SEKUEL DARI CINTA LAMA BELUM KELAR
Dalam kisah ini didominasi perjalanan cinta antara Sasa dan Sakti, restu orang tua dari Sakti yang belum juga turun, meski pernikahan mereka sudah berjalan kurang lebih 5 tahun, bahkan kedua anak Iswa sudah sekolah, namun hubungan mertua dan menantu ini tak kunjung membaik.
Kedekatan Sakti dan kedua anak mendiang adiknya, Kaisar, Queena dan Athar membuat Sasa overthinking dan menuduh Sakti ada fair dengan Iswa. Setiap hari mereka selalu bertengkar, dan tuduhan selingkuh membuat Sakti capek.
Keduanya memutuskan untuk konsultasi pernikahan pada seorang psikolog yakni teman SMA Sakti, Mutiara,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MAU PISAH
Sampai malam, Sakti tak kunjung datang. Sasa semakin terbawa curiga dengan pikirannya. Setahu dia hanya piknik, apakah sampai menginap? Ia pun menurunkan ego untuk chat pada sang suami.
Pulang gak? tanya Sasa sudah diambang kekesalan sampai ubun-ubun. Sejak tadi tak ada kabar, meski Sasa jalan juga tiap beberapa waktu cek ponsel, namun nihil. Berkali-kali Sasa menghela nafas, hatinya gusar dan terus membatin.
Mereka tadi ngobrol berdua gak ya?
Sakti pasti nyaman banget ngobrol sama Iswa, sampai lupa gak kasih kabar ke aku.
Mama dan papa pun pasti merestui, sekarang Iswa menantu kesayangan, tak perlu cari pengganti Kaisar jauh-jauh cukup Sakti.
Sial. Sampai kapan aku punya prasangka kayak gini.
Sakti sadar gak sih, sikap cuek kamu begini semakin membuatku ingin pisah sama kamu semakin besar.
Aku sudah rela, Sakti kalau menjadi jandamu. Gak akan pernah ada alasan kuat buat bertahan. Aku tahu cinta kamu sudah luntur. Cintamu pada keluarga juga terlalu besar dibanding padaku.
Sampai malam, Sakti tak memberi kabar, Sasa iseng cek status Iswa, siapa tahu dia upload foto atau apa yang menunjukkan piknik mereka. Dugaan Sasa benar, ada satu foto selfi yang diunggah Iswa. Dalam foto itu hanya ada Iswa dan kedua anaknya berlatar belakang langit malam dengan bintang serta cahaya api unggun. Iswa menuliskan caption.
Bermalam di sini, sangat menyenangkan. Coba kalau ada papa Kaisar, pasti semakin menyenangkan ya Kidz. 😍😍.
"Ternyata mereka menginap," ucap Sasa sendu. Ia tertawa meremehkan dirinya yang terlalu berharap Sakti peka. Nyatanya Sakti lebih berpihak pada keluarganya.
"Akan aku pastikan setelah ini kita menjadi mantan Sakti, aku sudah tidak kuat. Pikiranku terlalu buruk memikirkan kamu dan Iswa," gumam Sasa sendu. Ia menangis sendiri di dalam kamar, dadanya terlalu sesak. Hubungan suami istri selama 5 tahun berada di ujung tanduk.
Sasa pun terpaksa tengah malam chat pada Mutiara. Setidaknya berbagi kegundahan malam ini.
Malam Bu Muti, maaf mengganggu malam-malam. Saya sedih sekarang, Mbak. Pikiran saya berisik memikirkan Sakti dan adik iparnya. Memang mereka liburan bersama mama dan papa juga, tapi apa mereka bisa berjauhan. Gak mungkin kan Mbak. Sebagai istri saya sangat curiga. Sakti dichat juga tidak balas. Saya capek begini terus. Kenapa dia tidak mengerti saya? Sampai kapan saya harus menerima kenyataan kalau dia lebih memihak keluarganya daripada saya?
Boleh kah saya tanya, bagaimana prosedur untuk bercerai Bu Muti? Saya sangat capek. Daripada saya gila, lebih baik saya mundur.
Tentu saja chat itu tak dibalas Mutiara, jelas sang psikolog itu sudah tidur apalagi ini tengah malam. Sasa kembali menangis hingga tertidur.
Mutiara baru balas setelah shubuh. Perempuan itu kaget membaca pesan Sasa, sepertinya beban mental Sasa sudah sangat berat. Mutiara bisa membayangkan Sasa tadi malam kacau dengan pikirannya dan pasti menangis. Mutiara agak kesal dengan Sakti, kok bisa secuek itu dan terlihat tak punya effort untuk menjaga perasaan Sasa.
Maaf Mbak Sasa, baru balas. Saya tahu bagaimana perasaan Mbak Sasa bagaimana. Tentu sakit, baik hati maupun pikiran. Bisa kita bertemu agar Mbak lebih legowo?
Mumpun minggu, suami Mutiara juga sedang ke luar kota, biarlah dia meluangkan waktu di hari minggu untuk membantu kliennya. Sasa pun membalas saat bangun tidur, Baik Bu Muti. Sasa pun menyebutkan cafe untuk bertemu, dan jam 10 dirasa waktu yang pas untuk mereka bertemu.
Sampai pagi ini, Sakti tak memberi kabar. Hanya saja pesan Sasa sudah dibaca. Tekad Sasa sudah bulat, dia tidak akan mengharap kepekaan Sakti lagi.
Sasa sekarang mau siap-siap untuk bertemu dengan Mutiara, satu-satunya orang yang dipercaya Sasa sebagai tempat berbagi keluh kesahnya.
Penampilan Sasa masih seperti seorang gadis kuliahan, awalnya dia itu sexi, di beberapa area menonjol, itu juga menjadi alasan Sakti tertarik padanya. Namun seiring berjalannya waktu, menikah dengan Sakti dia semakin kurus. Terlalu banyak pikiran membuatnya kehilangan bobot secara signifikan, meski memakai pil KB juga.
Sasa langsung memeluk Mutiara saat bertemu, spontan menangis saja. Ia capek, sangat capek menjalani pernikahan ini, sehingga bertemu dengan ahlinya membuatnya menemukan rumah yang nyaman dan mengerti akan keadaannya, meski Mutiara akan bersifat profesional dan netral.
Mereka berbincang basi-basi terlebih dulu, hingga Mutiara menanyakan kamu mau apa?
"Aku ingin cerai, Mbak. Aku pikir rumah tanggaku sudah gak bisa diperbaiki lagi, pulang konsultasi dulu, kita malah saling diam. Dan bingung harus melakukan apa. Kalau pun mau bicara dari hati ke hati kayaknya gak bakal ada titik temu."
"Kamu gak mau mencoba memahami keinginan Sakti? Siapa tahu dengan kamu menuruti keinginan Sakti, terutama dekat dengan keluarganya dia berubah?"
Sasa menggeleng, "Aku insecure pada keluarganya Bu, latar belakangku yang tak punya ayah, membuat aku enggan dekat dengan keluarga Sakti, Bu!"
Sasa pun menceritakan bagaimana kesan pertama bertemu orang tua Sakti dulu, sampai tercetus Queena menyebut onyet, betapa sakitnya Sasa dianggap seperti monyet. Jelas ia tak terima dan itulah yang membuat ia enggan dekat dengan keluarga Sakti.
"Aku ingin Sakti adil, Bu. Dia bisa bersama keluarganya dan aku. Di saat bersama keluarganya dia ingat aku, dan saat bersamaku ya fokus ke aku saja. Tapi Sakti enggak, dia maunya sama keluarganya terus, bahkan sedikit memaksa aku untuk masuk ke keluarganya."
Mutiara menghela nafas, " Mbak Sasa, Sakti ingin dekat dengan keluarga karena ia tak ingin menyesal kedua kali, dia sudah kehilangan sang adik di saat Sakti dekat dengan Mbak. Dia berniat begitu karena ingin merangkul Mbak dan keluarganya, agar dia tidak menyesal lagi. Berat juga sebagai Sakti, Mbak."
"Aku tahu, Bu. Oleh sebab itu, aku gak bisa menuruti keinginannya, aku masih sakit hati dengan sikap mama dan papanya. Aku merasa mama dan papa Sakti hanya mau Iswa saja sebagai menantu," ujar Sasa masih kekeh dengan overthinkingnya.
"Untuk keputusan pisah, saya tidak bisa terlibat, Mbak. Saya hanya memberi saran untuk tetap perbaiki komunikasi dan saling introspeksi, karena memang menikah itu ibadah paling berat dan lama. Saling memaafkan, saling memahami, agar kita mendapat surga di akhirat nanti," ucapan Mutiara memang sangat teduh, sedikit mengetuk hati Sasa yang memang sama sekali tidak pernah menjalankan ibadah. Berbeda dengan Sakti, dia sempat ikut kebiasaan Sasa, tapi semenjak Kaisar meninggal, Sakti kembali rajin beribadah. Sakti juga sering mengingatkan Sasa, namun Sasa enggan untuk melakukan. Baginya ya buat apa menjalani ibadah apalagi disuruh Sakti, sedangkan Sakti sendiri tak mau menuruti keinginannya untuk jaga jarak pada Iswa.
"
eh kok g enak y manggil nya