Bagaimana jika saat kamu lupa segalanya, pria tertampan yang pernah kamu lihat mengaku sebagai kekasihmu? Apakah ini mimpi buruk...atau justru mimpi jadi nyata?"
Content warning:
Slow Pace, Psychological Romance, Angst.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Achromicsea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa takut 2
Dadaku terasa panas, tapi juga kosong.
"Aku bangun tiap hari mikirin kamu," lanjutnya cepat, seolah takut aku menyela. "Mikirin kamu aman atau nggak. Kamu capek atau nggak. Kamu masih di sini atau kamu bakal sadar kalau sebenarnya kamu nggak butuh aku."
Matanya berkaca-kaca lagi.
"Aku nggak sanggup kehilangan kamu," katanya lirih. "Aku bener-bener nggak sanggup."
Aku menelan ludah. Tenggorokanku terasa kering.
"Aku pengen jadi orang yang kamu pilih," katanya. "Bukan cuma sekarang. Tapi nanti juga. Aku pengen jadi satu-satunya orang yang pantas buat kamu. Yang jagain kamu. Yang ngerti kamu."
Nada suaranya terdengar seperti seseorang yang sedang memohon agar tidak disingkirkan dari hidup orang yang ia cintai.
"Aku tahu aku nggak sempurna," katanya. "Aku tahu aku kadang berlebihan. Tapi semua itu karena kamu penting buat aku. Karena kamu satu-satunya hal yang bikin aku ngerasa hidup aku ada artinya."
Kalimat itu membuat dadaku bergetar halus.
Ia mengusap wajahnya kasar, lalu menatapku lagi, kali ini lebih rapuh dari sebelumnya.
"Kalau kamu pergi," katanya pelan, hampir seperti bicara pada dirinya sendiri, "aku nggak tahu aku masih jadi apa."
Aku berdiri di sana, mendengarkan semuanya, merasa dadaku penuh oleh sesuatu yang sulit aku beri nama. Ada kehangatan. Ada rasa tersentuh. Tapi juga ada tekanan yang perlahan menumpuk.
Aku mencintai caranya menatapku.
Aku takut pada caranya bergantung padaku.
Tanganku akhirnya naik, menyentuh pergelangan tangannya pelan.
"Ven," kataku pelan. "Aku di sini."
Ia langsung menunduk, keningnya menyentuh bahuku. Nafasnya bergetar lagi, lebih berat.
"Jangan pergi," bisiknya. "Tolong."
Arven mengangkat wajahnya lagi. Matanya merah, basah, dan tidak berusaha disembunyikan.
"Cuma kamu dunia aku, Ren," katanya pelan. Setiap kata keluar dengan susah payah. "Dunia aku satu-satunya."
Tangannya naik lagi ke pipiku, ibu jarinya menyentuh kulitku dengan hati-hati, seperti aku bisa retak kalau disentuh terlalu keras.
"Aku nggak punya siapa-siapa selain kamu," lanjutnya. "Semua yang aku lakuin, semua yang aku jaga, semua yang aku tahan itu buat kamu."
Dadaku terasa sesak.
"Aku tahu ini kedengeran egois," katanya cepat, suaranya mulai goyah lagi. "Tapi aku nggak bisa bohong. Kamu pusat hidup aku. Kalau kamu pergi, semuanya runtuh."
Ia menarikku lagi ke dalam pelukannya. Kali ini lebih erat. Terlalu erat. Lengannya melingkar di punggungku, jemarinya mencengkeram kain bajuku seperti jangkar terakhir.
"Aku mohon," bisiknya di rambutku. "Jangan ambil satu-satunya hal yang aku punya."
Aku memejamkan mata.
"Aku nggak tahu kalau kamu ngerasa sejauh itu," kataku lirih, suaraku basah. "Aku nggak pernah mau jadi orang yang nyakitin kamu."
Tangisku akhirnya pecah juga.
"Aku cuma capek, Ven," lanjutku sambil terisak. "Aku capek bingung. Capek nggak ngerti diri aku sendiri. Tapi bukan berarti aku mau ninggalin kamu."
Pelukannya mengencang lagi, seolah kata-kataku jadi satu-satunya pegangan yang ia punya.
"Aku di sini," bisikku berulang, lebih untuk menenangkannya daripada diriku sendiri. "Aku di sini sama kamu."
Napasnya terdengar patah-patah di telingaku. Aku bisa merasakan air matanya jatuh ke bahuku, hangat, nyata.
"Aku takut," katanya akhirnya, suaranya nyaris hilang. "Takut kamu sadar suatu hari nanti terus aku bukan siapa-siapa lagi buat kamu."
Hatiku terasa nyeri mendengarnya.
Aku menggeleng pelan meski ia tidak bisa melihatnya. Tanganku mengusap punggungnya berulang kali, gerakan kecil yang spontan, seperti refleks.
"Kamu berarti buat aku," kataku jujur, sambil menangis. "Kamu ada di saat aku paling kosong. Kamu jagain aku waktu aku bahkan nggak ngerti siapa aku."
Aku menarik napas gemetar.
"Aku nggak kuat kalau kamu nyakitin diri kamu sendiri dengan pikiran kayak gitu."
Kami menangis dalam pelukan yang sama. Tidak ada yang mencoba berhenti lebih dulu. Tidak ada yang berpura-pura kuat.
Namun, di saat yang sama sekelebat ingatan menembus kepalaku, tiba-tiba, saat aku masih menempel di dadanya. Setahun lalu. Tubuhku terbaring di jalan, pandangan kabur, napasku terengah. Di seberang jalan, seorang pria tak sadarkan diri. Wajahnya Bima.
Tubuhku menegang. Dada sesak. Kenapa Bima? Kenapa wajahnya yang muncul, dan bukan Arven.
Aku merasa pusing, dunia di sekitarku seperti melayang. Napasku tersendat, jantungku berdetak liar.
Arven bergerak cepat, tangannya menggenggam lenganku dengan lembut tapi tegas. Ia menunduk, menatap mataku seolah ingin menahan aku tetap di sini. Napasnya berat, cepat, tapi ia berusaha menahan diri agar tidak panik berlebihan. Setiap gerakan tangannya, setiap sentuhan, berusaha menenangkan, menahan aku yang goyah.
Tangannya menyusuri lenganku, menekan sedikit di bahuku, seperti memberi penopang. Matanya tidak lepas dari wajahku.
"Ren..? Ren.. kamu kenapa?"
Tubuhku semakin lemah, pandanganku mulai memudar, dan aku merasakan dunia perlahan menutup.
Aku mencoba fokus padanya, ingin menjawab, ingin menggenggam tangannya, tapi tubuhku tak mampu menahan lagi. Pandangan menjadi gelap, tubuhku goyah, napasku tersendat.
Arven memutar tubuhku perlahan, menopang punggungku, menekan aku ke dadanya. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang cepat dan napasnya yang terengah.
Tubuhku akhirnya tidak kuat lagi. Aku merasa berat, meleleh ke dalam pelukannya. Tubuh Arven menyesuaikan, menahan aku agar tidak jatuh.
Dan perlahan gelap menelan segalanya. Aku kehilangan kesadaran di pelukan Arven. Yang tersisa hanya tubuhnya yang menahan aku, napasnya yang tersengal, dan detak jantungnya yang panik.