Bijaklah dalam memilih bacaan.
Cerita ini hanya fiksi belaka!
-------------------------
Megan Ford, seorang agen elit CIA, mengira ia memiliki kendali penuh saat menodongkan pistol ke pelipis Bradley Brown, bos mafia berdarah dingin yang licin.
Namun, dalam hitungan detik, keadaan berbalik. Bradley,seorang manipulatif yang cerdas menaklukkan Megan dalam sebuah One Night Stand yang bukan didasari gairah, melainkan dominasi dan penghancuran harga diri.
Malam itu berakhir dengan kehancuran total bagi harga diri Megan.
Bradley memiliki bukti video yang bisa mengakhiri karier Megan di Langley kapan saja. Terjebak dalam pemerasan, Megan dipaksa hidup dalam "sangkar emas" Bradley.
Mampukah Megan dengan jiwa intelnya melarikan diri dari tahanan Bradley Brown?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririnamaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 8
Sean Miller menatap papan tulis putih di ruang rahasianya yang kini dipenuhi coretan spidol merah dan foto-foto buram hasil tangkapan CCTV. Di tengah papan itu, foto Bradley Brown tertancap dengan pisau lipat.
"Kau terlalu rapi, Bradley. Dan itu yang membuatku curiga," desis Sean parau.
Sudah tiga jam ia memandangi foto tas Megan yang ditemukan di sungai Thames. Ada sesuatu yang mengganjal. Sebagai agen lapangan senior, Sean tahu satu hal jika seseorang ingin melenyapkan mayat, mereka tidak akan membuang tas penuh identitas di tempat yang mudah ditemukan polisi sungai.
"Kau ingin aku percaya dia sudah mati, bukan?" Sean bicara pada foto Bradley. "Tapi kau lupa satu hal. Megan adalah petarung. Dia tidak akan membiarkan dirinya dibuang begitu saja tanpa perlawanan. Kecuali dia terancam.”
Sean beralih ke peta digital London. Ia mulai menandai titik-titik properti rahasia yang diduga milik The Obsidian Syndicate. Bradley bukan tipe mafia yang tinggal di selokan. Dia suka kemewahan, terlihat dari semua usaha yang Bradley miliki semua mentereng, dari hotel bintang lima hingga beberapa club malam di pusat kota.
"Peter Hod," gumam Sean saat melihat profil tangan kanan Bradley. "Jika aku tidak bisa menyentuh Bradley, aku akan mulai dari bayangannya."
Tiba-tiba, asistennya masuk dengan terburu-buru. "Sir, hasil forensik dari ponsel Agen Ford sudah keluar. Meski mati total karena air, tim berhasil memulihkan satu data koordinat GPS terakhir sebelum ponsel itu benar-benar mati."
Sean menyambar tablet dari tangan asistennya. Matanya melebar. "Pusat kota? Jembatan London?"
"Bukan, Sir. Itu lokasi pengalihan. Tapi lihat ini... ada anomali sinyal satelit di pinggiran Surrey satu jam setelah tas itu ditemukan. Sinyal itu sangat singkat, seperti seseorang baru saja menyalakan jammer frekuensi tingkat tinggi."
Sean tersenyum dingin. Senyum pertamanya sejak Megan menghilang. "Surrey... wilayah hijau yang tenang. Tempat yang sempurna untuk menyembunyikan 'hantu'.
Ia segera meraih jas dan senjatanya. "Siapkan tim kecil. Tanpa pemberitahuan ke Langley. Aku tidak mau Direktur CIA tahu rencanaku sebelum aku membawa putrinya pulang."
Sean tahu dia sedang bermain api. Melawan Bradley Brown di kandangnya sendiri sama saja dengan bunuh diri. Tapi bagi Sean, kehilangan Megan jauh lebih menakutkan daripada menghadapi moncong pistol Bradley.
Sean Miller tidak menyadari bahwa setiap napas dan rencana yang ia ucapkan sedang direkam oleh telinga yang salah. Di sudut ruangan, seorang agen teknis yang selama ini Sean percaya untuk menangani data digital tampak sibuk dengan komputernya. Namun, di balik layar monitornya, ia sedang mengirimkan pesan terenkripsi ke sebuah server pribadi. Dia adalah Ben.
"Target mulai mencium jejak Surrey. Perlu pengalihan segera."
Hanya dalam hitungan detik, balasan masuk ke ponselnya: "Biarkan dia bermain-main. Dia tidak akan menemukan apapun yang ia cari."
Sean berbalik, menatap tim kecilnya dengan ambisi yang membara. "Kita berangkat malam ini. Target kita adalah area hutan di pinggiran Surrey. Ben, pastikan semua frekuensi radio kita terenkripsi, jangan sampai The Obsidian mendeteksi pergerakan kita."
"Siap, Sir. Semua sudah aman," jawab Ben dengan nada yang sangat meyakinkan. Sebuah dusta yang sempurna.
***
Sementara itu, di penthouse hotelnya, Bradley tertawa kecil melihat laporan yang masuk ke tabletnya. Ia menyesap cerutunya, membiarkan asap putih menutupi wajahnya yang dingin.
"Sean, Sean... kau terlalu bersemangat sampai lupa melihat siapa yang ada di belakangmu," gumam Bradley.
Ia menekan tombol interkom di mejanya. "Peter, siapkan 'pertunjukan' di Surrey. Pastikan Sean tidak menemukan sesuatu di sana. Berikan dia harapan palsu agar dia merasa selangkah lebih maju dariku."
"Bagaimana dengan Agen Ford, Tuan?" tanya Peter dari seberang sana.
Bradley menatap layar CCTV yang menunjukkan Megan sedang duduk di jendela kamar di Surrey, menatap kosong ke arah taman. "Jangan biarkan ada satu pun lalat yang mendekati rumah itu. Jika Sean berhasil sampai ke sana, itu artinya kau gagal... dan kau tahu apa hukuman untuk sebuah kegagalan."
“Baik, Tuan.” Peter meninggalkan ruangan Bradley untuk melaksanakan tugasnya.
***
Malam itu, Sean Miller menginjak pedal gas mobilnya dalam-dalam, meninggalkan wilayah Surrey dengan perasaan dongkol. Ia sudah menyisir beberapa titik yang ia curigai, namun hasilnya nihil. Tidak ada jejak Bradley Brown di sana.
"Sial! Apa dugaanku salah?" umpat Sean sembari memukul kemudi.
Satu-satunya tempat terakhir yang harus ia datangi adalah The Obsidian Club, pusat hiburan malam paling elit sekaligus markas terselubung Bradley. Sean masuk dengan langkah lebar, mengabaikan dentuman musik techno yang memekakkan telinga dan aroma alkohol yang menyengat.
Langkah Sean terhenti di depan area VIP. Di sana, di sofa kulit yang paling pojok, Bradley Brown duduk dengan santai. Pria itu mengenakan kemeja hitam dengan dua kancing teratas terbuka, sebuah gelas kristal berisi wiski mahal ada di tangannya. Ia tampak sedang tertawa mendengarkan bisikan seorang wanita cantik di sampingnya.
Bradley tampak tenang, tidak ada tanda-tanda pria yang baru saja menculik seorang agen CIA.
"Bradley Brown!" teriak Sean, suaranya berusaha mengalahkan kebisingan musik.
Bradley menoleh perlahan, lalu memasang wajah terkejut yang dibuat-buat, akting yang sangat rapi. "Oh, Agen Miller? Kejutan sekali melihatmu di tempat kotor seperti ini. Ingin minum? Atau sekedar bersenang-senang, aku siapkan wanita-wanita terbaik di club ini."
Sean mencengkeram kerah kemeja Bradley, membuat wanita di samping Bradley menjerit dan beberapa bodyguard langsung bersiaga. "Di mana Megan?! Aku tahu kau yang membawanya!"
Bradley mengangkat kedua tangannya ke udara, tetap dengan senyum miring yang tenang. "Megan? Siapa Megan? Aku bahkan belum pernah mendengar namanya di London, Kenapa kau mencarinya padaku? Dia agen atau jalang mu?"
"Jangan main-main denganku, Brown! Tasnya ditemukan di Thames! Dan CCTV menangkap mobilmu melintas di area jembatan tengah kota,”
Bradley terkekeh, suara tawanya terdengar meremehkan. "Kasihan sekali. Agen sepertimu tak bisa mencari seekor serangga? Lagipula, Miller... lihat sekelilingmu. Aku ada di sini setiap hari, melayani tamu-tamuku. CCTV-ku bisa membuktikannya jika kau mau."
Bradley mendekatkan wajahnya ke telinga Sean, berbisik dengan nada dingin yang hanya bisa didengar mereka berdua. "Cari dia baik-baik, Sean. Jangan sampai lencanamu ditarik karena kau tidak becus menjaga wanitamu sendiri."
Sean melepaskan cengkeramannya dengan napas memburu. Melihat ketenangan Bradley yang luar biasa, keraguan mulai muncul di hati Sean. Apa benar bukan dia? Apa Bradley punya kembaran? Atau apa Megan benar-benar pergi atas kemauannya sendiri?
Setelah tak menemukan apapun, Sean akhirnya pergi meninggalkan The Obsidian Club dengan amarah yang masih menguasai dirinya
***
Malam itu, Bradley melangkah masuk ke rumah di Surrey dengan penuh kemenangan. Ia baru saja berhasil membuat Sean Miller terlihat seperti amatir di klubnya sendiri. Namun, kegaharannya sebagai pemimpin The Obsidian Syndicate luntur seketika saat ia membuka pintu kamar.
Di sofa, ia melihat Megan tertidur lelap. Yang membuat Bradley tertegun adalah benda yang didekap erat oleh wanita itu, kemeja kotor miliknya yang tadi pagi ia lempar ke keranjang.
"Kemeja kotor?" batin Bradley bingung. "Untuk apa dia memeluk barang itu? Bukankah lemari itu penuh dengan pakaian bersih?" Seorang bos mafia dibuat tak berkutik oleh logika konyol sang agen CIA di depannya.
Bradley duduk perlahan di samping Megan. Ia menyibak rambut yang menutupi wajah cantik namun pucat itu. Tatapannya melunak untuk sesaat. "Meg... kenapa takdir mempermainkanku dan memaksaku melakukan ini padamu?" bisiknya parau.
Sentuhan lembut itu justru memicu insting waspada Megan. Ia tersentak bangun, matanya langsung menajam menatap Bradley. "Apa yang kau lakukan, Brown?!"
Tangan Bradley membeku di udara, tepat di depan wajah Megan. "Ah... tidak ada. Aku hanya ingin mengambil kemejaku," kilahnya cepat, berusaha menutupi kegugupannya.
Megan tersadar ia baru saja mendekap kemeja itu. Dengan gerakan reflek, ia melempar kemeja itu ke sembarang arah seolah benda itu adalah sampah beracun. "Ambillah kemejamu! Siapa juga yang butuh barang kotor itu."
Bradley terkekeh sinis, mencoba menguasai keadaan lagi. "Kau lucu sekali, Meg. Kau pikir aku buta? Kau memeluk kemeja itu seolah itu harta karunmu seharian ini."
"Aku tidak melakukannya!" sanggah Megan dengan wajah yang memerah, entah karena marah atau malu.
"Kau lupa kalau sekarang kau berada di sarang predator? Aku mengawasi gerak-gerikmu dua puluh empat jam, Sayang."
Megan terdiam. Sialnya, begitu kemeja itu jauh darinya, rasa mual yang tadi sempat hilang kini kembali menghantam ulu hatinya tanpa ampun. Perutnya bergejolak hebat.
"Kau mual lagi? Apa karena aku belum mandi?" Bradley mencium aroma tubuhnya sendiri pada kemeja yang ia kenakan.
"Tidurlah, aku mau mandi dulu."
Bradley baru saja hendak bangkit, namun tangan Megan dengan cepat menahan lengannya. Gerakan itu begitu mendadak hingga Bradley terduduk kembali. Ia menatap Megan dengan dahi berkerut.
"Kau... mau mandi?" tanya Megan, suaranya terdengar ragu namun menuntut.
"Ya. Kenapa?"
Megan menggigit bibir bawahnya, menahan rasa mual yang makin menjadi. "Lepas kemejamu, Brad. Sekarang."
Bradley terdiam. Otaknya mendadak loading lama, seolah memori sistemnya baru saja meledak. Dia, sang penguasa bawah tanah London, baru saja diperintah untuk melucuti pakaiannya sendiri oleh tawanannya?
"Kau... menyuruhku telanjang?" tanya Bradley dengan ekspresi antara bingung dan ingin tertawa.
"Cepat lepas saja! Jangan banyak tanya!" sentak Megan frustrasi, wajahnya makin pucat karena menahan mual, tapi juga merah padam karena harus mengatakan hal memalukan itu.
Bradley mulai membuka kancing kemejanya satu per satu tepat di depan Megan. Matanya yang tajam tak lepas menatap manik mata Megan yang tampak gelisah. Setelah kemeja itu terlepas, sisi gelap Bradley seolah tertutup oleh kabut kelembutan yang tiba-tiba muncul.
Ia menyodorkan kemeja itu pada Megan, namun ia tak membiarkan wanita itu menjauh.
Tangannya bergerak perlahan, mengikis jarak di antara keduanya. Bradley sudah berhasil mendekatkan bibir ke bibir Megan.
Megan merutuki kebodohannya, ia merasa tak bisa menolak ciuman itu. Bradley, yang biasanya terlihat kasar, kini melakukannya dengan lembut.
Di sofa itu, sesuatu terjadi. Megan merasa dirinya bodoh, namun ada dorongan biologis dalam dirinya. Peningkatan hormon kehamilan di dalam darahnya seolah memanipulasi perasaannya, mengubah rasa benci menjadi kebutuhan akan sentuhan.
Ia merasa tidak berdaya melawan dorongan biologis yang menuntut kenyamanan dari pria yang seharusnya ia hancurkan.
Di atas sofa mewah yang menjadi saksi bisu itu, batas antara dendam dan gairah perlahan kabur. Pertahanan Megan runtuh bukan karena paksaan fisik, melainkan karena tubuhnya yang telah memilih untuk menyerah.
Dinginnya udara London di luar sana tak lagi terasa, tertutup oleh panas yang membakar akal sehat keduanya hingga fajar hampir menyingsing.
😔
Megan hamil ✅
🤭🤭