Tokoh utama nya adalah pria bernama Reza (30 tahun) .Dia bukan Pahlawan, dia bukan orang kaya ,dia cuma pria yang merasa hidupnya sudah tamat karena hutang, patah hati, Dan Rasa bosan.
dia memutuskan untuk pergi secara terencana .dia sudah menjual semua barang nya , menulis surat perpisahan yang puitis, dan sudah memilih Gedung paling tinggi. tapi setiap kali ia mencoba selalu ada hal konyol yang menggagal kan nya , misalnya pas mau lompat tiba tiba ada kurir paket salah alamat yang maksa dia tanda tangan. Pas mau minum obat, eh ternyata obatnya kedaluwarsa dan cuma bikin dia mulas-mulas di toilet seharian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harapan
Pagi itu, Jakarta tidak menyambut Reza dengan pelukan hangat. Kota ini justru menyapa dengan polusi yang menyesakkan paru-paru dan suara klakson yang saling bersahutan . Reza berdiri di depan cermin kecil yang retak di kamar mandi, menempelkan plester cokelat lebar di lehernya. Ia harus menyembunyikan "bekas merah " itu. Ia tidak ingin orang-orang melihatnya sebagai pria yang gagal mengakhiri hidup; ia lebih suka dianggap sebagai pria yang baru saja mengalami kecelakaan motor kecil.
Anya masih tertidur di lantai beralaskan jaket tebal milik Reza. Wajahnya saat tidur terlihat jauh lebih tenang, meskipun sisa-sisa air mata masih membekas di bantal daruratnya. Reza tidak tega membangunkan wanita itu. Ia meletakkan uang Rp 10.000 terakhirnya di atas lantai cukup untuk membeli dua buah roti sobek di warung bawah lalu ia melangkah keluar dengan sepatu kets yang solnya sudah mulai menganga.
Tujuannya hanya satu: mencari kurir ayam geprek kemarin.
Logikanya sederhana, namun sedikit putus asa. Jika seorang kurir bisa sangat gigih menggedor pintu orang yang mau bunuh diri demi sebuah foto bukti, maka perusahaan tempatnya bekerja pasti punya standar kegigihan yang luar biasa. Dan Reza, di titik ini, tidak punya apa-apa lagi selain sisa-sisa kegigihan untuk tidak mati kelaparan.
Setelah berjalan hampir empat puluh menit untuk menghemat ongkos, Reza sampai di sebuah gudang distribusi logistik di pinggiran kota. Baunya campuran antara asap knalpot, kardus basah, dan keringat manusia. Di sana, puluhan motor terparkir berjejalan. Orang-orang dengan jaket hijau dan orange hilir mudik membawa paket-paket besar seolah-olah hidup mereka bergantung pada kecepatan detik jam.
"Cari siapa, Mas?" tegur seorang pria paruh baya yang sedang merokok di depan gerbang. Seragamnya bertuliskan 'Koordinator Lapangan'.
"Saya cari kurir yang kemarin kirim ayam geprek ke Apartemen Cendana lantai empat. Namanya... kalau tidak salah di aplikasi tertulis 'Budi'," jawab Reza agak ragu.
Pria itu tertawa kecil, asap rokok keluar dari hidungnya. "Mas, di sini ada lima puluh orang namanya Budi. Mau Budi yang mana? Budi yang motornya mogok, Budi yang anaknya tiga, atau Budi yang habis ditabrak kucing?"
Reza terdiam. Ia baru sadar betapa konyolnya rencananya. Namun, keberuntungan atau mungkin kesialan yang menyamar datang. Sebuah motor bebek tua dengan knalpot berasap masuk ke area gudang. Pengendaranya turun sambil mengomel tentang alamat yang tidak ketemu. Itu dia. Pria muda dengan senyum menjengkelkan yang kemarin menginterupsi maut.
"Woi, Mas Drama!" teriak si kurir saat melihat Reza. "Gimana? Dramanya sukses? Atau butuh properti tali lagi?"
Reza mendekat, mengabaikan ejekan itu. "Namamu Budi?"
"Budi Santoso. Ada apa? Ayamnya kurang pedas? Atau mau kasih bintang satu?" Budi melepas helmnya, menatap plester di leher Reza dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Aku butuh kerjaan," kata Reza langsung. "Apa saja. Aku butuh uang hari ini juga."
Budi terdiam. Tawa di wajahnya hilang, digantikan oleh tatapan menilai yang tajam. Dia melihat sepatu Reza yang rusak, baju Reza yang kusam, dan getaran halus di tangan pria itu. Budi sudah sering melihat orang putus asa, tapi Reza punya jenis keputusasaan yang berbeda—keputusasaan orang yang sudah melihat "ujung jalan" tapi dipaksa berbalik arah.
"Sini," Budi memberi isyarat agar Reza mengikutinya ke belakang gudang.
Di sana, tumpukan kardus menumpuk hingga setinggi langit-langit. Budi menunjuk sebuah tumpukan paket yang ukurannya tidak beraturan. "Ada satu kurir yang mendadak berhenti tadi pagi karena motornya ditarik leasing. Ada sekitar tiga puluh paket yang harus sampai sebelum jam lima sore. Wilayahnya daerah padat, gang sempit, dan banyak anjing galak. Mas punya motor?"
Reza menggeleng. "Motor saya sudah dijual bulan lalu."
Budi menghela napas panjang. "Gila kamu ya. Mau jadi kurir tapi nggak punya motor itu sama saja mau perang tapi nggak punya kaki."
Namun, Budi terdiam sejenak. Ia melihat kunci motor bebek tuanya. "Dengar, aku mau istirahat makan siang dan tidur sebentar. Pakai motorku. Tapi kalau sampai motor ini lecet atau hilang, aku tidak akan lapor polisi. Aku sendiri yang akan gantung kamu pakai tali kuningmu itu. Paham?"
Reza tertegun. "Kenapa kamu menolongku?"
Budi mengangkat bahu. "Karena kemarin kamu pegang ayam geprek itu sambil nangis kayak orang kehilangan dunia. Orang yang bisa nangis gara-gara ayam geprek biasanya masih punya harapan, cuma lagi lupa saja taruhnya di mana. Sudah, sana jalan! Paket nomor empat itu alamatnya ibu-ibu galak, jangan telat!"
Reza memegang kunci motor itu seolah itu adalah benda paling berharga di alam semesta. Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, ia merasakan adrenalin yang bukan berasal dari rasa takut, melainkan dari tanggung jawab.
Selama enam jam berikutnya, Reza berubah menjadi hantu di jalanan Jakarta. Ia memacu motor tua Budi menembus kemacetan yang gila. Ia masuk ke gang-gang yang lebarnya hanya satu stang motor, menghindari jemuran warga, dan berteriak "PAKET!" hingga tenggorokannya sakit. Ia tidak sempat memikirkan Anya, tidak sempat memikirkan hutangnya, bahkan tidak sempat memikirkan lehernya yang perih.
Di paket terakhir, ia sampai di sebuah rumah mewah dengan pagar besi setinggi tiga meter. Penerimanya adalah seorang pria tua yang tampak sangat kesepian. Pria itu menerima paketnya sebuah kotak kecil berisi obat-obatan dan menatap Reza.
"Terima kasih, Nak. Kamu kurir paling cepat minggu ini," kata pria tua itu sambil menyelipkan selembar uang lima puluh ribu ke tangan Reza. "Buat minum kopi. Kamu kelihatan capek sekali."
Reza terpaku melihat uang itu. Itu bukan uang dari hasil menjual barang, bukan uang pinjaman, tapi uang hasil keringatnya sendiri.
Ia kembali ke gudang saat matahari sudah mulai tenggelam, mengubah langit Jakarta menjadi warna oranye kemerahan yang mirip dengan bumbu ayam geprek kemarin. Budi sedang duduk di bangku panjang, menunggunya.
"Nih," Reza menyerahkan kunci motor dan uang setoran hasil pengantaran.
Budi menghitung uangnya, lalu mengambil sebagian dan memberikannya kembali pada Reza. "Ini komisimu hari ini. Kurang dari standar karena kamu pakai motorku, tapi cukup buat beli susu dan makan malam yang layak."
Reza menerima uang itu. "Terima kasih, Bud. Serius."
"Jangan terima kasih padaku. Terima kasih pada ayam geprek itu," Budi nyengir. "Besok datang lagi jam tujuh pagi. Kalau kamu telat, kursinya aku ambil."
Reza berjalan pulang dengan kaki yang terasa seperti mau lepas. Tapi di sakunya, ada uang. Di kepalanya, ada rencana untuk besok. Dan di hatinya, ada sesuatu yang sedikit lebih terang dari kemarin.
Reza tidak pernah menyangka bahwa adrenalin karena amarah jauh lebih membakar daripada adrenalin karena rasa takut. Saat ia mendengar tawa menjijikkan dari dalam apartemennya, rasa lelah di kakinya hilang seketika. Ia mendorong pintu itu dengan satu hantaman keras.