Renan Morris pernah menghancurkan hidup Ayuna hingga gadis itu memilih mengakhiri hidupnya.
Ia sendiri tak luput dari kehancuran, sampai kematian menutup segalanya.
Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Renan terlahir kembali ke hari sebelum kesalahan fatal itu terjadi.
Ayuna masih hidup.
Dan sedang mengandung anaknya.
Demi menebus dosa masa lalu, Renan memilih menikahi Ayuna.
Tapi bagi Ayuna, akankah pernikahan itu menjadi rumah, atau justru luka yang sama terulang kembali?
Bisakah seorang pria menebus dosa yang membuat wanita yang mencintainya memilih mati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Volis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13. Rencana Renan
Tepat ketika Ayuna hendak tidur siang, ponselnya bergetar di samping bantal.
Sebuah pesan WhatsApp masuk.
Shaila: Kudengar pacarmu menjemputmu hari ini? Kalian berdua sudah baikan, ya?
Ucapan Renan sebelum pergi tiba-tiba terngiang jelas di benaknya.
Tidak semua orang yang dekat denganmu itu tulus.
Ayuna menatap layar ponsel beberapa detik lebih lama dari yang ia sadari. Ujung jarinya terasa dingin, seperti baru saja menyentuh sesuatu yang tidak seharusnya.
Ia tetap mengetik balasan.
Ayuna: Kami sudah resmi menikah. Kalau tanggal pernikahan sudah ditentukan, kami akan mengundangmu.
Pesan itu terkirim.
Tanda sedang mengetik langsung muncul.
Namun sebelum balasan masuk, ponselnya justru berdering.
“Halo?” jawab Ayuna.
Suara di seberang terdengar tergesa, napasnya tidak stabil.
“Kamu menikah dengannya?” suara Shaila meninggi sedikit, lalu segera ditekan kembali.
“Ayuna… ini mendadak sekali. Kamu yakin ini keputusan yang benar?”
Ayuna terdiam.
“Keluarganya—” Shaila berhenti sejenak, seolah memilih kata.
“Bagaimana mungkin mereka setuju secepat itu?”
Nada suaranya terdengar khawatir. Terlalu khawatir.
“Ayuna,” lanjutnya lebih pelan, hampir berbisik,
“kamu yakin… mereka benar-benar tahu siapa kamu? Kamu tidak punya orang tua, tidak punya latar belakang. Ini terlalu terburu-buru.”
Kalimat itu jatuh perlahan.
Namun rasanya seperti pisau.
Ayuna menarik napas dalam-dalam. Dingin itu kini merambat ke tenggorokannya.
“Shaila,” katanya pelan, terkendali,
“kenapa kamu terdengar begitu gelisah?”
“T-tidak. Aku hanya memikirkan yang terbaik untukmu.”
Ayuna memejamkan mata sesaat.
“Kamu tahu betapa aku menyukainya,” ucapnya lirih tapi tegas.
“Sekarang aku menikah dengannya.”
Ia membuka mata.
“Seharusnya kamu bahagia untukku, kan?”
“Kenapa… kamu terdengar sama sekali tidak senang?”
Di seberang sana terdengar tarikan napas yang berat, seperti seseorang yang baru saja kehilangan sesuatu.
Lalu—
tut.
Sambungan terputus.
Ayuna menatap layar ponselnya lama.
Jari-jarinya yang dingin menggenggam ponsel itu sedikit lebih erat.
Kini ia mengerti.
Inilah yang dimaksud Renan.
❀❀❀
Renan menyetir langsung menuju gedung perusahaan keluarga Morris.
Begitu tiba, ia melangkah masuk dengan sikap santai—angkuh, seperti biasa—dan tanpa ragu mendorong pintu kantor Revan.
Gery, asisten Revan, yang melihatnya langsung siaga, refleks berdiri tegak. Seperti melihat leluhur datang mendadak.
“Tuan Muda Renan, mau minum apa?” tanyanya cepat.
Renan menjatuhkan diri ke sofa.
“Asisten Gery, akhir-akhir ini kakakku sibuk sekali?”
Revan belum datang, jadi Gery menjawab jujur,
“CEO hampir tidak punya waktu istirahat. Kadang makan pun terlambat.”
Renan mengangguk pelan.
“Kalau begitu, tolong siapkan makanannya lebih awal. Perutnya sensitif, kurangi kopi. Sediakan juga camilan yang mudah dicerna.”
Gery tersenyum profesional dan mengangguk.
Namun dalam hati, ia berpikir. Tuan Muda Renan kali ini jelas tidak datang untuk urusan kecil.
Tak lama kemudian, pintu terbuka.
“Renan?” Revan masuk sambil melepas jasnya. “Ada angin apa kau datang kemari?”
Gery buru-buru menunduk dan keluar.
“Tidak ada yang besar,” kata Renan santai.
“Aku hanya merasa… aku akan jadi ayah. Rasanya tidak pantas kalau terus hidup tanpa arah.”
Ia menatap kakaknya lurus-lurus.
“Aku harus cari uang untuk anakku, kan?”
Revan menatapnya lama.
Untuk sesaat, ia tidak melihat adiknya yang sembrono, melainkan seorang pria yang sedang memikirkan masa depan.
Revan lalu tertawa kecil. “Kesadaran yang bagus.”
Ia duduk di balik meja. “Kebetulan posisi manajer umum sedang kosong. Mau masuk ke perusahaan?”
Renan menggeleng tanpa ragu.
“Aku ingin mandiri.”
Revan mengangkat alis. “Memulai usaha sendiri?”
Ia benar-benar terkejut.
Dengan latar belakang keluarga mereka, Renan bisa hidup nyaman tanpa bekerja seumur hidup. Memulai bisnis dari nol bukan sekadar keputusan—itu risiko.
“Kamu yakin?” tanya Revan.
“Kakak,” potong Renan tenang, “aku tahu apa yang ingin kamu katakan.”
“Tapi justru karena itu aku ingin mencoba. Bisnis keluarga bukan keahlianku. Kalau mau menghasilkan uang, aku akan masuk ke bidang yang benar-benar kupahami.”
Nada suaranya serius. Tidak ada sedikit pun sikap main-main.
Revan terdiam, lalu menyilangkan tangan. “Kamu sungguh-sungguh.”
Akhirnya ia mengangguk.
“Baik. Mulai dari dasar. Tentukan posisi, tujuan, produk, dan layanan. Selama rencananya jelas, aku akan mendukungmu.”
Renan tersenyum tipis.
Untuk pertama kalinya, itu bukan senyum main-main.
“Aku juga akan bicara dengan Papa untukmu,” tambah Revan.
Renan berdiri, merapikan manset kemejanya.
“Rencana detailnya akan kukirim besok.”
Revan mengangguk, menatap punggung adiknya yang menjauh. Ia menghela napas pelan.
Entah ide gila apa lagi yang sedang dipikirkannya kali ini.
Renan keluar dari gedung dan langsung menelepon seseorang.
“Sampai jumpa di tempat biasa.”
Di seberang sana, Adrian tertawa singkat.
“Rotten?”
“Ya.”
❀❀❀
Klub Rotten Grand Ceremony tetap ramai seperti biasa.
Begitu Renan masuk, Adrian sudah duduk di sudut VIP, ditemani beberapa orang.
“Kamu ke mana saja beberapa hari ini?” Adrian menyeringai. “Sulit sekali menghubungimu.”
Renan melirik sekilas orang-orang di sekelilingnya, lalu memalingkan pandangan. Tidak tertarik.
Mereka adalah orang-orang yang dulu menjauh ketika keadaan memburuk di kehidupan sebelumnya.
Adrian Baskara, sebenarnya mirip dengannya. Sama-sama lahir di keluarga kaya, sama-sama keras kepala. Bedanya, Adrian selalu berada di bawah pengawasan ketat keluarganya.
Justru karena itu, ia adalah satu-satunya yang tetap membantunya saat segalanya lepas kendali.
Namun setelah semuanya menjadi terlalu jauh, keluarga Adrian mengambil tindakan ekstrem. Mengurungnya. Mengirimnya ke luar negeri.
Itu bukan hukuman.
Itu peringatan.
Bersenang-senang boleh.
Main-main boleh.
Tapi jangan sampai melangkah ke jurang kematian.
❀❀❀
“Aku baru saja jadi ayah,” ujar Renan santai. “Aku ingin mendapatkan uang saku untuk dibelanjakan.”
Ia sedikit membungkuk ke depan, tatapannya tertuju pada bola biliar di atas meja. Di bawah cahaya lampu, otot lengannya terlihat tegas saat ia mengangkat stik dan memutar pergelangan tangan.
Tok.
Satu ayunan.
Satu benturan bersih.
Bola sasaran langsung masuk ke lubang.
Gerakannya mulus, tanpa ragu.
Beberapa orang spontan bertepuk tangan.
“Pukulan yang cantik, Kak Renan.”
“Serius, kemampuanmu tidak pernah turun.” Adrian menatapnya dengan ekspresi tak percaya, lalu mengelilingi meja biliar.
“Kamu bercanda, kan? Kalau cuma mau uang saku, tinggal telepon kakakmu. Transferannya pasti langsung masuk.”
Renan meraih kain pembersih, menyeka stiknya dengan gerakan lambat, punggungnya membelakangi mereka.
“Aku memanggil kalian karena ada urusan serius.”
“Suruh mereka pergi.”
Adrian memberi isyarat pada orang-orang di sekitarnya.
Mereka segera bangkit dan keluar, meski jelas kebingungan.
“Kenapa?” Adrian tertawa kecil setelah ruangan sepi.
“Dulu kau justru suka dikerumuni. Sekarang malah risih?”
“Penjilat,” jawab Renan singkat, nyaris ketus.
Adrian mendengus sambil duduk di sofa dan mengangkat gelasnya.
“Kamu benar-benar aneh. Dulu kamu hidup dari sanjungan, sekarang malah jijik pada kemunafikan. Apa kakakmu memarahimu lagi?”
Renan tak menanggapi. Ia langsung ke inti pembicaraan.
“Aku mau bikin perusahaan media internet. Fokus ke hiburan. Carikan aku beberapa orang, yang bisa jadi wajah perusahaan.”
Adrian hampir tersedak. Ia meletakkan gelasnya dengan bunyi pelan.
“Kamu mau mulai bisnis lagi? Kamu berantem sama kakakmu, ya?”
“Aku sudah jadi ayah,” jawab Renan ringan, seolah itu jawaban untuk segalanya.
“Dan satu lagi. Jangan ajak aku ke acara dengan orang-orang seperti tadi.”
“Pfft—!” Adrian menyemburkan anggur.
“Tunggu. Ayah? Kamu punya anak haram? Kamu sudah gila?”
“Jaga ucapanmu,” potong Renan tajam
“Kami sudah menikah.”
gak ketebak sih ini, siapa yang mati tadi? 😭🤌🏻
Btw semangat ya Thor. mampir juga yuk di karya aku PENYANGKALAN. Siapa tau suka dengan sisipan kata-kata sangsekerta