Elisa (18 tahun) hanyalah gadis yatim piatu yang berjuang sendirian demi menyekolahkan adiknya. Namun, hidupnya berubah menjadi mimpi buruk saat sebuah pesanan makanan membawanya ke kamar yang salah. Di sana, ia kehilangan segalanya dalam satu malam yang tragis. Di sisi lain, ada Kalandra (30 tahun), pewaris tinggal kaya raya yang dikenal dingin dan anti-perempuan. Malam itu, ia dijebak hingga kehilangan kendali dan merenggut kesucian seorang gadis asing. Elisa hancur dan merasa mengkhianati amanah orang tuanya. Sedangkan Kalandra sendiri murka karena dijebak, namun bayang-bayang gadis semalam terus menghantuinya. Apa yang akan terjadi jika benih satu malam itu benar-benar tumbuh di rahim Elisa? Akankah Kalandra mau bertanggung jawab, atau justru takdir membawa mereka ke arah yang lebih rumit? Yukkk…ikuti ceritanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senimetha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Elisa-28
Memasuki masa kehamilan bulan kedelapan, mansion Mahendra tidak lagi seperti rumah mewah, melainkan lebih mirip markas komando tingkat tinggi. Langkah kaki para pelayan tidak lagi terdengar santai karena setiap suara yang berasal dari kamar utama di lantai bawah langsung membuat semua orang menahan napas, bersiap untuk menerima instruksi darurat.
Elisa kini sudah mencapai tahap di mana bernapas saja terasa seperti olahraga angkat beban. Perutnya yang membawa tiga nyawa itu kini sudah sangat besar, membuat kulitnya terasa kencang dan punggungnya pegal luar biasa. Namun, di tengah semua rasa tidak nyaman yang dia rasakan, Elisa tetap berusaha tersenyum, terutama saat melihat Kalandra yang semakin hari semakin terlihat seperti orang yang sedang menjalani wajib militer.
"Mas, sudah... jangan mondar-mandir terus. Saya cuma mau minum, bukan mau ke ruang operasi," tegur Elisa saat melihat Kalandra setengah berlari membawakan gelas air dengan wajah yang sangat tegang.
Kalandra duduk di tepi ranjang, menyeka butiran keringat di dahi Elisa. "Dokter Stella bilang bulan kedelapan untuk kehamilan kamu itu waktu yang krusial, Elisa. Risiko persalinan prematur meningkat. Saya tidak mau kita terlambat satu detik pun."
Kalandra melirik ke arah pintu kamar yang terbuka lebar. Di sana, ada tiga tas rumah sakit, satu untuk Elisa, dan dua tas besar berisi perlengkapan untuk tiga bayi yang sudah berbaris rapi di dekat pintu. Di garasi, dua mobil SUV selalu dalam posisi mesin yang sudah diperiksa setiap pagi, dengan tangki bensin penuh dan pengemudi yang on-call 24 jam.
Sore ini, suasana sedikit lebih ceria karena Aris sedang berada di kamar bersama mereka. Bocah itu kini memiliki tugas baru yaitu sebagai Asisten Perlengkapan Bayi. Aris sedang sibuk mengecek kembali tas rumah sakit.
"Kak Landra, baju yang gambar beruang apa sudah masuk?" tanya Aris dengan nada serius, persis seperti kakaknya.
"Sudah, Ris. Tiga set, warna biru satu, warna merah muda dua," jawab Kalandra sambil terus memijat kaki Elisa yang membengkak.
"Bedongnya? Bedongnya harus yang lembut, kalau nggak nanti kulit dedek bayi bisa merah," lanjut Aris lagi, tangannya sibuk membolak-balik isi tas.
Elisa tertawa lembut melihat adiknya. "Adek, nanti kalau dedek bayi lahir, kamu yang bakal bantu Kakak jagain ya?"
"Pasti, Kak! Aris sudah belajar cara pegang botol susu dari YouTube," jawab Aris bangga, membuat Kalandra dan Elisa saling melirik dengan senyum geli.
Namun, di tengah tawa itu, wajah Elisa mendadak berubah. Ia menghentikan tawanya, tangannya mencengkeram seprei ranjang dengan sangat kuat. Matanya terpejam, dan napasnya mulai tersengal.
"Elisa? Ada apa?" Kalandra langsung berdiri, jantungnya berdegup kencang.
"Sakit... Mas... perut saya rasanya kencang sekali," rintih Elisa.
Kalandra seolah melihat lampu alarm merah berputar di kepalanya. "Bimo! Gery! Siapkan mobil sekarang! Bawa tasnya!" teriak Kalandra dengan suara yang menggelegar ke seluruh lorong mansion.
Kekacauan yang begitu sangat teratur pun terjadi. Gery berlari menenteng tas-tas besar seolah-olah ia sedang menyelamatkan dokumen negara dari ledakan. Bimo langsung menghubungi Dokter Stella lewat jalur darurat. Aris yang ketakutan langsung diamankan oleh Bi Inah.
Kalandra menggendong Elisa ini adalah sebuah tugas yang cukup berat mengingat beban yang dibawa istrinya yang bisa dibilang tiga kali lipat dan membawanya ke mobil. Di sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Kalandra tidak berhenti membisikkan doa dan kata-kata penenang, meskipun tangannya sendiri gemetar hebat.
"Tahan, sayang... tarik napas... lalu buang... seperti yang kita pelajari di kelas senam hamil," ujar Kalandra. Anehnya, perut Kalandra sendiri mendadak terasa mulas luar biasa. Kram yang ia rasakan hampir sama kuatnya dengan rintihan Elisa.
Begitu sampai di ruang gawat darurat rumah sakit, tim medis sudah menunggu dengan brankar. Elisa langsung dibawa ke ruang observasi. Kalandra, dengan wajah yang masih pucat dan peluh yang membanjiri kemejanya, terus memegangi tangan Elisa hingga mereka masuk ke ruang tindakan.
Setelah sekitar tiga puluh menit pemeriksaan yang terasa seperti tiga tahun menurut kalandra, Dokter Stella keluar dengan ekspresi yang jauh lebih tenang.
"Bagaimana, Dok? Harus operasi sekarang kah?" tanya Kalandra, suaranya hampir hilang.
Dokter Stella tersenyum tipis. "Tenang, Pak Kalandra. Tarik napas dulu. Itu tadi adalah Braxton Hicks, atau yang biasa kita sebut kontraksi palsu."
Kalandra terdiam. Ia mengerjapkan matanya. "Palsu? Tapi dia terlihat sangat kesakitan sekali tadi, Dok."
"Itu hal yang wajar di kehamilan trimester ketiga, apalagi untuk bayi kembar tiga. Rahimnya sedang berlatih untuk persalinan yang sesungguhnya. Tekanannya memang sangat kuat, tapi belum ada pembukaan," jelas Dokter Stella. "Kita akan observasi selama dua jam, kalau tetap stabil, Ibu Elisa boleh pulang. Tapi saya sarankan dia benar-benar tidak boleh beranjak dari tempat tidur lagi sampai jadwal operasi kita dua minggu lagi."
Kalandra kembali ke samping tempat tidur Elisa. Gadis itu kini sudah tampak lebih rileks, meski sisa-sisa kelelahan masih terlihat jelas. Saat Elisa melihat wajah Kalandra yang tampak sangat berantakan, Elisa justru merasa kasihan sekaligus ingin tertawa. Seorang kalandra yang kaku dan dingin bisa terlihat seberantakan ini.
"Mas... mukanya kok kayak habis dikejar singa," bisik Elisa pelan.
Kalandra duduk di kursi samping tempat tidur, lalu menyandarkan kepalanya di tepi ranjang. "Saya rasa jantung saya tadi sempat berhenti berdetak selama lima menit, Elisa. Saya benar-benar pikir mereka mau keluar hari ini."
"Maaf ya, Mas. Mereka kayaknya cuma mau ngetes seberapa cepat Papa mereka bisa lari," goda Elisa sambil mengelus rambut Kalandra.
Kalandra mengambil tangan Elisa dan menciumnya. "Jangan minta maaf. Saya yang minta maaf karena terlalu panik. Tapi jujur, melihat kamu kesakitan seperti tadi, saya merasa sangat tidak berdaya."
Di tengah suasana yang mulai tenang itu, Gery mengintip dari balik pintu dengan wajah yang sama kacaunya. "Bos... jadi ini kontraksi palsu? Sumpah Gue udah hampir nabrak di dua lampu merah dan juga hampir bikin Bimo jantungan pas dia lagi nelpon Dokter Stella."
Kalandra menoleh ke arah asistennya itu. "Maaf, Ger. Alarm palsu."
Gery menghela napas panjang dan masuk ke dalam ruangan, diikuti Bimo. "Nggak apa-apa, Bos. Setidaknya kita tahu kalau tim keamanan Mahendra siap tempur 24 jam. Tadi Bimo bahkan udah nyiapin helikopter kalau seandainya jalanan macet."
Bimo mendelik ke arah Gery. "Jangan dilebih-lebihkan, Ger. Tapi beneran, Lan, lo kelihatan lebih stres daripada Elisa."
"Itu karena dia juga ngerasain kramnya, kak Bim," sahut Elisa. "Mas Landra tadi pasti lebih sakit perutnya daripada saya."
Mereka semua tertawa kecil, mencairkan ketegangan yang tadi sempat memporakporanda mansion dan jalanan menuju rumah sakit. Di balik dinding rumah sakit itu, mereka menyadari bahwa waktu persalinan yang sesungguhnya tinggal menghitung hari.
Malam harinya, setelah diizinkan pulang, Kalandra tidak membiarkan kaki Elisa menyentuh lantai sedikit pun. Jika sang istri mau bergerak sedikit atau mau kemana Ia siap untuk menggendong istrinya seperti masuk ke kamar mandi, menyelimutinya, dan dengan sigap duduk berjaga di sampingnya sepanjang malam.
"Mas, tidur... Mas pasti capek banget hari ini," pinta Elisa.
"Nggak bisa. Saya mau jaga-jaga kalau ada alarm palsu kedua," jawab Kalandra keras kepala. Ia mengambil sebuah buku tentang perawatan bayi baru lahir yang sudah ia baca berulang kali.
"Mas sudah berlatih pasang car seat?" tanya Elisa mengalihkan pembicaraan agar Kalandra tidak terlalu tegang.
"Sudah. Bimo jadi asisten saya tadi sore. Kami pasang tiga sekaligus di mobil SUV. Ternyata susah juga ya, tapi sekarang saya sudah bisa pasang dalam waktu kurang dari satu menit," ujar Kalandra bangga.
Kalandra kemudian menatap perut Elisa yang sedang bergerak-gerak tenang. Ia mengulurkan tangannya, merasakan denyut kehidupan di sana.
"Dua minggu lagi," bisik Kalandra. "Dua minggu lagi hidup kita bakal ketemu mereka, dan pasti sangat berisik, Elisa."
"Mas takut?"
"Takut... tapi saya lebih merasa tidak sabar. Saya mau lihat wajah abang dan dua adiknya. Saya mau lihat apakah mereka mirip kamu atau mirip saya," Kalandra menatap Elisa dengan pandangan yang sangat dalam. "Dan yang paling penting, saya mau lihat kamu bisa jalan dengan ringan lagi, nggak perlu bawa beban berat ini sendirian."
Elisa tersenyum haru. Ia tahu, meskipun persalinan nanti akan sangat berat terutama karena ia harus menjalani operasi sesar untuk keselamatan si kembar tiga yang ada dalam perutnya, ia tidak akan menjalaninya sendirian. Ia punya Kalandra, pria yang bersedia merasakan mual dan kramnya, dan pria yang bersedia panik luar biasa hanya untuk sebuah alarm palsu.
Dan di tengah keheningan malam di mansion Mahendra, detak jantung yang beradu menjadi sebuah janji bahwa apa pun yang terjadi di dua minggu lagi, mereka akan menghadapinya sebagai sebuah keluarga yang utuh.
Di luar, Aris sudah tertidur lelap sambil memeluk boneka beruang yang rencananya akan ia berikan pada adik-adiknya nanti. Suasan damai mulai kembali menyelimuti rumah itu, menyimpan energi untuk badai kebahagiaan yang akan datang sebentar lagi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Selamat membacanya guyssss☺️🥳🥰...