"Mulutmu harimaumu"
Demikian lah peribahasa sederhana yang seringkali kita dengar. Dijadikan pengingat agar kita berhati-hati dalam bertutur kata.
Sayangnya itu tak berlaku untuk seseorang di luar sana. Dengan ringan lisannya berucap tanpa peduli imbas negatif yang ditimbulkan.
Malam-malam yang tenang dalam sekejap berubah jadi menegangkan.
Hadirnya sosok tak kasat mata yang selalu mengawasi, tak hanya membawa rasa sakit tapi juga ketakutan.
Lalu siapa yang bisa bertahan sampai akhir, 'dia' atau mereka ...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ummiqu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Kenapa ... ?
Saat Sastro pergi bersama Danu menuju rumah ustadz Firman, di saat yang sama Sartika berhasil menenangkan Laras. Gadis itu sudah berhenti menangis dan mau bicara.
Ternyata dugaan Sartika tepat. Laras menangis setelah mendengar berita tentang Ginah yang menjadi hantu gentayangan. Yang membuat Laras makin sedih karena sang ibu dituduh menjadi tumbal dari pesugihannya sendiri.
"Aku sedih Bulik. Orang-orang nuduh ibu kaya raya karena pake pesugihan dan meninggal gara-gara telat ngasih tumbal. Apa mereka lupa kalo ibu pernah kerja di luar negeri dulu. Uang pesangonnya itu lah yang diolah bareng bapak hingga berkembang dan bikin ibu kaya raya seperti sekarang," kata Laras sambil menyeka air matanya.
"Iya, bulik inget kok. Harusnya kamu bisa tetep waras dan ga usah kepancing sama tuduhan ga berdasar itu Ras. Kita tau, yang ngomong begitu cuma orang yang iri sama kesuksesan orangtuamu," kata Sartika.
"Aku udah berusaha ga kepancing tapi susah Bulik," sahut Laras.
Sartika tampak menghela nafas kasar mendengar jawaban keponakannya itu.
"Jangan-jangan ini karena ulah ibu sendiri," kata Laras tiba-tiba.
"Maksudmu apa Ras?" tanya Sartika tak mengerti.
"Andai ibu ga terlalu banyak menghina orang semasa hidupnya, mungkin ga akan kaya gini jalan ceritanya. Orang-orang pasti bisa menghargainya dan mendoakan kepergiannya dengan tulus," sahut Laras gusar.
"Sssttt ... ga usah ungkit itu lagi ya Nak. Mendoakan ibumu adalah tugasmu bukan tugas mereka. Kalo ada gosip yang bilang ibumu gentayangan semalam, kamu ga perlu cemas. Kamu kan bisa bantu menetralisirnya dengan doa dan sedekah. In syaa Allah setelahnya arwah ibumu bisa tenang dan ga mengganggu orang lagi," kata Sartika.
"Apa segampang itu Bulik?. Bukannya orang yang gentayangan setelah meninggal dunia disebabkan ada urusannya yang belum selesai?" tanya Laras.
"Iya sih. Tapi sementara ini cuma itu yang bisa kita lakukan Ras. Mudah-mudahan sebentar lagi bapakmu pulang dan bawa solusi lain untuk masalah ini," sahut Sartika.
Laras pun mengangguk. Dia berharap setelah berdoa dan sedekah nanti, arwah sang ibu tak gentayangan dan mengganggu warga lagi.
Sejujurnya Laras merasa takut. Apalagi saat teringat suara wanita yang memanggilnya semalam. Suara itu mirip dengan suara sang ibu. Entah mengapa mengingatnya membuat bulu kuduk Laras meremang seketika.
\=\=\=\=\=
Malam telah turun, suasana yang semula temaram kini menjadi gelap gulita.
Jam baru menunjukkan pukul tujuh malam tapi suasana desa nampak sepi.
Sejak berita Ginah gentayangan tersebar, warga yang biasanya masih berada di luar rumah pun memilih berdiam di dalam rumah.
Jika di desa terlihat sunyi dan mencekam, di area pemakaman justru sebaliknya. Area pemakaman yang semula tenang dan sunyi itu kini tengah dilanda badai. Angin besar yang entah darimana asalnya nampak bertiup kencang. Angin itu menghantam apa pun yang ditemui, pohon-pohon, tiang lampu penerang di tengah area pemakaman, juga nisan-nisan yang berdiri kokoh di bagian kepala tiap makam.
Tak seorang petugas makam pun tahu apa yang terjadi di area pemakaman malam itu. Sama seperti warga lainnya, para petugas yang biasanya bertugas menjaga keamanan makam lebih memilih tinggal di rumah karena takut dihantui pocong Ginah.
Setelah berhembus liar hampir sepuluh menit, angin itu akhirnya berhenti dan meninggalkan kondisi yang kacau balau. Pohon tumbang, lampu penerangan di tengah pemakaman padam, beberapa papan nisan tampak tercabut dari tempatnya dan beberapa gundukan tanah makam tampak terburai berantakan.
Seolah tak ingin memberi jeda, tiba-tiba sesuatu kembali terjadi.
Makam Ginah yang masih terlihat baru itu tiba-tiba bergetar. Diiringi suara gaduh yang tak lazim, tanah di tengah gundukan makam perlahan terbuka. Detik berikutnya sesuatu berupa potongan tangan sebatas siku keluar dari dalam tanah.
Bersamaan dengan keluarnya potongan tangan itu, di kejauhan terdengar suara jeritan, penuh getaran dan ketakutan. Nampaknya telah terjadi sesuatu yang membuat pemilik suara menjerit seperti itu.
\=\=\=\=\=
Di tempat dimana suara jeritan itu berasal terlihat seorang wanita sedang terduduk di lantai. Kedua matanya menatap nanar ke satu arah dengan tatapan tak berkedip. Wanita itu adalah Padmi.
Sebelumnya, seperti yang dilakukan warga lainnya, Padmi juga mulai mengunci pintu dan jendela menjelang Maghrib. Setelahnya dia menemani anak-anaknya yang berusia tiga dan delapan tahun itu bermain di ruang tengah. Entah mengapa menjelang pukul tujuh kedua anak Padmi telah terlelap di atas karpet. Padmi senang karena bisa membuat kedua anaknya tidur lebih awal.
Setelah membaringkan kedua anaknya di kamar, Padmi kembali ke ruang tengah untuk menyusun mainan dan merapikan ruangan.
Saat sedang menyusun mainan, tiba-tiba Padmi mendengar pintu rumahnya diketuk. Bersamaan dengan itu terdengar suara seorang pria yang memanggil namanya.
"Mau ngapain lagi sih dia ke sini. Bukannya urusanku sama dia udah selesai ya," gumam Padmi kesal.
Padmi pun mengabaikan panggilan dari balik pintu itu dan berhasil. Tak lama kemudian Padmi mendengar langkah kaki yang menjauh dari pintu. Padmi merasa lega karena mengira pria itu telah pergi meninggalkan rumahnya.
Namun sayang ketukan lain kini terdengar dari jendela samping. Mengingat posisi jendela yang agak tersembunyi, Padmi mulai menimbang-nimbang.
"Di situ kan ga keliatan dari mana-mana. Jadi ga bakal ada orang yang ngeliat apa yang aku lakukan. Kayanya aman deh kalo aku temuin dia di sana," gumam Padmi sambil bangkit dari duduknya.
Padmi bergegas melangkah ke jendela samping. Setelah menyibak gorden, dia pun membuka kunci daun jendela. Namun belum sempat jendela terbuka sepenuhnya, Padmi dibuat terkejut saat menyadari sesuatu yang berdiri di balik jendela itu bukan lah pria yang dia kenal melainkan sosok lain yaitu pocong.
Meski hanya berdiri tanpa melakukan sesuatu, tapi kehadiran pocong itu membuat Padmi terkejut. Yang membuat Padmi makin terkejut karena kain penutup wajah sang pocong tiba-tiba tersibak. Dari jarak yang sangat dekat Padmi bisa melihat wajah yang sangat dia kenali, pucat membiru dengan kapas yang menyumbat lubang hidung dan mata yang melotot.
Sadar yang dia hadapi bukan manusia, Padmi pun menjerit. Suara jeritan itu lah yang terdengar hingga ke area pemakaman di ujung desa tadi.
Padmi yang ketakutan pun tak bisa menguasai diri. Tubuhnya limbung lalu jatuh terjengkang ke lantai. Dia berusaha menjauh dari jendela tapi gagal. Seolah ada sesuatu yang menahan tubuhnya, Padmi nampak kesulitan bergerak untuk beberapa saat.
Setelah berhasil menguasai diri Padmi pun lari menjauhi jendela menuju kamar tempat kedua anaknya berbaring. Dengan tangan gemetar Padmi berusaha mengunci pintu tapi gagal.
"Ayo lah, kenapa ga bisa sih," gumam Padmi gusar.
Saat Padmi sedang berusaha mengunci pintu kamar, tiba-tiba terdengar suara gaduh lain dari arah jendela kamar. Padmi refleks menoleh dan terkejut mendapati pocong yang sama sedang menggedor jendela kamar menggunakan kepalanya. Pocong itu terlihat marah dan itu membuat Padmi makin takut.
"Duk ... duk ... duk ...,"
Padmi kembali menjerit lalu lari keluar kamar. Tapi tiba di tengah ruangan dia terkejut melihat pocong itu sudah berada di sana dan berdiri menghadang. Kali ini tak hanya berdiri, pocong itu juga mengatakan sesuatu yang membuat persendian tubuh Padmi seolah tanggal satu per satu.
"Padmi .... Aku kira selama ini kita teman. Tapi kenapa kamu tega nyuruh orang untuk mengotori tempatku. Kamu tau kan apa akibatnya. Kamu jahat Padmi ...," kata pocong itu dengan suara berat.
"Gi-Ginah ... ," kata Padmi dengan suara terputus-putus.
Hanya itu yang bisa Padmi ucapkan. Karena sesaat setelahnya tubuh Padmi merosot ke lantai lalu jatuh tak sadarkan diri.
\=\=\=\=\=
bru baca soalnya