NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Tabib Jenius

Reinkarnasi Tabib Jenius

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter Ajaib / Fantasi Timur / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Reinkarnasi / Fantasi Wanita
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: MomSaa

Aruna, dokter bedah jenius dari masa depan, terbangun di tubuh Lin Xi, seorang putri terbuang yang dihukum mati karena fitnah. Di dunia yang memuja kekuatan kultivasi, Lin Xi dianggap "sampah" karena jalur energinya hancur.

Namun, bagi Aruna, tak ada yang tak bisa disembuhkan oleh pisau bedahnya. Menggunakan ilmu medis modern, ia memperbaiki tubuhnya sendiri dan bangkit dari liang lahat untuk menuntut balas dendam.Takdir mempertemukannya dengan Kaisar Yan, penguasa kejam yang sekarat karena kutukan darah. Dengan satu tusukan jarum, Aruna menyelamatkannya dan memulai kontrak berbahaya: Aruna menjadi tabib pribadinya, dan sang Kaisar menjadi tameng bagi balas dendamnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 RTJ

Udara di dalam paviliun terasa membeku. Lin Mei tercekik oleh keheningannya sendiri, jemarinya mencakar leher yang tak lagi bisa mengeluarkan suara. Jarum perak yang dilepaskan Lin Xi barusan bukan sekadar alat medis; itu adalah kunci yang mengunci pita suara dan aliran udara di tenggorokan adik tirinya. Di luar, suara sepatu bot yang menghantam lantai kayu koridor terdengar makin dekat, berirama dengan detak jantung yang memacu adrenalin.

Lin Xi menatap Lin Mei tanpa belas kasihan. Wajah cantik yang dulu sering menghina ibunya itu kini membiru karena kekurangan oksigen. Lin Xi bisa saja membiarkannya mati leher tercekik dalam hitungan menit, namun teriakan Lin Tian di luar pintu mengubah perhitungan strategisnya.

"Tabib Mo! Jika kau tidak membuka pintu ini dalam tiga hitungan, aku akan meratakan paviliun ini!" Suara Lin Tian bukan sekadar ancaman. Lin Xi bisa merasakan getaran Qi yang kuat—sebuah tanda bahwa sang Jenderal telah menarik pedang pusakanya, Pedang Pemecah Langit.

Lin Xi memutar otak. Jika ia membunuh Lin Mei sekarang, mayatnya akan menjadi bukti tak terbantahkan bahwa ia bukan sekadar tabib biasa. Jika ia membiarkan Lin Mei hidup, surat laporan di tangan gadis itu akan menghancurkan seluruh rencananya dan nasib sepuluh prajurit di Pasar Lumpur.

"Kakek Bai, aku butuh sesuatu untuk melenyapkan surat itu tanpa jejak," bisik Lin Xi dalam hati.

"Gunakan 'Cairan Pelarut Tulang' yang ada di botol hijau kecil, tapi campurkan dengan sedikit alkohol. Itu akan membakar kertas tanpa meninggalkan bau hangus yang mencurigakan," sahut Kakek Bai dari ruang dimensi, suaranya tenang namun mendesak.

Dengan gerakan secepat kilat, Lin Xi menyambar surat di tangan Lin Mei yang mulai lemas. Ia meneteskan setetes cairan bening. Dalam sekejap, kertas itu hancur menjadi debu halus yang tertiup angin dari jendela yang terbuka. Bersamaan dengan itu, Lin Xi menarik jarum dari leher Lin Mei, namun sebelum gadis itu bisa berteriak, Lin Xi menghantamkan pangkal telapak tangannya ke titik syaraf di belakang telinga Lin Mei. Gadis itu jatuh pingsan di lantai.

Braak!

Pintu paviliun hancur berkeping-keping. Lin Tian merangsek masuk, matanya merah menyala karena amarah. Di belakangnya, belasan prajurit dengan obor menyala menerangi ruangan yang remang-remang itu.

"Apa yang terjadi di sini?!" raung Lin Tian. Matanya tertuju pada sosok putrinya, Lin Mei, yang tergeletak tak berdaya di kaki Lin Xi.

Lin Xi tidak mundur. Ia justru jatuh berlutut dengan raut wajah yang penuh kepanikan yang dibuat-buat, tangannya gemetar saat memegang nadi Lin Mei. "Jenderal! Syukurlah Anda datang! Nona Muda... beliau tiba-tiba masuk dan menyerang saya dengan histeris sebelum akhirnya jatuh pingsan!"

Lin Tian mengernyit, pedangnya masih terhunus. "Menyerangmu? Mei'er sangat memuja kemampuan medismu. Mengapa dia harus menyerangmu?"

"Saya tidak tahu, Jenderal," ucap Lin Xi dengan suara parau, menyembunyikan kilatan dingin di matanya. "Beliau meracau tentang 'pengkhianatan' dan 'mayat hidup'. Saya khawatir Nona Muda terkena gangguan Qi atau mungkin seseorang telah meracuninya dengan halusinogen. Lihatlah wajahnya, Jenderal, ia tampak sangat menderita."

Lin Tian mendekat, memeriksa putrinya. Namun, sebelum ia bisa menyelidiki lebih lanjut, sebuah suara dingin dan berwibawa terdengar dari arah pintu yang hancur.

"Apakah begini cara Jenderal Lin memperlakukan tamu agung Kekaisaran?"

Sesosok pria berjubah ungu gelap melangkah masuk dengan perlahan. Long Chen, Pangeran Ketiga, berdiri di sana dengan sapu tangan di mulutnya, sesekali terbatuk kecil. Meski tubuhnya tampak lemah, aura yang dipancarkannya membuat para prajurit Lin Tian secara otomatis menundukkan kepala dan menyarungkan pedang mereka.

"Yang Mulia Pangeran Ketiga?" Lin Tian tertegun. "Apa yang membawa Anda ke paviliun tamu di jam segini?"

Long Chen memberikan senyum tipis yang tampak meremehkan. "Aku merasa sesak napas di kamarku dan meminta Tabib Mo untuk meracikkan obat tambahan. Saat aku berjalan ke sini, aku malah melihat Jenderal besar kita sedang mengacungkan pedang pada seorang tabib yang telah menyelamatkan nyawa selir kesayanganmu. Apakah ini etika yang diajarkan di militer, Jenderal Lin?"

Wajah Lin Tian berubah dari merah menjadi pucat. Ia berada dalam posisi sulit. Di satu sisi, ia curiga pada Tabib Mo; di sisi lain, menentang Pangeran di depan umum adalah tindakan bunuh diri politik, terutama karena Long Chen adalah pengawas resmi yang dikirim Kaisar untuk perjamuan ini.

"Maafkan hamba, Yang Mulia. Hamba menerima laporan bahwa ada penyusup di paviliun ini," Lin Tian mencoba membela diri.

"Penyusup?" Long Chen melirik Lin Mei yang pingsan. "Maksudmu putri Anda sendiri? Tampaknya kediaman Jenderal Lin perlu mengatur ulang sistem keamanan dan... kewarasan anggota keluarganya."

Lin Tian mengepalkan tinjunya hingga buku jarinya memutih. "Bawa Nona Muda kembali ke kamarnya dan panggil tabib keluarga yang lain!" perintahnya pada pengawal dengan suara tertahan.

Setelah Lin Mei dibawa pergi dan para prajurit membubarkan diri, suasana ruangan kembali sunyi. Lin Tian menatap Lin Xi dan Long Chen bergantian dengan tatapan penuh selidik sebelum akhirnya membungkuk hormat dan pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia tahu, malam ini ia kalah langkah.

Permainan Catur yang Baru

Begitu langkah kaki Lin Tian menjauh, Long Chen terduduk di kursi kayu, napasnya terasa berat. "Kau berutang satu nyawa padaku, Lin Xi," bisiknya.

Lin Xi berdiri, merapikan lengan bajunya yang berantakan. "Hamba pikir Yang Mulia sudah pergi tidur setelah pengobatan tadi."

"Jika aku tidur, kepalamu mungkin sudah dipajang di gerbang depan sekarang," Long Chen terkekeh, lalu wajahnya berubah serius. "Gadis tadi... Lin Mei. Dia tahu siapa kau. Dia tidak akan diam saja saat bangun nanti."

"Dia tidak akan ingat apa-apa," jawab Lin Xi dingin. "Jarum yang kugunakan tadi bukan hanya untuk membungkamnya, tapi juga merusak ingatan jangka pendeknya. Dia akan bangun dengan sakit kepala hebat dan ingatan yang kabur tentang apa yang terjadi malam ini."

Long Chen menatap Lin Xi dengan tatapan takjub sekaligus waspada. "Kau benar-benar wanita yang menakutkan. Aku hampir merasa kasihan pada Lin Tian."

"Jangan merasa kasihan pada monster, Yang Mulia," sela Lin Xi tajam. "Sekarang, karena kita sudah berada di perahu yang sama, hamba perlu tahu lebih banyak tentang 'Empat Penjaga Iblis' milik Lin Tian. Jika mereka sekuat yang Anda katakan, rencana sabotase hamba butuh penyesuaian."

Long Chen mengangguk. Ia mulai menjelaskan bahwa empat penjaga itu adalah mantan tentara bayaran dari sekte sesat yang memiliki kemampuan untuk menggabungkan energi mereka menjadi satu perisai pelindung yang tak tertembus. Mereka biasanya berjaga di empat penjuru aula perjamuan.

"Untuk mengalahkan mereka, kau tidak bisa menggunakan kekuatan fisik. Kau harus memecah sinkronisasi energi mereka," jelas Long Chen.

Lin Xi terdiam, jari-jarinya mengetuk meja. "Jika hamba bisa meracuni aliran udara di aula tanpa terdeteksi... apakah itu akan berhasil?"

"Terlalu berisiko. Lin Tian memiliki indra penciuman yang sangat tajam terhadap racun," jawab Long Chen.

"Bagaimana jika racun itu tidak berbau, tidak berwarna, dan baru aktif ketika bereaksi dengan aroma dupa perjamuan?" Mata Lin Xi berkilat. "Saya punya sesuatu yang disebut 'Napas Naga Tidur'. Itu bukan racun mematikan, tapi akan membuat aliran Qi siapa pun yang menghirupnya menjadi lamban selama beberapa menit. Cukup bagi orang-orang hamba untuk bergerak."

Long Chen terdiam sejenak, lalu tertawa kecil. "Rencana yang licin. Baiklah, aku akan memastikan dupa yang digunakan saat perjamuan adalah jenis yang kau butuhkan. Tapi ingat, Lin Xi... setelah Lin Tian jatuh, kau harus memenuhi janjimu untuk menyembuhkanku sepenuhnya."

"Hamba memegang kata-kata hamba, Yang Mulia," ucap Lin Xi sambil membungkuk.

Bayangan di Balik Jendela

Setelah Long Chen meninggalkan paviliun, Lin Xi tidak segera beristirahat. Ia mendekati jendela, menatap kegelapan malam. Ia tahu bahwa meskipun serangan langsung malam ini gagal, Lin Tian tidak akan membiarkannya lepas dari pengawasan.

"Satu," bisik Lin Xi ke arah bayangan pohon di luar.

Sosok hitam turun dari dahan pohon tanpa suara. "Hamba di sini, Nona."

"Lin Mei telah mencuri surat darimu. Aku sudah menghancurkannya, tapi ini peringatan bagi kalian. Tingkatkan kewaspadaan. Lin Tian sudah mulai curiga," perintah Lin Xi. "Dan beri tahu anak-anak di Pasar Lumpur, mulai besok, operasikan rencana 'B'. Kita tidak akan menyerang dari luar, kita akan meledakkan kediaman ini dari dalam."

"Baik, Nona." Satu menghilang kembali ke dalam kegelapan.

Lin Xi menutup jendela dan duduk di tempat tidurnya. Ia merogoh sebuah kalung perak dari lehernya—satu-satunya peninggalan ibunya yang berhasil ia selamatkan sebelum ia dibuang ke jurang lima tahun lalu.

"Ibu... sebentar lagi," bisiknya pelan. "Darah yang mereka tumpahkan akan dikembalikan dengan bunga yang setimpal."

Namun, di sudut lain kediaman Lin, di dalam ruang rahasia yang tersembunyi di bawah tanah, Jenderal Lin Tian berdiri di depan sebuah altar kuno. Di depannya, seorang pria berjubah hitam dengan tato kalajengking di wajahnya sedang membakar sesuatu.

"Jenderal, tabib itu memiliki energi yang sangat mirip dengan wanita yang Anda bunuh lima tahun lalu," ucap pria bertato itu dengan suara serak.

Lin Tian menyipitkan matanya, kilatan kejam terpancar di wajahnya. "Aku juga merasakannya. Tidak peduli siapa dia, jika dia adalah hantu dari masa lalu, aku akan membunuhnya untuk kedua kalinya. Besok, siapkan 'Penjaga Iblis'. Jika dia berani bergerak di malam perjamuan, jangan biarkan ada sepotong tulang pun yang tersisa darinya."

1
Dewiendahsetiowati
hadir thor
MomSaa: Siap kak🤗
total 1 replies
Amazing Grace
Lo gue anjay🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!