NovelToon NovelToon
Mengejar Mauren

Mengejar Mauren

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Gangster / Teen School/College / Persahabatan / Romansa / Kegiatan Olahraga Serba Bisa
Popularitas:810
Nilai: 5
Nama Author: jeffc

Novel ini berkisah tentang kehidupan SMA yang sarat dengan cinta- cintaan, persahabatan, persaingan antar geng di sekolah, dll. dengan latar belakang olah raga bela diri seperti karate, tinju, kick boxing, muathai dsb

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jeffc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sumpah Darah Omerta

Sore itu, langit Jakarta mulai menggelap, tapi bukan karena mau hujan. Hanya lebih gelap dari biasanya aja.

Lalu Rommy menstarter motornya dengan pikiran penuh tanda tanya. Horizon Mall bukan tempat biasa untuk urusan geng, dan Erick bukan orang biasa.

“Sore-sore mau ke mana, Rom?” tanya Mama Rommy.

“Mau ketemu teman sebentar, Ma,” jawab Rommy dan segera menuju ke Horizon Mall yang tidak terlalu jauh dari rumahnya.

Setelah memarkirkan motornya di parkiran mal, dia segera menuju ke coffee shop Java Whisper. Coffee shop itu tidak begitu ramai, dan beberapa pengunjung merokok vape, karena merokok konvensional yang mengeluarkan asap dilarang di situ.

Musik terdengar agak bising, dan mata Rommy menyapu ke beberapa sudut, dan dia melihat seterunya, Erick, duduk sendirian di dekat pojok. Tangan Rommy sudah mengepal, bersiap-siap akan segala kemungkinan terburuk yang akan terjadi.

“Silakan duduk, Rom,” kata Erick ramah.

“Kok Erick tumben, ramah amat? Biasanya jangankan bersopan santun gini, tersenyum aja tidak pernah,” kata Rommy dalam hati, lalu duduk. Tapi matanya tetap tajam memandang ke segala arah, menghadapi segala kemungkinan.

“Tenang aja, gua sendirian kok. Lu sendirian juga, kan?” Erick tersenyum ramah sambil mengulurkan tangannya, menjabat tangan Rommy.

Dengan agak kikuk dan ragu Rommy membalas uluran tangan itu, namun dia tetap waspada.

Erick yang masih melihat ketegangan pada Rommy mencoba meyakinkan musuhnya itu, “Suer, gua ke sini dengan niat baik.”

Barulah Rommy sedikit agak rileks, namun tetap siaga penuh. “Ada yang bisa gua bantu, Rick?”

Lalu Erick menjawab, “Gua sudah tidak nyaman di geng The Executioners, Rom.”

Beneran? Atau ini sebuah strategi?

“Berawal dari pembagian sembako, yang tidak memperhatikan keberatan gue, dan akhirnya berakhir ricuh,” lanjut Erick. “Gua dan Axel sampai dipanggil Pak Sajit ke ruangannya gara-gara itu. Pasti beliau pikir aku salah satu otak dari kegiatan itu.”

Rommy manggut-manggut dan mulai percaya Erick menemui dia dengan misi damai, bukan permusuhan. “Lalu?”

Erick melanjutkan, “Yang kedua adalah masalah tinju. Axel memaksa semua harus ikut latihan tinju di Sasana Cobra tanpa terkecuali. Axel sangat berambisi mengalahkan kalian yang berlatih di Sasana Bulungan. Lu tahu sendiri kan, gua nggak suka tinju.”

“Pada mulanya gua juga seperti Axel, memaksa semua anggota Geng Kelelawar Hitam wajib ikut latihan tinju,” kata Rommy pelan. “Tapi makin berjalannya waktu, gua makin sadar bahwa ini nggak bisa dipaksa, dan yang ikut latihan tinju sekarang paling 4–5 orang saja.”

“Izinkan gua gabung ke Kelelawar Hitam, Rom,” Erick berkata pendek.

Rommy berpikir sejenak, lalu dia berkata, “Bukan gua tidak mau, tapi gua mikirin bagaimana reaksi Axel nanti. Bukan berarti takut, gua cuma menghindari hal-hal yang tidak perlu.”

“Gua mengerti,” jawab Erick.

“Atau begini aja, sementara elu bantu-bantu gua urus rencana kegiatan sosial di panti jompo, tapi di balik layar dulu, sementara nggak usah terlalu mencolok, bagaimana?” Rommy memberi solusi. “Tadi Mauren juga sudah konfirmasi akan bantu-bantu gua. Kalau elu setuju, nanti gua bisa atur pembagian tugasnya.”

“Gua setuju, Rom,” sambut Erick tanpa banyak mikir. “Dan mengenai kegiatan sosial itu sendiri bagaimana?”

“Gua sudah ketemu Pak Sajit, minta restu beliau, meski kegiatan ini tidak mengatasnamakan sekolah,” jelas Rommy. “Dan beliau memberi restu.”

“Itu bagus, Rom,” tukas Erick.

“Dan gua akan melibatkan murid-murid SMA Tunas Bangsa yang lain, bukan hanya anggota Kelelawar Hitam saja,” lanjut Rommy. “Dan yang sudah pasti akan bergabung Mauren.”

Entah kenapa Rommy selalu senang mengucapkan nama Mauren. Rasanya gimana, gitu.

“OK, Rom. Gua ikut kata lu aja.” Lalu Erick menjabat tangan Rommy lagi lalu pamitan untuk berpisah.

Siang hari yang terik, udara di kelas terasa panas dan pengap. Bu Catarina mendekati Rommy dan berkata pelan, “Rom, kamu dipanggil Pak Sajit.”

Erick dan Mauren serta beberapa murid lain bertanya-tanya ada apa gerangan.

Rommy dengan didampingi Bu Catarina menuju ruang kepala sekolah, dan Pak Sajit sudah menunggu.

“Mari masuk, Bu Catarina dan Rommy,” sambut Pak Sajit ramah. “Silakan duduk.”

Lalu Pak Sajit menemui duduk juga di ruangannya.

“To the point aja ya, Rom,” buka Pak Sajit. “Setelah bapak pikir-pikir, kegiatan kalian yang rencananya atas nama kelompok kamu dan bukan atas nama sekolah, diatasnamakan sekolah, bagaimana?”

Rommy diam sejenak, lalu berkata, “Saya nurut aja, Pak. Selama ini saya juga sudah melibatkan beberapa anak yang bukan anggota kelompok kami, saya ikutsertakan mengurusi hal-hal administratif, Pak.”

“Wah, bagus itu,” puji Pak Sajit. “Ibu Catarina bisa mendampingi Rommy dan teman-temannya?”

“Baik, Pak,” sahut Bu Catarina.

“Dan Rommy, kamu saya serahi tanggung jawab sebagai ketua panitianya,” lanjut Pak Sajit. “Kamu harus bertanggung jawab atas semuanya, termasuk kelancaran dan keamanan kegiatan sosial ini.”

Rommy diam sejenak dan berpikir ini adalah tugas yang berat, terutama menyangkut masalah keamanan, karena dia khawatir Axel dan para anggota Geng The Executioners akan mengganggu demi merusak reputasi Rommy. Namun akhirnya Rommy menyanggupi amanat yang berat itu.

“Perlu diingat baik-baik, Rom, ini sudah acara sekolah. Dan tidak ada geng-gengan dalam acara ini,” tegas Pak Sajit. “Dan kamu saya minta membuat proposal ulang kepada panti jompo atas nama sekolah, dan kamu wajib menyampaikan laporan kegiatan kepada sekolah.”

“Baik, mengerti, Pak,” jawab Rommy pelan.

“Baik, sekarang kembali ke kelasmu dan melanjutkan pelajaran hari ini,” perintah Pak Sajit.

Lalu Rommy berpamitan dan kembali ke ruang kelasnya.

Sambil berjalan ke ruang kelasnya Rommy mengirim pesan whatsapp ke Mauren dan Erick:

“Pak Sajit barusan memanggil aku, beliau bilang kegiatan sosial di panti jompo tetap boleh dilaksanakan tapi beliau berubah pikiran, kegiatan itu harus atas nama sekolah, nggak boleh atas nama kelompok atau geng. Kalian bantu-bantu aku ya? Ntar aku susun daftar panitianya.”

Pada saat yang berbarengan dengan pesan dari Rommy itu, Erick juga menerima pesan whatsapp yang membuatnya galau, dan saat istirahat pun dia menolak ke kantin seperti biasanya, dan memilih tetap tinggal di kelas. Penyebabnya adalah pesan WhatsApp di HP Erick dari Axel yang isinya begini:

“Rick, jangan kira gua nggak tahu kemarin lu di coffee shop Java Whisper ketemuan sama Rommy. Ingat, dalam tradisi mafia ada sumpah darah Omerta yang artinya kalau lu sudah gabung suatu organisasi mafia, lu nggak bisa keluar lagi!”

Rommy yang melihat ada yang janggal karena Erick tidak ke kantin seperti biasanya mendekati Erick dan mencoba bertanya ada apa.

“Tumben lu nggak ke kantin, Rick?” tanya Rommy.

“Nggak apa-apa kok, Rom, cuma nggak enak badan aja,” ujar Erick bohong.

“Lu jangan bohong, gua bisa lihat di mata lu, ada yang lu sembunyiin,” kata Rommy.

Erick nggak bisa bohong lagi, dan nunjukkin pesan WhatsApp dari Axel ke Rommy.

Wajah Rommy seketika berubah ketika membaca pesan itu. Dia merasakan darahnya mendidih.

“Ini nggak bisa dibiarkan!” kata Rommy dan bergegas akan menemui Axel.

“Jangan, Rom!” pinta Erick. “Gua nggak mau terjadi keributan lu dan Axel, apalagi di lingkungan sekolah ini.”

Tiba-tiba Mauren masuk ke dalam kelas sekembalinya dari kantin.

“Ada apa ini kok ribut-ribut?” tanya Mauren. “Kalian nggak istirahat dan tinggal di kelas aja?”

Seperti biasa grogi Rommy timbul kalau berdekatan dengan Mauren. “Eh, nggak ada apa-apa, cuma Rommy terima pesan WhatsApp…”

“Dari siapa? Sini aku baca!” Lalu Mauren langsung merebut HP Erick dari tangannya, dan membaca pesan WhatsApp dari Axel.

“Hm, aku harus bicara sama Axel,” kata Mauren dan langsung menuju ke kelas Axel. “Axel bukan cuma urusan kalian. Aku juga punya hak bicara. Jadi biar aku yang temui dia.”

1
bartolomeus marsudiharjo
Gue banget
bartolomeus marsudiharjo
Seru banget. Menjanjikan.
jc: terimakasih
total 1 replies
Noname
Karya Ai ?
jc: bukan
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!