Semua orang tahu Lady Liora Montclair adalah aib bangsawan.
Tubuhnya gendut, reputasinya buruk, dan ia dipaksa menikahi Duke Alaric Ravens, jenderal perang paling dingin di kekaisaran, setelah adiknya menolak perjodohan itu.
Di hari pernikahan, sang Duke pergi meninggalkan resepsi. Malam pertama tak pernah terjadi.
Sejak saat itu, istana penuh bisik-bisik.
"Duke itu jijik pada istrinya karena dia gendut dan jahat."
Namun tak seorang pun tahu, wanita gendut yang mereka hina menyimpan luka, rahasia, dan martabat yang perlahan akan membuat dunia menyesal telah meremehkannya.
Dan ketika Duke Alaric akhirnya tahu kebenarannya, mereka yang dulu tertawa, hanya bisa berlutut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27. HARI KEBERANGKATAN
Fajar belum sepenuhnya merekah ketika halaman kediaman Duke Alaric Ravens mulai dipenuhi derap kaki dan suara logam yang saling beradu pelan. Lentera-lentera masih menyala, cahayanya kekuningan dan redup, menari di permukaan zirah para kesatria yang telah bersiap sejak dini hari.
Hari keberangkatan akhirnya tiba.
Kereta-kereta perang berjajar rapi di sisi halaman, ditarik oleh kuda-kuda besar dengan surai hitam legam. Bendera keluarga Ravens berkibar pelan, tertiup angin pagi yang dingin, lambangnya tampak tegas, namun hari ini, terasa lebih berat dari biasanya.
Para pelayan berdiri berbaris di sisi gerbang kastil, sebagian menunduk hormat, sebagian lain menyeka mata dengan punggung tangan.
Di antara kerumunan itu, Liora berdiri tegak di sisi Rowan.
Gaun sederhana berwarna biru pucat membalut tubuhnya, rambutnya disanggul rapi namun tidak kaku. Wajahnya tenang, terlalu tenang, ketenangan yang lahir dari keputusan untuk tidak menunjukkan gentar di hadapan siapa pun. Namun hanya dirinya yang tahu, betapa dadanya terasa sesak sejak subuh tadi.
Rowan menggenggam ujung lengan gaun Liora dengan erat.
Biasanya, bocah itu akan bersungut, beradu argumen kecil dengan Alaric, atau setidaknya menyela dengan pertanyaan-pertanyaan polos yang membuat suasana menjadi riuh. Namun pagi ini, Rowan berbeda.
Matanya tampak besar dan lembap, bibir kecilnya terkatup rapat. Ia berdiri diam, seolah takut jika ia bergerak sedikit saja, seseorang akan benar-benar pergi dan tak kembali.
Alaric menyadari itu.
Duke itu baru saja selesai memberi instruksi terakhir kepada para kesatria ketika pandangannya menangkap sosok kecil yang menatapnya tanpa senyum. Langkahnya terhenti.
Hanya seorang bocah kecil yang tampak kehilangan.
Alaric mendekat, lalu berlutut di hadapan Rowan agar tinggi mereka sejajar.
"Ada apa?" tanya Alaric lembut, jauh berbeda dari nada tegasnya saat memimpin pasukan. "Kenapa kau tampak sedih? Bukankah biasanya kau menyuruhku pergi?"
Rowan mengangkat wajahnya perlahan. Suaranya kecil, sedikit bergetar.
"Kalena paman akan pelgi jauh cekali," jawab Rowan. "Mama bilang paman akan pelgi cangat lama."
Alaric terdiam sejenak. Kata-kata sederhana itu menghantam lebih keras dari pada laporan intelijen mana pun. Ia menghela napas pelan, lalu tersenyum tipis.
"Aku akan kembali secepatnya. Paman harus pergi karena ada orang jahat yang harus dibereskan di tempat lain," jawab Alaric.
Rowan mengerjap, mencerna kata-kata itu dengan caranya sendiri.
"Olang jahat?" tanya sang bocah.
Alaric mengangguk. "Iya. Dan selama Paman pergi, kau yang harus menjaga bibimu."
Rowan menegakkan punggungnya seketika, seolah menerima sebuah mandat besar.
"Pastikan dia makan dan istirahat dengan benar," lanjut Alaric. "Kau harus marahi bibimu kalau dia bekerja terus, apalagi sampai malam."
Mata Rowan langsung berbinar.
"Lowan janji!" kata bocah itu penuh semangat. "Lowan akan jaga Lilola. Lowan akan malahi Lilola kalau Lilola nakal. Paman celahkan caja pada Lowan."
Alaric tertawa kecil, lalu mengelus kepala Rowan dengan penuh sayang.
"Anak pintar," puji Alaric. "Saat Paman kembali nanti, kita akan jalan-jalan seharian bersama bibimu," sambungnya.
Rowan mengangguk keras, hampir melompat kecil di tempat.
"Janji ya, Paman?"
"Janji."
Alaric berdiri, lalu menatap Liora.
Tatapan mereka bertemu, hening, dalam, dan penuh hal-hal yang tidak perlu diucapkan. Di hadapan orang lain, mereka adalah Duke dan Duchess. Namun di momen itu, mereka hanyalah sepasang manusia yang harus berpisah tanpa tahu apa yang menunggu di ujung jalan.
"Jaga dirimu selama aku tidak ada," kata Alaric. "Jangan lupa kirimkan surat dan beritahu aku apa saja yang kau lakukan di sini. Gideon akan ikut bersamaku, tapi pelayan lain akan membantumu. Kaisar juga sudah menurunkan penjagaan untuk kediaman ini. Kau akan aman."
Alaric berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada lebih lembut, "Pastikan kau makan dan istirahat yang cukup."
Liora mengangkat alisnya sedikit.
"Seharusnya hal terakhir itu aku yang bilang," katanya. "Gideon bilang kau suka tidak makan dan menolak istirahat kalau sedang seperti ini."
Alaric mendengus pelan. "Sekarang Gideon jadi mata-matamu untuk mengawasiku, huh."
Liora tertawa kecil, lalu tanpa ragu melangkah maju dan memeluk Alaric.
Alaric membalas pelukan itu dengan erat, terlalu erat untuk sekadar formalitas. Sejenak, ia menghirup dalam aroma istrinya, seolah ingin mengukirnya dalam ingatan. Ia tahu, malam-malam panjang di wilayah timur akan terasa jauh lebih dingin tanpa kehangatan ini.
Alaric melepaskan pelukannya perlahan, lalu mencium dahi Liora.
"Aku akan segera kembali," mata pria itu.
Liora mengangguk. "Aku menunggu di sini."
Alaric menoleh ke arah Sasa dan para pelayan lain dan berkata, "Jaga Nyonya kalian dan kediaman ini. Selama aku pergi, semua otoritasku berada di tangan Duchess. Tidak ada bantahan."
"Baik, Yang Mulia," jawab mereka serempak.
Gideon telah menunggu di dekat kereta kuda, jubahnya berkibar tertiup angin. Ia tersenyum singkat ke arah Liora dan Rowan, lalu menunduk hormat.
Alaric menatap Liora sekali lagi, tatapan panjang yang menyimpan janji, lalu melangkah pergi dan menaiki kudanya.
Derapan kuda mulai bergerak.
Liora berdiri di tempatnya, menatap punggung Alaric yang semakin menjauh. Di dalam hatinya, ia berdoa, bukan dengan kata-kata indah, melainkan dengan harapan paling sederhana: semoga mereka semua kembali.
"Paman akan kembali, 'kan?" tanya Rowan pelan.
"Iya," jawab Liora sambil tersenyum. "Pamanmu pasti akan kembali."
Rowan mengangguk pelan.
Hari itu, setelah gerbang kastil kembali tertutup, Liora kembali ke aktivitasnya. Langkahnya membawanya ke ruang Tabib Aldren. Setelah selesai dengan tumpukan dokumen yang membuatnya muak.
Aldren sedang meramu obat ketika Liora masuk.
"Mereka sudah berangkat," kata Liora.
Aldren mengangguk. "Perburuan besar. Wilayah timur akan dibersihkan secara tuntas kali ini."
"Mereka bermain-main dengan kematian," ujar Liora.
Aldren tersenyum miring. "Orang gila harta dan ambisi memang selalu begitu. Apa susahnya hidup tenang dan damai tanpa mencari masalah.
"Benar," ujar Liora.
Aldren menyuguhkan teh untuk Liora.
Liora duduk, menerima secangkir teh herbal.
"Selama Alaric pergi," kata Liora pelan, "aku akan memperbaiki tubuhku."
"Itu keputusan yang sangat bagus. Jadi Anda juga bisa istirahat dari pekerjaan jika Anda rajin berolahraga. Saya lihat juga tubuh Anda sudah mulai ada perubahan. Kurasa Anda akan mengejutkan Yang Mulia Duke saat dia kembali nanti," kata Aldren mendukung keinginan Liora.
Liora berkata, "Aku akan memantaskan diri sebagai Duchess. Tidak ingin nama suamiku ternodai karena istri yang gendut."
Aldren tersenyum dan menjawab, "Tapi Anda tidak perlu memaksakan diri. Yang Mulia Duke tidak pernah sekali pun berkomentar tentang tubuh Anda bahkan ketika dia berkonsultasi denganku mengenai diri Anda. Dia selalu hanya memastikan agar Anda sehat."
Liora tersenyum. "Akan aku pastikan aku menjadi orang paling sehat setelah ini.
Dan juga aku harus muncul di pesta dan sosialita setelah kepulangan Alaric nanti. Ingat ada banyak orang yang harus dibungkam mulutnya terutama Countess dan adik tiriku," katanya.
Aldren mengangguk, "Benar, terkadang kita harus menghilang sebentar sebelum menyerang dengan hal yang tidak pernah lawan duga."
Liora mengangguk, matanya bersinar penuh tekad.
"Kali ini, aku tidak akan memberi siapa pun celah untuk merendahkanku," kata Liora.
Dan jauh di dalam dirinya, sebuah perubahan perlahan mulai tumbuh, tenang, kuat, dan tak tergoyahkan.
Yang mana nantinya semua orang tidak akan ada lagi yang berani mengolok Liora.
Tidak akan.
btw aku ngebayangin, kalo seandainya di masa Alaric udah ada HP, lagi perang sambi live streaming : hay guys kita lagi siapp² mau perang nih, kita mau musnahin moster, nanti aku kasih tau yaa monster nya itu seperti apa
🤣🤣🤣
hbs nangis ketawa ngakak saat baca
Pipi gembul kesayangan Alaric... menghilang. 🤣🤣🤣
semoga Alaric baik² saja, othor membuyku menangis lagi 😭
ommoooo