Di bawah bayang-bayang aturan feodal-kultivasi, di mana jenius dari kalangan bawah pada akhirnya akan terkubur, Chen Yuan memilih mengamati.
Mengetahui bahwa sang ibu angkat telah dimanipulasi dan bahkan menganggapnya, pecahan kesadaran anak kandungnya sendiri, ia memilih untuk membayar hutang budi itu—bukan dengan darah, tetapi dengan memainkan peran untuk melindungi dan memperbaiki kehidupan saudaranya.
Di dunia yang kejam dan penuh kepentingan, ia memilih mencoba lagi untuk merasakan arti ketulusan, bukan pertukaran.
Demi membuatnya bahagia dan mampu berdiri di dunia ini, ia bahkan mencoba berbagai cara untuk meningkatkan eksistensinya.
Namun semua itu hanyalah awal.
Di balik semua itu, misteri tentang dirinya sendiri sangat rumit, apalagi segala sesuatu di sekitarnya.
Ini adalah kisah tentang seorang pemuda yang ingin mencoba lagi–bukan untuk kekuasaan, melainkan untuk menemukan arti kehidupan yang tak sempat ia miliki.
Kelanjutan World of Cultivation: Aimless Journey
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Slycle024, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebersamaan mereka
Chen Yuan berdiri di depan Chen Xing’er, menatap siluet gada raksasa yang turun dari langit.
Kini ia mengerti.
Jelas sekali kelemahan teknik itu—tidak mampu mengunci target.
Dasar bajingan memalukan!
Ia menyimpan kedua senjatanya, lalu mengepalkan tangan. Tanpa ragu sedikitpun, ia kembali membakar esensi darahnya.
Gedup. Gedup...
Jantungnya berdetak kencang. Pembuluh darahnya menegang, kulitnya memerah samar. Qi spiritualnya kembali pulih, lalu dikumpulkan secara brutal menuju kepalan tangan kanannya.
Rasa sakitnya jauh lebih ganas dari sebelumnya.
Tinju Dominasi Abadi — Dominasi Naga Biru!
Aura merah-biru membentuk siluet naga yang melingkari tubuh Chen Yuan. Kepala naga itu berhenti tepat di kepalan tangannya, matanya menyala terang.
Tanah di bawah kakinya retak saat ia maju dan menerjang.
BOOOM!
Tubuhnya melesat seperti meteor merah-biru, langsung menuju titik merah di antara kepala dan gagang gada energi raksasa.
Jarak mereka semakin dekat.
“Hancurkan!!”
Kepalan naga itu menghantam tepat di titik merah.
Waktu seolah berhenti.
KRAAAAAAAAAAAAAK!!!
Suara retakan menggema bagai gunung terbelah. Retakan menyebar dari titik benturan, menjalar ke seluruh siluet gada raksasa itu seperti jaring laba-laba bercahaya—lalu hancur menjadi berkas-berkas cahaya.
Gelombang kejut meledak di langit.
Tekanan yang mengunci Chen Xing’er telah lenyap dan dia langsung mencari tempat aman.
Di sisi lain, Su Qing memuntahkan darah. “Tidak mungkin!”
Namun Chen Yuan belum berhenti.
Dalam satu kedipan, ia sudah berada tepat di depan Su Qing.
Wajahnya tanpa emosi.
Su Qing mencoba mengumpulkan Qi-nya lagi, memadatkan pertahanan, tetapi teknik Penghancur Gunung telah menguras hampir seluruh kekuatannya.
Kepalan tangan Chen Yuan meluncur tanpa ragu.
BANG!!!
Pukulan itu menghantam dada Su Qing.
Tubuhnya terangkat dari tanah seperti boneka kain, terlempar jauh, lalu menghantam dinding benteng dengan keras hingga tak sadarkan diri.
Debu membumbung tinggi.
Warna kemerahan di tubuh Chen Yuan perlahan memudar. Napasnya tersengal. Esensi darah yang terbakar mulai menunjukkan dampaknya.
Ia segera kembali ke sisi Chen Xing’er dan mengeluarkan tas ruang.
“Ayo kembali…”
Baru saja kalimat itu terucap, tubuhnya goyah dan kegelapan mulai turun. Tanpa menunggu tanggapan, ia masuk ke dalam tas ruang.
“Ah-Yuan! Tunggu…!”
Chen Xing’er menatap tas ruang yang jatuh bebas.
Dengan cepat ia menangkapnya, menggenggam erat, takut kehilangan satu-satu keluarga yang masih dia miliki. Tanpa menoleh lagi ke medan pertempuran, ia segera pergi.
Di sisi lain benteng, Chen Ming masih berdiri, mengawasi.
Ia tersenyum tipis, penuh arti.
“Setidaknya… kau masih pantas disebut pria. Bahkan berani membakar esensi darah dua kali dalam satu pertempuran…” Ia berhenti sejenak, dan melanjutkan, “...Baiklah! Setidaknya tugas dari kakak selesai!!”
Tanpa berkata lagi, Chen Ming melangkah maju.
Ia berhenti di hadapan Su Qing yang tergeletak lemah, napasnya tersengal, terluka cukup parah.
Ia membungkuk sedikit, lalu dengan satu gerakan halus mengangkat Su Qing dan membawanya pergi.
Tak lama kemudian, benteng kembali sunyi.
Angin kembali berembus.
Daun-daun kering berputar di udara, lalu jatuh perlahan.
Senja berubah menjadi malam.
...
Malam hari.
Ketika Chen Yuan terbangun kembali, dia tidak lagi berada di benteng terbengkalai. Dia berbaring di atas tempat tidur keras yang terbuat dari bambu di sebuah tempat yang memiliki satu ruangan seluas lima puluh meter persegi yang hanya dipisahkan oleh tirai kain.
Di tengah ruangan terdapat ruang makan, disana ia bisa mencium aroma bubur nasi dan sayur-sayuran. Ujung sebelah kanan adalah kamar Chen Xing’er, sedangkan sebelah kiri kamar Chen Yuan. Adapun pintu, ruang keluarga, dan dapur berada dalam satu garis lurus dengan ruang makan.
Melihat pemandangan sangat indah ini, Chen Yuan tak kuasa mendesah pelan. Ia berjalan mendekati meja makan dan tanpa ragu menghabiskan semua makanan, meski sulit ditelan.
“Sialan, kali ini aku sangat marah. Apa-apaan ini? Dimana kasur empuk dan hangat yang kulihat dalam ingatan? Lebih baik aku kembali kemasa lalu, ke rumahku yang dulu,” Ia berhenti sejenak, “Apakah aku dulu punya rumah? Jika dipikir-pikir aku bahkan tidak punya keluarga, apalagi rumah yang tetap, benarkan?”
Chen Yuan menghela nafas dalam-dalam, ia hendak kembali tempat tidur. Tepat saat itu, pintu terbuka dan Chen Xing’er masuk, menggunakan piyama sederhana.
Langkah ringan saat mendekat.
Ia berdiri di sisi lain meja makan, memandangnya tanpa berkata apa-apa. Untuk sesaat, hanya suara angin yang menyelinap dari celah jendela bambu.
“Kau sudah bangun,” ucapnya pelan.
Chen Yuan tidak langsung menanggapi.
Ia berjalan mendekati Chen Xing’er, menatap bekas luka di wajahnya yang menyengat matanya. Entah kenapa, kemarahan menggebu-gebu dalam hatinya. Ia bertanya, “Bekas luka itu… siapa…”
Chen Xing’er menatap Chen Yuan dan berkata, “Tentu saja, aku.”
Chen Yuan kebingungan.
Chen Xing’er duduk di bangku meja makan, dan dengan suara lembut berkata, “Ibu adalah wanita yang sangat cantik, tetapi bakatnya tidak terlalu tinggi. Aku tidak hanya mewarisi penampilannya, tetapi juga..”
“Berapa lama aku tidak sadarkan diri?” potong Chen Yuan.
Chen Xing’er langsung cemberut, dia melanjutkan.
“...Ketika kamu tidak pulang selama lima hari, aku yang selalu diam di kediaman keluarga Chen, mencarimu dan memperhatikan bahwa penampilanku terlalu mencolok dan pandangan orang-orang itu menjengkelkan.”
Ia berhenti sejenak, lalu berkata, “Kau pingsan tiga hari.”
Chen Yuan terkejut. “Tiga hari?”
Chen Xing’er mengangguk. “Kau bahkan berhenti bernafas, ku pikir aku harus segera menguburmu, tetapi berkat kakak perempuan tertua, aku jadi tahu bahwa kamu belum mati!”
Chen Yuan tersenyum tipis. “Masih hidup, bukan?”
“Itu bukan hal lucu,” Nada suara Chen Xing’er sedikit meninggi, namun segera mereda. “Lain kali kau harus rendah hati, jangan bertindak sembarangan. Kakak tertua bilang, kau membakar esensi darah secara berlebihan. Meskipun aku tidak tahu, pasti harga yang kamu bayar sangat mahal, bahkan bisa merusak bakatmu.”
Chen Yuan terdiam.
Keheningan turun.
Chen Xing’er menunduk. Ujung rambutnya berserakan di meja makan. Ia berkata lirih, “Aku tidak memintamu melakukan itu.”
Chen Yuan mendesah pelan. “Baiklah! Lain kali aku akan–”
“Kau pembohong,” potong Chen Xing’er tiba-tiba, matanya memerah secara perlahan. “Aku tahu apa yang terjadi padamu! Kau selalu bilang itu dan itu lagi.”
Chen Yuan menatapnya lama.
“Aku tahu.”
Dua kata sederhana itu membuat Chen Xing’er terdiam.
“Ah-Yuan! kau adalah satu-satunya keluarga yang kumiliki sekarang.” Suaranya lebih rendah dari biasanya. Tangannya sedikit bergetar dan melanjutkan, “Tapi… aku senang kau sedikit berubah!”
Chen Yuan mengernyit. “Berubah?”
“Kau lebih tenang sekarang,” Chen Xing’er menatapnya lurus. “Dulu kau ceroboh, pikiranmu hanya ada berlatih dan terus berlatih. Tapi sekarang…” Ia berhenti sejenak. “Sekarang kau seperti orang lain, sangat dingin, bahkan sangat kaku”
Jantung Chen Yuan berdetak sedikit lebih keras.
Apa aku ketahuan? Tidak mungkin, jelas-jelas aku sudah meniru dengan sangat baik! Untuk apa aku merasa bersalah? Toh aku adalah dia.
Ini mungkin tidak adil baginya.
Menyadari bahwa wajah Chen Yuan masih pucat, Chen Xing menghela nafas dalam-dalam. Ia mengeluarkan botol giok kecil dari lengan bajunya, dan berkata, “Ah-Yuan! kau baru saja pulih, istirahatlah sebentar. Katanya ramuan ini sangat berkualitas dan bisa mengisi kembali esensi darahmu yang hilang.”
Chen Yuan mengerutkan kening. “Kau tidak perlu—”
“Kau sangat perlu,” Potong Chen Xing’er, meletakkan botol tersebut di tangan Chen Yuan. “Mereka bilang, membakar esensi darah sama dengan membakar umur.”
“Ibu memintaku untuk menjagamu, tetapi kamu terlalu pemalu, selalu menelan semuanya sendirian. Kalau kau jatuh… aku sendirian.” tambahnya lirih, suaranya benar-benar pecah.
Chen Yuan menatap botol giok itu lama. Lalu, perlahan, ia mengangkat tangan dan menepuk kepala Chen Xing’er dengan lembut. “Kamu tidak akan sendirian, aku janji, aku pasti hidup lebih lama darimu.”
Chen Xing’er membeku sesaat, lalu menepis tangannya dengan wajah muram dan kesal. “Jangan perlakukan aku seperti anak kecil!” Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan. “Kau mungkin bisa hidup ratusan tahun, tetapi aku tidak… kadang aku berpikir semuanya tidak adil!”
Chen Yuan tersenyum getir tanpa menanggapi. Ia berjalan ke arah tempat tidur, lalu duduk bermeditasi. Botol kecil itu dibukanya, dan tanpa ragu ia menelan ramuan di dalamnya.
Ia menutup mata.
Sensasi hangat perlahan menyebar ke seluruh tubuhnya, meredakan sisa-sisa nyeri yang masih tertinggal. Namun ia tahu, ini hanyalah cairan spiritual biasa. Esensi darah yang hilang tak mungkin pulih dalam waktu singkat.
Satu jam berlalu.
Ia membuka mata dan menatap ke luar jendela. Langit malam membentang luas, sunyi dan dalam. Meski sederhana, suasana kamar itu terasa begitu hangat baginya yang selalu sendirian.
Untuk pertama kalinya, ia merasakan sesuatu yang hampir tidak pernah dirasakan setelah mengunci segalanya atas dasar pertukaran.
“Ah-Yuan…”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...