罪から生まれ、 遺産を求める血に追われる。 Tsumi kara umare, isan o motomeru chi ni owareru. (Born from sin. Hunted by blood that demands legacy) Nakamura Noa, gadis miskin yang bekerja serabutan sekaligus merawat ibunya yang sakit parah. Noa dan ibunya yang sedang dalam persembunyian, tidak sadar bahwa klan besar Yamaguchi-gumi telah mengawasi mereka sejak lama. Mereka beranggapan bahwa Noa adalah pewaris roh leluhur Yamaguchi: 'Kuraokami' yang bangkit saat berada diambang batas. Sampai akhirnya Noa dijemput paksa dan dibawa kembali ke dunia kelam para algojo. Ia harus memilih: tunduk pada mereka atau hancurkan warisan yang telah merenggut hidupnya. ⛔️"DILARANG KERAS menyalin atau mengambil ide, alur, plot twist, tokoh, dialog, maupun bagian cerita, baik sebagian maupun seluruhnya, tanpa izin penulis."⛔️ Copyright© 12/07/2025 - SAMSARA. Technical Advisor : Aimarstories Cover : pinterest Dark psychological thriller Dengan gaya sinematic noir - slow burn
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samSara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10 - Irezumi part II
...**...
...檻と棺...
...-Ori to Hitsugi-...
...'Sangkar dan Peti Mati.'...
...⛩️🏮⛩️...
..."Segel dibuat untuk menahan atau memastikan tak ada yang tersisa."...
...⛩️🏮⛩️...
Tinta itu bukan seni. Itu adalah kontrak.
Di dalam ruang batu yang dingin, mantra dibacakan bukan dengan suara keras, tapi dengan napas yang berat.
Pendeta tua berdiri di tengah lingkaran roh, dikelilingi oleh Kuroda, Jin, Torao, dan para Gokaishū yang telah bersumpah atas darah leluhur.
Tangan pendeta gemetar saat membuka gulungan sutra hitam—gulungan yang hanya boleh dibaca ketika dunia di ambang bencana.
Di dalamnya tertulis mantra segel Tenryuu, naga merah penjaga langit, makhluk yang dulu menaklukkan Kuraokami, roh air surgawi yang jatuh ke dalam kebencian. Ia pernah dikalahkan oleh naga langit merah—Tenryuu, dan leluhur pertama Yamaguchi menjadi penjaga perjanjian itu, penyimpan darah penyegel.
Sekarang, kekuatan itu telah bangkit kembali. Dan ia memilih Noa sebagai wadahnya.
"Kuraokami bukan sekadar roh," ujar pendeta pelan. "Ia adalah kekuatan yang menyatu dengan amarah samudera. Bila tidak dikekang... ia akan melahap dunia dari dalam darah pewarisnya sendiri."
...⛩️🏮⛩️...
Tato naga merah itu—dibuat dari tinta bercampur darah klan pertama ditanam langsung di tubuh Noa, menyusuri punggungnya dari bahu kiri ke pinggul kanan.
Bukan sembarang tato. Ini adalah segel hidup, yang dirancang untuk dua tujuan:
Pertama, jika kekuatan Kuraokami keluar dari dalam tubuh Noa, mantra itu bisa dibacakan dan tato akan bangkit, bergerak membungkus seluruh tubuhnya seperti perisai gaib.
Mata ketiga yang ada di kepala naga akan terbuka, lalu menutup kekuatan itu kembali.
Membungkam Kuraokami, memaksa roh itu kembali tidur di dalam tubuh Noa.
Kedua, jika kekuatan itu terlalu besar, atau jika roh Kuraokami menolak dikurung kembali... dengan pembacaan mantra yang dilafalkan secara terbalik—seolah memutar waktu, maka segel itu akan berubah fungsi.
Bukan lagi sebagai kurungan melainkan peti mati.
Segel Tenryuu akan berubah menjadi api penetral, memakan tubuh wadahnya sendiri, membakar daging dan tulang hingga tidak ada tempat bagi roh air untuk berdiam lagi.
"Tato itu akan memakan wadah atau inangnya sendiri," jelas pendeta, dengan suara yang mulai parau. "Ia akan membakar jaringan, memutus nadi, dan menghancurkan tulang satu per satu. Hingga tubuh sang pewaris tak lagi bisa menopang roh leluhur... dan segel pun menjadi kurungan abadi."
Itu berarti kematian bagi Noa.
Tubuhnya akan dikorbankan agar dunia tetap utuh.
Dan tidak ada pilihan. Tidak ada negosiasi.
Jin mengangguk tipis. "Tidak buruk.
Senjata yang bisa dimusnahkan jika membelot."
Kuroda tidak bicara. Tapi dari sorot matanya, jelas ia sudah memperhitungkan segala kemungkinan.
Dan Noa... tidak termasuk dalam rencana masa depan yang panjang.
...⛩️🏮⛩️...
Noa kini tahu semua itu. Tapi tidak sejak awal.
Ia tidak diberi waktu untuk memahami.
Tidak diminta persetujuannya.
Ia hanya tahu bahwa di tubuhnya kini hidup sesuatu yang bukan dirinya.
Dan setiap detak nadi terasa seperti denyut makhluk lain—dingin, purba, dan lapar.
'Kuraokami...'
ia berbisik pelan, 'kenapa aku?'
Tak ada jawaban.
Hanya suara gemericik air yang samar—dan bisikan yang tak berasal dari dunia ini.
Noa, yang masih tergeletak di tengah lingkaran segel, mendengar setiap kata itu menembus ke dalam lapisan pikirannya. Seperti cambuk yang tak bersuara, tapi menghujam sangat dalam.
Darah masih menetes dari punggung Noa, mengalir ke lantai batu. Ia nyaris tak sadarkan diri.
Namun tato naga itu masih berdenyut—masih panas, masih hidup
Bukan hanya tubuhnya yang telah disegel.
Nasibnya pun kini tergantung pada satu suara.
Dan suara itu bukan miliknya.
Noa bukan tuan dari kekuatannya.
Ia tak punya kendali apapun lagi terhadap tubuhnya.
Ia bahkan bukan tuan dari hidupnya sendiri.
...⛩️🏮⛩️...
Pendeta Yagami berdiri di tengah ruangan, tangannya yang kurus menggenggam erat gulungan sutra hitam yang terbuat dari benang suci dan tinta emas murni. Dalam keremangan cahaya pelita, gulungan itu tampak hidup, berdenyut pelan seperti jantung yang lama tertidur.
Setelah mantra dibacakan, setelah tato itu ditanam, dan tubuh Noa nyaris tak bergerak karena kelelahan serta pendarahan, pendeta membuka kembali gulungan itu. Tapi kali ini, suaranya berubah. Lebih berat. Lebih lambat. Seolah setiap kata yang diucapkannya membawa beban sumpah berabad-abad lamanya.
"Segel ini bukan sembarang mantra. Ia bukan alat bebas pakai. Ia hanya tunduk pada satu garis darah utama."
Mata pendeta menatap lurus ke arah Kuroda—sang penjaga dan penasihat klan. Dan untuk sesaat, bahkan udara di ruangan itu ikut menahan napas.
"Hanya pemegang kuasa klan Yamaguchi—yang terdaftar secara rohani dalam silsilah leluhur—yang dapat mengaktifkan segel ini. Baik untuk membungkam, maupun... menghancurkan."
Jin menyipitkan mata. "Apa anda yakin tidak ada pengecualian, sensei?"
Pendeta menggeleng perlahan. "Bahkan pendeta sepertiku tidak bisa menggunakannya tanpa izin langsung dari darah utama. Tinta emas itu... hanya mengenali satu suara. Satu napas. Satu perintah."
"Itulah jaminan... bahwa hanya ketua klan Yamaguchi yang punya hak atas hidup dan matinya tubuh pewaris naga."
Sunyi.
Semua diam.
Masing-masing yang hadir larut dalam pikiran masing-masing. Tapi satu hal yang pasti, mereka sepakat dalam diam bahwa yang bisa mengendalikan Kuraokami hanyalah Oyabun atau salah satu putranya yang naik tahta kepemimpinan kelak. Mungkin. Tidak ada yang tahu sampai itu terjadi.
Mereka melihat ke arah Noa bukan sebagai manusia, tapi sebagai alat senjata yang bisa digunakan, atau dihancurkan.
...⛩️🏮⛩️...
Di ruang pengawasan bawah tanah, Oyabun menyaksikan semua itu lewat layar hitam-putih.
Wajahnya tenang. Tapi matanya menyipit, memperhatikan setiap getar otot Noa, setiap denyut sisik tato itu.
Di sudut ruangan, Akiro menyilangkan tangan. "Apakah semua ini perlu, Otou-sama*?"
Reiji dingin dan metodis, menambahkan, "Benar, Otou-san**, klan Yamaguchi-gumi sudah cukup kuat tanpa harus memakai kekuatan leluhur."
Raizen tidak menoleh.
"Kalian tidak mengerti," katanya pelan.
"Kuraokami adalah kekuatan yang bahkan para pendiri klan takutkan. Jika dibiarkan tumbuh liar, ia akan menelan tubuh Noa dan seluruh garis keturunan kita. Maka segel itu perlu. Dan kendalinya... harus berada di tangan yang tepat."
Kaede diam.
Tapi di balik diam itu, sebuah keputusan mulai tumbuh seperti duri.
...⛩️🏮⛩️...
Malam itu, Noa tertidur tengkurap di lantai ruang karantina.
Tubuhnya masih gemetar. Rasa sakit masih menjerat di bawah kulit punggungnya.
Dan di mimpi buruknya, naga merah itu membuka mata ketiganya.
Mata segel.
Mata leluhur.
Lalu mulai berbisik dalam bahasa yang tak ia pahami.
Bahasa gaib.
Bahasa yang hanya dimengerti oleh sesama entitas gaib lainnya.
Di bawah hujan malam yang deras, ada gerakan kecil di antars semak-semak halaman markas, seekor ular putih kecil merayap keluar dari retakan batu kuil, menatap ke arah rumah utama, sebelum lenyap ke dalam kegelapan.
Dan di waktu yang bersamaan—salah satu lorong, bayangan menumpuk lebih pekat dari yang seharusnya. Bukan pantulan lampu, bukan pula sisa cahaya malam. Melainkan sesuatu yang diam, memperhatikan ruang karantina dari jarak yang cukup jauh. Tak ada langkah. Tak ada napas.
Sesaat sebelum bunyi hujan terdengar lebih keras, kegelapan itu tampak bergeser tipis—bukan menjauh, bukan mendekat lalu kembali menyatu dengan malam, meninggalkan lorong yang kembali tampak normal.
...—つづく—...
...*otou-sama: panggilan kepada ayah yang sangat sopan/formal....
...**otou-san: panggilan kepada ayah yang paling umum dan netral....
disisi lain, noa bener² berjuang bertahan hidup bersama bibi yang memang sebenarnya ibu kandungnya. kondisi yang cukup memprihatinkan untuk mereka berdua yang sebatang kara
sungguh alur cerita ini membuat penasaran untuk terus membacanya
kuat banget udahan, pengambilan konfliknya juga menarik. Geisha, si penghibur yang dihargai di Jepang. pasti si Rin ini cantik banget sampai kayaknya jadi pusat. Btw kakak Author kamu risetnya jalur film apa pernah kesana, bisa buat setting yang jepang banget 👍