"AYA!! Ingat kamu cuma istri formalitas. Kamu tak punya hak mengatur dengan siapa aku berhubungan, " teriak Rama.
BLAMM!!
Aya terduduk di sisi ranjang dengan air mata yang berderai.
"Aku tahu, aku hanya pelarian buatmu. Setidaknya, jangan buat aku merasa semakin hina dengan menemui wanita itu terang-terangan, " gumam Aya lirih.
Cahaya Insaniah, seorang wanita yang mendapat amanah menjadi istri seorang pemuda penerus perusahaan sawit di Kalimantan bernama Rama.
Rama yang jatuh hati dengan seorang Model lokal, terpaksa menikahi Cahaya karena pesan terakhir mamanya yang tak sadarkan diri akibat kecelakaan mobil.
Mampukah Cahaya menjalankan amanah menjadi istri Rama? Akankah Rama berpaling dari Model lokal itu?
Ikuti kisah mereka dalam Karya HANYA WANITA PELARIAN
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahaya Tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Negosiasi
Jalan menuju kantor pagi itu masih berkabut.
Matahari baru naik perlahan. Jalan masih lengang, hanya beberapa pedagang sayur yang siap berkeliling menjaja dagangannya.
Rama akhirnya mengalah menuruti permintaan Aya untuk berangkat lebih pagi menghindari berpapasan dengan karyawan lain. Jam Enam tiga puluh pagi, Fortuner Rama sudah melenggang ke luar rumah. Bahkan Bi Sri baru sampai rumah, belum sempat sarapan untuk mereka.
Perdebatan sejak semalam membuat suasana hati Aya masih belum membaik.
Adu tarik selimut berakhir dengan Rama pindah tidur ke kamar adiknya.
Hingga sholat subuh tadi Rama terperanjat bangun sendiri setelah mendengar Alarm yang ia setting.
Aya menolak sholat berjamaah di rumah, memaksa Rama berjalan sendiri ke masjid terdekat berjalan kaki. Untung ia masih sabar, karena tak ingin Aya pulang ke rumah orang tuanya dan membatalkan resepsi.
"Assalamu'alaikum, besti solehah tumben jam segini sudah di kantor? " goda Septi melihat Aya yang sedang berdiri di pantry membuat kopi hitam.
"Kamu minum kopi hitam? Baru ini aku tahu," godanya lagi.
"Oh ini, tadi pak Rama mau bikin cuma kelihatan bingung, jadi aku tawarkan diri membuatkan. Kebetulan aku juga mau seduh cappucino, " ujar Aya berdalih.
Septi akhirnya mengangguk mengerti.
"Kalau gitu, aku yang bantu antarkan ya. Siapa tahu pak Rama tersentuh, " bujuk Septi.
Aya mengangguk sambil tersenyum.
Mulai hari ini, Rama sudah mulai bekerja meski belum sepenuhnya peresmian dengan kepala Dirut mengingat kondisi Papanya yang masih sakit
TOKTOKTOK
"Masuk, " teriak Rama yang tengah menata barang-barang di ruangannya.
Septi masuk sambil membawa nampan berisi secangkir kopi hitam.
"Oh, Septi yang akhirnya buatkan Kopi saya? Saya kira Cahaya tadi."
"Aya yang buatkan, Pak. Saya cuma bantu antarkan. Bagi tugas, hehehe."
"Terima kasih, ya. Sampaikan juga terima kasih saya untuk Cahaya."
"Sama-sama, Pak. Nanti saya sampaikan. Permisi, Pak Rama. Selamat bertugas."
Rama mengangguk, melepas Septi keluar dari ruangannya.
Rama mengambil handphonenya, membuka aplikasi pesan dan mengetik sesuai pada ruang obrolan kontak Aya.
^^^[Terima kasih kopinya, Aya. Rasanya pas sesuai intruksi. 😍]^^^
[Sama-sama]
Rama tersenyum membaca respon dingin itu, padahal ia berusaha seromantis mungkin mengambil hati Aya.
^^^[Istirahat siang nanti kita ke kantor vendor ya, sempetin cek katalognya, biar nggak terlalu lama di sana. ]^^^
[Lihat nanti]
^^^[Sempatkan sayang, biar cepat kelar persiapannya. ]^^^
[Aku lagi sibuk peralihan]
^^^[Oke, nanti abang yang pilih kalau gitu. Chat aja garis besar maunya Aya gimana]^^^
[Terserah aja]
Bibir Rama mengerucut. Ia menarik nafas panjang.
'Sulit sekali Aya di bujuk, ' gumamnya.
Akhirnya Rama membuka e katalog yang ia kirim dan memilah sendiri. Rencana ke vendor akhir pekan kemarin akhirnya batal karena Aya memaksa ingin tidur di rumah umi Haura.
Rama tak bisa berbuat apa-apa selain mengalah. Ia juga lebih banyak di rumah sakit membahas pekerjaan dan wacana resepsi yang sudah ia lakukan.
TOKTOKTOK
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya.
"Permisi, Pak Rama."
"Ya, silahkan."
Swesti---Asistennya masuk ke ruangan membawa beberapa berkas pengajuan yang menunggu approvalnya.
"Ini berkas pekan lalu, Pak. Pagi ini jam sembilan ada rapat perdana Pak Rama dengan dewan direksi via online dengan pak Jaka, berkumpul di ruang meeting pemasaran."
Rama mengangguk menerima informasi, lalu mempersilahkan Swesti kembali ke mejanya. Sambil menunggu jam sembilan, Rama membuka berkas yang sudah menumpuk di meja.
***
Di ruangan staf, ada beberapa karyawan baru datang hampir mendekati jam delapan, salah satunya Mira.
"Wih, tumben Aya sudah di ruangan pagi-pagi. Biasanya saingan aja sama Aku."
Aya hanya terkekeh, tak merespon lebih.
Tatapannya masih fokus di layar, mengejar ikutan transaksi hari ini.
"Pak Rama juga datang pagi loh, Mir ternyata. Pak Budi biasanya kan hampir jam 8 juga baru sampai ruangan. Tumben, apa memang biasanya begitu kah? " tanya Septi ragu.
"Kayaknya normal-normal aja nggak sepagi itu. Tapi nggak tahu juga ya, Karin pernah cerita nggak Ya? " tanya Mira.
"Aku nggak nanya, ngapain juga yang begituan di pusingin? "
Septi dan Mira mengendik pasrah tak melanjutkan obrolan.
"Kita jam sembilan koordinasi keuangan sebentar ya," ujar Clara yang baru sampai, ia menukar sepatu pantofelnya dengan sendal santai.
Semua stafnya mengangguk.
Jam bergulir, staf berkumpul membuat lingkaran kecil di depan meja Clara.
Rama keluar dari ruangannya berjalan tegas melewati mereka.
"Pagi, Pak, " sapa Clara.
Rama mengangguk, melirik sekilas ke arah Aya yang menatapnya biasa. Lagi-lagi Anggun menangkap basah temu mata kedua orang itu.
Staf keuangan memang hanya tiga orang, dan satu orang asisten dan kesemuanya perempuan. Meski begitu, yang terlihat akur dan kompak hanya mereka bertiga. Anggun lebih ekslusif dan lebih sering berkumpul dengan sesama assisten.
Koordinasi keuangan di mulai. Membahas proses peralihan tugas Aya ke staf lain. Selain itu, mereka juga membahas evaluasi aktifitas sepekan lalu dan menyampaikan rencana kerja sepekan depan.
"Aya, target peralihan selesai hari ini kalau memungkinkan. Kalaupun belum selesai, target besok selesai hanya setengah hari. Saya mau minta tolong kamu rapikan arsip keuangan dan buat list kalau ada sesuatu."
"Baik, Bu."
Mereka membubarkan diri ke meja masing-masing setelah tiga puluh menit berkoordinasi dan mulai bekerja.
Aya mengajari Septi proses input transaksi ke sistem keuangan. Hingga tak terasa waktu berlalu cepat.
Suara notif pesan masuk tepat jam dua belas siang, bersamaan dengan adzan dzuhur yang berkumandang di masjid kantor.
Aya memeriksa ponselnya.
[Aku tunggu di tempat biasa]
Aya bergegas mengambil tasnya.
"Ya, kamu makan dulu atau ke masjid dulu? " tanya Septi.
"Aku mau keluar sebentar, ada janji. Kalian pergi aja ya."
Aya berlalu cepat, Septi dan Mira saling tatap---heran. Tak biasanya Aya pergi karena ada janji, tapi mereka juga tak ambil pusing karena sejak pekan lalu Aya memang sering ijin keluar saat jam siang.
...[Bestie, aku keluar lagi siang ini ke vendor WO, maaf nggak bisa makan bareng😥]...
[Tak apa sayang, yang penting urusan kalian cepat kelar. kapan-kapan aja kita nongki lagi kayak kemarin ya. Jangan debat terus sama paksu😉]
^^^[Mamacih🥰..Nggak janji kalau soal itu😌]^^^
Aya memenuhi janjinya pada karin untuk memberi kabar setiap istirahat siang kalau dia ada jadwal di luar bersama Rama.
Ini juga mengantisipasi kalau-kalau Karin bakal keceplosan cerita ke pegawai lain.
Aya melihat fortuner Rama sudah menunggu di sisi jalan.
CEKLEK
BRAK
Rama memutar stir dan menginjak gas. Sesekali ia melirik ke arah Aya yang sibuk dengan ponselnya.
"Sempat lihat Katalognya? " tanya Rama memecah keheningan di dalam mobil.
"Ini lagi di lihat, " jawab Aya singkat.
"Oke, aku tunggu respon mu."
"Paket A indoor saja, menu Western. Lokasi di mana? "
"Balai serbaguna milik pemkot rencananya. Sepertinya cocok dengan idemu."
"Ide abang sebelumnya apa? "
"Aku tak sempat lihat tadi, langsung baca berkas sebelum rapat. Kita putuskan lebih cepat ya. Supaya bisa makan dulu sebelum kembali. Jam dua rapatnya masih lanjut."
Aya mengangguk.
Mereka mampir ke masjid di perjalanan menuju kantor WO menjalankan shalat dzuhur. Lima belas menit kemudian kembali melanjutkan perjalanan ke WO yang sudah hampir dekat.
"Selamat Siang, Pak, Bu. Silahkan. Ada yang bisa saya bantu? "
"Saya mau ketemu manajernya jumat lalu, Ibu Tiwi kalau tidak salah namanya."
"Oh iya, silahkan tunggu di dalam. Saya panggilkan dulu."
Rama menggandeng tangan Aya membawanya ke dalam.
Tak lama, Bu tiwi sang manajer keluar menghampiri mereka.
" Maaf mengganggu waktu istirahatnya ya Bu, kami cuma punya kesempatan siang ini supaya bisa segera dipersiapkan, " ujar Rama sungkan.
"Tidak apa-apa Rama, saya maklum. Ini istrinya ya? Halo Bu saya Tiwi."
Tiwi mengulur tangan menyapa Aya.
"Saya Cahaya, Bu."
"Wah namanya bagus sekali, seperti wajahnya yang bercahaya," puji Tiwi basa basi.
"Kok tepat sekali pujiannya Bu Tiwi? " tanya Rama tersenyum, sedikit menggoda.
"Wajah pengantin pasti begitu Pak, bercahaya terus. Terlihat fresh."
Aya hanya tersenyum kecil, berusaha menahan diri untuk tidak terpancing.
Diskusi di mulai, Aya tak banyak bertanya. Ia membiarkan Rama memastikan semua.
Empat puluh lima menit kemudian diskusi berakhir. Mereka berdua berpamitan, Tiwi mengantar hingga ke pintu.
"Kenapa Bu Tiwi? " tanya karyawan yang bertugas di meja depan. Ia melihat Tiwi menghela nafas setelah kedua tamu itu berjalan meninggalkan gedung.
"Sejak tadi istrinya tak banyak bicara, semua yang ku tanya di jawab terserah suaminya saja. Seperti tidak antusias dengan pernikahannya. Padahal suaminya bersemangat sekali."
"Di jodohkan mungkin Bu. Kelihatan dari wajahnya si istri muda sekali dibanding suaminya."
"Bisa jadi."
***
"Mampir makan dimana? " tanya Rama.
"Terserah aja, " jawab Aya malas.
"Resto sebelumnya? " tanya Rama lagi.
Aya hanya mengangguk.
Rama menginjak gas mobilnya lebih dalam supaya segera sampai di resto.
Mereka akhirnya terlambat lima menit saat sampai di kantor.
"Istirahat di luar lagi Aya? " tanya Clara.
"Iya, Bu. Maaf tadi nggak sempat ijin. Di jalan juga macet, Bu."
"Ya, sudah. Lain kali usahakan kembali lebih cepat dan jangan sering-sering keluar ya."
"Baik Bu, terima kasih maklumnya."
Aya menghela nafas, ia jadi makin kesal karena sudah berusaha kembali cepat tapi akhirnya terlambat juga karena Rama memiliu menu yang di buat fresh. Padahal Aya sudah menyarankan pilih menu prasmanan saja supaya lebih cepat.
Aya kembali ke mejanya, melanjutkan proses peralihan. Jam empat sore rapat Rama akhirnya selesai dan kembali ke ruangan.
Ia menghubungi Aya melalui sambungan interkom.
"Tolong Cahaya ke ruangan saya, ada yang mau saya sampaikan soal mutasinya."
"Baik, Pak, " jawab Anggun lalu menutup telponnya.
"Ya, di minta pak Rama ke ruangannya."
Aya menghela nafas, di saat Mira dan Septi melirik heran. Saat mereka berharap bisa di panggil khusus ke ruangan Rama seperti itu, Aya justru terlihat enggan.
TOKTOKTOK
"Masuk, " teriak Rama dari dalam.
"Kenapa nggak lewat pesan aja? " tanyanya setelah menutup pintu.
"Karena tak bisa di bahas lewat pesan, duduk lah dulu."
Rama menyuruh Aya duduk di kursi depan mejanya, Rama menggeser kursi nya mendekat pada Aya.
Aya duduk dengan malas.
"Abang harus ke Jakarta tanggal 18 sampai 25 Maret, mengikuti pertemuan dengan kementrian. Kalau resepsinya di majukan tanggal 14 Maret, bagaimana?"
"Berarti dua minggu lagi? Kenapa nggak di undur setelahnya aja? "
Wajah Aya seketika cemberut, ia menyilangkan kedua tangan ke dada. Sebuah kebiasaan yang di tangkap Rama setiap Aya mulai kesal.
"Papa menolak kalau di undur. WO sudah abang hubungi, mereka menyanggupi karena jadwal mereka kosong tanggal itu. Setelahnya justru full."
"Aya, ini waktu yang pas. Amel juga masih diluar negri. Kalau di undur, akan bertepatan dengan kepulangannya. Dia bisa mengacau acara. Kamu tahu sendiri kan bagaimana kondisi Mama nanti kalau dia mengacau? "
Aya makin kesal, ia tak bisa mengelak lagi bahkan tak punya peluang bernegosiasi.