sudut jalan.

​Bukan menyerang, mereka hanya hinggap di atas kap dan kaca depan mobil itu dalam jumlah ratusan, hingga pengemudinya tidak bisa melihat apa pun.

​"Nona Florence," panggil Reggiano pelan, matanya masih pada burung-burung itu.

"Burung-burung anda... apa mereka selalu menutupi mobil orang asing seperti itu?"

​Seraphine yang sedang menuangkan teh ke dalam cangkir porselen tidak menoleh. "Oh, mereka hanya senang menyapa tamu baru. Kota ini terkadang terasa sangat tidak ramah, jadi mereka mencoba menjadi tuan rumah yang baik. Silakan diminum, Tuan Herbert. Teh ini akan membuat mu terasa lebih jauh."

​Reggiano menerima cangkir itu. Tangannya bersentuhan dengan tangan Seraphine. Kali ini tidak ada sengatan listrik, hanya kehangatan yang luar biasa nyaman, seolah semua beban di bahunya diangkat paksa oleh wangi teh di tangannya.

​"Terima kasih, Seraphine," ucap Reggiano tanpa sadar memanggil namanya tanpa sebutan 'Nona'.

​Seraphine terdiam sejenak, matanya berkilat lembut. "Sama-sama, Tuan Herbert... "

......................

Reggiano duduk di salah satu kursi kayu yang terletak di sudut paling tenang dalam toko itu. Seraphine sudah berpamitan sebentar untuk mengambil "sesuatu yang spesial" dari dapur belakang, meninggalkan Reggiano sendirian dengan cangkir teh yang masih mengepul.

​Saat aroma lavender mulai memenuhi indranya, saku jasnya bergetar kuat. Reggiano melirik ke arah pintu dapur yang tertutup, lalu dengan gerakan cepat dan efisien, ia mengeluarkan ponsel hitamnya.

​Sebuah nomor tanpa identitas.

​"Bicara," bisik Reggiano, suaranya berubah drastis menjadi dingin, tajam, dan sama sekali tidak menyisakan jejak keramahan yang baru saja ia tunjukkan pada Seraphine.

​"Herbert, kau di mana?" Suara di seberang sana adalah milik Marcus, koordinator operasi lapangan yang terkenal tidak sabaran.

"Tim pembersih melaporkan ada anomali di rute perjalananmu. Mobilmu terparkir di depan toko kue selama lima belas menit. Apa yang terjadi? Kau tidak biasanya membuang waktu."

​Reggiano menyandarkan punggungnya, matanya terus mengawasi pintu dapur. "Aku hanya sedang mengumpulkan informasi ada kecurigaan bahwa area ini tidak sebersih yang kita kira."

​"Lupakan toko kue itu. Ada prioritas baru," potong Marcus cepat.

"Target Miller semalam ternyata sempat mengirimkan salinan data ke sebuah titik temu sebelum kau menghabisinya. Kami butuh kau di sektor utara dalam tiga puluh menit. Dan satu lagi, Herbert..."

​Marcus terdiam sejenak, suaranya merendah.

​"Organisasi mencium bau yang tidak sedap dari wilayah timur. Beberapa informan bilang ada 'aktivitas' yang tidak masuk akal di sekitar sana. Tanaman yang tumbuh di musim salju, burung yang bertingkah aneh... Jika kau menemukan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan peluru, segera lapor. Kita tidak ingin ada kesalahan yang tidak terkendali di kota ini."

​"Dimengerti," jawab Reggiano singkat. Ia baru saja akan menutup telepon ketika ia mendengar suara langkah ringan di atas lantai kayu.

​Dengan kecepatan yang hanya dimiliki oleh seorang profesional, ia menyelipkan ponselnya kembali ke balik jas dan meraih cangkir tehnya, menyesapnya perlahan seolah-olah ia baru saja merenung sendirian.

​Pintu dapur terbuka. Seraphine muncul dengan sebuah kotak kecil berwarna hijau lumut yang diikat dengan pita emas.

​"Maaf membuat anda menunggu, Tuan Herbert," ucap Seraphine dengan senyum manisnya yang tak berubah.

"Saya harus memastikan bungkusnya sempurna. Ini adalah biskuit kelopak mawar khusus untuk Elena. Berikan padanya sebelum matahari terbenam, ya?"

​Reggiano menatap kotak itu, lalu menatap Seraphine. Ia bertanya-tanya, apakah wanita ini mendengar percakapannya tadi? Dinding toko ini cukup tipis, namun Seraphine tampak sama sekali tidak terganggu.

​"Terima kasih, Seraphine. Saya harus segera pergi... ada urusan kantor yang mendesak," ucap Reggiano sambil bangkit berdiri.

​Seraphine mengikutinya hingga ke pintu. Saat tangan Reggiano menyentuh gagang pintu kuningan, Seraphine tiba-tiba berucap pelan, hampir seperti bisikan.

​"Tuan Herbert, terkadang 'bau tidak sedap' yang dicium orang-orang... hanyalah wangi bunga yang terlalu kuat untuk mereka mengerti. Jangan biarkan mereka merusak taman yang baru saja mulai tumbuh."

​Reggiano membeku di tempat. Kata-kata itu terlalu mirip dengan apa yang Marcus katakan di telepon tadi—tentang "bau yang tidak sedap" di wilayah timur.

​Ia menoleh, menatap Seraphine untuk terakhir kalinya pagi itu. "Apa maksud anda?"

​Seraphine hanya mengerling ke arah jendela, di mana merpati-merpati tadi kini sudah terbang menjauh, meninggalkan mobil sedan hitam yang kini tampak tertutup debu putih halus, meski tidak ada konstruksi di sekitar sana.

​"Hanya saran dari seorang pembuat kue," jawabnya ringan. "Hati-hati di jalan, Reggiano. Sektor utara sangat berangin hari ini."

​Reggiano tidak menjawab. Ia keluar dari toko dengan jantung yang berdegup kencang. Ia tidak pernah memberi tahu Seraphine bahwa ia akan ke sektor utara.

Reggiano masuk ke dalam mobilnya, namun ia tidak langsung menyalakan mesin. Ia menurunkan sun visor untuk menutupi wajahnya, sementara matanya terpaku pada spion samping, mengamati mobil sedan hitam di ujung jalan.

​Mobil itu adalah unit pengintai standar organisasi. Biasanya diisi oleh dua orang "anjing pelacak" yang tugasnya memastikan sang Eksekutor tetap pada jalurnya. Namun, ada yang aneh dengan mobil itu sekarang.

​Ratusan merpati yang tadi mengerubunginya sudah pergi, tapi mobil itu tetap diam. Kap mesinnya, kacanya, hingga bannya tertutup debu putih halus yang sangat tebal seperti tepung.

​Reggiano menyalakan mesin, namun alih-alih menuju sektor utara, ia memutar arah dan melewati mobil sedan itu dengan kecepatan rendah. Ia melirik ke dalam kabin sedan tersebut melalui kaca jendela yang tertutup debu.

​Dua pria di dalam sana tampak... tertidur.

​Bukan tidur biasa. Kepala mereka tersandar ke belakang dengan mulut sedikit terbuka, dan dari saku baju serta celah-celah jok mobil. Mereka tampak terjebak dalam mimpi yang sangat dalam, dibuai oleh aroma "debu putih" yang ditinggalkan burung-burung.

​Reggiano mencengkeram kemudi lebih erat. Saat ini ia duduk di balik kemudi, mesin mobilnya menderu halus. Di kursi penumpang, kotak kue hijau lumut itu tampak begitu kontras dengan interior mobilnya yang serba hitam dan dingin.

​"Hanya kebetulan," gumam Reggiano pada dirinya sendiri. "Mungkin ada truk tepung yang lewat tadi."

​Namun, di dalam hatinya, ia tahu itu bohong. Tidak ada truk tepung di jalanan bersih kawasan timur.

Reggiano tiba di sektor utara.

Kawasan ini adalah labirin beton yang dipenuhi kontainer karat dan suara mesin berat dari pelabuhan di kejauhan. Angin di sini memang kencang, persis seperti yang dikatakan Seraphine. Angin itu membawa bau garam laut yang amis, menusuk hidung.

​Ia masuk ke dalam gudang tua nomor 4. Tugasnya sederhana seperti menemui seorang kurir, mengambil koper berisi kode deskripsi, dan pergi.

Tidak ada darah, tidak ada tembakan.

Hanya perkumpulan dingin yang tidak banyak orang tau.

​Di dalam gudang yang luas itu, seorang pria kurus dengan jaket lusuh sudah menunggu.

​"Kau terlambat, Herbert," ucap kurir itu sambil gemetar. Ia tampak ketakutan, bukan karena Reggiano, tapi karena suasana gudang yang terasa mencekam.

"Angin di sini... kau dengar itu? Seperti ada yang menangis di balik dinding."

​Reggiano tidak memedulikan takhayul sang kurir. "Mana barangnya?"

​Saat kurir itu hendak menyerahkan koper perak di tangannya, sebuah embusan angin yang sangat kuat masuk melalui celah atap gudang yang rusak.

Angin itu tidak membawa bau garam atau oli.

​Angin itu membawa aroma lavender.

​Reggiano tertegun.

Di tengah gudang kumuh ini, aroma itu terasa sangat asing. Tiba-tiba, setangkai bunga mawar kecil, bunga yang sama dengan yang muncul di kamarnya semalam jatuh perlahan dari atap dan mendarat tepat di atas koper perak itu.

​"Apa itu?" kurir itu melompat mundur, seolah mawar itu adalah granat yang siap meledak.

​Reggiano mengambil bunga itu.

Kelopaknya masih basah oleh embun, seolah baru saja dipetik satu detik yang lalu.

Pikirannya melayang kembali ke Seraphine. Bagaimana mungkin?

​"Ambil kopermu dan pergi," perintah Reggiano datar.

​Setelah kurir itu lari tunggang langgang, Reggiano berdiri sendirian di tengah gudang yang sunyi. Ia membuka kancing jasnya sedikit, merasakan detak jantungnya yang tidak beraturan. Ia mengeluarkan ponselnya, hendak melaporkan bahwa pertemuan selesai, namun jarinya ragu di atas layar.

​Ia teringat senyum Seraphine.

Senyum yang terasa seperti pelukan, namun juga seperti peringatan.

​Reggiano berjalan keluar gudang. Di trotoar yang retak, ia melihat sesuatu yang mustahil, di antara celah-celah beton yang keras dan kering di area industri yang mati ini, sebuah tunas bunga mawar putih kecil baru saja menyembul keluar dari tanah. Tunas itu tumbuh dengan cepat, mekar dalam hitungan detik di depan matanya sendiri.

​Reggiano berlutut, menyentuh tanah di sekitar bunga itu. Tanah itu hangat. Sangat hangat.

​"Bagaimana bisa...?" bisiknya pada angin utara yang kini berubah menjadi lembut.

​Ia merasa seolah-olah Seraphine tidak hanya menjual kue dan bunga, tapi dia sedang menanam "sesuatu" di seluruh sudut kota ini.

​Reggiano kembali ke apartemen. Ia mendapati Elena sedang duduk di balkon, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya karena udara luar biasanya membuatnya sesak.

​"Kak! Lihat!" Elena menunjuk ke arah pot-pot kosong di balkon yang biasanya hanya berisi tanah kering.

​Kini, pot-pot itu penuh dengan tanaman herbal dan bunga-bunga kecil yang beraneka warna.

"Wanita itu datang lagi tadi siang," ucap Elena riang.

"Dia bilang Kakak lupa membawa ini dari toko, jadi dia mengantarkannya sendiri."

​Reggiano meletakkan koper tugasnya dengan kasar. "Dia datang ke sini? Masuk ke dalam rumah?"

​"Tidak, dia hanya berdiri di balkon," jawab Elena polos.

​Reggiano terdiam. Apartemen mereka berada di lantai 12. Tidak ada tangga darurat di balkon, dan akses masuk hanya melalui pintu depan yang dijaga ketat dengan pemindai biometrik.

​Ia berjalan ke balkon, menatap tanaman-tanaman itu. Di salah satu daun hijau yang lebar, hidup sekali mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!